TENTANG GAYA BAHASA SEORANG PENULIS

Perlu digarisbawahi bahwa menjadi menulis tanpa banyak membaca adalah suatu hal yang ambigu. Ingin berkata-kata tapi tidak banyak kata itu hal yang absurd. Banyak menulis tidak mengapa tapi sempatkan membaca even itu artikel. Jika memang tidak sempat membaca buku.

Penulis disini bisa penulis buku, jurnal, media massa, ataupun media digital. Dalam dunia kepenulisan –bukan literasi digital- alangkah aneh jika seorang penulis tidak banyak membaca buku karya orang lain. Yang aku tahu mereka yang sukses menerbitkan buku, merekalah yang rajin membaca.

Menjadi seorang praktisi dunia digital atau katakanlah blogger, blogwalking menurutku adalah suatu hal yang wajib. Kenapa? Karena dalam blogwalking tidak ubahnya memperbaharui kosakata, meneliti frase kalimat, dan memperkaya wawasan gaya bahasa.

Blogwalking adalah rutinitas yang perlu dijadwalkan. Pernahkah kita merasa stagnan dalam menulis? Tidak tahu kalimat pertama yang harus ditulis, banyak pengulangan kata, kalimat yang monoton, atau bahkan yang paling parah adalah berhenti menulis.

Semua keresahan penulis atau blogger itu semua didapat karena bisa jadi dia hanya melihat karyanya sendiri tanpa membandingkan dengan karya orang lain.

Blogwalking juga bukan sekedar memberikan komentar :

“keren banget artikelnya”

“mantap tulisannya”

“boleh dishare?”

Jadi jangan heran kalau blogger itu reply :

“Terima kasih atas kunjungannya”

Artikel yang aku buat pun bukan untuk dikomentari sebenar-benarnya komentar. Haha Ini semata-mata untuk menampar diri untuk lebih introspeksi. Kalau pun sama-sama tertampar, tidak mengapa. Haha

Berbicara tentang gaya bahasa, kita bisa menjadikan seseorang untuk role model gaya bahasa kita. Sayangnya kalau itu menjadikan kita beban dalam menulis, maka pengerjaannya akan under pressure dan hasilnya akan hambar karena tulisan kita seolah sudah ada yang punya.

Apa itu cara alami? Be your self! Gaya bahasa kita ya gaya bahasa kita. Cara menulis kita pun harus beda dengan cara menulis orang lain. Sehingga orang lain tahu bahwa itulah tulisan kita dan mendarahdaging ke hati sanubari sang pembaca.

Kita hanya perlu bumbu-bumbu menulis untuk membuat racikan tulisan kita lebih sedap. Mencari resep yang enak tidak akan instan, perlu proses yang panjang dan ketekunan untuk belajar lebih baik lagi.

Mari kita berkarya selagi muda. Mari menanam untuk bekal nanti tua. Karena sebagai seorang penulis, sejatinya dia tidak akan mati. Selama dia punya karya nyata.

Salam Pembelajar

Feriald

2 thoughts on “TENTANG GAYA BAHASA SEORANG PENULIS

  • 28/03/2018 at 5:05 AM
    Permalink

    Masing2 orang tentu bakal punya gaya bahasa dalam menulisnya.
    Jadi ingat dulu waktu awal ngeblog gaya bahasanya kacau balau, hahaha.
    Ya walau sekarang ini juga masih sih, hahha.
    Cuma mencoba lebih baik aja sih, gak kaku kayak kanebo kering 😆

    Btw, sebel ya kalo komen di blog cuma sekedar “wah keren artikelnya”, bla bla bla.
    Fast reading banget 😀

    Reply
    • 28/03/2018 at 3:20 PM
      Permalink

      Kalau sudah nemu celah menulis biasanya bakal lancar n gak kerasa kalau udah nulis beberapa halaman juga. Semangat Menulis! Salam Kenal!

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: