Rasanya Menjadi Ayah

Banyak diantara peran yang bisa kita persiapkan untuk bisa menjadi tokoh yang akan dijalani. Ada pula peran yang kita tidak bisa siapkan sepenuhnya tetapi takdir membawa kita menjalani peran tersebut. Salah satunya adalah peran menjadi ayah.

Masih ingat terdengar dari luar ruang operasi jeritan tangis bayi mungil menatap dunia. Perjalanan hidupnya diawali dengan tangisan diiringi tangisan haru orang tua baru, abi dan umi.

Persalinan SC yang sebenarnya tidak diinginkan. Karena memang mungkin semua ibu di dunia mengharapkan persalinan normal.

Meskipun semua kondisi sudah bagus untuk persalinan normal. Dari mulai posisi bayi, volume air ketuban, ikatan tali pusat, dan semua penunjang lainnya. Namun proses panjang yang hampir selama 12 jam setelah bukaan tiga itu berakhir dengan tindakan medis yang tidak diharapkannya, yaitu operasi sesar.

Matanya yang memerah, urat syarat mata yang tampak tegang menahan sakitnya mengejan, mukanya pun menjadi merah. Apalagi detik demi detik kontraksi sepuluh sejam yang dijalaninya terasa ingin berakhir secepatnya. Semua kesakitan yang dideritanya membuatku tersadar bahwa kita sejatinya harus sangat menghargai para ibu sedunia yang melahirkan kita. Karena perjuangannya melawan kematian tidak akan bisa dibayarkan dengan balas jasa apapun.

Setelah kemudian ada tangisan bayi mungil darah dagingku, aku seperti belum tersadar SUDAH MENJADI AYAH. Allah sudah memilih hambaNya dan aku termasuk dipilih menjadi ayah di dunia yang akan membimbing anakku menjadi pribadi yang kuat, seperti namanya Hannah Palestine Aldina.

One thought on “Rasanya Menjadi Ayah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: