Peluang Industri Kecil dan Menengah untuk Mendongkrak Perekonomian Nasional

Oleh Ferry ALdina

Kontribusi Industri Kecil dan Menengah (IKM) terhadap ekspor nasional masih relatif rendah jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik lainnya, yaitu baru mencapai 16% dari ekspor nasional1. Jumlah tersebut masih dibawah Malaysia yang sebesar 20%, Kemudian Singapura 40%, India sebesar 40%, dan jauh dibawah Cina yang sudah mencapai 70% dari ekspor nasionalnya. Kenapa hal itu bisa terjadi? Padahal jumlah UMKM di Indonesia termasuk paling banyak dibandingkan dengan negara lainnya.

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah mencatat sekitar 57,8 juta pelaku UMKM di Indonesia pada tahun 2015. Badan Pusat Statistik juga melaporkan bahwa krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1998 tidak membuat jumlah UMKM berkurang tetapi justru meningkat pesat dengan adanya penyerapan tenaga kerja sebanyak 85 juta sampai 107 juta dari tahun 1998 ke tahun 20122. Ini membuktikan bahwa UMKM di Indonesia sangat tangguh dan bisa bertahan diatas segala permasalahan ekonomi. Lalu kenapa sektor UMKM ini tidak bisa berbicara banyak dalam pertumbuhan ekspor nasional?

Berbicara pertumbuhan ekspor nasional, data Kementerian Keuangan dalam Majalah APBN KITA Edisi Februari 2018 menyebutkan bahwa tahun 2017, Indonesia mengalami pertumbuhan ekspor3 sebesar 9,09% setelah mengalami kontraksi pada tahun 2015 dan 2016. Nilai investasi pun mencapai pertumbuhan tertinggi dalam 5 tahun terakhir yaitu sebesar 6,15%. Pertumbuhan ekspor dan nilai investasi yang cukup bagus ini membuat perekonomian Indonesia sepanjang tahun 2017 memperlihatkan kinerja positif dan meningkat menjadi 5,07%. Mungkinkah peran industri kecil dan menengah yang lebih maksimal dalam perdagangan ekspor bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2019? Lalu bagaimana peluang IKM meningkatkan pertumbuhan ekspor nasional?

Pada tanggal 7 Agustus 2018, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) mengadakan acara Gathering Eksportir Indonesia yang mengundang lebih dari 500 pelaku usaha berorientasi ekspor. Acara yang bertujuan untuk mendiskusikan masalah dan tantangan yang dihadapi pelaku usaha dalam kegiatan ekspor tersebut merupakan salah satu upaya mewujudkan nawacita pemerintahan Presiden Joko Widodo yaitu mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. Sehingga tidak kurang dari 53 IKM mengambil bagian dari kebijakan DJBC berupa fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor Industri Kecil dan Menengah (KITE IKM) untuk mendukung kemudahan dan peningkatan ekspor di tahun 2019.

Kenapa tahun 2019? Karena pemerintah kita memiliki target untuk melipatgandakan ekspor di tahun tersebut. Program peningkatan produktivitas rakyat untuk bersaing di pasar internasional menjadi terbukanya kran kebijakan pemerintah dalam peningkatan dan perluasan pasar ekspor, terutama sektor usaha kecil dan menengah. Lalu kemudian muncullah kebijakan KITE IKM. Menurut Kasubdit Fasilitas Impor Tujuan Ekspor, Yamiral Azis Santoso, menyebutkan dalam Warta Bea Cukai1 bahwa KITE IKM berupa pembebasan bea masuk dan PPN impor tidak dipungut atas impor bahan baku bagi IKM untuk diproduksi menghasilkan barang jadi tujuan ekspor.

Upaya IKM meningkatkan Pertumbuhan Ekspor Nasional

Kementerian Keuangan yang sudah bersinergi dengan LPEI untuk meningkatkan daya saing pelaku usaha, seperti memberikan pembiayaan ekspor nasional dan jasa konsultasi yang berkualitas. Disamping itu adanya fasilitas fiskal KITE guna mendukung kemudahan dan peningkatan ekspor. Bukan hanya KITE IKM yang diberikan oleh pemerintah, adanya kredit modal kerja ekspor dan kredit investasi ekspor diharapkan membuat banyak pelaku usaha kecil dan menengah menghasilkan produk berorientasi ekspor.

Jika dilihat dari hasil pemanfaatan fasilitas tersebut, sampai dengan Juni 2018 ini menunjukkan kenaikan angka dibanding tahun 2017. Pada tahun 2017 jumlah IKM yang memperoleh fasilitas KITE sebanyak 22 IKM dan meningkat menjadi 53 IKM di tahun 2018. Namun jika melihat data Badan Pusat Statistik2 perumbuhan jumlah UMKM sebesar 2,41% dan jumlah UMKM terupdate tahun 2016 menyebutkan lebih dari 57 juta unit.

Kesuksesan IKM dan Prestasi Bangsa

Penulis menilai salah satu prestasi bangsa bisa dilihat dari sejauh mana perkembangan ekonominya. Industri Kecil dan Menengah adalah sektor ekonomi yang berasal dari masyarakat daerah. Dengan didukungnya data BPS bahwa perkembangan UMKM, IKM, dan ekonomi kreatif yang semakin masif. Maka pemerintah pusat dengan program KITE IKM diprediksikan bisa meningkatkan ekspor nasional dan mengurangi impor4.

Tidak dipungkiri jika ditambah dengan adanya program pendampingan pemerintah pusat terhadap sektor ekonomi kreatif. Kemudian pemanfaatan sektor digital, seperti halnya kegiatan Kementerian Koperasi yang sudah membantu UKM dengan mengadakan Seminar “Google untuk UKM”‘. Maka ini merupakan momentum bagus untuk Indonesia untuk mendorong perekonomian nasional.

Sumber Referensi :

1 Warta Bea Cukai. Volume 49. Nomor 2. Edisi Februari 2017. Judul : Ragam Upaya Memberdayakan IKM

2 Data BPS :  https://www.bps.go.id/statictable/2014/01/30/1322/tabel-perkembangan-umkm-pada-periode-1997–2013.html

3 Data BPS : Tabel Ekspor tahun 2018

4 Data BPS : Tabel Impor tahun 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: