Pengalaman Pribadi 

Perkenalkan nama saya Ferry Aldina. Kalau berbicara tentang ekonomi maka tidak jauh sama urusan dagang. Saya pernah dan (mungkin) kalian juga pernah ngalamin namanya berdagang. Nah, sekarang saya mau share dulu nih cerita bagaimana awal saya menemukan ekonomi digital sejak saya berjualan donat dan jagung rebus.

Sekitar tahun 2002, saya bersama teman-teman SD berbondong-bondong menjajakkan jagung rebus. Biasanya saya berjalan kaki sambil memanggul jagung rebus di kepala. Berjalan sejauh 10 km lebih sehabis pulang sekolah adalah rutinitasku sehari-hari. Bahkan harus berebut mengambil lahan. Kenapa? Karena pepatah siapa lambat dia tidak bisa jualan berlaku pada zaman saya dulu.

Rasanya seru mendapatkan uang dari hasil keringat sendiri. Mau dipakai buat beli apapun terserah kita. Tapi karena saya gak biasa jajan-jajan atau beli barang, uang hasil dagangan pun akhirnya ditabung. Alhamdulillah lumayan buat nambah rekening di Bank. Hehe

Berapa sih bayarannya? Rp2.000 – Rp4.000 per hari lho. Buat saya yang waktu SD belum ngerti duit, hasil itu lumayan gede. Kalau dibandingkan dengan sekarang ya jauh banget lah. Dua ribu paling bisa buat ke toilet doang. Hehe

Menjadi pedagang jagung rebus keliling hanya bertahan sampai SD. Setelah masuk SMP saya sudah berhenti berdagang. Apalagi SMA yang notabene pelajarannya padat banget. Pokoknya total berhenti dari dunia pereekonomian. Haha

Ketika masuk dunia perkuliahan, saya langsung mulai “tercambuk” lagi jiwa wirausahanya. Banyak sekali mahasiswa yang melakukan danus (kamu tahu kan dana usaha?) untuk kegiatan UKM atau himpunan. Ada juga yang kuliah sambil berdagang untuk menambah uang makan sehari-hari. Alasan utamanya karena tidak mau merepotkan orang tua.

Saya condong ke kategori yang kedua, yaitu berdagang untuk makan sehari-hari. Saya tidak mau merepotkan orang tua dan saya senang menjalan profesi sambilan sebagai pedagang. Apa usaha saya waktu itu? Saya jualan donat yang mirip donat-donat yang di toko terkenal. Ada rasa strawberry, coklat, keju, dan macam-macam. Keuntungannya lumayan bisa dapat Rp 20.000 per hari. Berarti dua kali lipat dari berjualan jagung rebus sewaktu SD. Hehe

Pengalaman saya selama berdagang jagung dan donat itu jemput bola alias menawarkan langsung ke calon pembeli dan kadang juga harus mampir ke kelas-kelas demi menghabiskan sisa jualan.

Ketika Internet Mewarnai Ekonomi Indonesia

Dunia ekonomi tidak lepas dari perkembangan teknologi. Banyak pedagang yang memanfaatkan teknologi demi mendapatkan pasar yang lebih luas. Pangsa pasar zaman now adalah mereka yang melek digital. Kalau pedagangnya gak melek digital maka bakalan tertinggal.

Jualan di toko online (dok. Pribadi)

Saya pun pernah menjalani peran selanjutnya sebagai pendagang online. Saya memanfaatkan media sosial untuk menarik calon pembeli. Biasanya saya menulis caption atau tulisan yang soft selling dan kemudian menggiring netizen ke halaman website toko online saya.

Setelah netizen suka dengan barang yang saya tawarkan maka transaksi pun dimulai. Netizen alias calon pembeli tersebut menuliskan alamat kirim dan transfer uang. Langkah terakhir adalah saya langsung mengirimkan barang (waktu itu jualan buku) ke alamat pembeli. Simpel deh. Begitulah sederhananya ekonomi di era digital.

Kenapa harus media sosial?

Penetrasi Pengguna Internet (dok. APJII 2017)

Tadi saya menyebutkan media sosial untuk menarik pembeli. Nah, kenapa sih harus media sosial atau internet? Data dari APJII (Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia) menyebutkan bahwa pada tahun 2017 penetrasi pengguna internet di Indonesia meningkat menjadi 143,26 juta jiwa dibandingkan tahun 2016 sebesar 132,7 juta jiwa. Jika dikorelasikan dengan total pupulasi penduduk Indonesia (262 juta jiwa) maka secara presentasi 54,68% penduduk Indonesia sudah melek internet.

Peringkat pengguna internet di Asia (dok. KATADATA)

Jadi tidak heran kalau internet adalah salah satu penunjang keberhasilan dunia ekonomi. That’s why this era become digital economy. KATADATA juga memberikan hasil survey bahwa Indonesia menjadi peringkat 4 pengguna internet di Asia setelah Cina, India, dan Jepang.

Instagram Top Countries (dok. Hootsuite 2018)
Facebook Top Countries and Cities (dok. Hootsuite 2018)

Lebih hebatnya lagi media sosial instagram, Indonesia menjadi The largest Active Instagram User. Survey HOTSUIT juga mengatakan bahwa Indonesia merajai di empat besar Cities The Largest Number of Active Facebook User dengan kota Bekasi dan Jakarta menempati posisi tiga dan empat. Masing-masing memiliki sebanyak 18 juta dan 16 juta user.

Indonesia itu memang lahannya e-commerce. Bertebaran di internet ataupun media sosial yang menghadirkan berbagai macam giuran dari toko online. Apalagi HARBOLNAS (Hari Belanja Online Nasional) menjadi momentum buat e-commerce melebarkan sayapnya untuk lebih meningkatkan penghasilannya.

Yang paling menonjol adalah startup yang sudah berubah menjadi unicorn atau berpenghasilan sebanyak Rp 1 triliun. Semua itu dampak dari adanya digitalisasi ekonomi. Usaha yang bermula dari Founder Startup bisa menjadi unicorn dan mempekerjakan ribuan orang.

Revolusi Industri 4.0

Revolusi Industri (source ww.sv.ugm.ac.id)

Sejarah revolusi industri itu bermulai pada akhir abad 18 yang diawali dengan Revolusi Industri 1.0, yaitu industri yang memadukan air dan steam (mechanized production). Berlanjut ke awal abad 19 revolusi industri menjelma menjadi  revolusi industri 2.0 yang memanfaatkan electric power. Berlanjut pada revolusi industri 3.0 di abad 20 yang sudah mengolaborasikan elektronik dan teknologi informasi. Sampai sekarang kita sudah pada era revolusi industri 4.0

Revolusi Industri 4.0 merupakan gabungan otomasi dan data exchange sehingga menghadirkan digitalisasi dalam cyber physical system, IOT, dan smart technologies. Singkatnya, revolusi indutri 4.0 ini memadukan fisik, digital, dan biologi. Adapun implikasinya adalah terjadinya transformasi di seluruh sistem, baik produksi, manajemen, maupun pengaturan.

Annual Meeting IMF-WBG Forum 2018

Annual Meetings IMF-WBG 2018 Indonesia (sumber : medcom.id)

Adanya Revolusi Industri 4.0 juga berimpikasi terhadap ekonomi dan keuangan dunia. Sehingga dalam Annual Meeting IMF-WBG 2018 yang diadakan di Bali mengangkat isu digital dari lima isu utama yang diperbincangkan.

Berdasarkan dari web Bank Indonesia (www.bi.go.id) perkembangan ekonomi digital dipengaruhi oleh berbagai risiko. Untuk itu, terdapat beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dan akan mengemuka dalam pembahasan Pertemuan Tahunan 2018, antara lain dampak ekonomi digital terhadap perekonomian, sistem pembayaran, central bank operation, cross-border arrangement and collaboration. Isu ini menjadi pembahasan pula dalam rangkaian kegiatan Pertemuan Tahunan 2018.

“Pertemuan ini jadi kesempatan bagi kami untuk bertemu dengan lembaga pemeringkat guna menjelaskan tentang ekonomi Indonesia outlook dan bagaimana Indonesia merespons kondisi yang tidak mudah ini,” Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara

 Ekonomi Digital vs UMKM

Secara historis, UMKM adalah jenis usaha yang tahan banting di segala kondisi. Badan Pusat Statistik juga melaporkan bahwa krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1998 tidak membuat jumlah UMKM berkurang tetapi justru meningkat pesat dengan adanya penyerapan tenaga kerja sebanyak 85 juta sampai 107 juta dari tahun 1998 ke tahun 2012. Ini membuktikan bahwa UMKM di Indonesia sangat tangguh dan bisa bertahan diatas segala permasalahan ekonomi.

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah juga mencatat sekitar 57,8 juta pelaku UMKM di Indonesia pada tahun 2015. Angka ini menunjukkan nilai pelaku UMKM yang semakin masif tetapi sektor sektor UMKM ini tidak bisa berbicara banyak dalam pertumbuhan ekspor nasional? Salah satu jawabannya adalah kurangnya pelaku UMKM yang melek akan ekonomi digital

Hampir di berbagai daerah di Indonesia mempunyai kerajinan khas masing-masing. Tetapi karena tidak bisa menyentuh ranah digital atau kurang pemahaman tentang ekonomi digital maka pertumbuhannya menjadi stagnan.

Tidak heran salah satu hasil Annual Meeting IMF-WBG Forum 2018 tersebut melirik sektor UMKM untuk bekerja sama dengan Alibaba dalam hal pengembangan SDM. Diharapkan setelah mendapatkan pelatihan dari raksasa e-commerce asal China tersebut maka UMKM di Indonesia lebih berkembang dan membantu perumbuhan ekonomi nasional.

Tantangan Ekonomi Digital

Penetrasi e-commerce Indonesia masih rendah namun memiliki potensi yang cukup tinggi. Berdasarkan data Compotition Commission Singapore (Handbook on E-Commerce and Competition in ASEAN, 2017), proyeksi pertumbuhan e-commerce Indonesia sebesar 20.1%. Statista (2018) mengatakan penjualan e-commerce Indonesia mencapai USD 7 bn di 2017 dan naik 18,5% per tahunnya sehingga menjadi sekitar USD 16.5 bn di tahun 2022.

Tantangan Indonesia di era ekonomi digital juga terdapat pada logistik, infrastruktur , dan penetrasi internet. Penggunaan internet Indonesia diperkirakan tumbuh 19% (CAGR) antara 2015-2025 atau tertinggi di kawasan, sementara jumlah pengguna smartphone di Indonesia saat ini telah menyentuh angka 55 Juta (22% populasi) (Google & Temasek, 2016). Dengan penetrasi internet yang begitu cepat maka harus didukung logistik dan infrastruktur yang memadai dan menjangkau ke seluruh Indonesia. Sebagaimana Indonesia adalah negara kepualauan yang membutuhkan akes logistic yang baik.

Peluang Ekonomi dan Keuangan Digital.

Ekonomi Digital memiliki potensi transformative sangat bermanfaat bagi kehidupan yang lebih baik. Namun diperlukan kedalaman pemahaman dampak ekonomi maupun social termasuk regulasi yang tepat untuk mengambil manfaat yang lebih besar lagi

(Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia)

Jumlah UMKM pada tahun 2017 sebanyak 59,6 unit dan pemerintah sendiri menargetkan tahun 2019-2020, 8 juta unit UMKM (13,5%) sudah memanfaatkan e-commerce sebagai sumber penghasilannya. Lapak dari e-commerce terbukti menghasilkan pendapatan yang lebih baik. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk UMKM untuk go-digital.

Apalagi banyak platform e-commerce yang masih fokus pada pasar domestik. Jika ingin meningkatkan pasarnya menjadi ekspor maka beberapa platform pun sudah memfasilitasi aktivitas impor.

Platform e-commerce yang menyediakan platforum untuk UMKM

#BIGoestoCampus2018

Bank Indonesia membaca peluang dan tantangan ekonomi digital ini menjadi sebuah rangkaian penyelesaian untuk meningkatkan ketahanan ekonomi nasional. Bank Indonesia melakukan beberapa upaya dan kebijakan untuk menduung ekonomi dan keuangan digital. Salah satunya adalah program BI Goes To Campus.

Program BI Goes To Campus sudah berjalan selama lima kali dan tahun 2018 ini BI mengunjungi empat kampus yaitu Universitas Brawijaya, Malang (8 November); Universitas Sriwijaya, Palembang (15 November); Universitas Patimura, Ambon (22 November); dan Institut Teknologi Bandung, Bandung (28 November).

Talkshow, workshop video, dan blog merupakan kegiatan yang dilakukan dalam acara BI Goes to Campus 2018. Dengan mengusung tema Ekonomi Digital dan Perlindungan Konsumen, BI mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya penerapan ekonomi digital seiring berkembangnya teknologi dan komunikasi secar digital. BI juga memaparkan pentingnya perlindungan konsumen pada era ekonomi digital

Kegiatan BI Goes to Campus 2018 bertujuan untuk mendorong para generasi muda mahasiswa untuk menjadi wirausahawan lokal berbasis digital, sehingga dapat berkontribusi untuk mendukung ketahanan ekonomi nasional.

Kebijakan Bank Indonesia

Bank Indonesia mendorong perdagangan berbasis elektronik (e-commerce) untuk memberdayakan UMKM Nasional. Ada strategi pengembangan digital finance yang mengacu pada tiga prinsip utama, antara lain :

  1. National Security. Membentuk ekosistem digital finance yang resilient, berintegritas, berdaulat, dan melindungi konsumennya.
  2. Promoting Growth, Financial Inclusion dan Stability. Menciptakan ekosistem digital finance yang terintegrasi, inovatif, berdaya tumbuh, berdaya tahan, mampu bersaing secara sehat, terjangkau secara merata (accessible) dan bernilai tambah tinggi bagi pereekonomian nasional.
  3. National Champion. Menciptakan digital culture guna mendorong indsutri digital financial domestic yang berdaya saing tinggi (kompetitif) dan mampu mengoptimalkan penyerapan sumber daya dan kapasitas domestic

Diharapkan dengan adanya kontribusi dari pelaku UMKM, pemerintah, Bank Indonesia, dan semua pihak maka UMKM Go Digital adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Tujuan utamanya adalah menciptakan kesejahteraan rakyat dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Itulah tulisan saya tentang #Ecodigi atau Ekonomi Digital. Tulisan ini diikutsertakan dalam Bank Indonesia Blog Competition

2 thoughts on “Menatap UMKM Go Digital

  1. Wah selesai baca tulisannya kak ferry saya jadi ingat ketika saya mengikuti pelatihan Revolusi Mental yang di adakan oleh Kominfo, di mana pada saat itu salah satu pembicaranya adalah para pekerja dari penyedia domain ID di Indonesia yaitu Panji.id

    Waktu itu panji menawarkan bantuan domain gratis atau bahkan website gratis kalo gak salah buat para UKM.

    Ya intinya sih pemerintah sudah memberikan akses buat mengembangkan usahanya ya kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *