Tak ada yang ditakutkan dalam pernikahan selain perpisahan.
Tapi ada yang lebih menakutkan, menikah tanpa perencanaan.

“Alhamdulillah kedua calon mempelai sudah cukup umur. InsyaAllah gak ada JAMU lagi di Indramayu,” tutur petugas KUA. Pria berpeci hitam itu menutup pelatihan pranikah dengan kalimat yang membuat saya mengernyitkan dahi. Ucapannya menyimpan banyak tanda tanya. Namun embusan napasnya menandakan kelegaan.

Beribu pertanyaan ingin segera dilontarkan untuk membunuh rasa penasaran. Sedetik kemudian tanpa ditanya, beliau dengan sukarela menjelaskan maksud kalimat misteri itu. Sayang, raut wajah sedih mulai terpancar dari pria berusia 40-an itu. Masih maraknya perkawinan anak di Indramayu membuat jantungnya berdetak cepat setiap ada remaja yang datang melaksanakan pelatihan pranikah.

Minimnya edukasi tentang pernikahan dini membuat daerah yang dijuluki “Kota Mangga” ini sering menjadi lumbung pengantin muda. Ketidaksiapan para pengantin muda dalam mengelola rumah tangganya membuat benih-benih pertengkaran tumbuh. Ujung-ujungnya adalah kekerasan rumah tangga yang menyebabkan perceraian.

Mulailah sebutan JAMU atau Janda Muda disematkan kepada Indramayu. Julukan ini jelas membuat citra Indramayu menjadi buruk di mata masyarakat Jawa Barat.

Saya segera mengonfirmasi perihal kebenaran berita tersebut. Istri saya pun menceritakan kalau teman dan saudaranya memang banyak yang menikah di usia muda. Beruntung sekali dirinya bisa mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi.

Kasus perkawinan anak di Kabupaten Indramayu, seperti yang dilansir Republika Online (13/01/2019), terbilang tinggi sampai akhir tahun 2018. Sekretaris Cabang Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Kabupaten Indramayu, Yuyun Khoerunnisa, menjelaskan bahwa berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Indramayu menempati urutan lima besar daerah di Jawa Barat yang memiliki angka perkawinan anak tertinggi.

Kondisi ekonomi menjadi faktor utama banyak orang tua  yang menikahkan anaknya yang masih dibawah umur. Alih-alih ingin mengurangi beban hidup malah justru membuat masa depan anak rusak. Kurangnya sosialisasi kepada masyarakat juga disinyalir menjadi faktor lain masih maraknya perkawinan anak di 317 Desa yang ada di Indramayu.

Provinsi Jawa Barat berada pada urutan ke-22 dengan persentase perempuan sebanyak 27,02% (umur 20-24) yang pernah kawin dan umur perkawinan pertamanya di bawah 18 tahun. Dalam skala nasional, Pulau Kalimantan mendominasi perkawinan anak di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2017, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Utara menjadi sepuluh besar provinsi dengan angka perkawinan anak tertinggi di Indonesia.

Kasus perkawinan anak ini perlu mendapatkan perhatian serius dari semua pihak. Jika tidak segera ditangani bersama maka masa depan anak menjadi taruhannya. Terlebih lagi Kalimantan yang memiliki angka perkawinan tertinggi di Indonesia. Bukan hanya kerja sama tetapi kerja keras serta komitmen untuk mengurangi angka perkawinan anak demi menjadikan Indonesia yang lebih baik.

Pertengahan November 2018, saya berkenalan dengan Nordianto Hartoyo Sanan, pemuda asal Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Anto, sapaan akrabnya, sudah lama menyuarakan kekhawatirannya tentang perkawinan anak di Kalimantan. Sosok yang ramah dan mudah diajak ngobrol itu mengawali pembicaraan dengan topik pernikahan.

“Menikahlah dengan rencana, karena yang punya masa depan itu kita dan jangan salahkan jika kita tidak merasakan masa depan yang kita idamkan,” tutur pemuda yang tergabung dalam Forum Anak Kalbar tersebut.

Pada awalnya saya menceritakan tentang kondisi Indramayu yang memiliki kasus perceraian yang tinggi di Jawa Barat. Anto membenarkan jika dia pernah mendengar nama Indramayu. Rupanya Indramayu bukan hanya “terkenal” di Jawa Barat. Pria kelahiran 1995 itu menegaskan kejadian perceraian yang banyak terjadi sangat dipicu oleh perkawinan anak yang masih tinggi.

Hasil survei Susenas 2017, lanjut Anto, Kalimantan Barat mengalami penurunan jumlah perempuan yang menikah di bawah umur 18 tahun dari 104/1000 perempuan menjadi 39/1000 perempuan. Tentu hasil penurunan sebanyak 62,5% itu tidak terjadi begitu saja. Perlu proses yang panjang untuk mengubah pola pikir tentang nikah muda di Kalimantan Barat.

 “Alhamdulillah, mungkin karena ada intervensi program GenRengers ini yang masif kita gerakkan,” tandas Anto yang kini menjabat Ketua Forum Generasi Berencana (GenRe) Indonesia.

Lingkungan yang Mendesak

Perkawinan anak bukanlah budaya tetapi bencana (Sumber Foto : @nordiantohs)

Sepuluh tahun yang lalu, Anto kecil masih duduk di bangku SMP. Ia resah dengan kondisi lingkungannya yang menganggap perkawinan anak adalah hal yang lumrah. Masyarakat pada umumnya tidak menyadari bahwa perkawinan anak merupakan bencana dan penyakit sosial. Ketika ini menjadi budaya maka seketika itu pula menjadi sumber bahaya.

Anto termenung di bawah langit Kalimantan yang kejam. Kepada siapa ia harus menyalahkan. Teman sebayanya sering hilang entah kemana. Ada yang bilang sekolah ke kota, ada juga yang merantau mencari kerja. Sayangnya itu hanya alibi.

Selang dua tahun kemudian teman-temannya kembali. Wajah-wajah yang masih belia tidak bisa membohongi setiap mata yang memandang. Bayi kecil nan lucu ditimangnya dengan penuh kasih sayang. Statusnya jelas sudah berubah. Kini mereka sah menjadi pengantin muda.

Kondisi lingkungan seperti itulah membuat Anto terdorong untuk berbuat sesuatu. Meskipun banyak aral melintang tapi ia hadapi dengan lantang. Dengan bermodalkan sepeda motor di rumahnya, Anto pergi menelusuri jalanan yang berliku nan bergelombang. Pohon-pohon yang masih asri menjadi teman setianya. Matahari pun selalu memata-matai ke mana ia pergi. Mulai dari pinggir kota sampai pelosok desa rela ia telusuri.

“Saya itu jarang di rumah. Setiap hari Kamis, saya selalu kabur pergi ke kampung-kampung. Memberikan edukasi dan juga motivasi kepada anak-anak tentang kesehatan reproduksi dan pentingnya pendidikan,” ujar Anto.

Kegiatan yang dilakukan Anto memang tidak seperti remaja seumurannya. Sempat ditentang pada awalnya tetapi justru malah mendapat dukungan kuat dari keluarga, terkhusus dari Mamaknya.

“Kalau Mamak dulu sekolah mungkin Mamak bisa melakukan hal yang lebih baik, Le! Kamu harus lebih baik dari Mamak karena kamu bisa sekolah!” nasihat Mamaknya selalu terngiang dalam benak Anto.

Tokoh inspirasi dalam hidup Anto adalah Mamak. Ia selalu menyemangati setiap kegiatan yang dilakukan. Meskipun ada sebagian orang yang mencibirnya. Tetapi ia tetap fokus pada kegiatannya dalam upaya memperbaiki masa depan anak di Kalimantan Barat.

“Saya tidak peduli dengan omongan orang terhadap saya. Selama lingkungan sekitar saya mendapatkan hal yang positif, maka saya lebih mementingkan orang-orang di lingkungan saya daripada memikirkan hal yang tidak penting,” tegas Anto.

JUS, Janda Usia Subur

Saya temui di suatu daerah dan disana status janda menjadi sebuah kebanggan (Sumber Foto : @nordiantohs)

Pemuda berusia 24 tahun itu sering menemukan permasalahan serius ketika berkunjung ke wilayah di perbatasan Kalimantan. Bahkan Anto menceritakan bahwa dia pernah mengunjungi suatu daerah yang mendapat julukan JUS atau Janda Usia Subur. Sayangnya label itu justru menjadi kebanggaan bagi seorang pemudi. Sungguh aneh dan memprihatinkan memang.

Banyak anak yang masih berusia 16 tahun dan sudah mempunyai dua orang anak kemudian ia diceraikan oleh suaminya. Sering ia temui kasus seperti ini. Ironisnya setelah berstatus janda, mereka akan merasa bangga. Perempuan belia yang sudah berstatus “JUS” sudah menganggap dirinya tidak mempunyai beban lagi dalam hidupnya.

“Ketika saya masih gadis, saya tidak boleh ke mana-mana. Berarti kalau sudah nikah dan janda maka saya bebas berkeliaran. Karena beban menikah dari orang tua sudah hilang. Itu yang ada dalam pikiran mereka.” Anto menceritakan pengalaman yang tak akan terlupakan olehnya.

Fakta ini jelas menambah kompleksitas permasalahan perkawinan anak di Kalimantan. Pemahaman anak maupun orang tua harus sama-sama diluruskan supaya masa depan anak Indonesia bisa terselamatkan.

Alhasil tidak heran jika riset UNICEF tahun 2015 mengatakan bahwa Kalimantan Barat memiliki tingkat perkawinan anak paling tinggi di Indonesia. Kondisi lingkungan, kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan perkawinan usia dini menjadi faktor utamanya.

Berangkat dari permasalahan itulah kemudian Anto menggagas kegiatan edukasi remaja bernama GenRengers Educamp pada tahun 2016. GenRengers Educamp merupakan konsep edukasi di luar ruangan yang dikemas dengan kegiatan berupa permainan, penyuluhan, dan seminar. Sasaran usia pesertanya adalah remaja yang masih sekolah.

GenRengers Educamp adalah sebuah ikhtiar untuk menekan angka pernikahan dini (Sumber Foto : @nordiantohs)

Di bawah naungan Generasi Berencana (GenRe) Indonesia, GenRengers Educamp menjadi wadah untuk mengedukasi para remaja tentang Kesehatan Reproduksi Remaja, Life Skill, Penyiapan Kehidupan Berkeluarga, serta Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Anto bergerak ke pinggir kota, menuju desa-desa di Kalimantan Barat, dan sampai ke perbatasan Indonesia-Malaysia.

“Di samping keluarga yang tidak paham tentang bahaya pernikahan di bawah umur, anak-anaknya juga tidak tahu kenapa mereka sekolah.” Anto mengatakan tentang penyebab maraknya perkawinan anak di Kalimantan Barat.

Kondisi ekonomi keluarga yang lemah membuat para orang tua juga berpikir menikahkan anaknya akan meringankan beban keluarga. Mengubah pemikiran seperti itu sebuah tantangan berat. Butuh bertahun-tahun untuk menyadarkan masyarakat akan dampak buruk perkawinan anak. Tidaklah heran jika banyak mendengar nasihat ini,

 “Lulus sekolah nanti kamu bantu urus adek ya! Kamu gak usah sekolah, adek kamu aja yang sekolah!”

Untuk itu GenRengers Educamp bukan hanya memberikan edukasi tentang kesehatan reproduksi, tetapi ada program yang dinamakan GenRepreneur yang bertujuan untuk menciptakan ekonomi-ekonomi kecil yang dibimbing oleh seorang mentor. Besar harapan masalah ekonomi bisa berkurang dan menjadi jalan untuk mereka agar tetap sekolah.

Seorang Pengintai Ulung

Konsep utama dari GenRengers Educamp adalah fun learning dengan peserta dari pelajar, pekerja remaja, sampai anak putus sekolah. (Sumber Foto : @nordiantohs)

Pengalaman selama sepuluh tahun lebih bergerak di bidang sosial, menyebabkan “jiwa GenRe” selalu melekat dalam diri Anto. Keprihatinan dan keinginannya untuk berubah menjadi bekal dalam membangun program GenRengers Educamp.

Kegiatan camp ini biasanya berlangsung seru apalagi ketika sesi presentasi. Semua peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Materi yang disampaikan kakak-kakak mentor diperhatikan secara saksama. Mereka menulis ulang di sebuah kertas karton ukuran A0.

Tampak terlihat kreasi gambar peserta memenuhi tempat kosong di karton itu. Judul dengan huruf kapital ditulis persis di bagian tengah atas karton. Semua bersemangat dan tidak sabar untuk sesi yang ditunggu-tunggu.

Presentasi pun dimulai. Semua peserta antusias menyimak temannya yang sedang berbicara. Gelak tawa tidak dapat dihindarkan ketika salah satu peserta membawakan materinya dengan mimik yang lucu. Persis seperti standup comedy. Ada pula yang sedikit malu karena tidak terbiasa berbicara di depan banyak orang. Rasa malu, lucu, senang, dan lelah bercampur aduk selama kegiatan camp berlangsung.

Dari kejauhan terlihat seorang perempuan mengintai kegiatan GenRengers. Tatapan matanya tajam diikuti rasa penasaran yang dalam. Tidak tahu apa yang dipikirkannya. Tetapi perempuan yang masih berusia 16 tahun itu seperti tertarik untuk bergabung. Rasa malu telanjur menjadi penghalang untuk hanya sekadar mendekat. Hanya bisa melihat canda ria para peserta camp dari kejauhan.

Anto menyadari keberadaan anak itu. Ia dekati dan mulai bertanya.

“Adek, siapa namanya?” tanya Anto sambil merendahkan tubuhnya yang lebih tinggi.

“Bunga (bukan nama asli),” jawabnya pelan.

“Berapa umurnya?” Anto melanjutkan pertanyaan.

“Enam belas tahun, Kak.” Bunga kembali menjawabnya dengan pelan.

“Kamu mau ikut gabung, ya?” Mukanya memerah tanda mengiyakan.

Setelah lama berbincang-bincang ala remaja sebayanya, rupanya ia ingin sekali bergabung tetapi malu karena sudah pernah menikah dan telah mempunyai anak.  Anto meyakinkan anak yang selalu mengintai itu untuk bergabung dengan teman sebayanya.

Alhamdulillah kini ia tak hanya mendapatkan materi edukasi yang belum pernah terdengar sebelumnya. Lebih dari itu, ia kini memiliki teman dan masa depan.

Melahirkan Relawan

GenRengers Educamp : Mengurangi angka perkawinan anak dan melahirkan relawan peduli kesehatan (Sumber Foto : @nordiantohs)

“Dari 400 remaja yang setiap tahunnya terpapar program GenRengers Educamp mampu melewati transisi kehidupan yang pertama, yaitu mendapatkan pendidikan. Hal ini dibuktikan melalui hasil survey RPJMN 2017 di mana angka perkawinan usia dini (kelompok usia 15-19 tahun) di Kalimantan Barat yang terjadi karena angka kehamilan tidak diinginkan yang tinggi telah menurun dan saya optimis GenRengers Educamp sebagai salah satu yang berkonstribusi terkait hal tersebut,” ujar Duta Mahasiswa GenRe Kalimantan Barat Putra tahun 2014.

GenRengers EduCamp, lanjut Anto, merupakan kegiatan inovatif yang dibuat oleh Generasi Berencana Kalimantan Barat guna mempersiapkan kader-kader unggul yang berdaya saing, menanamkan nilai-nilai kepemimpinan dalam kehidupan sehari-hari, dan juga setiap remaja mampu mempersiapkan kehidupan yang lebih baik dengan menikah di usia ideal. Sehingga apa yang dipelajari adalah bagaimana menyelesaikan masalah, melatih kerja sama, permainan edukatif, menyampaikan pendapat dan mendengar pendapat, dan belajar menjadi pemimpin yang baik.

GenRengers EduCamp bukan hanya memberikan edukasi tetapi menciptakan generasi. 400 remaja yang terlibat dalam program GenRengers Educamp setiap tahunnya dididik untuk menjadi duta remaja di 14 kabupaten dan kota yang ada di Kalimantan Barat. Sehingga GenRengers Educamp bisa melahirkan relawan yang peduli dan paham mengenai permasalahan kesehatan, khususnya pernikahan usia dini.

Secara keseluruhan, 30 remaja dari tiap kabupaten dan kota yang terlibat program GenRengers EduCamp dapat menyelesaikan di bangku sekolah menengah atas. Ini membuktikan bahwa program GenRengers EduCamp mampu memengaruhi remaja untuk dapat menyelesaikan pendidikan di jenjang pertama dan memilih untuk bekerja atau melanjutkan ke perguruan tinggi.

Program GenRengers Educamp membawa kepada perubahan pola pikir dan perencanaan masa depan (Sumber Foto : @nordiantohs)

Mereka yang sudah mengikuti program GenRengers Educamp tidak berhenti begitu saja. Champion, sebutan untuk kordinator kabupaten/kota, dibentuk supaya dapat mengikat kebersamaan dan kekeluargaan yang telah dibangun selama camp berlangsung.

“Harapannya mereka dapat menjadi role model. Ketika ia menjadi role model, anak-anak lain akan mengikutinya tanpa dipaksa. Anak muda seperti superhero, itu yang menjadi dasar dari GenRengers bagi anak-anak Indonesia,” tutur Anto.

Putra Pariwisata tahun 2017 itu menuturkan bahwa GenRengers EduCamp memberikan pendampingan untuk mencetak remaja yang unggul. Setelah pendampingan maka peserta masuk dalam Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK Remaja) dan Forum Genre yang dibantu BKKBN atau Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.

Anto pun menyadari bahwa keterlibatan pemerintah sangat membantu dalam menyelesaikan permasalahan sosial tersebut. Pemerintah bisa mengatur dasar-dasar kuat dalam mengatasi “bom waktu” ini melalui BKKBN yang ada di perwakilan provinsi dan daerah-daerah di Indonesia.

Kegiatan yang digagas Anto sejak 2016 akhirnya menyedot perhatian pemerintah setempat. Pemerintah Kabupaten Kubu Raya mengajaknya bekerja sama dalam menuntaskan perkawinan usia anak di Kalimantan Barat. Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan berharap banyak kepada pemuda-pemuda seperti Anto untuk menyuarakan kekhawatirannya soal perkawinan anak yang merenggut masa depan anak di bumi khatulistiwa itu.

Pemerintah Kabupaten Kubu Raya menjadikan Anto sebagai role model pemuda peduli pernikahan dini (Sumber Foto : @nordiantohs)

“Kami berkepentingan sekali terhadap perkembangan anak remaja saat ini. Pemuda seperti Anto inilah yang kita maksimalkan untuk memberikan edukasi dan kesadaran kolektif kepada keluarga dan masyarakat luas, terutama kepada para pemuda,” ujar Bupati Kubu Raya.

Bupati Kubu Raya pun menginstruksikan pemerintah desa untuk memberikan denda kepada masyarakat yang kedapatan akan melangsungkan pernikahan di bawah umur. Regulasi yang dibentuk setidaknya bisa mengurangi jumlah perkawinan usia anak.

Sebuah Efek Domino

Program GenRengers Educamp kini tidak hanya dilaksanakan di Kalimantan Barat. Bak efek domino,  5 provinsi lain beserta 10 kabupaten dan kota mereduplikasikan program yang digagas Anto tersebut. Program GenRengers Educamp berhasil menjadi bibit unggul pendidikan alternatif yang bisa dikembangkan di provinsi lain.

“Ketika orang tahu Nordianto dengan GenRengers Educamp-nya maka kedepannya juga bisa membangun GenRengers Educamp dengan versinya sendiri. Saya pikir itu adalah hal yang baik dan menjadi sebuah keberhasilan bagi saya pribadi .” ucap Anto.

Bersama 20 tenaga relawan inti yang berhasil dibentuknya, Anto sangat berharap setiap educamp yang dihelat di pelosok Kalimantan Barat, dapat melahirkan relawan baru yang memiliki semangat baru dalam menekan angka perkawinan anak di daerah asalnya. Semakin banyak daerah yang mendapatkan dampak program GenRengers Educamp, semakin banyak remaja yang peduli akan masa depan anak Indonesia.

Atas segala dedikasinya di bidang kesehatan, Astra memberikan penghargaan kepada Anto sebagai penerima SATU Indonesia Awards 2018. Kontribusi positifnya untuk masyarakat luas berbuah piala yang sangat berarti. Menurutnya, piala SATU Indonesia Awards adalah simbol semangat seluruh remaja dan GenRengers di Kalimantan Barat.

Nordianto, Penerima SATU Indonesia Awards 2018 (kiri) ,Delegasi Indonesia ECOSOC UNHQ New York (kanan bawah) (Sumber Foto : @nordiantohs)

Setelah Program GenRengers Educamp, Anto mendirikan Pusat Konsultasi Remaja yang dinamakan Rumah Enggang Muda. Ide ini dicetuskan sebagai tindak lanjut dari kegiatan GenRengers Educamp. Setiap remaja yang merupakan alumni GenRengers Educamp akan bergabung membuat proyek kebaikan bersama di Rumah Enggang Muda.

Rumah Enggang Muda pun terintegrasi dengan kegiatan kewirausahaan remaja. Harapannya, permasalahan ekonomi bukan menjadi masalah lagi untuk putus sekolah. Sehingga dengan adanya Rumah Enggang Muda menjadikan program GenRengers Educamp ini tidak stagnan tetapi bisa berdampak dan berkelanjutan.

Berkat kegiatan sosial yang dilakoninya selama beberapa tahun terakhir, Anto berhasil menjadi delegasi Indonesia Youth Meeting ECOSOC UNHQ di New York 2016, delegasi Indonesia End Child Marriage di Malaysia tahun  2016, dan delegasi International Conference on Family Planning di Nusa Dua, Bali tahun 2017.

Anto tengah melakukan school visit dalam kegiatan volunteer di Polandia (Sumber Foto : @nordiantohs)

Baru-baru ini, tepatnya November 2019, Anto menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia yang berangkat ke Polandia untuk mengikuti program EuroWeek Youth Leader Poland 2019. Presiden GenRe Indonesia itu belajar banyak dengan para volunteer dari berbagai belaha dunia. Semua volunteer belajar tentang pola pendidikan di Eropa sehingga bisa menjadi masukan untuk diterapkan di Indonesia.

Anto, menurut saya, adalah sosok inspirasi dan kebanggaan Indonesia. Isu perkawinan anak menjadi fondasi ia bergerak dan melangkah jauh menuju benua biru. Sederhana, Ia hanya ingin menjadi pahlawan bagi diri sendiri dan lingkungannya. Bukan untuk dipuji atau dihargai.

Hanya saja sedikit manusia dikaruniai sesuatu yang indah bak permata. Ialah tekad suci untuk merubah lingkungannya menjadi lebih baik. Bumi Khatulistiwa, Bumi Indonesia, Bumi kita tercinta.

Teringat ucapan Anto yang penuh makna,

“Bertumpuk batu di jalanan tidak sama dengan sebutir batu permata yang tertimbun di pegunungan, namun manakah yang lebih berharga? Begitulah Generasi Berencana Kalimantan Barat. Kita adalah permata tersembunyi di bumi khatulistiwa!” pungkas Anto menyemangati para calon pahlawan muda.

Setiap orang mampu menjadi pahlawan bagi lingkungannya. Selama ia peduli terhadap masalah sosialnya maka jiwa kepahlawanannya akan muncul. Perubahan tidak semudah membalikkan tangan dan tidak pula secepat mengedipkan mata. Perlu pengorbanan dan kesabaran untuk meraihnya.

Tetap semangat menatap masa depan. Remaja Merdeka, Remaja Bebas Nikah Muda!

#KitaSATUIndonesia #IndonesiaBicaraBaik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *