Yuk Menabung untuk Masa Depan Lebih Baik!

Awal Mula Menabung

Hai perkenalkan nama saya Ferry Aldina. Ketika mendengar kata menabung, saya langsung teringat cerita awal mula saya menabung. Dulu ketika SMP sekitar tahun 2007 saya sudah mulai menabung (ketauan deh umurnya. Hehe). Sebenarnya saya sudah berkeinginan menabung itu sejak SD. Tapi karena belum ngerti jadi saya menunggu sampai SMP.

Sejak SD saya sudah berjualan jagung rebus. Saya berjalan dari desa ke desa untuk menjajakkan dagangan jagung rebus. Ada sekitar 20-30 jagung yang biasa saya jual tiap harinya. Saya membawanya diatas kepala dan tentunya berat banget pas awal membawanya, secara kan badan saya paling kecil diantara pedagang lainnya. Hehe

Saya berjualan selepas pulang sekolah sekitar pukul 11 siang. Pembeli yang sudah menjadi langganan saya pun selalu menunggu didepan rumahnya. Saya senang sekali ketika dagangan saya habis terjual. Tapi momen yang lebih menyenangkan menurut saya adalah ketika pembagian upah. Hehe Saya biasanya dibayar Rp 2.000/20 jagung. Mungkin uang segitu tidak besar untuk ukuran sekarang tetapi saya sangat bahagia menerima upahnya.

Saya mungkin sedikit berbeda dengan teman-teman lainnya yang upahnya digunakan untuk jajan. Saya lebih suka uang hasil berdagang jagung itu untuk ditabung. Karena saya belum boleh untuk menabung jadinya saya menitipkan uangnya di celengan.

Ketika beranjak SMP, ada satu tempat yang menurutku KEREN. Tempat itu bernama BANK. Inilah tempat yang saya tunggu semenjak SD. Kenapa? Karena disana saya bisa menabung. Saya berpikiran bahwa orang yang menabung di Bank itu keren. Bisa mendapat buku rekening, bisa transfer uang ke orang lain, dan hal-hal keren lainnya yang menurutku tidak bisa didapatkan kecuali ketika kita menabung.

Ayo Menabung di Bank Peserta Penjaminan LPS (Dok Ferry)

“Menabung di BANK itu keren” sudah menjadi mindset dalam pikiran saya. Setiap uang jajan yang saya dapatkan selalu disisihkan untuk menabung. Bahkan saya tabungkan semua uang jajan demi mendapatkan jumlah tabungannya makin besar. Rasanya senang sekali ketika melihat saldo di buku rekening bisa bertambah. Hehe

Tetap Menabung di Zaman Milenial

Data Survey www.bi.go.id

Budaya menabung generasi milenial bisa dibilang masih rendah. Ini dibuktikan dari Data Bank Dunia 2014 mengenai tingkat akses masyarakat Indonesia ke lembaga keuangan formal yang hanya sebesar 36,1% atau lebih rendah dibanding dengan negara ASEAN lain seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura. Angka ini berarti masyarakat dari 100 penduduk dewasa Indonesia hanya 36 orang yang mempunyai rekening di lembaga keuangan. Selain itu juga rendahnya angka rasio savings to GDP Indonesia masih sekitar 31% atau lebih rendah dibandingkan dengan Singapura sebesar 49%, Filipina sebesar 46%, dan Cina sebesar 49%.

(Sumber : Findex-WorldBank-2011). Keuangan Inklusif Indonesia menjadi 36% pada tahun 2014

Tak heran Presiden Joko Widodo turut serta mengampanyekan “Gerakan Ayo Menabung” kepada rakyat Indonesia. Acara yang diadakan oleh Otoritas Jasa Keuangan pada 31 Oktober tahun 2016 yang lalu bertujuan untuk meningkatkan budaya menabung masyarakat di berbagai produk jasa keuangan serta mendukung pembiayaan pembangunan nasional. Gerakan ini juga sebagai bentuk penerapan Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres) Nomor 82 Tahun 2016 Tentang Strategi Nasional Inklusif (SNKI) yang dikeluarkan pada tanggal 1 September 2016.  Gerakan ini juga harus tetap digaungkan sampai sekarang supaya budaya menabung masyarakat Indonesia menjadi naik.

Ada juga inisiatif dari OJK bersama beberapa Kementerian dan industri jasa keuangan untuk meningkatkan inklusi keuangan, khususnya masyarkat yang berpenghasilan rendah dan berdomisili di daerah-daerah yang belum dapat dijangkau oleh Lembaga Jasa Keuangan. Berikut adalah inisiatif-inisiatif tersebut :

 

“Kami berharap seluruh lapisan masyarakat dapat memanfaatkan produk industri keuangan tidak hanya di tabungan perbankan, namun juga pada sektor industri keuangan non-bank seperti menabung untuk perlindungan di asuransi, menabung untuk cicilan di lembaga pembiayaan, menabung untuk hari tua di dana pensiun, menabung emas di pergadaian serta menabung saham dan reksa dana di pasar modal,” Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hada dalam sambutan Gerakan Ayo Menabung.

 

Sebagai generasi milenial, saya cukup prihatin melihat aktivitas menabung yang semakin kurang diminati. Sebagai blogger, saya juga harus mengampanyekan gerakan “Ayo Menabung”. Tetapi sebelum saya mengajak kepada orang lain untuk gemar menabung, saya harus mencontohkan bagaimana diri saya mencintai aktivitas menabung, apalagi benefit yang kita dapatkan sangat banyak ketika menabung.

Saya pernah baca Tips dan Trik Generasi Milenial untuk Tetap Menabung. Public figure Dion Wiyoko pernah mengutarakan bagaimana cara menabung yang efektif bagi generasi milenial seperti yang dilansir oleh CNN Indonesia.

1. Mengubah Mindset. Tidak dipungkiri bahwa pola pikir dan lingkungan sangat mempengaruhi budaya konsumtif generasi milenial. Mindset generasi milenial harus step by step dirubah ke arah investasi dengan cara menabung. Entah itu menabung di Bank, menanam aset, atau semacamnya. Yang penting gaya hidup konsumtif perlahan harua dirubah menjadi pengelolaan keuangan yang efektif.

2. Membuat Target. Setelah sukses bisa menabung atau dengan kata lain mindsetnya sudah diluruskan. Maka hal selanjutnya adalah membuat target. Target ini bisa berupa keinginan jangka panjang : membeli rumah, mobil, berangkat haji, dan sebagainya. Dengan adanya target ini membuat generasi milenial menjadi konsisten menabung.

3. Memanfaatkan Internet. Media sosial sudah menjadi kebutuhan. Ada yang bijak tetapi ada juga yang terbawa arus kelalaian. Generasi milenial yang cerdas adalah mulai memanfaatkan arus internet yang semakin cepat dengan perkembangan media sosialnya menjadi ladang penghasilan. Bahkan bisa menjadi profesi generasi milenial. Penghasilan tersebut yang kemudian menjadi tabungan masa depan.

Caraku Menabung Setelah Berkeluarga

Setelah saya berkeluarga dan mempunyai anak, saya sadari bahwa kebutuhan finansial menjadi berubah. Banyak pos-pos yang harus dialokasikan. Mulai dari biaya listrik, kebutuhan anak, belanja bulanan, dan lain-lain. Satu hal yang harus diutamakan adalah kebutuhan masa depan. Strategi untuk memenuhinya adalah dengan mempersiapkan tabungan masa depan.

Pada hari Senin (30/07/2018) saya bersama istri berangkat menuju Bank terdekat untuk membuka rekening baru. Oya, kami bertujuan untuk menyimpan dana untuk kebutuhan masa depan anak. Tabungan ini menjadi salah satu “senjata” ketika si kecil sudah beranjak besar dan siap untuk sekolah. Karena kami sadar pendidikan membutuhkan persiapan dana maka sebagai langkah awal, kami memutuskan menabung sejak dini.

Bank yang kami tuju pun tidak sembarang Bank. Kenapa? Karena Bank tersebut harus terdaftar sebagai Peserta Penjaminan LPS. Teman-teman tahu LPS atau Lembaga Penjamin Simpanan? Kayaknya belum pada tahu ya. Hehe Padahal ketika membuka rekening Bank, kita harus paham apakah Bank tersebut terdaftar sebagai Peserta Penjaminan LPS atau tidak. Penasaran dengan LPS? Let’s continue reading.

Yuk Kenalan dengan LPS

Logo LPS (Sumber : SulutAktual)

LPS itu berdiri dilatarbelakangi oleh adanya krisis moneter. Pada tahun 1998, krisis moneter dan perbankan mengakibatkan 16 bank DILIKUIDASI! Inilah sebab menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat pada sistem perbankan. Pemerintah tidak tinggal diam, kebijakan memberikan jaminan atas seluruh kewajiban pembayaran bank pun dikeluarkan, termasuk simpanan masyarakat (blanket guarantee). Sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1998 tentang Jaminan Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Perkreditan Rakyat.

Masyarakat mulai tumbuh kembali kepercayaannya terhadap perbankan, namun ternyata blanket guarantee ini cakupannya terlalu luas sehingga menyebabkan timbulnya moral hazard dari sisi pengelola bank maupun masyarakat. Moral hazard adalah situasi ketika seseorang atau instansi meningkatkan paparan mereka terhadap risiko ketika tertanggung. Dalam situasi keuangan, moral hazard dapat terjadi dimana tindakan salah satu pihak dapat berubah menjadi kerugian pada pihak lain setelah transaksi keuangan telah terjadi (id.wikipedia.org/risiko_moral).

Agar terciptanya situasi yang aman bagi nasabah penyimpan serta menjaga stabilitas sistem perbankan, maka lahirlah LPS dengan dikeluarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan mengamanatkan pembentukan suatu Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Barulah pada tanggal 22 September 2004, Presiden Republik Indonesia mengesahkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. Sehingga berdasarkan Undang-Undang tersebut, LPS menjadi suatu lembaga independen yang berfungsi menjamin simpanan nasabah penyimpan dan turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya.

UU Nomor 24 Tahun 2004 tentang LPS tersebut mulai efektif sejak tanggal 22 September 2005 dan sejak tanggal tersebut LPS mulai resmi beroperasi serta sekaligus dijadikan hari ulang tahun LPS. Inilah website terbaru dari LPS bisa diakses ke www.lps.go.id.

Pada Seminar LPS (30/05/2016)  yang bertemakan “Peran LPS dalam Membangun Kepercayaan Masyarakat Terhadap Perbankan”, Bapak Fauzi Ichsan yang sekarang menjabat Anggota Dewan Komisioner merangkap Kepala Eksekutif menyebutkan bahwa :

“Selain fungsi menjaga stabilitas perbankan nasional, LPS telah melakukan fungsi penjaminan simpanan dimana sejak LPS beroperasi pada tahun 2006 hingga tahun 2014, LPS telah melakukan pembayaran klaim simpanan sebesar Rp 997 miliar atas Bank yang ijin usahanya telah dicabut,”

Hubungan Bank dengan LPS

Foto di depan Pintu Bank Peserta Penjaminan LPS (Sumber : Dok. Ferry)

Data LPS menyebutkan bahwa sampai sekarang ada sekitar 1.989 bank menjadi peserta Penjaminan LPS. Terdiri dari 121 Bank Umum dan 1.868 Bank Perkreditan Rakyat. Kenapa kita harus menabung ke Bank yang terdaftar sebagai peserta Penjaminan LPS? Karena jika terdapat bank yang mengalami kesulitan usaha atau dicabut izin usahanya maka kedudukan nasabah tetap terjamin. Sesuai dengan fungsinya, Lembaga Penjamin Simpanan mengatur kesehatan bank secara umum, meningkatkan kepercayaan nasabah terhadap industri perbankan, dan memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya.

Sederhananya, menabung di Bank peserta Penjaminan LPS adalah upaya preventif kita dalam mengamankan tabungan jika mendapati bank yang gagal. Bank gagal (failing bank) adalah bank yang mengalami kesulitan keuangan dan membahayakan kelangsungan usahanya serta dinyatakan tidak dapat lagi disehatkan oleh Lembaga Pengawas Perbankan sesuai dengan kewenangan yang dimilikinya. Bank tersebut juga tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada para deposannya atau tidak bisa membayar pemenuhan permintaan dana-dana lainnya sehingga bank tersebut memiliki potensi untuk dilikuidasi.

Bagi teman-teman yang akan menabung, khususnya bagi kalian yang berKTP luar kota, jangan khawatir lho! Ini pengalamanku membuka buku tabungan.

  1. Pastikan Bank yang kalian tuju adalah Bank peserta penjaminan LPS
  2. Bawa KTP, NPWP, dan SIM (Optional)
  3. Tanda tangan diatas materai (customer service akan membimbing)
  4. Menabung awal disesuaikan dengan ketentuan masing-masing Bank
  5. Tanda tangan di buku tabungan
  6. Menuju teller untuk mengambil buku tabungan
  7. Selesai

Nah teman-teman jika ingin menabung pastikan untuk selalu perhatikan apakah Bank tersebut termasuk anggota LPS bukan. Jangan pernah deh kalian coba menabung di Bank yang bukan anggota LPS. Nanti kalau ada sesuatu yang buruk, katakanlah banknya menjadi tidak sehat, lalu tidak bisa memberi pinjaman dan lain-lain, maka uang tabungan kalian tidak bisa terselamatkan. Teliti juga ya sebelum membuka rekening di Bank.

Harusnya ada logo LPS lho didepan pintu masuk Bank. Nah itu salah satu ciri Bank tersebut peserta Lembaga Penjamin Simpanan.

Kisah Inspiratif Ayo Menabung

Sebagai penutup, saya coba hadirkan dua kisah insipiratif supaya teman-teman pembaca semakin semangat untuk menabung.

Pemulung bisa S2

Wahyudin, Pemuda bekerja sebagai pemulung demi cita-cita lanjut S2 (Sumber : Detik)

Kisah ini viral tahun 2015 lalu. Pemuda bernama Wahyudin, atau biasa dipanggil Wahyu, diundang oleh beberapa stasiun TV karena kiprahnya sebagai pemulung yang mampu lanjut kuliah S2 di ITB. Sejak kecil memang Wahyu selalu menabung dengan menyisihkan uang jajan. Sepulang sekolah biasanya Wahyu mulai bekerja memungut sampah.

Tidak ada rasa minder atau gengsi dalam dirinya meskipun banyak orang yang mencemoohnya. Impian yang besar untuk studi magister di kampus impiannya, membuat cemoohan seperti angin lalu. Rupiah demi rupiah berhasil ditabungnya kemudian menjadi bekal baginya dalam menjalani perkuliahan di Institut Teknologi Bandung.

Selama kita punya mimpi maka kita akan tetap hidup dan tetap bersemangat menjalani hari-hari. Tidak perlu memikirkan apa orang lain katakan tetapi kita harus membuktikan kepada orang lain bahwa kita bisa mewujudkan mimpi kita. Tetap semangat menjalani hari!

Tukang Parkir Naik Haji

Badri Syafii, Tukang Parkir Rajin Menabung 31 tahun untuk naik haji (Sumber : Tribun News)

Kalau sinetron kan tukang bubur naik haji, ada juga nih kisah nyata tukang parkir naik haji. Sebuah kisah dari Kota Yogyakarta yang sempat menggegerkan pada tahun 2016. Siapa sangka Bapak Bardi Syafii yang keseharian bekerja sebagai tukang parkir di Jalan Mangkubumi bisa berangkat haji. Sejak tahun 1985 mulai menabung dengan menyisihkan uang untuk haji.

Uang yang ditabungnya tidaklah besar, hanya Rp 500 – Rp 1.000 per hari disisihkan untuk persiapan naik haji. Tekad yang kuat diiringi ikhtiar menabung yang konsisten selama 31 tahun, Pak Bardi akhirnya bisa menggapai impiannya ke tanah suci untuk berangkat haji. Alhamdulillah Pak Bardi bisa berangkat bersama istri pada 17 Agustus 2016.

Semoga kisah diatas bisa menginpirasi untuk menabung. Pemulung seperti Wahyudin dan Tukang Parkir aja yang penghasilannya pas-pasan bisa menabung, masa teman-teman yang punya penghasilan lebih tidak ada niatan menabung? Malu dong. Hehe Yuk kita Menabung untuk Masa Depan lebih baik!

***

Beberapa Sumber Literatur :

Analisis Hukum Peranan Lembaga Penjamin Simpanan dalam Melindungi Nasabah Bank (Jurnal Ilmu Hkum Legal Opinion, Edisi 4, Volume 1, Tahun 2013)

SP109/DKNS/OJK/X/2016 Tentang Kampanye Gerakan “Ayo Menabung”

https://www.bi.go.id/id/perbankan/keuanganinklusif/Indonesia/strategi/Contents/Default.aspx

https://www.bi.go.id/id/perbankan/keuanganinklusif/Indonesia/Contents/Default.aspx

www.lps.go.id

https://www.moneysmart.id/

https://news.detik.com/

www.bogor.tribunnews.com

www.ekonomi.kompas.com

www.cnnindonesia.com

 

 

14 thoughts on “Yuk Menabung untuk Masa Depan Lebih Baik!

  • 31/07/2018 at 5:30 PM
    Permalink

    Wah betul sekali menabung itu sebagai investasi untuk biaya pengeluaran di masa depan yang tidak bisa kita duga-duga.

    Entah itu buat pendidikan anak-anak,biaya kesehatan dan lainnya.

    Dengan menabung setidaknya kita bisa mengantisipasi biaya yang tak terduga di masa depan nanti.

    Reply
    • 03/08/2018 at 5:38 AM
      Permalink

      Setuju mas menabung bisa mengantisipasi hal yang tidak terduga. Apalagi sudah berkeluarga harus menyisihkan sebagian rejekinya untuk ditabung

      Reply
  • 31/07/2018 at 10:43 PM
    Permalink

    Menabung itu memang perlu diajarkan dari usia sedini mungkin ya mas. Semoga dengan menabung, masa depan menjadi cerah… 🙂

    Reply
    • 03/08/2018 at 5:37 AM
      Permalink

      Aamiin harus dari kecil biar nanti besar bisa mandiri. 😀

      Reply
  • 01/08/2018 at 9:57 AM
    Permalink

    super sekali, abis baca ini Ane jadi makin dan makin bersemangat untuk menabung.
    semangat….! semangat….!

    salam blogger dan salam HOKI

    Reply
    • 01/08/2018 at 9:14 PM
      Permalink

      Semangat Ngeblog Semangat Nabung.. 🙂

      Reply
    • 01/08/2018 at 9:21 PM
      Permalink

      Makasih om. Antun juga keren tulisannya. 🙂

      Reply
    • 02/08/2018 at 10:52 AM
      Permalink

      Sama sama Mi. 🙂

      Reply
  • 02/08/2018 at 7:11 PM
    Permalink

    Langsung gagal fokus dg kalimat th 2007 masih smp
    Aku taun segitu udah mau skripsii
    😂
    Setuju bgt mas masalah nabung ini
    Aku sendiri lebih suka nabung krn ad kepuasan batin sampai suami bilang “duit itu dipake bukan ditabung smua”

    Reply
    • 03/08/2018 at 5:37 AM
      Permalink

      hahaha mbak miyo berarti gemar menabung ya. keren.

      Reply
  • 05/08/2018 at 6:05 AM
    Permalink

    Ternyata di zaman millenial kaya gini masih rendah ya budaya menabung. Salut sama mereka yang meski sedikit sedikit namun konsisten menabung demi cita dan harapannya kaya pak Syafii yg nabung untuk bisa naik haji.

    Reply
    • 06/08/2018 at 12:19 AM
      Permalink

      Harus kita budayakan lagi kegiatan menabung mbak. Khususnya lewat inspirasi-inspirasi seperti Pak Badri Syafii

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: