239 views

Sepakbola, Freeport, dan Kemajuan Masyarakat Papua

Papua sudah tidak asing di telinga para pecinta sepakbola. Sejak zaman Edward Ivak Dalam sampai dengan Feri Pahabol, Papua memang lekat dengan sepakbolanya yang taktis dan atraktif. Tim yang berjuluk “Mutiara Hitam” itu sudah mengoleksi empat titel juara Liga Indonesia. Kini Persipura Jayapura sudah menjadi ikon kebanggaan masyarakat Papua.

Jika ada yang bertanya, apa yang kamu ketahui tentang Papua? Saya akan menjawab : Persipura dan Freeport. Sebagai salah satu penggemar sepakbola Indonesia, rasanya mustahil jika tidak mengenal tim yang menjadi lawan Persib Bandung di final Liga Indonesia 2015 itu.

Keberhasilan Persipura selama berada di pentas sepakbola dalam dan luar negeri tidak terlepas dari dukungan Freeport Indonesia. Perusahaan tambang terkemuka di Indonesia itu menyuntikkan dana untuk pembinaan sepakbola usia dini hingga pendanaan tim secara profesional. Sehingga hubungan Freeport dan Persipura sangat kental dalam membawa kejayaan sepakbola Papua.

Lantas apakah hanya sepakbola saja dampak dari keberadaan Freeport di Papua? Tentu saja tidak. Kontribusi Freeport dimulai sejak datang ke Papua sekitar tahun 1967. Daerah Timika yang mulanya hutan belantara disulap menjadi daerah pemukiman layak huni yang disertai akses jalan utama ke tambang dan desa-desa terpencil.

PT Freeport Indonesia sudah lima dekade memberikan kontribusi untuk pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional. Kontribusi langsung diberikan berupa penerimaan negara berupa pajak, royalti, dividen. Dan kontribusi secara tidak langsung seperti pemberian gaji karyawan, pembelian dalam negeri, pembangunan daerah, dan investasi dalam negeri.

Manajemen Freeport Indonesia, sepanjang 1992-2018, telah menginvestasikan sebesar US$ 7,7 miliar untuk infrastruktur dan memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Domestik Bruto Nasional sebesar lebih dari US$ 60 miliar sejak 1992.

Sumbangsih bagi negeri tidak hanya kepada PDB Nasional. Masyarakat asli Papua pun merasakan dampak positif dari program sosial PT Freeport Indonesia. Seperti kisah Novi Sherly Hermalin Dimara yang mendapatkan beasiswa Aminef. Pengalaman dan pelajaran selama di Amerika membuatnya kini dipercaya bergabung di Safety Departement PT Freeport Indonesia.

Kisah inspirasi dari Teanus (kanan bawah), Bernard (atas), dan Mussa Hannauw (kiri bawah). (Sumber : PTFI)

Kemudian cerita inspirasi dari Teanus Nebegal, pengusaha putra daerah dari kampung Ilaga. Teanus berhasil merintis usahanya dengan modal pribadinya. Putra asli Papua itu mendapatkan pembinaan dari Departemen Social & Local Developement (SLD) PT Freeport Indonesia. Berkat ketekunan dan kegigihan dalam menjalankan usahanya, kini CV Kwakibera yang didirikannya berhasil menambah kendaraan operasional, mendirikan sebuah rumah, kantor, dan mempekerjakan 12 orang karyawan.

Kesuksesan Teanus juga dirasakan oleh Bernard Alomang. Putra daerah dari suku Amungme itu adalah peserta Program Pembinaan Usaha Mikro Kecil Menengah (PP-UMKM) Departemen SLD PT Freeport Indonesia. Bersama enam karyawannya, Bernard berhasil memelihara perkebunan milik pribadi seluas 4 hektar. Bernard pun dipercaya untuk menangani proyek suplai rumput gajah ke Departemen Lingkungan Hidup. Saat ini CV Nem Kamame, usaha yang didirikannya sedang mempersiapkan 1700 bibit pohon tanaman keras.

“Pelatihan dan pendampingan yang dilakukan oleh SLD dan Environmental bagus dan baik. Mereka selalu turun ke lapangan sehingga banyak hal yang kami pelajari. Mereka selalu memberikan arahan, pendampingan, koreksi agar kesalahan tidak terulang lagi” ujar Mussa Hannauw, peserta binaan Departemen SLD PT Freeport Indonesia.

Mussa Hannauw, kontraktor putra daerah asal suku Moni dengan gigih merintis usahanya di bidang reboisasi dan remediasi hutan di area Kuala Kencana. Dengan mengutamakan keselamatan kerja kepada kepada karyawan, CV Hanau Numus JTB dipercaya untuk melakukan pekerjaan besar seperti penanaman pohon untuk Program Remediasi Kuala Kencana sebanyak 15.662 pohon pada areal seluas 39 hektar.

Empat Fokus CSR PT Freeport Indonesia

Pendidikan (kiri), Kesehatan (kanan atas), infrastruktur (kanan tengah), dan ekonomi (kanan bawah) Sumber : PTFI

Salah satu prioritas Freeport Indonesia adalah mengakselerasi pembangunan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Sehingga dalam menjalankan program tanggung jawab sosialnya, Freeport fokus pada bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur.

Pada bidang ekonomi, banyak pengusaha lokal yang dibina melalui program pembinaan UMKM dengan memanfaatkan potensi masyarakat dan daerah setempat. Tercatat sebanyak 118 pengusaha lokal berhasil membuka 1.036 lapangan pekerjaan baru. Dana kemitraan yang dikelola LPMAK disalurkan ke bidang peternakan, pertanian, dan perikanan.

Total bantuan yang mencapai Rp 52,3 miliar tersebut membuat dampak positif kepada masyarakat Papua. Seperti Devia Mom, salah satu penerima manfaat program pembinaan UMKM dari PT Freeport Indonesia.

“Rata-rata penduduk di sekitar sini banyak yang non pendidikan tetapi melalui program ini masyarakatnya yang bekerja disini bisa menyekolahkan anaknya dari SD, SMP, SMA, S1, S2, dan beberapa orang sudah S3” Devia Mom, Peserta Program Pelatihan Peternakan dari PT Freeport Indonesia.

Dalam bidang pendidikan, PT Freeport memberikan setidaknya 600 beasiswa per tahun kepada masyarakat asli Papua. Bersama LPMAK, program kegiatan bidang pendidikan meliputi pembangunan asrama pelajar, kampanye pendidikan, dan peningkatan kapasitas guru dan kurikulum. LPMAK pun mencatat sebanyak 723 peserta aktif yang mendapatkan beasiswa untuk jenjang SD sampai S2. 97% penerima beasiswa merupakan siswa dari tujuh suku.

Program pelatihan bahasa inggris untuk guru, pembuatan sarana dan prasarana belajar seperi ruang komputer, ruang bahasa inggris, laboratorium MIPA, dan alat peraga pendidikan. Keseriusan LPMAK dalam membangun pendidikan masyarakat Papua diganjar penghargaan emas pada ajang Penghargaan Gelar Karya Pembangunan Masyarakat pada tahun 2012. Selain itu juga penerima beasiswa bisa berprestasi dalam kompetisi Robot Imagine Riset and Technology 2012 dan menjadi juara 1 kategori Rule of Imagine tingkat SMP.

Senyum ceria anak-anak di Asrama Penjunan Timika (Sumber : PTFI)

Kontribusi untuk masyarakat pun berlanjut pada sektor kesehatan. Bekerja sama dengan Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia atau YPCII, LPMAK berhasil melaksanakan program kesehatan ibu dan anak, khususnya dalam pengendalian malaria. Mulai dari sosialisasi ke klinik-klinik dan puskesmas di Timika, lalu penyemportan 4.595 rumah, hingga pembagian kelambu anti nyamuk kepada 3.200 rumah di 17 kampung.  Upaya ini sebagai bentuk dukungan Freeport bersama Timika Malaria Control Center dalam menurunkan kasus malaria di Timika hingga 70 persen dalam tiga tahun terakhir.

Freeport pun telah mencatat sebanyak 170.000 kunjungan pasien ke fasilitas kesehatan yang dibangun dan dibiayai dari Dana Kemitraan Freeport bagi pengembangan masyarakat.  Berkat kerja keras dalam membangun kesehatan masyarakat Papua, LPMAK mendapatkan penghargaan platinum untuk program kesehatan ibu dan anak, penghargaan emas untuk program air minum dan sanitasi di Kabupaten Mimika, dan penghargaan emas lainnya dalam program partisipasi pelayanan kesehatan bagi anak di bawah lima tahun.

Pembangunan infrastruktur di Papua pun tidak lepas dari kontribusi Freeport. Kiprahnya dalam bidang infrastruktur terlihat jelas dengan adanya pembangunan Bandara Internasional Mozes Kilangin, Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM), Jembatan Pomako, Kompleks Olahraga Mimika, Fasilitas Air Minum hingga bantuan pembangunan Kantor Pemerintahan Kabupaten Mimika.

Segala dedikasi yang dilakukan Freeport selama 53 tahun sejak 5 April 1967 berdiri mendapatkan apresiasi dalam acara Top CSR Award 2018. PT Freeport Indonesia berhasil membawa tiga gelar penghargaan sekaligus, yaitu Top Leader on CSR Commitment 2018, Top CSR 2018 untuk Sektor Pertambangan, dan Top CSR 2018 untuk Program Infrastruktur.

Penghargaan tersebut menjadi motivasi PT Freeport Indonesia dalam membangun kesejahteraan masyarakat Papua, mengembangkan ekonomi lokal juga nasional, dan menjadikan Papua bisa lebih dikenal setelah sepakbolanya.

Papua adalah Indonesia. Indonesia cinta Papua.

***

Tulisan diikutsertakan dalam lomba Freeport Indonesia Writing Blog Competition 2020

Referensi : 

Lembar Fakta Kontribusi Finansial PT Freeport Indonesia 2019 : https://ptfi.co.id/site/uploads/images/5ce1f5b67bbb2-kontribusi-se.pdf

Keberlanjutan PT Freeport Indonesia : https://ptfi.co.id/index.php/id/freeport-in-society

Laporan Tahunan 2012 Social Outreach & Local Development Community Relations : https://ptfi.co.id/site/uploads/images/5bc42c089a880-529fe51d05ed5-2012sld-ar-bahasa.pdf

Liputan Ekonomi Kompas Oktober 2018 : https://ekonomi.kompas.com/read/2018/10/18/230421526/lakukan-csr-freeport-fokus-di-empat-bidang-ini

2 thoughts on “Sepakbola, Freeport, dan Kemajuan Masyarakat Papua

  • 19/01/2020 at 9:10 AM
    Permalink

    Tim Mutiara Hitam memang salah satu tim sepakbola yang patut dibanggakan ya, Kang. Apalagi didukung oleh perusahaan sebesar Freeport Indonesia. Semoga Papua terus berkembang seiring dengan kontribusi dan sumbangsih yang diberikan Freeport dan Pemerintah. Aamiin.

    Reply
    • 04/02/2020 at 8:08 PM
      Permalink

      betul, Bang. Btw, selamat sudah menjadi juara lomba blognya. 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *