20 views

ZBM (Zakat Buruh Milenial) : Konsep Desa Berdaya ala Buruh Milenial

Sejak masuk bangku perkuliahan, saya mendapatkan tanggung jawab untuk menjadi kepala pengembangan masyarakat dalam organisasi mahasiswa muslim di perguruan tinggi negeri di Bandung. Saya langsung diamanahi untuk mengelola desa binaan. Masalahnya adalah tidak ada pengalaman yang mendasari saya untuk menjalankan amanah tersebut.

Tetapi bagi saya, pengalaman itu hanya sebatas waktu. Saya harus menjalani tantangan ini. Dengan bekal seadanya saya langsung membuat program untuk pemberdayaan masyarakat. Beberapa kegiatan pun bisa dilaksanakan, seperti “ngajar ngaji”, “kerja bakti”, “pengobatan gratis”, “lomba santri”, “pawai obor”, “tabligh akbar”, dan lain-lain. Alhamdulillah bisa berjalan dengan baik meskipun banyak kendala yang dihadapi.

Kendala utama yang dihadapi adalah masalah dana. Tidak heran setiap akan dilaksanakan kegiatan, kita harus melakukan fundraising seperti danus (menjual makanan ke mahasiswa) dan meminta dana sponsor dari instansi ke instansi. Sayangnya proposal ke instansi atau lembaga yang kita tuju tidak selamanya diterima.

Seiring berjalannya waktu, saya pun lulus kuliah dan masuk ke dunia kerja. Lebih tepatnya adalah pabrik. Meskipun lulusan kuliah tetapi tetap saja sebutan “buruh” melekat dalam diri saya yang bekerja di dunia pabrik kimia.

Ketika masuk dunia kerja, harapan terbesar saya adalah bisa melanjutkan keterlibatan saya di masyarakat seperti waktu di perkuliahan. Namun realitanya tidak ada wadah yang bisa menampung ide-ide saya dalam mengembangkan masyarakat. Sekarang beda lagi kendalanya, yaitu permasalahan minimnya sumber daya manusia.

Pabrik tempat saya bekerja memang kekurangan orang untuk menghandle tanggung jawab besar seperti CSR yang bersifat continue. Sumbangan atau charity adalah bentuk CSR yang bisa tempat kerja saya berikan. Namun charity saja belum cukup, seharusnya ada pembinaan terhadap suatu kelompok masyararkat atau biasa disebut desa binaan. Dan itulah tujuan dari CSR.

Alhamdulillah setelah lima tahun bekerja di pabrik kimia, saya mendapatkan istri yang bekerja di Rumah Zakat. Istri saya menjabat sebagai Public Health. Dana zakat yang diterima dari masyarakat dipergunakan untuk kegiatan kesehatan, seperti posyandu, bakti sosial pengecekan gratis, dan lain-lain. Saya pun bisa membantu kegiatan istri saya di weekend ataupun weekday ketika saya bekerja shift siang.

Bukan hanya kegiatan di bidang kesehatan, saya pun mengikuti kegiatan lainnya seperti pesta wirausaha, dimana semua dana zakat diberikan kepada wirausahawan yang kesulitan modal. Saya juga mengikuti kegiatan di bidang pendidikan, seperti beasiswa anak yatim. Kegiatan keagamaan pun sering dilakukan seperti pengajian ibu-ibu, pengajian posyandu, pemberian bingkisan lebaran, dan banyak lainnya.

Konsep Desa Berdaya Buruh Milenial

Ketika berkecimpung di dunia masayarakat, saya terbesit ide untuk menggalang dana dari karyawan untuk buka bersama yatim dhuafa. Alhamdulillah direspon baik, bahkan hampir semua karyawan bisa menyumbang. Singkat cerita dananya pun berlimpah ruah dan saya pun mengalokasikan sebagian lagi untuk sumbangan yatim dan dhuafa.

Dari sanalah saya berkesimpulan bahwa buruh-buruh pabrik milenial itu bukan berarti tidak mau terlibat dalam dunia zakat. Mereka sebenarnya mau memberikan sedikit hartanya, tetapi hanya saja informasi yang diberikan kepada buruh pabrik itu tidak ada. Mungkin bisa saja didapat melalui lewat website, instagram, facebook, atau media sosial lainnya. Tetapi sayangnya tidak semua mau mencari informasi zakat.

Maka perlu adanya sosialisasi kepada buruh pabrik dari lembaga zakat untuk mendapatkan akses informasi yang lebih lengkap supaya nilai dari zakat itu sendiri tersampaikan. Saya pernah melakukan wawancara dengan mustahik yang mendapatkan dana bantuan zakat dari BAZNAS. Beliau merupakan ibu rumah tangga yang kesulitan ekonomi. Namun dengan izin Allah melalui bantuan zakat (berupa modal usaha) dari Baznas bisa menjadi pedagang celana training, sandal, dan cemilan anak SD. Alhamdulillah sekarang bisa menjadi Muzaki.

Yang harus diperhatikan adalah tujuan jangka panjangnya, yaitu membentuk desa binaan yang dikelola dari bantuan dana zakat buruh pabrik. Sasarannya adalah buruh pabrik generasi milenial atau berusia sekitar 20 tahun sampai 35 tahun. Kenapa harus milenial? Karena generasi inilah yang menggerakan roda bangsa ini. Jika generasi ini hancur gara-gara menghamburkan uang untuk gadget atau traveling saja maka desa binaan yang berdaya dipastikan tidak terwujud.

Kemudian lembaga zakat pun harus merespon ini. Caranya seperti apa? Yaitu “Jemput Zakat” ke pabrik-pabrik. Melalui HRD bisa meminta waktu untuk presentasi kepada pabrik-pabrik yang ada di wilayahnya. Sasarannya adalah pabrik yang belum memiliki CSRnya. Hal ini dikarenakan supaya dana CSR ataupun dana zakat dari karyawannya bisa dikelola untuk membangun road map membuat desa binaan.

Tidak lengkap jika tidak adanya nuansa digital. Lembaga zakat harus berkolaborasi dengan Andorid Developer untuk membuat aplikasi ZBM (Zakat Buruh Milenial). Dengan adanya ZBM ini bisa melakukan transaksi pengiriman zakat. Disamping itu juga bisa melakukan tracking penggunaan dana zakat tersebut. Sehingga penyaluran dana bisa terpantau ke bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, ataupun wirausaha.

Mudah-mudahan dalam jangka waktu lima tahun bisa membangun desa binaan menjadi mandiri dan para mustahik yang berada di desa binaan tersebut bisa menjadi muzaki. Sehingga setelah melakukan pemberdayaan di satu desa binaan melalui zakat buruh pabrik milenial maka bisa berpindah ke daerah lain yang membutuhkan. Ketika proses ini terus berlangsung maka timbullah efek domino yang akhirnya semua desa di Indonesia bisa berdaya melalui zakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *