“Kapten Eduard Ivak Dalam dengan tenang mengatur permainan di tengah lapangan. Kapten Tim Mutiara Hitam yang bertindak sebagai gelandang tengah ini berusaha membuat tempo bola menjadi lebih sedikit cepat . Meski dalam keadaan unggul tetapi tidak mengendorkan serangan Persipura Jayapura.”

Mungkin begitulah kira-kira suara komentator yang sedang membicarakan jalannya pertandingan di laga final Liga Indonesia tahun 2005. 16 tahun silam adalah laga yang sangat bersejarah bagi Persipura Jayapura. Sebuah penantian panjang selama 25 tahun akhirnya berbuah manis. Gelar juara Liga Indonesia berhasil diraih untuk pertama kalinya setelah tahun 1980 bisa menjuarai Kompetisi Perserikatan.

Saya masih ingat bagaimana permainan yang taktis diperagakan tim berjuluk Mutiara Hitam. Bek Ortizan Solossa yang kokoh menjaga pertahanan di sisi kiri. Belum lagi Kapten Ivak Dalam yang selalu tenang menggiring bola di tengah lapangan. Apalagi di sisi penyerang ada Boaz Solossa Sang Penyerang Timnas yang notabene tidak diragukan lagi ketajamannya.

Ketika berbicara Papua pastilah benak kita tidak terlepas dari tim sepakbolanya. Tidak berlebihan jika Brazilnya Indonesia disematkan kepada tim perwakilan Indonesia Timur itu. Pemain yang memiliki skil mumpuni banyak lahir di tanah Papua. Talenta-talenta muda bermunculan dan kerap kali namanya ada di daftar pemain sekaliber Timnas.

“Sa mau seperti Kakak Boaz”

Karena memang nyatanya anak-anak Papua banyak mengidolakan “Kakak Boaz”. Sampai sekarang pun masih banyak! Boaz sudah menjadi cita-cita dan harapan bagi para pemuda Papua. Kesuksesannya bersama Persipura dan Tim Nasional membawa semangat baru kepada anak-anak, pemuda, dan masyarakat Papua.

Sepakbola bak ruh yang menghidupi gelora jiwa masyarakat provinsi paling Timur Indonesia itu. Olahraga terfavorit itu menjelma menjadi asa di tengah keterbatasan jarak dengan ibu kota. Semangat dan kegigihan yang begitu tinggi menjadi modal utama dalam menaklukan kancah persepakbolaan tanah air.

Kata ibu saya, seringkali event 17 Agustus mengadakan lomba sepakbola di Tasikmalaya. Yang uniknya adalah perkumpulan Papua selalu ikut serta dan menjadi saingan utama para “pemain lokal”. Jangan ditanya soal mainnya, mereka menjadi langganan final. Bahkan kalau bertemu dengan tim Papua maka atmosfer final kental terasa. Apalagi jika sudah berhasil mengalahkannya. Rasanya sudah jadi juara saja meski baru babak penyisihan.

Begitulah gambaran singkat memori saya tentang Papua dan Sepakbola. Waktu tahun 2005, saya menonton laga final antara Persija Jakarta melawan Persipura Jayapura. Mulai dari peluit pertandingan dimulai sampai lanjut ke babak Silver Goal.

Nonton bareng bersama Ayah adalah momen yang tidak bisa dilupakan. Karena baru pertama kali ayah saya bisa berkomentar positif tentang permainan sepakbola orang Indonesia. Biasanya kritik selalu dilontarkan kepada pemain yang di luar harapannya.

“Kuduna Persib mainnya kayak gini. Enak kieu mainnya ge” ujarnya saat menonton permainan tiki taka Persipura melawan Persija di final Liga Indonesia tahun 2005.

Maklum tim kesayangan kami sebagai masyarakat Jawa Barat belum bisa menginjakkan kakinya di final. Pastinya tidak sesuai dengan ekspektasi kami.

Tidak dipungkiri kalau sepakbola sudah menjadi cikal bakal bangkitnya cabang olahraga lainnya di Papua. Mungkin suara yang masih nyaring dan santer didengar kepopulerannya ialah Sepakbola. Tapi nyatanya banyak atlet kelahiran Papua selain Boaz Solossa yang sudah mengharumkan nama Indonesia. Seperti nama-nama berikut ini :

Bagi generasi 90 an, nama ini tidak asing lagi kita dengar. Lifter asal Papua ini acap kali menjuarai ajang-ajang bergengsi dari skala nasional hingga internasional. Putri papua kelahiran 1980 ini sudah mengikuti olimpiade hingga tiga kali. Bahkan sepanjang karir angkat besinya, ia sudah berhasil mendapatkan dua medali perak olimpiade.

Setelah menyabet runner up kelas 48 kg putri di Olimpiade Sydney 2000, Lisa kembali meraih medali perak di ajang Olimpiade Athena 2004. Ajang empat tahunan level dunia ini mencatatkan sejarah buat tim Indonesia melalui tangan kuat putri Papua, Lisa Rumbewas.

Gelaran Sea Games 2011 dihebohkan dengan catatan waktu yang super cepat yang ditorehkan atlet Indonesia. 11,69 adalah waktu yang kilat untuk sekelas sprinter putri. Tidak heran jika Serafi didapuk jadi manusia tercepat se-Asia Tenggara. Ia berhasil membawa nama Papua dan Indonesia untuk meraih emas sekaligus menyanyikan lagu Indonesia Raya di Sea Games yang bertempat di Palembang.

Nama Franklin mulai menanjak ketika Sea Games 2011 Palembang. Meski bukan termasuk atlet unggulan, ternyata putra Papua ini membuktikan lajunya bisa melebihi namanya. Saking hebatnya, ia menggondol tiga medali emas!

Atlet yang bergaya rambut nyentrik itu menang di nomor 100 meter, 200 meter, dan 4×100 meter putra. Bukan main! Franklin mulai menjadi sorotan dan memberikan asa bagi sprinter muda Papua lainnya untuk berprestasi.

Siapa yang tidak kenal dengan Jailani? Penggemar futsal tanah air tentu tidak asing dengan nama yang satu ini. Perawakannya yang tambun, kekar, dan berparas kalem ini menjadi talenta berharga Papua di ajang futsal. Pria kelahiran Merauke ini juga menorehkan prestasi yang luar biasa di level Asia Tenggara.

Ia bersama Timnas Indonesia berhasil menjuarai Piala AFF 2010 untuk pertama kalinya. Pria asli papua ini pun menyumbangkan gol pembuka Indonesia saat berlaga di final melawan Malaysia yang berhasil diporak-porandakan dengan skor fantastis 5-0.

PONDEMI di Tengah PANDEMI

Kita menjadi tahu bahwa banyak atlet asal Papua yang menorehkan banyak prestasi. Baik lokal maupun internasional. Tapi tidak dapat dipungkiri pesona Boaz Solossa ini menjadi ikon warga Papua yang tidak bisa dilepaskan dari dunia olahraga.

Boaz menjadi pemantik semangat atlet muda untuk berprestasi di bidangnya masing-masing. Ketika ada kejuaraan daerah, provinsi, bahkan nasional pun mungkin dalam benak anak muda Papua adalah I have to be the next Boaz.

Saya pernah mendengar stand up comedy Mamat Al Katiri. Komika asal Fak Fak itu pernah mengatakan jika setiap anak Papua sudah terinspirasi oleh Boaz. Cita-cita mereka sudah terwujud dalam sosok Boaz. Bukan hanya prestasinya tetapi attitudenya juga patut ditiru oleh atlet-atlet yang berjuang di kancah daerah hingga nasional.

Berbicara olahraga tingkat nasional, PON atau Pekan Olahraga Nasional adalah agenda olahraga paling bergengsi se-Indonesia. Ajang unjuk keterampilan para atlet muda masa depan bangsa. Kemampuannya banyak diincar para pencari bakat. Kelihaiannya mencuri perhatian setiap mata penonton. Bukan tidak mungkin bahwa dari PONlah atlet-atlet yang akan berlaga di level internasional akan bermunculan.

Beruntung mereka yang bisa sukses di PON. Masa depan olahraga atlet muda akan lebih cerah bak matahari timur yang senantiasa memberikan kehangatan di pagi hari. Agenda olahraga 4 tahunan ini menjadi cikal bakal atlet yang nantinya bisa mewakili Indonesia di level internasional. Mulai dari kejuaraan tingkat dunia sampai puncaknya adalah olimpiade. Seperti sekarang sedang berlanjut Olimpiade Tokyo.

Ada beberapa keunikan ketika berbicara PON tahun ini. Kira-kira apa? Tepat rasanya jika PON ini sering disandingkan dengan pandemi. Kini populer kata sandingannya menjadi PONDEMI. Jika dilengkapi dengan definisi unik maka PONDEMI adalah Pekan Olahraga Nasional yang diselenggarakan ketika terjadi pandemi di Indonesia.

PON menjadi api semangat baru yang dibawa oleh ujung timur Indonesia. Api yang menggelorakan harapan semua masyarakat Indonesia yang sudah rindu olahraga. Bukan sesuatu yang mudah untuk melaksanakan event sebesar PON mengingat suasana sekarang penuh perbedaan.

Mulai dari penerapan protokol kesehatan yang super ketat, lalu penyelenggaraan yang harus profesional, sampai kepada tahap sajian olahraga yang harus mengasyikan karena ditonton oleh lebih dari 200 juta penduduk Indonesia. Pastinya harus membuat masyarakat bangga dan terhibur dengan aksi atlet-atlet daerahnya.

Papua adalah tuan rumah yang dipilih setelah melalui proses voting dan mengalahkan pesaing kuatnya, yaitu Aceh dan Bali. Papua mulai bersolek memperbaiki sarana olahraga yang ada dan menambah fasilitas olahraga megah lainnya. Semua dilakukan pemerintah terkait untuk menyukseskan PON XX \Papua.

Tertunda Karena Corona

Pandemi ini membuat agenda olahraga empat tahunan ini sempat tertunda satu tahun. Bayangkan satu tahun lho! Yang rencananya bakal digelar pada 20 Oktober-2 November 2020 dipindah ke 2-15 Oktober 2021. Semua atlet yang akan berlaga terpaksa menanti, logistik perlengkapan terhambat karene adanya pembatasan aktivitas yang diterapkan Pemerintah Provinsi Papua. Tidak ada yang menentang karena semua penundaan itu demi keselamatan dan kesehatan atlet dan masyarakat Indonesia.

Hikmahnya adalah para atlet lebih banyak berlatih demi menggantungkan medali di lehernya. Pihak penyelenggara juga bisa lebih maksimal dalam persiapan PON XX Papua. Meski sebenarnya proses pembangunan venue bisa dikatakan sudah banyak yang hampir rampung.

Dilansir dari antaranews, sedikitnya empat arena yang dibangun yaitu Istora Papua Bangkit yang pembangunannya sudah mencapai 82,95 persen, Stadion Akuatik 80,87 persen,  arena cricket dan lapangan hockey yang sudah 92,14 persen.

Tiga Rekor MURI Sekaligus!

Ada yang menarik di PON XX Papua ini. Ada yang bisa tebak? Meski perhelatan akbar tingkat nasional ini diundur tetapi hebatnya masih membuat masyarakat Indonesia bangga. Tercatat ada tiga rekor MURI yang secara langsung dibuat oleh penyelenggara.

Pembangunan Venue Istana Olahraga (Istora) Papua Bangkit yang dilakukan oleh Balai Prasarana Permukiman Wilayah Papua Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian PUPR berhasil mencetak dalam tiga kategori. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Prasarana Strategis, Ditjen Cipta Karya, Iwan Suprijanto seperti yang dilansir berita KONTAN (17/8/20).

Pada kategori pertama, Istora Papua Bangkit yang sekarang dicanangkan akan berubah menjadi Stadion Lukas Enembe meraih rekor untuk struktur atap baja lengkung bentang terpanjang dengan dimesi 90 meter. Di kategori kedua, Venue terbesar menyaingi Stadion GBK itu memiliki atap tanpa sambungan dan baut mengerucut terluas berbentuk dome seluas 7300 meter persegi. Dan kategori terakhir adalah rekor instalasi terpanjang dan diameter terbesar textile duct dengan dimensi ring internal 477 meter, diameter cincin luar sepanjang 70 meter dan diameter dalam sepanjang 56 meter.

Luar biasa kan PON XX Papua? Bagaimana tanggapanmu?

Maskot yang Ciamik!

Yuk kenalan dengan dua maskot eksentrik PON XX Papua! Setiap event pasti memiliki maskot khusus. Kali ini maskot PON XX Papua mengenalkan dua hewan khas Papua, namanya Kangpho dan Drawa. Siapa mereka?

Kangpho ini sebenarnya kepanjangan dari Kangguru Pohon. Serius kangguru? Baru tahu kan? Hehe Yes! Selama ini kita kenal kangguru itu satwa khas Australia. Tapi ternyata kita juga punya kangguru. Kangpho merupakan jenis kangguru pohon dan yang paling terkenal adalah kangguru pohon mantel emas. Satwa marsupial ini merupakan pemakan buah dan biji-bijian. Kenapa disebut mantel emas? Karena di bagian pipi, leher, dan kakinya dihiasi warna kuning keemasan.

Selain Kangpho, ada juga maskot yang bernama Drawa. Drawa diambil dari nama Burung Cendrawasih yang sudah familiar di masyarakat Indonesia. Burung pengicau ini terkenal dengan bulu-bulunya yang cantik.

Drawa adalah burung jantan dewasa memiliki bagian sisi perut yang memiliki hiasan yang didominasi warna jingga. Ada dua buah tali panjang berwarna hitam yang terletak pada ekor Drawa.

Kangpho dan Drawa sama dihiasi dengan rumbai dari kulit kayu atau akar pohon yang bertujuan untuk menutupi bagian pinggang ke bawah. Pada bagian pinggang keduanya semakin elok terlihat dengan hiasan ukiran khas Papua. Keduanya juga memakai ikat kepala khas Papua berbentuk rumbai dan kerucut.

Torang Bisa!

Tagline Torang Bisa atau kami bisa bukan hanya tagline pesta olahraga semata. Tagline merupakan sumbu api yang mengobarkan semangat bertarung semua atlet dari Aceh hingga Papua.

Pengenalan tagline Torang Bisa berbarengan dengan peluncuran maskot Kangpho dan Drawa bersamaan. Diharapkan Kangpho dan Drawa membawa semangat #TorangBisa ke seluruh penjuru negeri. Bukan hanya perjuangan atlet tetapi animo masyarakat pun ikut menyala di event empat tahunan ini.

Selain itu ada yang menarik ketika membahas “kekhasan Papua”. Maskot berasal dari hewan khas Papua. Taglinenya diambil dari bahasa Papua. Suvenirnya pun oleh-oleh asli Papua! Noken menjadi buah tangan resmi yang memiliki logo turnamen. Harganya pun dibanderol dari Rp350 ribu sampai Rp3 juta.

Venue Akuatik Berstandar Internasional

Last but not least, ada satu venue yang dibangun langsung berstandar internasional! Dialah Venue akuatik yang dibangun sudah sesuai standar Federation Internationale de Natation atau disingkat FINA yang merupakan induk organisasi internasional olahraga renang. Venue ini terletak di Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur.

Venue akuatik ini pun memiliki prospek bagus untuk digunakan sebagai penyelenggara kejuaraan tingkat internasional. Pembangunan venue berstandar FINA ini pun diharapkan bisa menjadi ladang bibit unggul para perenang dari Bumi Cenderawasih.

Mentari Harapan Baru dari Timur

Bak sebuah pelangi yang dirindukan ketika hujan. PON XX Papua menjadi pelipur lara semua atlet dan dunia olahraga nasional yang telah menanti setahun lebih di situasi pandemi ini. Sontak setiap kegiatan tanding tidak bisa dilaksanakan. Hanya latihan-latihan rutin yang mungkin terasa tidak pas tanpa adanya pertandingan.

PON XX Papua menjadi Cahaya dari Timur yang siap menerangi seluruh penjuru negeri. Sinarnya memberikan harapan baru akan kebangkitan olahraga nasional saat pandemi. PON XX Papua adalah sebuah momentum untuk selalu pantang menyerah ketika wabah coron belum usai.

Para atlet yang rindu berat untuk bertanding pastinya akan meluapkan kerinduannya menjadi sebuah prestasi mengagumkan dan bisa memecahkan rekor nasional sebelumnya. Sebagai pribadi yang mencintai dunia olahraga, tentu saya mengapresiasi setiap langkah panitia yang melakukan persiapan PON XX Papua hingga detik ini.

Melalu tulisan ini pun saya menyatakan 100% mendukung kegiatan PON XX Papua dan siap menyukseskan event empat tahunan ini. Atlet berjuang, masyarakat berjuang, pemerintah berjuang. Kita pasti bisa menghidupkan kembali olahraga nasional melalui PONDEMI!

TORANG BISA!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *