Pengalaman Buruk di Ruang Persalinan

Setiap kita akan melewati fase waktu yang ditandai dengan perubahan status seiring bertambahnya usia. Dimulai dari bayi, anak-anak, dewasa, sampai menjadi orang tua. Kita pasti pernah merasakan indahnya bermain ketika menjadi anak kecil, kemudian memasuki masa pubertas saat menginjak dewasa, dan akhirnya kita masuk fase dimana kita menjadi orangtua, yang berkewajiban membawa keturunannya untuk berhasil di dunia dan akhirat.

Aku terbilang baru di dunia parenting ini, akhir tahun 2016 menikah dan awal tahun 2018 aku resmi menjadi seorang ayah. Aku sangat bersyukur kepada Allah karena telah diamanahi seorang putri kecil, semoga Allah kuatkan pundak kami atas tanggung jawab ini. Namun dalam hati, aku masih tidak menyangka telah melangkah jauh dalam perjalanan hidup ini. Mungkin kita pernah sesekali menengok ke belakang dan menyadari bahwa roda kehidupan ini berputar sangat cepat. Itulah yang terjadi padaku mungkin juga terjadi padamu.

Meskipun putri kecilku baru hadir di dunia ini beberapa hari, namun banyak pengalaman sensasional yang aku rasakan. Semua bermula ketika di ruang persalinan yang membuat istriku mengalami persalinan normal dan SC. Nanti aku ceritakan kenapa istriku berakhir dengan SC.

Adzan Maghrib berkumandang, aku pun bergegas menuju mushola yang ada di basement Rumah Sakit Swasta di Bekasi, tempat istri melahirkan. Waktu itu istriku sudah mengalami bukaan ke tujuh. Aku berdoa dalam sholat supaya diberikan kemudahan dan kelancaran proses persalinannya, serta diberikan keselamatan kepada istri dan anakku.

Selesai sholat aku berjalan cepat menuju kamar bersalin. Aku menaiki tangga karena terlalu lama jika memakai lift. Disana kudapati sudah ada tiga orang yang bersama istriku. Rupanya bukaannya sudah lengkap alias sudah bukaan sepuluh! Tidak pikir panjang aku pun merangsak naik ke ranjang karena ingin membantu membetulkan sandaran bantal. Tiba-tiba “kejadian luar biasa” itu pun dimulai,

“Bapak turun aja dari ranjang, nanti malah mengganggu!” ketus salah satu suster.

Suster yang berbadan gemuk, memakai kacamata, dan berkerudung sampai bahu itu menyuruhku untuk segera turun dari ranjang. Kenapa aku lakukan hal itu? Karena sebelumnya aku sudah janjian dengan istri supaya berada di belakang kepalanya sebagai sandaran dan membantu untuk mengatur nafasnya. Tapi apa daya ternyata planning kami berantakan dan aku pun melanjutkan memberi semangat dengan hanya berada disampingnya.

Pegangannya semakin kuat sampai-sampai tanganku kesakitan. Aku bisa menahannya karena aku menyadari sakit ini tidak sebanding dengan perjuangan melahirkan putri kecilku. Tiba-tiba istriku mulai kehilangan kontrol, badannya selalu bergerak tidak karuan ketika hendak mengejan.

Cubitan demi cubitan mendarat ke tangan suster itu, ya suster tadi. Sontak dia pun marah dan langsung berkata,

“Ibu, mau dibantu enggak? Kalau terus kayak gitu saya gak mau bantu!”

Benar saja gretakannya, dia sama sekali tidak mau bantu. Amarahku ingin meledak layaknya bom atom meratakan Nagasaki dan Hiroshima. Tapi di sisi lain aku harus terus membantu psikologi istri yang sudah down gegara gretakan yang dibuatnya. Suasana waktu itu benar-benar tidak karuan.

Puncaknya adalah ketika dia bilang ke istriku,

“Kalau dua kali lagi tidak berhasil, langsung SC aja!”

Bukannya semangat ternyata malah membuat istriku makin down dan hancur lebur sudah impiannya untuk melahirkan normal. Istriku pun segera dibawa ke ruangan operasi dan Alhamdulillah berjalan lancar. Jeritan tangis dari ruang operasi pun terdengar sampai keluar dan membuatku haru.

Aku bersyukur kepada Allah ketika mendapati anak dan istri selamat namun tetap Pengalaman buruk itu sulit terlupakan olehku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: