160 views

SUDAHKAH KITA MENGENAL BIOENERGI? “Sang Penangkal Krisis Sumber Daya Fosil di Masa Depan”

Bagaimana jadinya jika Anda tidak bisa menggunakan kendaraan disebabkan kehabisan bahan bakar? Kemudian Anda tidak bisa beraktivitas seperti biasanya dan melewatkan momen-momen penting, seperti bercengkerama dengan teman kerja, bertemu dengan kerabat, menonton bioskop, atau aktivitas lainnya. Pasti Anda akan merasa kesal dan kecewa, bukan?

Saya yakin semua orang akan sepakat bahwa bahan bakar adalah elemen penting dalam aktivitas sehari-hari. Hampir semua lini kehidupan ditunjang oleh keterlibatan bahan bakar. Kita bisa menaiki kendaraan umum ataupun pribadi berkat adanya bahan bakar yang terkonversi menjadi energi gerak.

Bermula dari energi panas yang dihasilkan oleh proses pembakaran bahan bakar, kemudian melewati piston yang bergerak translasi dan akhirnya diubah menjadi gerak putar. Inilah prinsip sederhana dari proses konversi energi dari bahan bakar.

Andaikan saja suatu hari kita memang benar-benar tidak memiliki bahan bakar. Bisa karena kelangkaan akut atau harga yang melambung tinggi sehingga akhirnya kita tidak memiliki ketersediaan bahan bakar. Apa yang Anda lakukan? Coba bayangkan satu menit saja.

Susah membayangkannya? saya pun demikian. Berat memang kehidupan ini jika tidak ada bahan bakar. Pasalnya ia adalah material krusial yang selalu digunakan di setiap generasi.

Apakah fenomena kelangkaan bahan bakar bisa terjadi? Sangat bisa. Kenapa? karena jika tidak ada inovasi dan masih terlalu bergantung terhadap sumber daya fosil maka beberapa puluh tahun kedepan bisa sangat suram.

Contoh sederhananya saja, saya pernah mengalami masa dimana keluarga saya sangat membutuhkan minyak tanah. Pada tahun 2000-an terjadi kelangkaan minyak tanah dan harganya pun melambung tinggi. Kami susah mendapatkannya. Kalaupun ada, harganya susah bagi kami yang tergolong ekonomi lemah.

Jika saja saat itu masyarakat masih keukeuh menggunakan minyak tanah dan tidak beralih ke gas LPG. Adakah masyarakat Indonesia mengalami kemajuan energi? Setelah ada gas LPG, masyarakat kalangan bawah pun menikmati dan merasakan manfaatnya, termasuk keluarga saya.  

Sejurus kemudian, sumber daya fosil menjadi bahasan yang amat serius. Marwan Rosyadi, peneliti di Laboratory of Electric Machinery, Kitami Institute of Technology, Hokkaido, Jepang, menyebutkan bahwa energi fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam akan habis pada 2050 mendatang. Terhitung 30 tahun lagi umur energi fosil kita akan tamat riwayatnya.

Lalu bagaimana nasib kehidupan energi di masa depan?

Perlu diingat bahwa selama hampir satu abad, sistem energi dunia yang sekarang sudah dibangun (termasuk di Indonesia) selalu berdasar pada aneka keunggulan sumber daya fosil. Oleh karena itu perlu dan harus diupayakan peralihan dari sistem energi berbasis sumber daya fosil ke sistem energi berbasis sumber daya terbarukan.

Apa itu sumber daya terbarukan? Secara umum definisi energi terbarukan adalah sumber energi yang dapat dengan cepat dipulihkan kembali secara alami dan prosesnya. Konsep yang mulai dikenal pada tahun 1970-an ini memang dilatarbelakangi untuk mengimbangi pengembangan energi berbahan bakar nuklir dan fosil. Seiring berjalannya waktu maka energi terbarukan menjadi energi yang harus menjadi prioritas dunia mengingat ketersediaan sumber daya fosil yang semakin menipis.

Dari sinilah kita mengenal bioenergi. Bioenergi ialah energi yang berasal dari biomassa. Biomassa sendiri merupakan bahan-bahan organik yang berumur relatif muda dan berasal dari tumbuhan atau hewan seperti produk dan limbah industri budidaya seperti pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan.  (www.sith.itb.ac.id)

Jika dibandingkan dengan sumber energi terbarukan lainnya (panas bumi, arus laut, tenaga air, sinar matahari, atau tenaga ombak) maka biomassa ini memiliki keunikan tersendiri. Dosen senior Fakultas Teknologi Industri (FTI) Institut Teknologi Bandung, Dr. Ir. Tatang Hernas Soerawidjaja, dalam Lokakarya Gasifikasi Biomassa (2010), menyebutkan bahwa biomassa adalah satu-satunya sumber energi terbarukan yang merupakan sumber daya bahan bakar yang mampu menggantikan bahan bakar fosil dalam semua pasar energi. Sedangkan sumber energi terbarukan lainnya hanya mudah dikonversi menjadi listrik.

Sebagai Ketua Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (IKABI), beliau menambahkan, energi yang berasal dari biomassa memiliki bentuk final terpenting bioenergi, yaitu bahan bakar nabati (biofuels) dan listrik biomassa (biomass-based electricity).

Mari melihat sedikit fakta tentang negara kita tercinta, Indonesia.

Indonesia merupakan negara kepulauan. Mengutip data terbaru dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia (Kemenko Marves) kurang lebih sekitar 17.491 pulau yang sudah terverifikasi per Desember 2019. Secara geografis, ratusan ribu pulau Indonesia tersebut memilki kesulitan dalam hal transmisi dan distribusi BBM ataupun listrik. Karena keterbatasan jarak tersebut maka solusinya adalah pulau-pulau di Indonesia harus bisa memenuhi kebutuhan bahan bakar dan listriknya secara mandiri.

Pertanyaannya selanjutnya adalah bagaimana bisa memenuhi kebutuhan bahan bakar secara mandiri tersebut? Salah satunya yaitu dengan memanfaatkan sumber daya alam di masing-masing pulau.

Indonesia memiiliki keanekaragaman hayati yang tersedia di setiap pulau. Tentunya lahan potensial yang kaya biomassa tersebut akan mengamankan pasokan energi di masa yang akan datang. Dampak positifnya adalah lapangan kerja bisa terbuka, kemiskinan bisa berkurang, dan perekonomian bisa merata melalui bioenergi yang bisa diciptakan.

Indonesia menjadi negara dengan ketersediaan biomassa terbanyak di ASEAN (Sumber : Saku Rantanen, 2009)

Kita patut berbangga dengan potensi bioenergi dimana kekayaan biomassa yang berlimpah. Pada lingkup ASEAN, Indonesia menempati posisi pertama sebagai produsen biomassa terbesar. Biomassa yang dimaksud yaitu meliputi biomassa dari hasil pertanian dan perhutanan, atau disebut agricultutral biomass dan woody biomass.

Indonesia menjadi pemanfaat biomassa relatif kecil di ASEAN (Sumber : Saku Rantanen, 2009)

Namun sayangnya, potensi yang sangat besar tersebut belum termanfaatkan dengan baik. Indonesia tergolong negara pemanfaat biomassa relatif terkecil. Indonesia masih di bawah Thailand yang memuncaki rangking pertama sebagai negara pemanfaat biomassa, kemudian disusul Filipina dan Malaysia yang masing-masing menduduki urutan dua dan tiga.

Kemudian apa yang harus dilakukan?

Jika melihat potensi bioenergi yang besar tersebut maka sejatinya Indonesia harus mampu mengubah biomassa menjadi bahan bakar nabati (BBN), listrik biomassa, listrik biogas, dan bentuk final dari biomassa lainya. Logikanya, jika Indonesia masih tertinggal dalam pemanfaatan biomassa dengan negara di Asia, Eropa, dan negara majunya. Bukan tidak mungkin maka biomassa kita akan terkuras dan digunakan (diimpor) oleh negara lain. Imbasnya yang paling besar adalah lahan perkebunan, pertanian, dan hutan-hutan di Indonesia menjadi tandus. Inilah yang mengundang bencana alam nantinya ; banjir, longsor, polusi udara, dan musibah lainnya yang kemungkinan mengancam Indonesia.

Adakah kita berharap seperti itu? Tentu tidak ya. Sebagai generasi milenial, saya pun berharap 10-20 tahun ke depan saya bisa terlibat dalam penelitian bioenergi. Sehingga Indonesia bisa mampu merealisasikan potensi kekayaan alam yang dimilikinya. Memang butuh proses dan keilmuwan yang baik dalam mengelola biomassa di negeri kita tercinta.

Mengutip pernyataan Dr.Ir Retno Gumilang Dewi M.Env.Eng.Sc dalam konferensi bioenergi dan biorefineri di Ngee Ann Polytechnic , Singapore (March, 2011), berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan maka ada beberapa bioenergi yang bisa dikembangkan antara lain :

1. Biodiesel untuk mengantikan solar berbasis minyak bumi

2. Bioethanol sebagai pengganti bensin berbasis minyak bumi

3. Biokerosene untuk menggantikan minyak tanah berbasis minyak bumi

4. Pure Plant Oil (PPO) untuk menggantikan solar di pembangkit listrik

Harapannya adalah target pembangunan pemerintah bisa tercapai untuk masing-masing energi tersebut. Yakni pada tahun 2025 bisa mendapatkan biodesel sebanyak 10,22 juta kilo liter, 6,28 juta kilo liter bioethanol, 4,07 juta kilo liter biokerosene, dan 1,69 juta kilo liter PPO.

Seperti yang dilansir Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) terbukti bahwa pemanfaatan bioenergi bisa menghemat devisa negara dan mengurangi ketergantungan terhadap BBM fosil. Pada tahun 2019 saja pemanfaatan B20 (biodiesel 20%) mampu menghemat devisa negara sebanyak USD3,35 miliar atau setara dengan Rp48,19 triliun. Kementerian ESDM memperkirakan penghematan devisa pada tahun 2020 bisa mencapai lebih dari USD4,8 miliar atau sebanyak Rp63 triliun.

Implementasi B30 pun ditargetkan bisa meningkatkan penyerapan CPO sebesar 2,6 juta ton atau bisa menghemat lebih dari USD4,40 miliar yang setara dengan Rp63,40 triliun. Secara langsung implementasi B30 berdampak positif khususnya untuk kalangan masyarakat bawah. Pemanfaatan biodiesel disinyalir bisa menyerap banyak tenaga kerja, mengurangi emisi gas rumah kaca, meningkatkan kualitas lingkungan, menstabilkan harga CPO, dan mampu meningkatkan nilai tambah industri hilir kelapa sawit tentunya.

Direktur Bioenergi, Andriah Feby Misna, menyatakan bahwa sekitar 16,5 juta petani bisa meningkatkan pendapatannya dengan pengembangan B20 menjadi B30.

“Ini artinya progam B30 akan berdampak pada para pekebun kecil maupun menengah, petani rakyat yang selama ini memproduksi sawit serta para pekerja yang bekerja di pabrik-pabrik kelapa sawit,” ujar Direktur Bioenergi, Andriah Feby Misna dikutip dari berita EBTKE ESDM (6/2/2020).


Penerbitan Permen ESDM No. 4 Tahun 2020 ini diharapkan bisa membuat proyek-proyek Energi Baru Terbarukan di Indonesia menjadi lebih bankable dan segera dieksekusi (Sumber : IESR, 2020)

Bukan hanya sektor bahan bakar nabati, listrik berbasis biomassa perlu dikembangkan di seluruh penjuru negeri. Dr. Ir. Tatang Hernas Soerawidjaja sebagai anggota Dewan Riset Nasional Komisi Teknis Energi, mengatakan perlunya pemerataan akses kepada peningkatan rasio elektrifikasi nasional sehingga penyediaan listrik bagi daerah terpencil atau pulau kecil bisa terpenuhi. Adapun teknologi yang sesuai seperti genset biogas, genset diesel tipe Lister, dan genset Siklus Rankine Organik.

Teknologi bioenergi bukan tidak memiliki celah kekurangan. Berbagai keluhan konsumen tentang biodiesel atau bioethanol menjadi bahan pembelajaran bagi kita semua untuk semakin memaksimalkan pengembangan industri bioenergi nasional.

Pemanfaatan kotoran sapi untuk bahan bakar biogas sudah lama dikenal (Sumber : Lokakarya Gasifikasi Biomassa, 2010)

Oleh karena itu, perlu adanya perluasan riset dan penelitian berbasis bioenergi sehingga bisa mengkaji dan mengembangkan potensi sumber daya hayati yang tersebar luas di Indonesia. Pemerintah melalui Ditjen EBTKE saat ini tengah gencar bekerja sama dengan semua pihak untuk terus meningkatkan kualitas bioenergi berbasis biomassa. Salah satunya adalah kilang Plaju yang memiliki kapasitas 20 ribu barel per hari. Kilang yang berada di Palembang tersebut ditujukan untuk mengolah CPO menjadi biodiesel/greendiesel dan produk turunannya melalui proses hydrorefining (H2 dan katalis).

Sebagai penutup, izinkan saya mengutip salah satu pesan Eyang BJ Habibie : “Masa depan Indonesia ditentukan oleh keunggulan sumber daya manusia Indonesia yang memiliki nilai budaya memahami dan menguasai mekanisme pengembangan serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.” Alangkah baiknya masyarkat Indonesia, pemerintah, dan semua pihak saling bersinergi dalam membangun Indonesia yang lebih baik di masa depan.

Bioenergi adalah harapan. Biomassa adalah harta berharga Indonesia. Mari bijak menggunakan harta kita dalam membangun harapan bangsa untuk menjadi bangsa yang berdaulat, mandiri, dan sejahtera.

Salam

Ferry Aldina

Blogger

Referensi Tulisan :

Biofuel Potentials in Indonesia http://crep.itb.ac.id/wp-content/uploads/2013/11/RG-Dewi-ITB-Indonesian-bioenergy-potential-23-03-2011.pdf

Dampak Negatif Energi Fosil https://environment-indonesia.com/dampak-negatif-penggunaan-energi-fosil-dari-sektor-transportasi-dan-industri/

Energi Bersih Indonesia http://iesr.or.id/wp-content/uploads/2018/12/Laporan-Status-Energi-Bersih-Indonesia-2018.pdf

Energi Fosil https://republika.co.id/berita/nasional/umum/16/02/16/o2ndw3284-peneliti-sebut-energi-fosil-habis-2050

Kepulauan di Indonesia https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/02/21/jumlah-pulau-di-indonesia-bertambah

Pemanfaatan Biofuel http://ebtke.esdm.go.id/post/2020/02/07/2470/pemerintah.serius.capai.target.pemanfaatan.biofuel.dampaknya.luar.biasa

Peran Bioenergi https://sith.itb.ac.id/wp-content/uploads/sites/55/2017/10/THS-PeranBioenergiDanArahUtamaLitbangrap.pdf

2 thoughts on “SUDAHKAH KITA MENGENAL BIOENERGI? “Sang Penangkal Krisis Sumber Daya Fosil di Masa Depan”

  • 30/08/2020 at 7:31 PM
    Permalink

    even tergolong dalam energi terbarukan, kita tetap harus hemat dalam menggunakan energi tersebut ya om hehehhe

    Reply
    • 07/09/2020 at 10:27 AM
      Permalink

      betul sekali om. hehe

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *