Menjadi Pribadi yang Mampu Berhaji

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum teman pembaca yang dirahmati Allah. Kali ini saya akan review isi kajian hari Jumat Spesial Ustadz Adi Hidayat di Masjid Al Ihsan PTM VJS Bekasi. Tidak seperti biasanya kajian berlangsung pada hari Jumat padahal biasanya rutin diadakan tiap hari Kamis bada Maghrib.

Inilah review yang saya buat semoga bermanfaat

“Taqabalallahu minna wa minkum” Ucapan yang indah diberikan kepada saudara muslim di hari raya Iedul Fitri. Bermaknakan semoga Allah menerima amalku dan amalmu. Sungguh kita sudah ditempa selama bulan Ramadhan dengan berbagai ibadah. Namun bagaimana ibadah kita pasca Ramadhan? Apa ciri orang yang berhasil Ramadhannya?

Ciri yang jelas terlihat bagi orang yang berhasil puasanya adalah mereka yang senantiasa meneruskan rutinitas ibadahnya seperti saat Ramadhan. Tilawahnya terjaga, tahajud menjadi penghias malamnya, dhuhanya rutin, dan sebagainya. Apakah kita termasuk didalamnya?

Namun ada yang perlu digarisbawahi bahwa orang yang berhasil Ramadhannya adalah mereka yang mengupayakan diri untuk termasuk kepada golongan orang yang berhasil.

Ketika lisan mengucapkan doa Taqaballahu minna wa minkum menyiratkan bahwa kita memohon untuk menjadi orang yang berhasil Ramadhannya. Jangan sampai lisan manis terucap dan kata indah terangkai tapi ikhtiar kita tidak ada untuk menggapainya.

Sehingga sejatinya mereka yang berhasil Ramadhannya adalah mereka yang BERJUANG untuk meningkatkan amalan-amalan ibadahnya. Mereka yang punya tekad untuk menjadi orang-orang terpilih di sisi Allah. Karena doa yang dipanjatkan akan sempurna jika ada ikhtiar yang kuat membersamainya.

Itu mungkin pembuka dari sesi kajian Ustadz Adi Hidayat. Selanjutnya bahasan utamanya adalah tentang Kaidah Fiqh Haji. Selama menjelang bulan haji, InsyaAllah Ustadz Adi akan mengulas seputar Fiqh Haji.

Ada tiga bahasan yang menjadi tema kajian minggu ini dan minggu-minggu berikutnya.

1. Pengantar Haji dalam Al Quran dan Sunnah
2. Esensi Haji dalam Al Quran dan Sunnah
3. Fiqh Spesifik Manasik Haji (Praktik Haji Gratis)

Minggu ini akan membahas tentang Pengantar Haji dalam Al Quran dan Sunnah. Dasar yang menjadi turunannya adalah Quran Surat Al Baqarah ayat 196-203, Ali Imran ayat 97, dan Al Hajj ayat 27.

Membekali Diri untuk Haji

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat! (Al Baqarah ayat 197)

Dalam Firman Allah tersebut dijelaskan bahwa ada kalimat bulan-bulan yang diketahui. Bulan apakah itu? Yaitu bulan Syawal, Dzulqi’dah, dan Dzulhijah. Rata-rata orang terdahulu menyiapkan untuk haji itu pada bulan-bulan tersebut. Sehingga kita juga harus membekali diri untuk menyambut ibadah haji dengan ilmu dan materi sedari Syawal ini.

Orang yang Mampu Berhaji

فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ ۖ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (diantaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam. (Ali Imran ayat 97)

Patut diketahui ibadah haji itu merupakan suatu panggilan atau undangan dari Allah untuk An-Naas, manusia. Kenapa manusia dalam ayat tersebut dibahasakan dengan An Naas bukan Insan? Pengertian manusia dalam ayat tersebut adalah SEMUA MANUSIA tanpa ruang dan waktu atau dengan kata lain undangan Allah ini untuk semua kalangan manusia. Baik itu kaya, cukup, sehat, sakit, dan semuanya yang diundang Allah ke tanah suci.

Shalat adalah ibadah fisik. Zakat adalah ibadah harta. Sedangkan haji adalah ibadah yang menggabungkan harta dan fisik.

Siapa yang tidak ingin berhaji? Pasti semuanya ingin melaksanakan ibadah penyempurna rukun islam tersebut. Tapi kan belum mampu? Orang mampu disini adalah orang yang BERUSAHA untuk menjadi mampu. Bukan hanya keinginan saja dalam berhaji tetapi kita harus bersiap dalam melaksanakan haji.

Apa bentuk persiapan yang bisa kita lakukan? Pertama kita belajar ilmunya terlebih dahulu. Ustadz Adi Hidayat bersama Akhyar TV memberikan materi haji yang bisa kita manfaatkan untuk selalu datang di tiap kajiannya demi mendapatkan ilmu Fiqh Haji. Kedua adalah menabung untuk persiapan haji. Pembekalan materi ini penting karena kita memerlukannya ketika sebelum, selama, dan setelah berhaji. Kalau kita hanya ingin tapi tidak melakukan ikhtiar untuk berhaji, Apakah kita termasuk orang yang BERUSAHA mampu berhaji?

Panggilan dari Allah

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh. (Surat Al-Hajj ayat 27)

Layaknya panggilan adzan, apakah semuanya serentak pergi ke masjid? Apakah langsung menghentikan aktivitasnya dan bergegas ke masjid? Jawabannya Tidak semuanya. Itulah kenapa dalam konteks haji, banyak orang yang mampu dalam hal materi tetapi tidak melaksanakan ibadah haji. Kita semua adalah tamu undangan dari Allah maka sepantasnyalah kita berangkat untuk memenuhi undangan spesial dariNya.

Itu mungkin review dari saya tentang Kajian Fiqh Haji oleh Ustadz Adi Hidayat hari Jumat, 29 Juni 2018 Bada Maghrib sampai dengan pukul 21.00 WIB.

Kajian selanjutnya adalah tentang Esensi Haji dalam Al Quran dan Sunnah. Ada juga pelatihan haji yang jadwalnya akan diberitahu selanjutnya.

Semoga bermanfaat reviewnya. Kesalahan penulisan mutlak dari saya pribadi. Semoga kita termasuk orang yang BERUSAHA menjadi orang yang MAMPU untuk berhaji dengan membekali diri dengan ilmu dan materi. Aamiin Ya Rabb

*Stasiun Bekasi, menunggu Kereta Regal Bahari menuju Stasiun Jatibarang 09.36 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: