2018, Resolusi untuk Bekasi

Awal tahun adalah titik dimana resolusi dan harapan tinggi dipersiapkan. Setiap orang membuat resolusi yang terdefinisi demi tercapainya target yang lebih baik daripada tahun sebelumnya. Begitu juga dalam hal ini resolusi juga perlu ada pada level yang lebih tinggi daripada individu, yaitu resolusi pembangunan. Resolusi kota Bekasi memiliki arti menciptakan perubahan dari segi pembangunan, ekonomi, tata kota, dan sektor lainnya.

Memang pemerintah kota dan kabupaten memegang peran penting dalam hal kemajuan Bekasi. Namun kesinergisan dengan warga adalah kunci utama dalam mewujudkan Bekasi yang lebih maju dan berdaya. Seperti halnya program yang dicanangkan “Bekasi Mendukung Indonesia Bebas Sampah 2020” dengan spanduk yang super besar menjulang tinggi di sepanjang Jalan Ahmad Yani. Program tersebut tidak akan berhasil tanpa adanya keterlibatan warga Bekasi.

Penulis dalam hal ini akan memberikan beberapa resolusi yang sangat relevan untuk Bekasi. Tentunya resolusi ini adalah saran dari kecintaan terhadap Bekasi yang ingin lebih baik dari tahun sebelumnya.

Re-Building Pasar Tumpah Terminal Bekasi

Hampir setiap hari pasukan satpol PP dengan mobil kebersihan bekerja untuk membersihkan sepanjang Jalan Ir. H. Juanda mulai dari Terminal Bekasi sampai dengan lampu merah Rumah Sakit Bella. Pasar tumpah yang sudah menjadi pemandangan sehari-hari seharusnya sudah tidak tampak lagi di tahun 2018.

Lantas bagaimana resolusinya? Sebelum ke ranah resolusi, hendaknya kita coba runutkan terlebih dahulu permasalahannya. Pasar tumpah terjadi ketika sudah tidak ada tempat lagi para pedagang untuk berjualan, volume dan area berjualan sudah tidak sebanding lagi, dan belum ada tempat khusus untuk para pedagang kaki lima tersebut.

Ketika penulis survey ke Pasar Bekasi, ternyata jumlah pedagang sangat banyak dengan aneka ragam sayur dan buah yang dijajakkan. Memang sangat tepat jika pemugaran atau perbaikan adalah solusi yang pas untuk menghilangkan Pasar Tumpah Terminal Bekasi. Penulis menyebutnya dengan Re-Building Pasar Tumpah.

Perlunya tempat khusus dengan volume yang luas memungkinkan banyak penjualan bisa berdagang sehingga para pedagang kaki lima bisa pindah lokasi. Penulis menyarankan pemerintah kota membuat dua versi bangunan.

Versi pertama adalah Pasar Susun. Bangunan ini seperti bangunan bertingkat pada umumnya tetapi aktivitas didalam bangunan tersebut semuanya jual beli sayur, buah, dan lain-lain. Hal yang paling penting adalah suasana pasar tradisionalnya tetap dipertahankan. Karena bangunan ini sifatnya hanya merelokasi para pedagang kaki lima supaya lebih rapi tetapi tidak memutus mata pencahariannya.

Versi kedua adalah membuat bangunan di atas Jalan Ir. H. Juanda seperti jalan layang. Contoh realnya bisa melihat ke kota Bandung, yaitu Teras Cihampelas. Para pedagang kaki lima direlokasi sehingga para pejalan kaki dan pedagang kaki lima bisa berinteraksi di atas jalan karena sudah dibuatkan bangunan (Teras Cihampelas).

Ada satu lagi penyebab kemacetan selain pasar tumpah dekat terminal, yaitu pengaturan jalan. Jalan yang melewati Terminal Bekasi, Pasar Baru Bekasi, sampai dengan Rumah Sakit Bella seharusnya dibuatkan satu arah. Pembatas yang membagi sepanjang jalan tersebut sudah seharusnya ditiadakan. Sehingga bisa menguraikan kemacetan terutama pada pagi hari, jam berangkat kerja, dan jam pulang kerja.

Polemik Sampah 2018-2020

Pencanangan Program Bekasi  Mendukung Indonesia Bebas Sampah 2020 bukan semata-mata demi penghargaan Adipura. Lebih jauh dari itu adalah bagaimana Bekasi bisa merekayasa sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk lingkungan. Bukan hanya dukungan Bekasi sampai 2020 tetapi juga Bekasi bisa menjadi prototype kota bebas sampah. Kemudian pertanyaan terbesarnya bagaiamana cara merealisasikannya?

Penulis mempelajari disiplin ilmu teknik kimia dimana banyak sekali solusi sampah. Mulai dari biopori, biogas, dan teknologi terbarukan lainnya. Permasalahannya adalah terletak pada kesiapan dan kerja sama masyarakat untuk memulai perubahan dan sosialisasi serta birokrasi yang mudah dari pemerintah. Karena tiga hal tersebut adalah hal fundamental dalam mewujudkan Indonesia Bebas Sampah 2020.

Jalanan Berlubang

Terutama di jalanan kabupaten masih banyak sekali jalanan yang berlubang. Tentu ini sangat membahayakan pengendara, khususnya sepeda motor. Volume kendaraan yang terus meningkat harus diimbangi juga perbaikan jalan supaya angka kecelakaan di tahun 2018 bisa berkurang bahkan nihil.

Sekarang di zaman digital semua serba mudah. Masyarakat milenial lebih memilih menggunakan gadget untuk segala aktivitasnya. Celah seperti inilah bisa dimanfaatkan oleh pemerintah kota maupun kabupaten dalam merespon segala keluhan dan masalah yang ada. Pemerintah bisa memanfaatkan teknologi, aplikasi, ataupun blog untuk menampung aspirasi masyarakat sehingga respon pemerintah kota dan kabupaten bisa lebih cepat dan masyarakat pun bisa mengawasi juga merasakan kebermanfaatannya.

Meskipun masih banyak resolusi untuk Bekasi di tahun 2018. Tetapi tiga poin yang diutarakan penulis adalah resolusi yang harus diprioritaskan untuk Bekasi yang lebih berdaya.

Note : Tulisan ini untuk “Jurnalisme Warga”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: