250 views

Ramadan Produktif di Rumah Meski sedang Dilanda Wabah

Tabuhan drum itu terdengar semakin mendekati rumahku. Suaranya begitu keras memekikkan telinga. Sorak sorai anak-anak saling bersahutan menyanyikan “mars sahur” yang mereka ciptakan sendiri. Aku tahu pasti inspirasinya dari mana.

“Ayo Sahur, Ayo Sahur, Ayo Sahuuur!”

“Corona, Oh Corona, Oh Coronaaa!”

“Ayo Sahur Meski ada virus Corona!”

“La la la. La la la. La la la!”

Gerobak yang sudah didesain unik beserta drum bekas di atasnya membuat anak-anak bersemangat membangunkan orang-orang untuk makan sahur. Suara puluhan anak itu persis seperti suporter bola di Stadion GBK. Luar biasa gaduhnya. Tapi memang itu tujuannya. Gaduh yang baik. hehe

Berisik sih pasti tapi memang begitu adanya. Kadang kita harus disadarkan oleh keadaan yang tidak nyaman untuk bisa bangkit. Karena dengan cara yang halus sudah tidak mempan dan masih membuat kita beranjak dari keadaan yang nyaman namun melenakan.

Setiap kebaikan memang ada risikonya. Adanya yang ditanggapi dengan baik, ada juga yang dilempari kritik tapi tidak membangun. Itu realita. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Orang yang memiliki niat baik untuk membangunkan sahur saja pasti mendapatkan tanggapan yang beragam. Padahal niatnya itu baik lho! Coba kalau terlewat sahur, lemes kan puasanya? Eh tiba-tiba ada yang nyeletuk,

“Saya gak dibangunin sahur nih jadi puasanya gak maksimal deh. Kemana sih anak-anak?”

“Lah, kan bapak yang ngelarang!”

It’s just an example. Tapi intinya setiap kebaikan akan mendapat respon positif dan negatif. If you believe it is good, go ahead!

Sebagai perantau, suasana Ramadan mengingatkan aku kepada peran “obrog” yang ada di kampung. Obrog adalah orang yang membangunkan sahur kepada setiap warga yang ada di kampungnya. Caranya pun unik, dia mendatangi rumah warga dengan mengetuk pintu layaknya sedang bertamu. Sebelum ada sahutan dari sang tuan rumah, dia belum beranjak dari pintu tersebut. Sesaat setelah ada jawaban maka obrog pindah ke rumah lainnya. Meskipun sahutan sang tuan rumah masih di bawah alam sadar. Hehe

Di daerah lain, obrogan juga dikenal dengan segerombolan remaja yang menghiasi gerobak dengan sound system. Sambil bernyanyi dangdut, mereka berkeliling desa untuk membangunkan sahur. Tentu dengan suara yang keras. Hehe

Setelah hari raya, warga memberikan uang jasa atau fee untuk obrogan sebagai imbalan karena sudah berjasa sehingga warga di kampungnya tidak melewatkan momen sahur. Bisa berupa uang atau beras.

Kembali lagi ke momen sahur. Makan sahur adalah momen bersama keluarga yang berharga. Tinggalkan sejenak gawai di dekat kita. Hanya ada keluarga, saudara, atau teman kita. Mari bercengkerama dengan masakan sederhana ditambah bumbu canda tawa yang menaburi kehangatan sahur di bulan yang suci.

Sembari tidak melupakan rasa syukur yang teramat besar untuk kita panjatkan kepada Allah SWT. Boleh jadi lauk yang kita anggap biasa, bisa sangat berharga di mata orang lain. Bisa jadi nasi putih yang sering kita sisakan, bisa sangat bernilai di mata mereka yang kesulitan untuk sekedar makan sahur.

Karena sejatinya Ramadan adalah momen berbagai kebaikan. Karena dengan begitu, muncullah kebahagiaan. “Tidak berkurang harta orang yang bersedekah.” Sabda Rasul yang sering kita dengar itu benar adanya. Bahkan kita mendapatkan bonus harta yang tidak ternilai, yaitu kebahagiaan.

Menjelang subuh, suara sirine tanda imsak berbunyi nyaring. Tanda harus menghentikan aktivitas makan dan minum. Imsak memberikan simbol untuk kita berhati-hati menjelang 10 menit lagi waktu subuh. Perbanyak doa dan istigfhar di waktu mustajab ini.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Dia berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758).

Ramadan kali ini sangat berbeda. Tidak tampak lagi anak-anak berbondong-bondong ke masjid mengikuti kuliah subuh. Sekolah sudah libur beberapa pekan menjelang Ramadhan. Libur sudah mencapai titik jenuhnya. Entah kapan kejenuhan ini berakhir tapi yang pasti jika tidak diisi dengan sesuatu yang bermanfaat pasti Ramadan akan menjadi hal yang hambar.

Alhamdulillah kita sudah memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan. Selayaknya para sahabat, kita pun mesti bersedih hati ditinggal bulan paling mulia. Namun Rasul mengingatkan kita untuk “mengencangkan ikat pinggang kita” di hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Perbanyak ibadah dan istigfar untuk berlomba mendapatkan malam lailatul qadar.

Berpuasa di tengah wabah covid-19 ini butuh perjuangan. Bagaimana tetap mempertahankan imun dan iman kita tetap dalam kondisi yang prima. Sakit sedikit saja membuat kita khawatir. Sama halnya jika iman kita turun sedikit, kita pun harus waspada. Kesehatan lahiriah penting, tapi kesehatan batiniah pun harus tetap terjaga. Karena itulah yang membuat hidup kita tetap seimbang.

Tetap Bekerja di tengah wabah

Rutinitas bekerja pun beralih menjadi dari rumah, dikenal dengan istilah WFH=Work From Home. Ada juga yang terpaksa harus bekerja keluar rumah, because they have no option! Berdiam diri di rumah sama halnya membuat keluarga tidak mendapat pemasukan. Aku sangat merasakan itu karena aku adalah bagian dari mereka.

Bekerja di zona merah pasti membuat setiap orang meningkatkan kewaspadaannya.

Buatku keselamatan diri dan keluarga sangat penting. Bekerja dengan selamat dan pulang pun harus dengan selamat. Memakai masker, rajin mencuci tangan, langsung mandi sehabis pulang kerja, dan segera menanggalkan pakaian setelah tiba di rumah. Rutinitas yang WAJIB TIDAK BOLEH DITINGGALKAN.

Pagi hari pukul tujuh pagi aku harus sudah berangkat ke pabrik. Meskipun jaraknya tidak terlalu jauh tapi keselamatan selalu dinomorsatukan. Protokol keluar rumah selalu diperhatikan.

Sebagai pekerja lapangan, aku menjaga jarak dengan para pekerja lainnya. Mereka pun sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan baru setelah wabah ini. Tapi lama-lama menjadi kebiasaan.

Setelah seharian bekerja di bawah terik matahari, saatnya pulang tanpa membawa “unek-unek” di pabrik. Jangan sampai senyum sambut orang rumah dibalas muka masam dari sang ayah.

Wabah covid-19 mengharuskan saya banyak berkegiatan di rumah. Wabah ini memberikan arti kebaikan yang luar biasa. Memberi perhatian untuk kesehatan diri sendiri dan sekitarnya. Just because we have corona disaster in this Ramadan, it doesn’t mean we can’t improve our activity.

“Aba, Aba!” terdengar suara teriakan putri tercinta.

Suara yang membuatku tidak perlu untuk mengetuk pintu. Dia sudah lebih tahu suara motor ayahnya.

Mulai dari pulang ke rumah adalah “jatahku” untuk bermain bersama putri tercinta. Biarkan istri relaksasikan tubuhnya yang mungkin penat seharian di rumah. Terkurung karena makhluk tak kasat mata.

Bermain masak-masakan, boneka-bonekaan, rumah-rumahan. Yeah, I have never thought about these before. Tidak terbayang sebelumnya bakal bermain layaknya anak perempuan. Tapi setidaknya aku bisa merasakan bagaimana anak harus terus dekat dengan orang tuanya. Mungkin itu fitrahnya.

Ada beberapa opsi kegiatan yang memang bisa dilakukan dari rumah.

Maksimalkan Ibadah di tengah wabah

Rutinitas kerja yang menyita tenaga dan pikiran kita jangan sampai menghilangkan kekhusyukan ibadah di bulan Ramadan. Meskipun di tengah wabah, ibadah harus tetap ditingkatkan supaya hidup semakin berkah.

Ramadan menjadi momentum mempererat kebersamaan di rumah. Beribadah bersama di rumah dan bercengkerama di sela-sela waktu di rumah. Salah satu hikmah terbesar di wabah pandemik seperti ini adalah kita harus lebih peduli terhadap keluarga. Peduli terhadap kesehatan, ibadah, ngobrol bareng, dan hal-hal kecil yang sering dilupakan

Bermain Bersama Keluarga

Ketika jam kerja dikurangi oleh perusahaan (karena wabah covid-19) maka momen itu harus dimanfaatkan. Anak kita menginginkan kehadiran ayahnya, meki sekedar untuk bermain. Yes, just play with the kids to make them happy.

Apalagi ketika masih kecil dan merindukan ayahnya pulang. Maka maksimalkan bermain, belajar, dan tertawa bersama. Mungkin suatu saat dia akan disibukkan dengan sekolah, teman-temannya, dan sekat lain yang memisahkan untuk kebersamaan dengan sang ayah.

Salat berjamaah di rumah

Salat berjamaah di masjid sudah tidak diperbolehkan karena khawatir menyebarkan virus. Makhluk tak kasat mata itu menyerang sangat cepat kepada manusia yang imunnya lemah. Meskipun imun kita kuat tapi boleh jadi kita carrier dan berpotensi menularkan virus kepada orang lain.

Karena banyak kemudharatan beribadah di masjid, maka lebih baik di rumah saja. Itu lebih aman. Aku sendiri sangat khawatir masih ada beberapa orang yang berani salat di masjid. Jangan sampai terkena corona akibat mengacuhkan himbauan dari MUI.

Sedekah dari rumah

Teknologi sangat membantu aktivitas sehari-hari, termasuk untuk bersedekah. Dimanapun kita berada, tidak perlu repot-repot datang kepada lembaga amil zakat untuk memberikan donasi kepada mereka yang membutuhkan. Dengan adanya teknologi digital, setiap orang bisa lebih leluasa menyisihkan hartanya untuk disedekahkan.

Konsultasi zakat? Bisa. Donasi online? Bisa. Tapi jangan sampai kita tertipu dengan lembaga yang tidak kredibel. Perlu teliti sebelum berdonasi. Karena saat ini pun marak orang yang beramai-ramai berdonasi online tapi keliru dalam memilih lembaganya. Alhasil, uang hangus digondol penipu dan tidak sampai kepada yang membutuhkan.

Sudahkah mengenal Dompet Dhuafa? Dompet Dhuafa adalah  lembaga nirlaba milik masyarakat Indonesia yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum dhuafa dengan dana ZISWAF Dompet Dhuafa akan terus mewujudkan masyarakat berdaya yang bertumpu pada sumber daya lokal melalui sistem yang berkeadilan.

Semenjak didirikan tahun 1994, Yayasan Dompet Dhuafa semakin banyak menghadirkan program-program bermanfaat untuk umat. Mulai dari program ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, dan dakwah.

Buat teman-teman yang ingin mendonasikan hartanya bisa melalui dompet dhuafa. Apalagi di bulan Ramadan dianjurkan banyak bersedekah dan pahalanya pun berlipat ganda. Jika masih kebingungan menghitung zakatnya, dompet dhuafa pun menyediakan konsultasi melalui telepon atau whatsapp. Di websitenya pun disediakan form khusus menghitung zakat.

Ramadan menjadi indah tatkala sesame muslim saling berbagi kebahagiaan. Virus corona yang merajalela jangan sampai mengalahkan virus kebaikan di bulan Ramadan. Mari berbagi kepada sesama melalu dompet dhuafa.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition ‘Ceritaku dari Rumah’ yang diselenggarkan oleh Ramadan Virtual Festival dari Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan”

2 thoughts on “Ramadan Produktif di Rumah Meski sedang Dilanda Wabah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *