62 views

Menjadi Content Creator yang Bijak Bermedia Sosial

Internet adalah konsumsi utama masyarakat Indonesia setelah makanan pokok atau bahkan bisa jadi mengeyampingkan makan demi berinteraksi di dunia yang makin digandrungi tersebut. Fakta ini tidak bisa dipungkiri karena pengguna internet di Indonesia dari tahun ke tahun semakin bertambah.

Data dari APJII (Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia) memperlihatkan bahwa pengguna internet di Indonesia sebanyak 132,7 juta jiwa pada tahun 2016. Angka tersebut bertambah pada tahun 2017 menjadi 143,26 juta jiwa. Bisa dikatakan 54,68% penduduk Indonesia (262 juta jiwa) adalah pengguna internet. Penetrasi pengguna internet diprediksikan akan terus bertambah di tahun-tahun berikutnya mengingat dunia digital menjadi kebutuhan setiap orang dan sumber penghasilan yang menjanjikan.

Sayangnya banyak oknum yang memanfaatkan pertumbuhan teknologi digital ini. Mereka menggunakan internet demi mendapatkan uang, terlepas bagaimanapun caranya. Seperti apa? Propaganda berita dibuat sedemikian rupa supaya terlihat benar padahal nyatanya bohong. Dengan kata lain mereka menjadi pembuat hoax di internet.

Isu politik dan agama menjadi bumbu sedap untuk menjaring masyarakat supaya terhasut berita. Alurnya sederhana, mereka membuat content lalu menyebarkan ke internet dan media sosial. Tujuan utamanya adalah ada lagi masyarakat (pengguna internet) yang menyebarkan kembali berita tersebut dan berlanjut kepada masyarakat lainnya. Sungguh mata rantai yang mengerikan.

Tentu targetnya adalah masyarakat awam. Masyarakat yang belum faham literasi digital akan dengan mudah menyebarkannya. Apalagi sekarang akses media chatting, khususnya Grup Whatsapp menjadi ladang segar sebagai objek destinasi para pembuat hoax. Setiap orang membaca berita dari grup whatsapp lalu membaca berita yang seolah-olah benart. Setelah itu disebarkan ke grup lain sehingga timbullah ketidaknyamanan di berbagai grup..

Hoax adalah musuh bersama yang harus kita perangi. Jangan sampai berita bohong menyebar di masyarakat dan menjadikan internet tidak nyaman untuk disinggahi. Penetrasi pengguna internet yang semakin bertambah harus diimbangi dengan pemahaman masyarakat akan literasi digital.

Sebagai content creator, saya sangat terpanggil untuk memberantas hoax. Kenapa? Content creator itu bukan cuma membuat konten kemudian mendapatkan income. Tidak semudah itu. Ada tanggung jawab moril, yaitu mengedukasi warga internet atau masyarakat pada umumnya supaya lebih memahami tentang cara memberantas hoax.

Sekitar dua minggu yang lalu, saya coba mengaplikasikan apa yang saya tuliskan. Memberantas hoax dengan memberikan edukasi kepada ibu-ibu posyandu dan PAUD di Desa Telaga Murni, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. Rupanya antusias warga sangat bagus dengan banyaknya warga yang menghadiri acara tersebut.

Tetapi tidak dipungkiri masyarakat belum faham sepenuhnya tentang dunia internet. Menerima informasi lalu membacanya dan setelah itu menganggapnya semua seolah valid. Sayangnya ada juga yang menyebarkan suatu berita tanpa adanya cross check terlebih dahulu.

Saya pun menjelaskan kepada masyarakat tips dan trik bagaimana cara mengenali hoax sedari dini.

Mengenali judulnya. Jika berita diawali dengan judul yang persuasif tetapi disisipi muatan kebencian atau permusuhan maka hiraukan saja. Setidaknya kita waspada terhadap berita yang judulnya seperti “WOW, VIRALKAN, SEBARKAN”.

Lihat URL link. Sumber berita hoax itu pasti tidak valid. Namun kadang sumber beritanya dibuat mirip dengan berita nasional. Tetapi yang pasti jika menemukan berita yang belum tentu benar tetapi tidak ada sumbernya sudah dipastikan itu hoax.

Hati-Hati dengan berita SARA dan politik. Oknum content creator selalu memanfaatkan fanatiseme suku, adat, ras, agama, politik, dan komunitas untuk membuat berita hoax. Berita ini sangat “renyah” untuk dikonsumsi sebagian warga net. Jadi berhati-hati dengan berita SARA.

Bijak bermedia sosial. Media sosial seperti facebook, instagram, dan twitter biasanya digunakan untuk penyebaran berita hoax. Pasalnya intensitas penyebaran via media sosial itu sangat masif. Sebagai netizen, kita harus bijak dan cerdas dalam memilah dan cross check berita mana yang baik atau tidak untuk disebarkan.

Laporkan. Jika tidak ada hoax yang dilaporkan maka fenomena berita bohong akan terus merajalela. Kita harus reaktif melaporkan setiap berita yang tidak tahu asal muasalnya atau dicurigai sebagai berita hoax. Laporkanlah ke Kementerian Kemkominfo melalu email aduankonten@mail.kominfo.go.id atau jika ingin mengonfirmasi kebenaran suatu berita, bisa dicek ke website turnbackhoax.

Intinya dalam berinteraksi di internet kita harus bijak dan cerdas. Jangan sampai kita terlalu asyik sebagai netizen tanpa memperhatikan literasi digital. Kabar baiknya adalah saya tidak sendiri tetapi banyak juga orang yang mendukung untuk menyebarkan hal positif ini. Salah satunya adalah Wempy Dyocta Koto.

Wempy Dyocta Koto

Wempy Dyocta Koto mengajak bijak bersosmed supaya masyarakat cerdas memahami berita yang berkeliaran di dunia maya. Beliau merupakan Founder dan CEO Wardour dan Oxford, salah satu perusahaan yang menaungi beberapa startup yang ada di Indonesia seperti Kalibrr.com, Jelasin.com, dan startup lainnya.

Wempy Dyocta Koto

Selain itu, Wempy Dyocta Koto (@wempydyoctakoto) adalah seorang investor dan penasihat untuk perusahaan-perusahaan di Eropa, Amerika, dan Asia Pasifik, dan juga menjadi mentor dan pembimbing para CEO di segala bidang seperti kepemimpinan, keuangan, teknologi, pengelolaan sumber daya, operasional, penjualan, pemasaran, dan pengembangan bisnis internasional.

Saya yakin dengan banyaknya orang yang mengajak bijak bersosmed, maka kedepannya masyarakat akan bisa memfilter dengan mandiri mana berita benar dan bohong. Mari kita galakkan untuk tetap tingkatkan literasi digital dengan saring terlebih dahulu sebelum sharing ke publik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *