142 views

Mencari Validitas di Tengah Ambiguitas

“Kalau di Indonesia kemana-mana dianjurkan pakai masker ya, Kang?” tanya seorang kawan di Taiwan.

Kami memulai percakapan sekitar awal Februari, ketika kasus virus corona belum sampai di tanah air. Meskipun para peneliti berasumsi kedatangan virus corona ke Indonesia sejak akhir Januari, tetapi kasus pertama covid-19 baru terendus di bulan Maret. Dan saat itu Taiwan sudah mulai bergerak mengantisipasi penyebaran virus corona sejak awal Januari. Bahkan Taiwan pada bulan Desembernya menjadi negara pertama yang mewanti-wanti kepada WHO akan keganasan virus ini.

“Disini masih biasa-biasa aja. Biasa kan warga +62 kalau belum ada kasus ya normal-normal aja.” jawab saya dengan sedikit nada bercanda. Dan saya sadar sekarang tidak bisa bercanda untuk masalah seserius ini.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan perkembangan virus corona semakin menjadi-jadi. Awal Maret menjadi pertanda babak corona dimulai di Indonesia! Benar saja beberapa hari berselang, pemerintah menyarankan untuk memakai masker kepada seluruh warga, apalagi di daerah yang termasuk zona merah. Actually, I am in the red zone!

Rasanya seperti de ja vu. Tidak tahu kenapa, percakapan dengan teman saya malah menjadi sebuah sinyal untuk Indonesia supaya lebih berwaspada sedari awal. Berkaca dari Taiwan, mereka mendapatkan apresiasi tinggi dari berbagai negara atas keberhasilannya melawan virus corona.

Tercatat per tanggal 22 Mei 2020, berdasarkan situs worldometers.info, Taiwan menempati urutan ke-133 sebagai negara yang terpapar virus corona dengan jumlah 441 kasus dan 7 orang meninggal dunia. Dengan kata lain persentase kematian disebabkan covid-19 adalah sekitar 0,7%.

Secara geografis memang Taiwan lebih dekat dengan Cina tapi ajaibnya bisa sukses “menang” terhadap virus corona. Yang pasti keajaiban ini tidak instan, ini berkat dari kerja keras dan belajar penuh dari pengalaman. Yes, They learned from the experience so perfect!

Ketika 17 tahun yang lalu, tepatnya 2003, Taiwan menjadi salah satu wilayah yang paling parah terkena dampak virus SARS. Wabah sindrom pernapasan akut membuat wilayah yang luasanya 35.801 km persegi itu dikarantina. Total sebanyak lebih dari 150.000 orang terpaksa dikarantina dan akhirnya yang meninggal sebanyak 181 orang.

Belajar dari SARS, Taiwan segera merespon ketika berita virus corona muncul ke permukaan. National Health Command Center (NHCC) atau Pusat Komando Kesehatan Nasional Taiwan bergerak cepat untuk menindaklanjuti potensi ancaman dari virus corona ini.

Seperti yang dilansir Kumparan (11/05), kunci sukses Taiwan melawan corona yaitu wakil presidennya merupakan seorang ahli epidemiologi. Seorang pakar penyakit menular beserta penyebarannya, yang menjabat sebagai wakil presiden Taiwan itu bernama Chen Chien-jen. Tidak heran jika beberapa kebijakannya langsung didengar oleh seluruh masyarakat Taiwan. Mulai dari penutupan akses perjalanan dari dan ke luar negeri, khususnya Cina. Kemudian pemerintah yang mewajibkan memakai masker, sampai dengan memberikan peringatan kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat virus SARS-CoV-2 mulai muncul.

WHO justru mengabaikannya dan bak bumerang yang menghantam balik sikap WHO, organisasi kesehatan tertinggi di dunia itu kini kelimpungan menghadapi virus yang menghantam hampir di seluruh penjuru dunia.

Kita seharusnya belajar dari Taiwan sebelum pergerakan virus semasif seperti sekarang ini. Sayangnya telat. Namun tidak salah jika belajar untuk masa yang akan datang jika hal terjadi serupa menimpa lagi Indonesia. Harapan saya, jujur, tidak mau ada lagi wabah seperti ini.

Merebaknya berita bohong tentang corona 

Alih-alih ingin memberikan edukasi dan informasi tentang virus corona, masih saja banyak oknum yang menyebarkan berita bohong atau hoaks terkait covid-19. Beritanya bermacam-macam. Mulai dikaitkan dengan politik, himbauan palsu, video editan, dan pesan berantai yang menimbulkan kekacauan.

Kita semua tahu jika virus corona ini sungguh sangat menakutkan. Inilah yang menuntut kita selalu waspada. Ada satu hal yang lebih menakutkan daripada corona, yaitu kepanikan terhadap corona itu sendiri. Yang disebabkan oleh berita dan informasi yang sangat tidak bertanggung jawab.

Kepanikan yang berujung gangguan psikis dan menimbulkan kisruh yang luar biasa di masyarakat. Pikiran dipenuhi banyak berita bohong, hati sudah sesak dengan ketakutan luar biasa, dampaknya bukan tidak mungkin menyerang imunitas kita. Alhasil, justru kita kalah dengan corona.

Direktorat Pengendalian Aplikasi Informatika, Ditjen Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI mengabarkan pada 3 Maret 2020 saja sebanyak 147 laporan isu hoaks yang sudah diterima. Bukannya menurun, berita hoaks tentang corona meningkat tajam dengan total 1.096 kasus.

Disinilah peran media sangat penting. Mau media massa ataupun media online, semuanya memiliki “senjata” untuk melawan virus corona. Informasi yang valid, berita yang mengedukasi, netralitas yang dijunjung, dan berbagai “senjata” yang bisa menumpas berita hoaks dan mencerahkan masyarakat Indonesia.

Terkhusus media online, saat ini menjadi pusat informasi corona yang dicari. Kenapa? Pasalnya pasca kebijakan WFH atau Work From Home membuat internet di Indonesia meningkat pesat sebanyak 40 persen.

“Selama WFH, permintaan untuk pasang baru Indihome meningkat. Jumlah pelanggan baru pada Maret meningkat 30 persen sampai dengan 40 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya,” kata Arif, VP Corporate Communication PT Telkom.

Puluhan, ratusan, atau mungkin lebih media online yang menyediakan berita-berita seputar virus corona. Entah mana yang lebih akurat dan terpercaya. Namun yang pasti media berita bohong masih aktif bergerak demi meraup pundi di tengah pandemi.

“Apa yang harus kita lakukan untuk menangkal berita yang belum jelas kebenarannya?”

Ini pertanyaan yang menarik dan unik. Kini, pengolah berita hoaks itu lebih pintar meracik bahan berita sehingga bisa mengenai target sasaran masyarakatnya. Namun ada beberapa hal yang perlu diselidiki beberapa hal penting menghadapi berita yang simpang siur dan sudah terlanjur menyebar.

Jangan Percaya Berita Beraroma Politis atau Kebencian

Ketika eranya pilpres mungkin isu politik, kebencian atau kampanye hitam, dan agama menjadi isu renyah untuk dijadikan bahan bakar berita. Layaknya bahan bakar maka tidak berguna jika tidak menyulut api pertarungan. Namun ketika zaman berita corona, maka isu agama tidak dijadikan materi. Isu politik dan kebencian atau hate speech menjadi materi utama untuk siap diramu menjadi berita palsu.

Buat netizen yang terhormat, kalangan junior atau senior, milenial atau non milenial, selayaknya TIDAK MUDAH PERCAYA jika ada berita yang beraroma politis dan kebencian. Sekalipun itu memang media yang cukup terkenal tetapi bukan tidak mungkin bisa disusupi oleh bahan bakar yang tidak valid. Lebih baik hiraukan terlebih dahulu jika masih ada berita yang menyangkut-pautkan berita corona dan berita beraroma politis atau kebencian.

Sungguh tidak bertanggung jawab mereka yang membenturkan isu politik dengan kesehatan. Ketika tenaga medis sebagai garda terdepan sudah mati-matian mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk menyelamatkan Indonesia, para oknum tega-teganya menyebarkan berita palsu.

Sekali lagi, jangan mudah percaya dengan berita corona yang dicampuradukkan dengan politis atau cenderung kebencian.

Pergilah Website Abal-abalan!

Memang yang paling mudah mendeteksi berita bohong itu dari domain websitenya. Jika masih pakai domain gratisan, maka habislah perkara! Buang saja jauh-jauh dari beranda Anda, karena they are still beginner!

Meskipun sekarang mainnya lewat pesan berantai media sosial, lalu menyebar ke grup-grup whatsapp atau sejenisnya. Tetapi yang perlu diingat adalah konten yang seolah benar adanya jika masih memakai domain gratisan, sudah pasti bohong. Wassalam.

Kalau Masih Ragu, Bisa Cek Sendiri Kebenarannya

Saking banyaknya berita yang tersebar luas kemana-mana dan sangat ingin tahu benar tidaknya, saya sarankan cek ke turnbackhoax.id. Disana kita bisa menemukan banyak berita yang sudah dikonfirmasi. Bisa terdeteksi hoaks, berita benar, misinformasi, atau sejenisnya.

Namun sayangnya tidak bisa mengonfirmasi semua berita bohong yang tersebar sekaligus. Perlu waktu untuk mengklarifikasinya. Ya, karena memang saking banyaknya berita berseliweran.

Saran saya mending langsung ke media yang terpercaya saja. Lupakan berita yang belum jelas kevalidannya. Temukan informasi akurat, terpercaya, dan terlengkap seputar corona. Sehingga kesehatan mental Anda juga terjaga ketimbang memikirkan berita yang aneh-aneh.

Pusat Informasi Corona Terpercaya dan Terlengkap

Merujuk pada saran sebelumnya di atas, maka tidak usah repot-repot mencari-cari kebenaran berita yang belum tentu valid tidaknya. Dan tidak perlu juga pikiran kita dijejali berita yang berita bercampur aroma politis atau kebencian. Cukup satu saja rujukan berita terpercaya dan terlengkap seputar corona supaya memudahkan Anda mendapatkan berita yang ingin diketahui.

Pusat informasi corona yang terpercaya dan terlengkap yang saya rekomendasikan adalah kumparan. Ada beberapa panduan atau informasi seputar corona sehingga kita bisa “subscribe collection” yang ada di halaman utama corona.

Kemudian ada sebaran kasus corona yang ada di Indonesia update setiap harinya berdasarkan sumber dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Lengkap beserta jumlah ODP, PDP, kasus positif, total pasien yang sembuh, hingga pasien yang meninggal. Disertai juga grafik penambahan/pengurangan kasus positif, sembuh, dan meninggal update setiap harinya.

Selain tabel wilayah yang terkena dampak covid-19, kumparan juga menyediakan berita-berita seputar corona yang terpercaya yang bisa diakses oleh semua kalangan masyarakat.

Dengan adanya portal berita yang menyediakan berita corona yang terpercaya dan terlengkap, setidaknya kesehatan mental masyarakat Indonesia bisa terjaga dengan baik. Salah satu menangkal berita bohong tidak bisa dengan cara lain melainkan kita cerdas memilih sumber berita mana yang ingin kita akses. Tidak salah jika merujuk ke beberapa berita namun alangkah baiknya supaya tidak tumpang tindih informasi maka kumparan sebagai penyedia berita informasi corona bisa dijadikan rujukan untuk masyarakat Indonesia.

Mari kita lawan covid-19 dengan bijak bermedia sosial.

Mari kita lawan covid-19 dengan cerdas memilih berita.

Mari kita lawan covid-19 dengan pintar menangkal hoaks.

Terima kasih.

#TenanguntukMenang #BerkahNulisdiRumah

Referensi : 

  1. Kasus pertama virus corona di Indonesia dan asumsi peneliti UI : https://kumparan.com/kumparansains/peneliti-ui-kasus-corona-di-indonesia-sudah-ada-sejak-akhir-januari-2020-1tBJfn9j8ZC
  2. Update Covid-19 di Taiwan : https://www.worldometers.info/coronavirus/
  3. Kunci sukses Taiwan melawan corona : https://kumparan.com/kumparansains/kunci-sukses-taiwan-lawan-corona-wakil-presidennya-seorang-ahli-epidemiologi-1tO8CIA2bkI/full
  4. Berita hoaks tentang Covid-19 : https://katadata.co.id/berita/2020/04/07/kominfo-temukan-1096-hoaks-corona-77-kasus-ditangani-kepolisian
  5. Ditjen Aptika Kominfo : https://aptika.kominfo.go.id/wp-content/uploads/2020/03/Rekap-Laporan-Isu-Hoaks-Virus-Corona-.pdf
  6. Kenaikan pengguna internet saat work from home : https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200408124947-213-491594/pengguna-internet-kala-wfh-corona-meningkat-40-persen-di-ri
  7. Informasi Corona terbaru di Indonesia per tanggal 22 Mei 2020 : https://kumparan.com/page/corona

“Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Marathon Blog Ramadhan yang diselenggarkan oleh Kumparan.”

2 thoughts on “Mencari Validitas di Tengah Ambiguitas

  • 23/05/2020 at 8:04 AM
    Permalink

    Betul banget kang, lalu lintas informasi cepet banget. Sayangnya para senior bahkan orang tua kita kadang berasumsi semua informasi yang ada di internet adalah benar. Edukasi tentang berita hoax bukan hanya untuk anak muda, yang tua pun juga butuh.

    Reply
    • 25/05/2020 at 3:22 AM
      Permalink

      betul mas. informasi yang tidak valid biasanya menyasar ke para orang tua. sepakat, kaum muda untuk terus mengedukasi yang tua.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *