Zaman Now Gak Ikut Koperasi? Gak Gaul!

Koperasi di mata generasi milenial masih dianggap jadul dan kuno. Padahal koperasi pernah menjadi tonggak kesejahteraan ekonomi Indonesia. Koperasi mewabah ke kalangan perkantoran, desa, pabrik, bahkan ke setiap sekolah. Sehingga semua kalangan masyarakat bisa mendapatkan kemanfaatannya. Apa yang salah dengan koperasi? Kenapa masih saja belum bisa dilirik?

Satu-satunya yang perlu dilakukan adalah Re-Branding Koperasi. Koperasi sejatinya sudah bagus terbukti banyak manfaat bagi anggotanya. SHU (Sisa Hasil Usaha) yang selalu dibagikan tiap tahun, belajar bisnis, dan bisa tolong menolong antar sesama anggota. Namun pencitraan koperasi yang lekat dengan orang tua menjadi benteng penghalang generasi milenial untuk bergabung.

Saya mencoba menganalisa berdasarkan data survey digital dan beberapa tokoh atau pengamat untuk melakukan Re-Branding Koperasi yang tepat dan efektif.

Pertama-tama kita harus telusur dulu passion di zaman digital ini. Data yang dilansir oleh WeAreSocial dalam Global Digital Report 2018 menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 132 juta jiwa yang sudah mengakses internet. 60 persen dari pengguna tersebut menggunakan gadget. Mayoritas pengguna gadget adalah usia 17-30 tahun atau bisa dikatakan generasi milenial.

Sehingga kita harus memulai Re-Branding Koperasi dengan menggaet generasi milenial itu sendiri. Bagaimana caranya? Kolaborasi dengan mahasiswa. Ini adalah langkah konkrit untuk membangun reformasi total koperasi dengan memulakan adanya koperasi percontohan.

“Saya berharap mahasiswa bisa menjadi ikon dalam upaya Re-Branding koperasi di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa. Tujuan Re-Branding itu agar generasi muda tahu, paham, dan tertarik berkoperasi,” kata Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga.

Sejalan dengan perkataan Pak Menkop tersebut, saya berpikir ketika mahasiswa mulai memboomingkan koperasi maka secara tidak langsung akan mempromosikan ke masyarakat luas. Tentu dengan berbagai tahapan proses. Mulai dari rehabilitasi koperasi, reorientasi koperasi, dan pengembangan koperasi.

Lalu bagaimana kemudian kampus menjadikan koperasi sebagai daya tarik mahasiswa? Yaitu dengan cara digitalisasi koperasi secara central. Maksudnya koperasi itu sendiri harus bisa memenuhi kebutuhan mahasiswa yang ditopang dengan perkembangan teknologi smartphone. Semua akses kebutuhan kapus, unit usaha, unit jasa, dan semua yang berhubungan dengan mahasiswa diakomodir oleh koperasi sebagai jembatannya. Hal inilah yang bisa membuat koperasi bisa lebih berkembang pesat.

“Salah satu indikator koperasi berkualitas itu apabila jumlah anggotanya selalu meningkat setiap tahun. Itu yang kita canangkan dalam program Reformasi Total Koperasi di seluruh Indonesia yang mencakup rehabilitasi koperasi, reorientasi koperasi, dan pengembangan koperasi,” kata Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga.

Data dari Depkop melalui websitenya www.depkop.go.id mencatat bahwa 152 ribu koperasi yang terdata, setengahnya dalam kondisi kurang sehat, setengahnya lagi dalam kondisi sehat. Selain itu, sebanyak 40 ribu lebih koperasi sudah dibubarkan karena tidak aktif, hanya papan nama, dan abal-abal.

Bermula dari kampus di Indonesia kemudian merambah ke masyarakat milenial maka koperasi akan menjadi suatu kebutuhan dan bisa mengembalikan kejayaan seperti dulu. Semoga koperasi bisa dilirik oleh generasi milenial di era digital seperti sekarang ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: