Aku cukup heran melihat suasana yang beda di Mushola dekat kosanku. Tidak kudapati anak-anak kecil berlarian kesana-kemari selepas mendengar adzan. Nyanyian nasyid tidak bergema kembali menjelang sholat. Ruangan masjid pun lengang tidak ada kegiatan apapun. Hanya rutinitas sholat lima waktu yang dilaksanakan. Itulah kesan pertamaku ketika menginjakkan kaki di Desa Ciwaruga, Kabupaten Bandung Barat.

Sangat berbeda dengan kampungku yang penuh dengan aktivitas pengajian. Apalagi kota kelahiranku di Tasikmalaya yang banyak sekali pesantren-pesantren di tiap desa. Tak ayal suasana baru di tempat perantauan ini membuatku bertanya-tanya sebenarnya kenapa jarang sekali anak-anak kecil belajar ngaji.

Sejenak aku merenung dan tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Sambil menunggu adzan isya, aku sengaja duduk sambil menunggu muadzin yang datang. Tampak dari kejauhan lelaki dengan baju koko putih dengan kopiah hitam bergegas menuju tempat mimbar untuk membenarkan sound sistem dan mic. Beliau adalah muadzin Mushola Al Hikmah, Mushola yang membuatku cukup keheranan dengan kondisinya yang sunyi.

Aku datangi muadzin yang masih membenarkan mic dan mulai menanyakan situasi yang terjadi dengan mushola Al Hikmah.

“Kang, anak-anaknya kok gak ada yang ngaji ya?” tanyaku singkat.

“Dulu sih banyak tapi sekarang udah jarang bahkan gak ada lagi yang mau datang ke mushola.” jawabnya pelan. Tampak kesedihan di wajahnya pria yang berumur 30-an tahun tersebut.

“Saya dulu mengajar disini dan Alhamdulillah banyak muridnya tapi pas udah SMP, semuanya gak mau ngaji lagi.” tambahnya sambil membenarkan mic yang hampir selesai.

Percakapan aku dengan Kang Maya memang hanya lima menit. Tetapi lima menit ini sangat berharga karena mendengar langsung keluhan dari muadzin sekaligus pengajar ngaji. Dia sedih karena muridnya sudah tidak ngaji lagi. Malu merupakan alasan utama murid-muridnya yang sudah beranjak dewasa tidak mau berangkat ke Mushola lagi.

Dari percakapan singkat itu aku melihat besar sinaran harapan Kang Maya menginginkan anak-anak kembali datang untuk mengaji. Tetapi dia tidak tahu caranya harus bagaimana supaya mereka kembali mengaji. Berbagai upaya pernah dilakukannya, mulai dari mengajak makan bareng sampai dengan kerja bakti membersihkan mushola pun pernah dilakukan. Tetapi setelah itu pengajian kembali sepi.

Aku cukup prihatin melihat kondisi pengajiannya. Sampai pada satu momen setelah melaksanakan sholat Isya berjama’ah, aku menawarkan sesuatu yang mungkin bisa memberikan perubahan untuk kondisi pengajiannya.

“Kang, gimana kalau saya mengajak anak-anaknya untuk datang kembali ke Masjid.”

“Bagaimana caranya?”

“Kita datangi rumahnya dan tawarin untuk mengaji lagi.”

“Wah ide bagus. Boleh kita coba tuh. Mudah-mudahan Mushola ini bisa ramai lagi.” Jawab Kang Maya dengan wajah yang ceria.

Alasanku kenapa ingin mengajar ngaji adalah karena passion dan kecintaan terhadap pendidikan. Aku senang mengajar apapun selama aku mampu dan bisa memanfaatkan ilmu yang kudapat. Ngajar ngaji memang bukan latar belakang pendidikanku tetapi menjadi pengajar adalah keinginanku sejak kecil. Teringat awal sekolah ditanya apa cita-citaku, dengan lantang AKU INGIN MENJADI GURU.

Esok harinya sebelum Maghrib aku bersama Kang Maya menyusuri gang-gang kecil di Desa Ciwaruga. Pintu demi pintu aku ketuk dan mulai berbicara dengan orang tuanya untuk mengajak anak-anaknya mengaji lagi di Mushola Al Hikmah. Ada yang antusias menanggapi ajakan kami, tetapi ada juga yang biasa-biasa saja. Kebanyakan mereka tidak mau ngaji lagi karena tidak ada teman lagi, malu, dan banyak PR dari sekolahnya.

Dari jam empat sore sampai menjelang maghrib aku berkunjung ke beberapa rumah-rumah warga. Orangtua yang mempunyai anaknya yang sekolah SD sampai dengan SMA aku coba ajak untuk kembali ke Mushola. Harapannya Mushola bisa aktif lagi dan bisa meraih banyak prestasi lagi seperti dulu.

Ya, Mushola Al Hikmah ini terbilang banyak menghasilkan juara ketika ada perlombaan santri tingkat Desa. Sayangnya, setelah vakum proses belajar mengajinya, nama Al Hikmah sudah tidak terdengar lagi di kalangan madrasah se-Desa Ciwaruga. Ini juga menjadikan motivasiku untuk membangkitkan kembali nama Mushola Al Hikmah. Jauh dari itu, tugasku yang utama adalah mengembalikan murid yang “hilang” supaya datang mengaji lagi.

***

Adzan Maghrib pun berkumandang. Suara Kang Maya sangat khas di telingaku. Lantunan adzannya tidak ada yang bisa menyamakannya. Apalagi lengkingan tinggi menjadi ciri adzannya. Aku pun bergegas mengambil air wudhu dan segera menuju Mushola. Sambil berjalan menuju Mushola, hatiku bertanya-tanya. Pada datang gak ya.

Setelah sholat Maghrib biasanya anak-anak berdatangan. Sewaktu dulu memang selalu begitu. Dari gang-gang kecil terdengar suara lari anak kecil yang berlomba menuju Mushola. Sayangnya sekarang suara langkah anak-anak itu hilang meskipun aku sudah gencar “jemput bola”.

Namun terlihat lima belas menit setelah Maghrib, ada anak kisaran umur sepuluh tahun membuka pintu. Buku Iqro berwarna hitam sedang dibawa dengan tangan kanannya. Seolah harapan yang hampir putus itu kembali terajut utuh. Aku sangat senang melihatnya. Ternyata usahaku berbuah hasil. Meskipun hanya satu orang yang datang tetapi ini merupakan momentum dan langkah awal perubahan.

Aku berpikir strategi apa lagi yang harus aku lakukan untuk membuat anak-anak kembali lagi mengaji. Terbesit dalam benakku ketika alasan mereka berhenti mengaji adalah karena PR dari sekolahan. Aku punya ide untuk membantu tugas sekolah mereka di Mushola tentunya sambil mengaji. Mudah-mudahan kali ini ideku bisa membuat anak-anak tertarik untuk datang ke Mushola.

Bagiku, mengajar ngaji adalah bentuk mempersiapkan anak-anak untuk menjadi pribadi yang taat dan berakhlak. Pribadi yang baik akan membuatnya memilih kepada pergaulan yang baik pula. Mengaji adalah rutinitas dari kecil sampai tua. Karena sesungguhnya mengaji adalah membentengi diri dari kemaksiatan.

***

Keesokan harinya selepas adzan Maghrib terlihat gerombolan anak SD dan SMP masuk ke Mushola. Mereka membawa tas sekolahnya dan sepertinya lumayan berat. Benar saja, mereka keluarkan PR semuanya dan akhirnya mulailah rutinitas seperti dulu. Tetapi sekarang dimodifikasi menjadi mengaji plus mengerjakan PR.

Buku pelajaran matematika mulai dikeluarkan. Ada yang membawa LKS (Lembar Kerja Siswa), ada yang membawa buku gambar, dan ada juga yang membawa buku tulis saja. Setelah PR selesai dikerjakan maka mulailah buku Iqronya dikeluarkan.

Meskipun tidak maksimal dalam mengajar ngajinya -karena sambil mengerjakan PR- tetapi ini sudah lebih baik dibanding hari sebelumnya. Anak-anak terlihat gembira sekali karena PR nya bisa selesai. Pelajaran SD dan SMP tidak terlalu sulit dan bisa aku bantu ajarkan kepada mereka. Mereka pun senang dengan cara mengajarku. Hal yang paling diingat oleh mereka adalah aku selalu mendongeng dalam setiap mengajar.

“Ayo Kak dongeng lagi!”

“Aku suka dengerin dongengnya.”

“Kemarin kan belum selesai ceritanya. Ayo dong Kak!”

Permintaan yang sulit aku tolak. Wajah polos mereka menandakan harapan besar kepadaku. Mungkin mendongeng adalah penarik perhatian mereka setelah mengerjakan PR. Tetapi bagiku adanya mengajar ngaji adalah pengajaran moral untuk setiap anak. Aku ingin bangsa ini unggul dalam Sumber Daya Manusia yang jujur dan bertaqwa. Karena pelajaran moral ini sangat jarang ditemukan di sekolah formal.

Kenapa aku harus ngajar ngaji? Karena aku takut bangsa ini dipenuhi dengan manusia yang tidak berakhlak. Negara tercinta ini harus kita jaga. Moral adalah kuncinya. Dengan mengajar ngaji, aku berharap muncullah manusia-manusia yang bertanggung jawab, jujur, dan cinta terhadap Indonesia. Kecintaannya terhadap Indonesia membuat negara ini menjadi aman, tertib, dan nyaman.

***

“Dua minggu lagi ada lomba santri lho! Kita bisa ikutan kan?” tanya Kang Maya.

“Waduh mepet banget itu mah. Tapi hayu lah bisa kita siapin anak-anaknya.” jawabku dengan spontan

Keesokan harinya aku umumkan kepada anak-anak kalau kita bakal ikutan lomba santri.

“Horree aku ikut, Kak!”

“Aku juga, Kak!”

“Aku ikut lomba puisi ya, Kak!”

“Aku lomba adzan aja, Kak!”

Awalnya aku sempat pesimis karena khawatir sedikit yang bakal ikut. Tetapi ternyata mereka sangat bersemangat. Dua minggu yang menurutku waktu yang singkat, di pikiran mereka hanyalah soal biasa. Yang penting adalah mereka bisa eksis dan untuk urusan hasil itu bukan tujuannya. Terlebih lagi Mushola Al Hikmah ini sudah lama tidak mengirimkan anak-anaknya untuk lomba santri.

Tahun ini, anak-anak sangat bersemangat ingin mengikuti lomba santri tersebut. Semuanya ingin ikut lomba. Mereka ingin dapat piala seperti tahun-tahun yang lalu. Aku berharap dengan adanya lomba ini membuat anak-anak termotivasi untuk lebih berprestasi lagi. Jujur, aku sangat senang melihat mereka merespon adanya lomba ini.

“Besok kita latihan ya!” kataku sambil memikirkan kegiatan yang bakal super padat minggu depan.

“Ayoooo!” sahut mereka dengan cepat.

Aku pun langsung mempersiapkan materi lomba. Aku tuliskan lima puisi yang aku buat sendiri. Aku beli buku-buku gambar sebagai bahan latihan. Aku pun membeli buku mewarnai untuk anak-anak kecil yang masih SD. Mereka sangat bersemangat dan jangan sampai semangat itu hilang dari wajah mereka. Aku sangat ingin membuat mereka bahagia. Aku harap semangat berkompetisi tumbuh dalam jiwa mereka. Sehingga kelak nanti bisa berkompetisi di level yang lebih tinggi dan membanggakan Indonesia.

Aku juga mempersiapkan lomba futsal. Anak-anak yang tertarik dalam sepak bola, aku coba ikutsertakan dalam lomba futsal. Kalah menang soal biasa tetapi semangat bertanding harus selalu diutamakan. Aku pun segera merutinkan jadwal latihan. Mereka berlatih di kampus dimana aku kuliah. Mushola Al Hikmah ini memang jaraknya sangat dekat dengan kampusku. Hanya berjarak 500 meter dari gerbang belakang kampus. Sehingga kami bisa memakai lapangan futsal kampus di hari sabtu dan minggu.

Aku sendiri memang menyukai sepak bola. Sejak dari SMP sampai kuliah, aku sering mengikuti lomba futsal. Meskipun gak terlalu hebat, tetapi soal mencetak gol selalu menjadi keharusan dalam setiap pertandingan. Dan meskipun aku memiliki badan paling kecil dibandingkan teman-teman di sekolah, tetapi aku selalu ditempatkan menjadi penyerang utama. Kegembiraan  itu muncul ketika gol tercipta. Luapan kegembiraan muncul seketika dan yang paling ingat adalah momen ketika mencetak gol di pertandingan krusial. Kami dulu mempunyai musuh bebunyutan namun ketika mereka berhasil aku kalahkan itu rasanya senang luar biasa.

Ketika aku latihan bersama anak-anak Desa Ciwaruga, potensi menjadi pemain hebat ada dalam diri mereka. Mereka mencintai sepak bola. Mereka mencintai kompetisi. Mereka mencintai Indonesia. Ketika aku bertanya tentang pemain favoritnya, sontak mereka menjawab,

“Zainal Arif!”

“Atep!”

“Robie Darwis!”

Mereka kebanyakan mengidolakan pemain sepak bola dari Jawa Barat. Maklum mereka adalah suporter fanatik Persib Bandung. Menjadi pemain Persib Bandung adalah mimpi setiap anak kecil di Jawa Barat. Karena dengan menjadi pemain Persib, mereka percaya bahwa suatu hari kelak nanti bisa menjadi pemain timnas dan menjadi kebanggan seluruh rakyat Indonesia. Ketika lagu Indonesia Raya dinyanyikan bersama dan diiringi ribuan supporter bernyanyi bersama. Sungguh itu adalah mimpi mereka sejak kecil.

Aku pun mengabadikan momen-momen latihan dan pertandingan futsal santri se-Desa Ciwaruga. Lomba futsal ini memang diadakan lebih dulu dibanding lomba lainnya. Karena waktunya terbatas dan peserta lombanya pun merangkap mengikuti lomba-lomba lainnya. Seperti lomba adzan, puisi, menggambar, mewarnai, dan pidato.

Anak-anak dari Mushola Al Hikmah berjuang sampai peluit akhir. Harus diakui kalau tim-tim lawan sangat piawai. Skill membawa bolanya, permainan operannya, sampai mencetak gol pun sudah tidak diragukan lagi kehebatannya.Meski Mushola Al Hikmah tidak jadi juara futsal tetapi ini merupakan pengalaman pertama mereka mencicipi pertandingan bola tingkat Desa.

Selang lima hari setelah selesai lomba futsal, akan diadakan lomba-lomba yang lainnya. Persiapan lomba puisi, adzan, pidato, menggambar dan mewarnai diikuti oleh beberapa anak dari madrasah se-Desa Ciwaruga. Rata-rata pesertanya masih SD tetapi sebagian ada yang sudah SMP. Lomba pidato memang dikhususkan untuk SMP. Hanya saja ada anak SD yang coba nekad mengikuti lomba pidato tersebut. Anak SD itu berasal dari Mushola Al Hikmah. Aku berikan teks pidato yang aku buat sendiri.

Mereka sangat senang sekali berlatih untuk lomba tingkat Desa tersebut. Pidato yang aku tulis semalam suntuk selalu dibawanya kemana-mana. Ada juga yang berlatih adzan setiap hari di rumahnya. Saking semangatnya latihan lomba, mereka sudah stand by menungguku di halaman depan masjid. Padahal adzan Maghrib masih sekitar setengah jam lagi.

“Ayo Kak kita latihan lagi!” sambut mereka dengan antusias menyambut kedatanganku.

Dalam hati ini, aku sangat bersyukur melihat mereka bersemangat. Aku buatkan mereka puisi. Mudah-mudahan dengan puisi yang aku buat bisa membuat mereka belajar berkompetisi. Sejak dari kecil diajarkan berlomba supaya nanti sudah besar bisa berkembang dan lebih percaya diri mengikuti event yang lebih besar.

Senang sekali rasanya mengajar mereka. Rupanya mereka juga sangat senang dengan adanya lomba. Ada yang berlarian sambil membacakan puisi. Ada juga yang fokus latihan adzan di pojok Mushola. Semuanya berbahagia. Semuanya sangat menikmati latihan yang aku berikan.

Tiga hari menjelang perlombaan dimulai, anak-anak semakin percaya diri. Puisi yang aku buatkan sudah hafal di luar kepala. Adzan yang sering mereka kumandangkan dipojok Mushola, kini sudah berani memakai mic. Kadang dilatih pas waktunya sholat. Alhamdulillah perkembangan yang signifikan ditunjukkan oleh anak-anak.

Jauh dari itu, hatiku benar-benar bahagia melihat antusiasnya. Aku pun semakin serius melatihnya. Kadang aku menyuruh mereka lebih berekspresi ketika puisi. Kadang juga aku tambah gerakan untuk memperindah puisi yang mereka bacakan.

Aku sejenak melamun tentang pertanyaan yang diucapkan warga setempat. Dibayar berapa jadi guru ngaji. Sempat ingin aku jawab pertanyaan sinisnya. Tapi aku coba tahan karena dalam hati ini, aku ingin meluruskan niat untuk menjadi pribadi yang bermanfaat. Dimanapun aku berada, aku harus menjadi seseorang yang bermanfaat. Aku dilahirkan di tanah air yang damai ini. Aku ingin menjadi pribumi yang selalu menebarkan benih-benih kebaikan.

Ketika aku melihat pemain bulutangkis rasanya ingin sekali seperti mereka. Tetapi bakatku bukan disana. Aku sempat menjadi atlet lari 100 meter putra tetapi kalah di seleksi sekolah. Pernah juga ingin menjadi pemain sepak bola tetapi aku kalah fisik dengan mereka yang berbadan tinggi. Sehingga pada akhirnya aku menyimpulkan bahwa kecintaan kepada tanah air memang tidak bisa didefinisikan secara pasti. Semua orang dengan kemampuannya ingin membawa nama harum Indonesia. Kita hanya tinggal memaksimalkan apa yang kita punya.

***

Akhirnya hari yang dinanti pun tiba. Lomba Santri Tingkat Desa Ciwaruga siap dimulai. Panggung sudah disediakan oleh panitia. Pernak pernik sudah ditempelkan di dinding-dinding ruangan. Peserta dari berbagai penjuru Desa Ciwaruga berdatangan, lengkap dengan seragam yang sama untuk mencirikan madrasahnya. Sayangnya ada satu kelompok peserta yang memakai seragam yang beda-beda. Ya, merekalah murid Mushola Al Hikmah.

Tidak terpikirkan sama sekali untuk mengintruksikan dresscode yang dipakai lomba. Aku hanya berpikir bagaimana berhasil di lombanya. Untungnya mereka tidak mempermasalahkan baju yang dipakai. Mereka aku fokuskan untuk berkonsentrasi dengan lomba. Bukan dengan bajunya.

Sekitar pukul empat sore, lomba pun dimulai. Lomba mewarnai dikhususkan untuk siswa sekolah dasar. Ada ruangan sebelah Masjid yang digunakan untuk lomba mewarnai. Lomba adzan ditempatkan di ruangan utama Masjid. Adapun lomba puisi memiliki ruangan khusus lagi di sebelah ruangan lomba mewarnai.

Aku menunggu di luar ruangan bersama Kang Maya. Pemuda yang sudah menjadi sukarelawan ngajar ngaji bertahun-tahun ini cukup terlihat tegang. Pasalnya ini kali pertama murid-muridnya kembali mengikuti lomba santri tingkat desa.

“Yang penting udah ikutan. Kalah menang itu hal biasa.” gumam Kang Maya.

Entah dengan siapa dia bicara tetapi yang pasti dia sudah lega melihat murid-muridnya yang sudah kembali mengaji. Aku pun merasakan hal yang sama. Melihat mereka berlomba saja sudah senang apalagi memenangkannya.

Waktu satu jam lomba tidak terasa bergulir begitu cepat. Tibalah waktu pengumumannya. Aku rasakan mereka ingin sekali menjadi juara. Tetapi apapun hasilnya, mereka sudah mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Siapapun pemenangnya kelak, anak-anak sudah menjadi pemenang di hatiku.

“Juara 1 Lomba Adzan berasal dari Mushola Al Hikmah!”

“Juara 3 Lomba Adzan berasal dari Mushola Al Hikmah!”

Seketika suara anak-anak Al Hikmah bergemuruh. Luapan kebahagiaan mereka ungkapkan dengan berpelukan satu sama lain. Yang laki-laki merangkulku dengan kuat. Anak-anak perempuan berteriak selayaknya perempuan mendapatkan hadiah ulang tahun. Sungguh kebahagiaan luar biasa.

Aku tahu menjadi nomor satu itu tidak mudah. Aku juga tahu menjadi nomor satu itu butuh perjuangan. Mungkin aku tidak bisa menjadikan mereka semua nomor satu di perlombaan santri. Tetapi aku sudah membuat mereka menjadi nomor satu di hatiku.

Ini semua untuk Indonesia. Aku ingin bangsa ini dipenuhi dengan orang-orang baik. Aku tidak mau bibit-bibit unggul pemuda pemudi Indonesia hilang karena salah pergaulan. Aku lakukan semaksimal mungkin untuk memberikan apa yang kubisa. Menjadi mahasiswa merangkap sebagai guru ngaji adalah caraku mencintai Indonesia.

Harapanku cuma satu. Semoga mereka menjadi pemimpin yang berakhlak di masa depan. Semoga kelak mereka menjadi pribadi yang amanah dan selalu mengedepankan kejujuran dimanapun berada.

Indonesia itu Satu. Satu untuk selamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *