262 views

Pesona Bahari dalam Grafiti

Desiran pasir Pantai Karang Song masih saja terngiang di benakku. Ombaknya yang tenang selalu menyapa setiap pengunjung yang datang ke wisata andalan masyarakat Indramayu itu. Semenjak pandemi melanda, susah bagiku untuk pulang kampung meskipun hanya sekadar menghirup udara pantai.

Biasanya wisatawan lokal berbondong-bondong mendatangi Pantai Karang Song saat muslim libur lebaran. Mobil-mobil bak terbuka memadati lapangan parkir di samping pantai. Pada umumnya wisatawan berasal dari wilayah pesisir Indramayu dan kota Cirebon.

Sayangnya, virus corona mengubah keceriaan masyarakat Indramayu dan sekitarnya. Jangankan untuk berwisata, sekadar untuk mencari angin segar pun dibatasi. Polisi lalu lintas wilayah Indramayu berjaga-jaga di setiap check point demi meningkatkan kedisiplinan warga. Tidak sedikit warga yang kedapatan tidak memakai masker ketika berkendara.

Beragam sanksi pun didapat warga yang bandel. Mulai dari hukum fisik seperti push up sampai dengan disuruh membersihkan area Pasar Mambo dan sekitarnya.

Pantai Karang Song, tempat wisata terfavorit warga Indramayu, mendapatkan dampak dari merebaknya wabah virus corona. Sepanjang jalan menuju Karang Song pemandangan kapal laut berjejeran terparkir rapi. Para nelayan menghentikan aktivitasnya demi menghindari penyebaran virus yang semakin masif.

Bukan hanya penghasilan nelayan yang anjlok di tengah pandemi ini. Pedagang kecil, perngrajin souvenir, penyewaan perahu, dan pengusaha makanan pun merasakan krisis ekonomi selama pandemi.

Kabar baiknya adalah ekosistem laut bisa “terselamatkan” sementara di tengah pandemi. Sampah plastik menjadi berkurang, ikan-ikan segar banyak bermunculan, terumbu karang pun bisa “bernafas” lagi.

Tidak bisa dipungkiri kehidupan hayati lebih baik saat pandemi karena memang minimnya aktivitas manusia.

Ketika nelayan di Indramayu tidak bisa beraktivitas, setelah pandemi bisa jadi panen melimpah. Pun juga ketika wisata Pantai Karang Song dan sekitarnya mengalami kekurangan pengunjung maka “hadiahnya” adalah biota laut tumbuh lebih sehat dan baik.

Memang besar sih bayarannya ketika menginginkan kehidupan laut yang lestari maka aktivitas manusia pun harus dikurangi. Sayangnya ini bukan serta merta menjadi solusi karena kehidupan laut dan manusia harus menimbulkan symbiosis mutualisme.

Lalu pertanyaannya adalah apa yang bisa kita lakukan untuk Laut Indonesia saat pandemi ini?

Lestari dengan Grafiti

Sebenarnya menurutku ada dua hal yang bisa membuat laut tetap bersih seperti saat pembatasan sosial. Pertama adalah kesadaran manusia dan kedua adalah regulasi yang tegas. Apalagi mengingat laut adalah bagian terbesar daripada darata Indonesia. Lautnya hancur maka daratan terkena imbasnya.

Berbicara tentang kesadaran manusia, aku punya cerita yang unik tentang masyarakat di tempat tinggalku sekarang. Alih-alih mayoritas pemuda zaman sekarang senang untuk nongkrong. Tidak halnya pemuda di Kampung Jatibulak.

Pemuda di sini mengungkapkan ekspresinya dengan membuat grafiti unik. Keunikannya terlihat dari pesan-pesan sosial yang tersirat dalam karyanya. Belasan “lapak” grafiti menjadi tempat mengeluarkan imajinasi dan kepeduliannya.

Tempatnya terbilang strategis karena sering dilewati oleh banyak orang. Mulai dari anak sekolahan, buruh pabrik, orang-orang jogging, dan ibu-ibu yang hendak pergi beli sayur pun tidak luput dari target grafiti.

Diharapkan setiap warga yang melihat bisa terbuka mata dan pikirannya untuk peduli terhadap sampahnya. Bukankah sampah rumah tangga juga berpengaruh terhadap biota laut?

Aku sendiri sangat kagum melihat semangat pemuda Kampung Jatibulak yang gigih menyuarakan aspirasi sosial di tengah pandemi. #LautBukanSampah menjadi salah satu menu grafiti yang membuatku tertarik. Sampah plastik, botol minuman, tumpahan minyak, dan jenis sampah lainnya yang merusak keanekaragaman hayati.

Aku pun berharap dengan tulisanku ini bisa membuat banyak orang untuk peduli untuk menjaga laut. Laut Indonesia milik kita, siapa lagi yang bisa merawatnya selain kita sendiri. Bisa berkarya dengan apapun, termasuk dengan karya grafiti yang unik seperti pemuda Kampung Jatibulak.

Bagaimana Setelah Pandemi Berakhir?

Pengaruh besar covid-19 berdampak positif terhadap kehidupan laut. Apa jadinya jika pandemi telah berakhir? Apakah biota laut kembali menjadi terganggu ataukah kesadaran wisatawan justru membaik karena kampanye yang gencar tentang menjaga laut?

Ini memang cukup dilema sih karena sejatinya kita tidak bisa mengatur kehendak orang lain. Aku sendiri berharap regulasi yang diperketat dengan hukuman yang lebih tegas bisa membuat oknum perusak tatanan kehidupan laut bisa menjadi jera.

Jika memang pandemi covid-19 ini berakhir maka besar harapan industri pariwisata bisa kembali normal. Aktivitas kehidupan manusia bisa berjalan dengan baik bersamaan dengan kehidupan laut yang lebih terjaga.

Peraturan berupa pembatasan aktivitas spot diving sehingga penyelam tidak terlalu banyak pada satu tempat yang mengakibatkan kerusakan terhadap ekosistem laut, seperti terumbu karang. Kuota penyelam perlu ada supaya meminimalkan risiko kerusakan mengingat pertumbuhan terumbu karang cukup lambat.

Sampah perlu Inovasi

Sangat disayangkan apabila masih banyak warga yang suka membuang sampahnya ke sungai. Sampah yang mengalir dari sungai dan bermuara ke laut bisa berdampak fatal atau pencemaran air laut tidak terelakkan.

Sampah rumah tangga, seperti bekas makanan, buah-buahan, sayuran, dan lain-lain bisa dimanfaatkan untuk pupuk kompos. Ketika saya berkunjung ke Desa Telaga Murni, komunitas MAPELA TM 05 (Masyarakat Peduli Lingkungan Hidup Telaga Murni RW 05) menginisiasi untuk memanfaatkan sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Selain membuat pupuk kompos, budidaya tanaman hidroponik pun digalakkan oleh warga di delapan RT yang berada di wilayah RW 05 Desa Telaga Murni tersebut. Tanaman hidroponik yang memanfaatkan bekas pipa-pipa paralon.

Belum selesai sampai disitu, warganya pun membuat kerajinan tangan dari sampah plastik. Aneka kerajinan pun dihasilkan dan bisa menambah penghasilan tambahan. Tempat tisu, tas jinjing, bunga, dan kerajinan lainnya yang dipajang di etalase rumah warga.

Mulai dari Diri Sendiri

Menjaga laut bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Rasanya percuma jika ada regulasi tapi tidak dipatuhi. Laut kita miliki kita. Tanggung jawab ada di pundak kita bersama. Hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah memulai kebiasaan baik dari diri sendiri.

Tidak membuang sampah sembarangan dan selalu mematuhi protokol kesehatan harus dibiasakan dari sekarang. Kita juga harus mendukung program pemerintah tentang penurunan buangan sampah sebanyak 70% ke laut.

Selagi pandemi berlangsung, harap menahan diri untuk tidak bepergian atau berwisata ke laut. Jangan tergoda dengan relaksasi di tahap new normal ini. Ada yang bisa kita kerjakan selain berwisata, yaitu berkarya dari rumah.

Mari jaga laut untuk kepentingan bersama. Demi Laut Indonesia yang lebih sehat.

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *