Peran Ayah Milenial dalam Pencegahan Stunting pada Anak

Pada hari Minggu, 16 September 2018, saya bersama keluarga berencana pergi ke Monumen Nasional Jakarta untuk mengikuti serangkaian acara Kampanye Nasional Cegah Stunting. Sebelum Subuh kami sudah mempersiapkan diri untuk berangkat dengan menggunakan Commuter Line dari Kota Bekasi. Mulai dari membuat sarapan home made anak saya, memandikan, dan banyak drama yang kami alami sebagai pasangan muda orang tua milenial. Alhasil sekitar pukul 06.30 WIB, kami baru bisa berangkat menuju Monas.

Alhamdulillah perjalanan dari Stasiun Bekasi menuju Stasiun Juanda tidak ada kendala sehingga kami bisa sampai sekitar pukul 08.00 WIB. Setelah turun di Stasiun Juanda, kami berjalan kaki menuju Monas. Banyak sekali orang-orang di sekitaran Jembatan Halte Masjid Istiqlal yang menggunakan pakaian olahraga plus celana training yang sedang jogging menuju Monas.

Sekitar lima belas menit lamanya kami jalan kaki, akhirnya sampai juga di Gerbang Monas. Saya coba mencari keramaian dimana orang-orang berkumpul, khususnya ibu-ibu. Rupanya setelah saya masuk gerbang, terlihat dari kejauhan ada panggung dan tenda yang cukup besar. Saya langsung bergegas menuju panggung dan banyak ibu-ibu, mahasiswa kesehatan, jurnalis, dan tentunya tokoh-tokoh nasional yang sudah hadir disana. Kebetulan ketika saya sampai, Gubernur Jakarta, Anies Baswedan sedang memberikan sambutan kepada seluruh peserta yang hadir, yaitu ibu-ibu penggerak PKK dan PAUD di DKI Jakarta, kader Posyandu, ibu-ibu Bhayangkari, serta mahasiswa/i jurusan Gizi Poltekkes dan Universitas di wilayah Jabodetabek.

Sambutan Tokoh Nasional (Pict by FERIALD.ID)

Bapak Anies Baswedan mengatakan bahwa Jakarta adalah tolak ukur dalam pencegahan stunting. Kenapa? Karena bagaimana bisa daerah pelosok bisa bebas stunting kalau warga Jakartanya masih banyak yang menderita stunting. Permasalahan kesehatan adalah permasalahan mendasar yang harus segera diselesaikan.  Permasalahan ini perlu mendapat perhatian karena bukan hanya terjadi di pedesaan, melainkan di perkotaan, bahkan di ibu kota Indonesia. Sehingga menjadi target kita bersama adalah Jakarta bebas stunting dan jangka panjangnya adalah Indonesia Bebas Stunting.

“Kalau sumber daya manusia dan generasinya lemah, maka bangsa itu akan lemah. Kita perlu menyadari bahwa ketahanan nasional dimulai dari ketahanan keluarga” tutur Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, dalam sambutan pembuka Kampanye Nasional Cegahan Stunting

Bapak Anies Baswedan pun setuju dengan sambutan sebelumnya yaitu Bapak Moeldoko selaku Kepala Staf Kepresidenan yang mengatakan bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya.

“Di DKI Jakarta, meski angkanya di bawah rata-rata nasional, namun masih sekitar 27% prevalensinya. Kita harus lebih serius memperhatikan makanan yang kita berikan kepada anak-anak untuk pertumbuhan mereka,” Gubernur Jakarta, Anies Baswedan dalam sambutan Kampanye Nasional Cegah Stunting

Sambutan pun dilanjutkan oleh Ibu Fery Farhati Ganis, Istri Gubernur DKI Jakarta, selaku Ketua Tim Penggerak PKK DKI Jakarta. Ibu Fery menegaskan bahwa PKK adalah ujung tombak dalam upaya pencegahan stunting. Maka dengan adanya PKK diharapkan bisa menjadi garda terdepan dalam keluarga dan masyarakat untuk peduli akan kesehatan anak, terutama pada 1000 hari pertama. Karena pada 1000 hari pertama ini menentukan kesehatan gizi, perkembangan otak, dan pertumbuhan seorang anak.

Ibu Fery memberikan pesan kepada para ibu agar selalu mengingat kata BAGIMU yang merupakan singkatan dari “Bahagiakan Anakmu”, “Beri Gizi yang cukup”, dan “Stimulasi indera anak kita”.

Deklarasi Pencegahan Stunting (Sumber : www.sehatnegeriku.kemkes.go.id)

Acara pun dilanjutkan dengan Deklarasi Pencegahan Stunting yang dilakukan oleh Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko; Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek; Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang didampingi istrinya, Fery Farhati Ganis, selaku Ketua PKK Provinsi DKI Jakarta; Gubernur Banten, Wahidin Halim; Wakil Gubernur DI Yogyakarta, Sri Paduka Paku Alam X; Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko PMK, Sigit Priohutomo; dan Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI, Kirana Pritasari.

Deklarasi pun serentak dengan mencelupkan telapak tangan kemudian ditempelkan di kain yang sudah disiapkan. Bentuk deklarasi ini mengartikan bahwa semua elemen masyarakat secara bersama-sama peduli akan kesehatan anak dan berusaha menjadikan pencegahan stunting adalah tujuan bersama. Deklarasi ini menjadi titik awal penyadaran masyarakat mengenai bahaya stunting dan bagaimana upaya pencegahannya. Melalui upaya ini, diharapkan prevalensi stunting bisa diturunkan dari 37,2% (2013) menjadi 28% (2019).

Saya memperhatikan secara seksama sambutan dari Gubernur Jakarta dan Ibu Fery sambil mencatat beberapa poin penting dari yang disampaikan. Acara Kampanye Nasional Cegah Stunting ini sangat penting untuk kami sebagai pasangan muda yang baru mempunyai bayi berumur delapan bulan. Bagi saya pribadi, peran ayah milenial sangatlah penting. Pengasuhan bukan hanya sepenuhnya dilakukan oleh seorang ibu tetapi ayah pun memiliki peran. Sehingga perlu adanya keterlibatan ayah dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan anak, khususnya upaya pencegahan stunting.

Cegah Stunting (Sumber : www.sehatnegeriku.kemkes.go.id)

Stunting seolah menjadi momok menakutkan bagi kami para orang tua milenial. Di tengah arus informasi yang bertebaran begitu banyak sehingga tidak jarang kami temukan berita yang kontradiktif tentang kesehatan anak. Oleh karena itu, saya hadir ke acara ini dengantujuan utamanya yaitu mendapatkan ilmu dan informasi dari para ahli yang kompeten dan juga bentuk keterlibatan kami sebagai orangtua milenial dalam upaya mencegah stunting pada anak.

Saya beruntung sekali bisa menjadi bagian dari bapak-bapak yang hadir di Monas karena memang mayoritas yang hadir adalah ibu-ibu. Ada yang sibuk menggendong anaknya, menemani anaknya bermain, dan termasuk istri saya yang hadir sambil menyuapi putri kami dengan makanan homemade yang dibuatkan setelah Subuh tadi. Alhamdulillah makannya lahap dan saya yang sambil menggendongnya pun leluasa bisa mencatat materi yang disampaikan.

Mengikuti Talk Show Cegah Stunting (Pict by FERIALD)

Acara yang saya tunggu pun datang juga, yaitu Talk Show Indonesia Sehat dengan Cegah Stunting bersama empat pembicara yang handal. Siapa mereka? Dr Boy Abidin (dr Oz Indonesia), Alisa Wahid (Putri Pertama Abdurahman Wahid, Psikolog), Zivana Letisa (Putri Indonesia 2008), dan Kiki Widyasari (Public Figure). Talkshow pun dimulai dengan pertanyaan MC Cindy Sistyarani kepada Dokter Boy Abidin mengenai stunting yang menjadi ketakutan bersama para orangtua, khususnya generasi milenial.

Talk Show Indonesia Sehat dengan Cegah Stunting (Pict by FERIALD)

Stunting adalah gagal tumbuh yang diderita oleh anak. Stunting ini disebabkan oleh kurangnya asupan gizi yang masuk sehingga menyebabkan otak dan tubuh menjadi gagal berkembang. Lalu bagaimana supaya menyiapkan diri supaya anak kita mencegah stunting? Persiapan yang dilakukan oleh orangtua untuk mencegah stunting adalah dimulai ketika bayi dalam kandungan. Untuk itu, perlu bagi si ibu mengonsumsi makanan sehat terutama yang mengandung asam folat. Buah-buahan dan sayur-sayuran yang terdapat asam folatnya bermanfaat untuk perkembangan otak janin.

Setelah lahir pun harus disiapkan makanan yang baik. Enam bulan pertama sangat dianjurkan bayi mengonsumsi ASI Ekslusif. Kemudian setelah melewati fase enam bulan harus disertai makanan pendamping ASI yang baik. Seperti apa makanan yang baik itu? Dokter Boy juga menjelaskan makanan yang baik adalah makanan yang sesuai B2SA; yaitu Berimbang, Bergizi, Seimbang, dan Aman.

Selanjutnya adalah kualitas dan kuantitas makan sebagai upaya mencegah stunting. Kuantitas makan bergantung dari pola makan anak yang selalu dikontrol oleh orang tuanya. Ketika umur 6 bulan sampai dengan 2 tahun ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu memberikan makanan tambahannya, melakukan imunisasi lengkap, dan memberikan vitamin.

Dalam hal kualitas, Dokter Boy Abidin mengungkapkan bahwa jangan pernah memberi ASI sambil main handphone. Ini adalah fenomena zaman now dimana era digital sudah menjadi candu di semua kalangan. Makanya perlu dihindari menggunakan gadget ketika berinteraksi dengan bayi karena berpengaruh terhadap kualitas. Disamping itu juga, kualitas sang ibu tergantung pada moodnya. Penting sekali untuk menjaga tingkat happy seorang ibu dan tentunya peran ayah sangat sentral dalam membahagiakan istri.

Bagaimana wanita karir mengatur pola makan anak?

Ini sangat dilema ketika sebelumnya membayangkan jika menjadi ibu sambil bekerja (wanita karir) akan bisa me-manage waktu sebaik mungkin. Nyatanya TIDAK. Begitulah pengalaman Zivana Letisa dalam mengurus anak pertamanya. Putri Indonesia 2008 ini menyebutkan bahwa antara teori dan kenyataan itu kadang tidak sinkron. Seperti misalnya menyusui anak itu tidak segampang teorinya “tinggal ditempel aja” ternyata praktiknya banyak drama yang terjadi.

Apalagi ketika banyak setumpuk mitos yang harus diterima ketika mengurus si buah hati. Pernah mendengar “jangan makan yang pedas nanti ASInya pedas”? Ini tentu mitos yang masih dipercaya oleh sebagian orang dan masih banyak lagi mitos yang merajalela di masyarakat. Tetapi Zee, nama panggilan akrabnya, makan apa aja alias tidak ada pantangan dan yang pasti tidak memikirkan mitos-mitos tersebut.

Mbak Kiki Widyasari juga menambahkan bahwa “Ngurusin anak itu harus maksimal”. Meskipun sebagai wanita karir, jangan sampai kita acuh tak acuh dalam hal belanja keperluan anak dengan menyerahkan sepenuhnya kepada ART. Beliau mengatakan bahwa kita sebagai ibu-ibu harus memastikan makanan bayi dimulai dari belanja ke pasar. Kita harus mengatur, mengontrol, dan me-list makanan yang harus dibeli. Sehingga pola makannya bisa terjaga.

Dokter Boy Abidin memberikan nasihat kepada semua yang hadir, khususnya ibu-ibu. Niat, motivasi, dan faktor lingkungan selalu berubah yang menjadikannya sebagai ujian yang harus dihadapi ibu-ibu. Oleh karena itu, nikmatilah pekerjaan sebagai wanita dan kerjakan dengan ikhlas dengan niatan bahwa anak kita adalah titipan dari Allah dan terus senantiasa niatkan untuk beribadah.

Cara Mencegah Stunting 

Infografis Stunting (Sumber : KataDataNews)

“Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih”, tutur Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moelok.

Berdasarkan website Sehat Negeriku Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dijelaskan secara lengkap tiga hal yang dimaksud oleh Menkes RI tentang upaya pencegahan stunting, yaitu sebagai berikut :

1) Pola Makan

Masalah stunting dipengaruhi oleh rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, serta seringkali tidak beragam. Istilah “Isi Piringku” dengan gizi seimbang perlu diperkenalkan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan, memperbanyak sumber protein sangat dianjurkan, di samping tetap membiasakan mengonsumsi buah dan sayur.

Dalam satu porsi makan, setengah piring diisi oleh sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber protein (baik nabati maupun hewani) dengan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat.

2) Pola Asuh

Stunting juga dipengaruhi aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan Balita. Dimulai dari edukasi tentang kesehatan reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga, hingga para calon ibu memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan kandungan empat kali selama kehamilan.

Bersalin di fasilitas kesehatan, lakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dan berupayalah agar bayi mendapat colostrum air susu ibu (ASI). Berikan hanya ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan. Setelah itu, ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI. Jangan lupa pantau tumbuh kembangnya dengan membawa buah hati ke Posyandu setiap bulan.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah berikanlah hak anak mendapatkan kekebalan dari penyakit berbahaya melalui imunisasi yang telah dijamin ketersediaan dan keamanannya oleh pemerintah. Masyarakat bisa memanfaatkannya dengan tanpa biaya di Posyandu atau Puskesmas.

3) Sanitasi dan Akses Air Bersih

Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi dan air bersih, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi. Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan.

Dalam hal pola makan dan pola asuh, Mbak Alisa Wahid memberikan suatu teknik dalam ilmu psikologi yang bernama Teknik Memberikan Batas. Teknik ini merupakan pola pengajaran kepada anak yang disertai dengan konsekuensi yang harus mereka hadapi. Semisal jika anak makannya habis maka diperbolehkan nonton tv. Tapi jika anak tidak melakukan “kewajibannya” maka kita tidak boleh memberikan toleransi karena tujuan dari teknik ini adalah supaya menerapkan kedisiplinan pada anak.

Berbicara sanitasi, Mbak Alisa Wahid mengungkapkan bahwa penting sekali untuk menjaga kebersihan lingkungan dan didalam rumah. “Kita harus rajin mengepel”. Kita harus membuat rumah menjadi bersih dan terhindar dari kuman atau bakteri yang membahayakan tubuh. Mbak Zee juga memberikan saran bahwa berdasarkan pengalamannya, kita harus protektif terhadap air, makanan, dan tempat makan. Sehingga semua sanitasi harus bersih dan tempat makan harus selalu steril sebelum bersentuhan dengan bayi.

Bersama Mbak ALisa Wahid (Pict by FERIALD)

Saya beserta istri sangat bersyukur bisa langsung mendengarkan materi dan pengalaman dari semua pembicara. Apalagi sebagai orangtua yang memiliki anak di usia keemasan (1000 hari pertama) maka menghadiri acara ini adalah ilmu yang tidak bisa dibayar dengan apapun.

Stand Stunting Center (Pict by FERIALD)
Mengunjungi Stand (Pict by FERIALD)

Setelah acara talkshow selesai, saya pun berkeliling ke stand-stand untuk berkonsultasi tentang nutrition care. Pemerintah bekerja sama dengan Asosiasi Nutrisionis Olahraga dan Kebugaran Indonesia (ANOKI) dan Bike to Work (B2W), serta beberapa mitra perusahaan swasta, yakni PT Tirta Investama, PT Indofood Sukses  Makmur, PT Nutrifood Indonesia, Bank Mayapada, PT Kraft Heinz ABC Indonesia, PT Japfa Comfeed Indonesia,  GO-JEK, Bank Mandiri dan SUN Business NetworkAda dari Kemenkes RI, Komunitas 1000 hari, dan beberapa instansi yang care terhadap kampanye cegah stunting ini.

Konsultasi dan Edukasi di 1000 Days Fund (Pict by FERIALD)

Di stand tersebut saya dijelaskan lebih dalam tentang stunting, pentingnya 1000 hari pertama usia anak, dan penjelasan lainnya seputar pencegahan stunting. Alhamdulillah banyak sekali masukan dan ilmu yang didapat. Volunternya pun langsung menghampiri saya dan berbaik hati sharing tentang bagaimana pola makan yang baik untuk bayi kami yang masih berusia delapan bulan

Peran Ayah Milenial dalam Mencegah Stunting

Stand Kementerian Kesehatan RI (Pict by FERIALD)

Menjadi ayah adalah hal yang luar biasa bagi saya pribadi. Kebahagiaan yang tidak bisa dibayar dengan apapun ketika anak saya lahir ke dunia ini. Bentuk tanggung jawab saya terhadap anak bukan hanya menafkahi saja. Yang paling penting adalah kedekatan dan kebersamaan dalam mengasuh anak. Untuk menjadikan anak kita sehat perlu persiapan yang baik diantara ibu dan ayah. Apalagi dalam proses tumbuh kembang anak selama 1000 hari pertama ketika penyakit stunting selalu menjadi hal yang kami resahkan sebagai orang tua.

Lahir di era digital menjadikan saya sebagai ayah milenial dimana semua informasi, termasuk informasi kesehatan, bisa dengan mudah diakses. Namun peran ayah milenial tidak cukup dengan browsing dan mengikuti trend pengasuhan zaman now. Ada beberapa peran ayah milenial yang harus diperhatikan, diantaranya :

1) Teliti dalam Browsing

Jangan biasakan action tanpa cross check terlebih dahulu. Informasi di internet itu seolah asli tetapi palsu. Jangan sampai kita sembarang mengikuti apa yang diberitakan dari internet apalagi menyangkut kesehatan. Peran ayah milenial yang pertama adalah selalu teliti dalam browsing. Perhatikan bahwa setiap website adalah valid dan informasinya pun tepat.

Bagaimana caranya? Yaitu dengan melihat apakah pemberi informasi tersebut adalah dokter yang kompeten atau tidak. Kemudian selalu menjadikan rujukan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) sebagai pedoman dalam memberikan pola pengasuhan anak.

2) Membersamai Istri

Peran ayah milenial ini sangatlah penting dalam membersamai istri. Menjadikan istri selalu happy adalah suatu keharusan untuk menjaga kualitas ASI dan pola makan yang baik untuk anak. Mood swing adalah fenomena yang sering terjadi pada wanita. Sehingga perlu adanya peran suami yang selalu mengingatkan dan terlibat dalam psikologis istri.

3) Mengikuti Seminar atau Kelas Pengasuhan

Inilah yang saya lakukan sebagai ayah dalam mendidik anak. Dengan tingkat pemahaman yang minim membuat saya mencari-cari informasi tentang kelas mengasuh untuk ayah. Akhirnya dengan browsing di media sosial bisa menemukan dan bergabung dengan Grup Ayah Mengasuh.

Mengikuti Seminar atau Kelas Pengasuhan bagi ayah milenial adalah penting supaya sharing informasi selalu berjalan. Disamping itu juga ada banyak ilmu yang didapat dan bisa diaplikasikan dalam pengasuhan anak sehari-hari.

4) Selalu Semangat

Ayah milenial harus selalu semangat dalam mendidik. Dinamika anak yang tenang, aktif, dan macam-macam pasti ditemukan yang kadang membuat semangat kita turun. Namun bagaimana cara membuat semangat itu selalu ada? Yaitu sesuai dengan perkataan Dokter Boy Abidin bahwa kembalikan kepada niat kita untuk mendidik anak adalah upaya beribadah kita kepada Allah atas harta yang sangat berharga ini.

Itulah tulisan dari saya semoga bisa bermanfaat bagi setiap orang yang membacanya. Semoga kita para orang tua milenial menjadi orang tua yang selalu peduli untuk mewujudkan Indonesia Sehat dengan Pencegahan Stunting. Selalu Semangat!

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Media Sosial Blog dan Vlog Sehat Negeriku Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

4 thoughts on “Peran Ayah Milenial dalam Pencegahan Stunting pada Anak

  • 21/09/2018 at 7:48 AM
    Permalink

    Tantangan pengasuhan anak ke depan semakin berat. Semangat, yes

    Reply
    • 21/09/2018 at 4:17 PM
      Permalink

      Siappp makasih mbak

      Reply
  • 21/09/2018 at 8:11 AM
    Permalink

    Bravo mas Fer…. Jadi ayah yang hebat yaa… Ayah yang senantiasa dirindukan anak-anaknya di rumah… Salam buat istrinya…

    Reply
    • 21/09/2018 at 4:16 PM
      Permalink

      Terima kasih mbak atas doanya. Semoga bermanfaat tulisannya ya

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: