Pagi hari menjelang siang, sekitar pukul 10.00 WIB, saya berangkat menuju ke Desa Cikedokan, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. Matahari yang sudah mulai terasa hangat itu mengawali perjalanan saya bertemu dengan tokoh masyarakat Desa Cikedokan. Kondisi lingkungan dan masayarakat yang dulu pernah dibilang memprihatinkan kini berubah menjadi desa yang maju.

Ini menjadi pengalaman berharga bagi saya bisa berada dalam lingkaran semangat para tokoh masyarakat yang menjadi saksi perubahan Desa Cikedokan. Disana terdapat Kepala Dusun, Asisten Kepala Desa, Ketua RW, dan beberapa masyarakat yang hadir. Suasana yang harmonis pun langsung tercipta ketika KORINDO mengobrol tentang perubahan-perubahan yang terjadi di Desa Cikedokan.

Bertemu dengan tokoh masyarakat Desa Cikedokan (dok. Pribadi)

Pak Supriadi, Asisten Kepala Desa, menjelaskan begitu detail bagaimana sejarah Desa Cikedokan. Beliau sangat bersemangat memperlihatkan kondisi-kondisi Desa Cikedokan lima tahun ke belakang yang sekarang tidak ditemukan lagi. Mulai dari jalanan yang berlubang, pusat kesehatan yang minim, Kantor Desa yang kumuh, dan akses infrastruktur antar kampung yang kurang baik. Perlahan tapi pasti sekitar tahun 2015 Desa Cikedokan yang dulu tertinggal ingin melakukan perubahan.

Mendengarkan penjelasan Pak Supriadi (dok. Pribadi)

“Bagaimana proses perubahannya?”

“Apa kendala dalam prosesnya?”

“Perubahan apa saja yang dirasakan?”

Itulah sekelumit pertanyaan yang menempel di pikiran saya. Desa yang kini berbenah diri menjadi Desa Wisata dan Kampung Ramah Anak ini ternyata memerlukan proses perubahan yang cukup menantang.

Siapa tokoh utama penggeraknya? Dialah H. Gorin Santoso. Beliau merupakan Kepala Desa Cikedokan sekaligus tokoh masyarakat yang mendorong adanya perubahan di Desa Cikedokan. Misi utamanya adalah menjadikan Desa Cikedokan sebagai Desa Wisata dan Kampung Ramah Anak.

Bertemu dengan Pak Gorin (dok. Pribadi)

Perbaikan infrastruktur jalan adalah hal yang pertama dilakukan oleh Pak Gorin. Jalan yang berlubang mulai ditambal dan genangan air menjadi tidak tampak lagi. Akses antar kampung pun menjadi lebih mudah setelah adanya perbaikan tersebut. Butuh dua tahun lamanya untuk membuat infrastruktur jalan yang bagus untuk masyarakat.

Tugas beliau belum selesai, masih banyak PR yang harus dikerjakan. Masalah lingkungan, kesehatan, pendidikan, dan budaya merupakan segelintir tugas yang menanti. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Pada tahun 2017 Desa Cikedokan terpilih oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi sebagai lokasi pelaksanaan Program Terpadu Peningkatan Peran Wanita menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera (P2WKSS).

Keterlibatan pemerintah membuat mimpi dan harapan besar Desa Cikedokan tinggal selangkah lagi terwujud. Bantuan dana untuk wajah baru Desa Cikedokan tidak disia-siakannya. Kesempatan yang sangat jarang ini membuat Pak Gorin semakin bersemangat untuk membangun Desa Cikedokan.

Beberapa program pun langsung dijalankan seperti kegiatan penyuluhan, perbaikan sanitasi, rumah layak huni, pengelolaan sampah, dan lain-lain. Setelah mendapat dukungan dari pemerintah setempat, Desa Cikedokan yang dulu memprihatinkan kini menjadi Desa yang membanggakan. Desa Cikedokan menjadi lebih baik dan masyarakat setempat pun merasakan manfaat dari program pemerintah tersebut.

Kondisi sekarang Desa Cikedokan (dok. Desa Cikedokan)
Kampung Ramah Anak (dok. Desa Cikedokan)

Ada beberapa program pemerintah selain P2WKSS dalam mengembangkan desa tertinggal, seperti Program Dana Desa dan Pengembangan Desa. Berdasarkan hasil pendataan Potensi Desa (Podes) 2018 yang dirilis BPS pada Senin (10/12) telah tercatat jumlah Desa tertinggal mengalami penurunan sebesar 6.518 desa dari sebanyak 19.750 desa pada 2014 menjadi 13.232 desa pada tahun 2018.

Sedangkan untuk desa berkembang mengalami peningkatan sebesar 3.853 desa dari sebanyak 51.026 pada 2014 menjadi 54.879 desa pada 2018. Begitu juga dengan desa yang berstatus desa mandiri yang mengalami peningkatan dari 2.894 desa pada 2014 menjadi 5.559 desa pada 2018. (Sumber : Kemendesa)

Presentase Jumlah Desa Menurut Status IPD (dok. Katadata)

Menurut Survei Potensi Desa (Podes) 2018, jumlah Desa Tertinggal berkurang 8,85 poin persen menjadi tinggal 17,96% dari posisi 2014, menurut Indeks Pembangunan Desa (IPD). Dengan berkurangnya desa tertinggal, maka jumlah desa dengan status berkembang pada 2018 meningkat 5,23 poin persen menjadi 74,49% dari posisi 2014 dan jumlah desa mandiri juga bertambah 3,62 poin persen menjadi 7,55% dari sebelumnya. Membaiknya IPD antara lain ditopang oleh naiknya dimensi penyelenggaraan pemerintah desa sebesar 9,81 poin (tertinggi), kemudian kondisi infrastruktur 5,42 poin, serta dimensi layanan umum 1,88 poin. (Sumber : Katadata)

Catatan : IPD merupakan indeks komposit yang menggambarkan tingkat kemajuan atau perkembangan desa dengan skala 0-100. Semakin tinggi indeks maka semakin bagus status/tingkatan desa. IPD < 50 menunjukkan status desa tertinggal, IPD 50-75 masuk desa berkembang, dan IPD > 75 masuk desa mandiri.

Lalu Bagaimana dengan Daerah 3T?

Sungai Digoel (dok. KORINDO)

Setelah berkunjung ke Desa Cikedokan, saya pun berpikir jika Desa yang bukan tergolong daerah perbatasan saja memiliki tantangan yang berat dalam membangun wilayahnya. Bagaimana dengan Daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal)? Tentu semakin berat tantangan yang harus dihadapi. Sehingga semua elemen harus bergotong royong dalam membangun daerah 3T.

Peran pemerintah untuk membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan (nawacita ketiga Presiden Jokowi) memerlukan keterlibatan semua pihak, yaitu swasta dan masyarakat setempat. Daerah-daerah yang di perbatasan membutuhkan perhatian yang lebih. Pasalnya, daerah perbatasan merupakan “terasnya” Indonesia.

Seperti layaknya teras rumah, membangun dan menatanya harus baik. Begitupun dengan daerah-daerah yang berada di perbatasan. Permasalahan pelik seperti pendidikan, infrastruktur, dan kesejahteraan menjadi hidangan utama yang harus dihabiskan bersama. Sehingga tidak akan selesai secara sempurna jika pemerintah hanya bekerja sendirian dalam membangun daerah 3T.

Bangun Perbatasan Jadi Terasnya Indonesia  bersama pihak swasta atau investor adalah solusi tepat dalam mengembangkan daerah 3T. Apalagi sejalan dengan program dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDT) bahwa pemerintah mengajak pelaku usaha untuk berinvestasi di daerah perbatasan. Dengan adanya investasi maka diharapkan bisa membangun daerah di perbatasan tersebut.

KORINDO menjadi salah satu contoh sukses dalam membangun investasi kondusif di daerah perbatasan, yakni di Boven Digoel dan Merauke, Papua. Meski masih minim infrastruktur, KORINDO sukses membangun usaha dan memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pemerintah daerah dan masyarakat sekitar.

Tentang KORINDO

https://www.youtube.com/watch?v=GQIc05RObl4

KORINDO merupakan perusahaan di Indonesia yang berdiri pada tahun 1969 dan telah beroperasi selama 48 tahun. Perusahaan asal Korea Selatan tersebut membangun bisnis yang bermula pada pengembangan hardwood yang kemudian beralih ke plywood/veneer pada tahun 1979, kertas koran di tahun 1984, perkebunan kayu di tahun 1993, dan perkebunan kelapa sawit di tahun 1996. Dengan menjunjung tinggi praktik ramah lingkungan, KORINDO memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan ekonomi negara dan masyarakat di Daerah 3T khususnya.

Seperti halnya di Papua yang merupakan salah satu daerah primadona dalam pengembangan industri kehutanan karena bentang alamnya yang luas, subur, dan kebanyakan masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Industri kehutanan menjadi penyumbang terbesar bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Papua, selain industri pertambangan. Papua juga merupakan kawasan dengan kebudayaan yang juga masih sangat original sebagai salah satu kekayaan budaya nusantara.

Selain itu juga kontribusi yang diberikan KORINDO di Kabupaten Merauke dan Boven Digoel berupa pembangunan infrastruktur dan pembangunan ekonomi berupa PAD sebesar 60%. KORINDO juga mendukung dengan mendirikan fasilitas pendidikan dan medis. Fasilitas medis tersebut diantaranya pembangunan Klinik Asiki, klinik modern yang berada di daerah pedalaman.  Pada tahun 2017 Klinik Asiki mendapat predikat klinik terbaik di tingkat Papua versi BPJS Kesehatan.

Seperti yang dilansir KORINDO dalam website resminya, KORINDO melalui usaha hutan tanaman dan perkebunan kelapa sawit,  telah berhasil mengembangkan industri ramah lingkungan dengan nilai ekonomi yang diperoleh langsung dari hasil hutan.

KORINDO telah berkomitmen untuk mengembangkan usahanya di wilayah-wilayah Indonesia yang tertinggal melalui pembangunan jalan dan tempat tinggal serta pembangunan besar-besaran pada infrastruktur utama yang menjadi bagian dari usaha pengembangan daerah.

KORINDO telah mempekerjakan kurang lebih 10.000 pekerja di Asiki, yang merupakan distrik bisnis utama di Propinsi Papua, dan telah membangun pusat pengembangan keahlian penduduk lokal, sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan.

Jumlah pajak daerah yang telah dibayarkan oleh KORINDO di Kabupaten Merauke dan Boven Digoel mencapai 30% dan 50% dari total pajak lokal masing-masing kabupaten. KORINDO juga telah mendirikan fasilitas kesehatan pertama di Asiki, melakukan pemeriksaan dan pengobatan secara gratis. Saat ini, KORINDO sedang mendirikan rumah sakit umum yang menyediakan tingkat pelayanan kesehatan yang lebih tinggi kepada sekitar 20.000 orang, atas kerjasama dengan Korea International Cooperation Agency.

Perusahaan yang memiliki jaringan global yang tersebar di seluruh Indonesia dan dunia tersebut memiliki peranan penting dalam penangananan keterpencilan daerah perbatasan. Upaya yang dilakukan KORINDO adalah program CSC atau Corporate Social Contribution. Kegiatan CSC KORINDO berfokus pada program-program yang strategis, sistematis, dan berkelanjutan melalui 5 pilar program utama, yaitu Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, Lingkungan dan Infrastruktur.

Hal tersebut dilakukan sesuai dengan filosofi perusahaan yaitu membangun hubungan yang harmonis, menguntungkan, dan berkelanjutan antara masyarakat dan para pemangku kepentingan demi mencapai kemajuan dan kesejahteraan.

Penghargaan Padmamitra Award (dok. KORINDO)

Alhasil pada tahun 2018 KORINDO mendapatkan penghargaan Padmamitra Award melalui salah satu unit bisnisnya yang ada di Papua, PT Tunas Sawa Erma (TSE) dalam kategori penanganan keterpencilan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia. Padmamitra Award merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan oleh negara kepada dunia usaha atas kontribusi dan perhatiannya kepada kondisi sosial masyarakat. Penilaian atas performa penerima penghargaan dilakukan langsungLlll oleh Kementerian Sosial Indonesia bersama dengan Forum CSR Kessos.

Langkah Nyata KORINDO untuk Daerah 3T

Bersama warga (dok. KORINDO)

Program CSC KORINDO semata-mata demi Perubahan Untuk Indonesia yang Lebih Baik. Program pelayanan kesehatan bagi masyarakat di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) adalah salah satu langkah nyata KORINDO yang menghantarkannya meraih penghargaan Padmamitra Award. Klinik “Mobile Service” Asiki adalah salah satu program penanganan kesehatan di tengah keterbatasan transportasi.

Pada awalnya Klinik tersebut berada di wilayah perusahaan tetapi untuk memudahkan masyarakat yang berobat maka dibangunlah klinik di luar perusahaan. Klinik yang beroperasi 24 jam ini tepatnya berada di Desa Asiki, Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel, Papua. Tujuan utama didirikan Klinik Asiki adalah untuk mengurangi kematian ibu melahirkan dan bayi di Papua.

Mengingat kasus gizi buruk yang melanda Papua, khususnya di Kabupaten Asmat yang hampir sama menimpa Kabupaten Boven Digoel. Sehingga dokter yang berada di Klinik Asiki pun bukan hanya melayani pasien yang berkunjung tetapi sering kali mengadakan penyuluhan kesehatan melalui sekolah, radio, hingga pelosok desa.

Klinik Asiki (dok. KORINDO)

Seperti berita yang muat dalam KORINDO News, Bahkan tak jarang setiap minggu dokter beserta tenaga medis dari Klinik Asiki turun langsung ke pelosok desa menyusuri sungai dan anak sungai Digoel. Seperti yang dilakukan Dokter Firda ketika bertugas ke Desa Ujungkia. Selama tiga jam, tim tenaga kesehatan menyusuri sungai Digoel dengan menggunakan perahu motor.

Sungguh sebuah perjuangan berat yang harus dilakukan. Dan sekali lagi, semua itu demi Perubahan untuk Indonesia yang Lebih Baik.

Pilar CSR KORINDO Group

KORINDO Grup telah beroperasi di Indonesia selama 48 tahun dan telah melakukan banyak upaya untuk membangun masyarakat berkelanjutan di berbagai bidang melalui program-program Corporate Social Responsibility-nya (CSR). Ada lima pilar program utama yang menjadi fokus CSR KORINDO, yaitu Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, Lingkungan, dan Infrastruktur.

Pendidikan

Sektor Pendidikan (dok. KORINDO)

KORINDO Grup memberikan bantuan pengembangan di bidang pendidikan dalam bentuk pendanaan, penyediaan fasilitas belajar, dan bus sekolah. KORINDO telah memberikan beasiswa kepada 8.792 siswa mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah dan perguruan tinggi. KORINDO juga telah menyediakan perlengkapan belajar dan olahraga kepada 109 pra-sekolah dan sekolah menengah, mendukung pembangunan dan pengoperasian 28 sekolah dengan menyalurkan 208 guru ke daerah-daerah pedalaman di Indonesia, serta menyediakan 36 bus sekolah.

Kesehatan

Sektor Kesehatan (dok. KORINDO)

Masalah kesehatan telah menjadi salah satu kepedulian KORINDO Grup yang ditangani melalui program CSR seperti layanan kesehatan dan klinik gratis yang didirikan di setiap blok perkebunan. Untuk menjangkau penduduk wilayah terpencil dan membangun gaya hidup sehat, KORINDO Grup juga memberikan penyuluhan kesehatan melalui dokter keliling serta menyediakan mobil ambulans dan layanan kesehatan gratis setiap dua pekannya. Melalui sejumlah kegiatan ini, masyarakat mendapatkan pemeriksaan kesehatan dan imunisasi serta obat-obatan secara gratis untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit.

Ekonomi

Sektor Ekonomi (dok. KORINDO)

Untuk meningkatkan kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, KORINDO Grup menyediakan bantuan bisnis yang produktif seperti dukungan untuk bisnis ternak ikan, unggas, sapi, dan babi, perkebunan minyak kelapa sawit, karet, serta kepemilikan unit ruko dan kios. Bantuan bisnis secara produktif dan langsung tersebut diharapkan akan dapat menambah pendapatan setiap keluarga, meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan sosial secara berkelanjutan.

Lingkungan

Sektor Lingkungan (dok. KORINDO)

Sesuai dengan slogan “Green Tomorrow,” KORINDO Grup selalu berusaha melestarikan lingkungan sekitar. Kepedulian KORINDO terhadap lingkungan telah dibuktikan melalui tindakan nyata seperti penanaman pohon dan pembersihan lingkungan secara rutin. KORINDO selalu bekerjasama dan melibatkan berbagai unsur masyarakat termasuk pemerintah setempat, anggota militer, polisi, serta pemuka agama dan adat sehingga seluruh masyarakat dapat berpartisipasi aktif di dalam setiap kegiatan konservasi alam sekitarnya.

Infratruktur

Sektor Infrastruktur (dok. KORINDO)

Karena banyaknya wilayah yang sulit dijangkau, dukungan infrastruktur menjadi kebutuhan penting bagi penduduknya. Oleh sebab itu, KORINDO Grup secara aktif membantu mengembangkan infrastruktur seperti memperbaiki jembatan dan jalanan, serta mendirikan fasilitas umum lain seperti; fasilitas air bersih, listrik, sekolah, klinik, gereja dan masjid, pasar, pertokoan, lapangan olahraga, aula desa, rumah kepala suku, dll. Hal ini membuktikan komitmen KORINDO Grup untuk membangun kehidupan yang harmonis dan makmur bagi semua para pemangku kepentingan di semua lokasi terkait.

Menata Wajah Baru Teras Indonesia

Saat ini peran swasta sangat membantu dalam membangun daerah tertinggal. Peran KORINDO Group sangat besar dalam pengembangan daerah di perbatasan. “Teras Indonesia” yang semula dianggap kurang maju tetapi setelah adanya peran swasta atau investor, daerah perbatasan kini semakin baik dan berkembang.

Menata wajah baru teras Indonesia adalah bagaimana mengubah perspektif daerah perbatasan yang awalnya dianggap “dapur” yang tidak terurus tetapi justru sebagai “teras” yang bagus.

Sehingga promosi wilayah perbatasan ke investor yang dilakukan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi adalah hal yang tepat dilakukan.

Republika (5/12/2017) memberitakan Promosi 6 wilayah perbatasan kepada investor terdiri dari Nunukan, Kapuas Hulu, Belu, Rote Ndao, Morotai dan Maluku Tenggara Barat.

Potensi di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara yang berbatasan dengan Sabah, Malaysia, ada di sektor perikanan laut. Untuk wilayah Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur memiliki potensi sentra usaha peternakan jenis Sapi Bali hingga produksi 56.493 ekor per tahun, dan juga tersedia lahan budi daya jagung hingga 8.133 hektare.

Selain itu, untuk potensi di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur dikenal sebagai salah satu sentra industri garam dengan merek Cap Ikan Terbang, dan Kabupaten Morotai mempunyai destinasi wisata unggulan Indonesia. Dan potensi Maluku Tenggara Barat adalah perikanan tangkap, budi daya rumput laut, dan pariwisata di puluhan pulau kecil di sekitarnya.

Setiap daerah memiliki potensinya masing-masing yang bisa dikembangkan. Namun para investor sejatinya tidak haanya menjadikan bisnis menjadi fokus utama. Seperti pada tujuan awalnya untuk membangun daerah 3T maka mereka (investor) harus mengadakan program CSR demi terjalannya sinergi antara perusahaan dan masyarakat sekitar.

Pemerintah sebagai pemberi kebijakan kepada investor pun bisa menjadi benteng pertama dalam peningkatan sumber daya manusia di daerah 3T. Setelah investor hadir maka diupayakan pilar-pilar CSR yang sudah terealisasi oleh KORINDO Group menjadi contoh bagi para investor untuk mengembangkan bisnis di daerah perbatasan.

Sehingga kedepannya dalam membangun daerah 3T adalah bagaimana sinergisitas investor dalam memberikan dampak positif terhadap masyarakat sekitar. Baik itu program Pendidikan, kesehatan, lingkungan, ekonomi, atau infrastrukur adalah pilar yang serta merta bisa dijalankan secara bertahap.

Membangun daerah 3T tidak bisa oleh pemerintah sendiri karena daerah 3T adalah daerah bersama dan harus menjadi kebanggan bersama rakyat Indonesia.

Terima kasih

Artikel ini diikutsertakan dalam KORINDO Blog Competition

Referensi :

Profile Korindo : https://www.korindo.co.id/group-profile/?lang=id

Korindo Sustainability : https://www.korindo.co.id/sustainability/?lang=id

Bangun Perbatasn jadi Terasnya Indonesia : https://korindonews.com/border-building-to-becomes-a-terrace-of-indonesia/?lang=id

Perubahan untuk Indonesia Lebih Baik : https://korindonews.com/change-for-indonesia/?lang=id

Promosi 6 Wilayah Perbatasan : https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/12/05/p0hj2o428-kemendes-promosikan-6-wilayah-perbatasan-ke-investor

Sumber BPS Desa Tertinggal : https://www.kemendesa.go.id/view/detil/2746/survey-bps-dana-desa-berhasil-turunkan-jumlah-desa-tertinggal-sebanyak-6518-desa

Survey Potensi Desa : https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/04/09/jumlah-desa-tertinggal-berkurang-menjadi-18-pada-2018

4 thoughts on “Menata Wajah Baru Teras Indonesia

  1. Mantab bgt pilar2 Korindo nih, om. Seandainya smua daerah tertinggal bs ditangani yah pasti keren. Btw ada kampung ramah anak segala dsna, keren. Good luck, om

  2. Walau nama perusahaan KORINDO bukanlah hal asing bagi saya dan keluarga, tapi kontribusi nyata KORINDO membangun ‘teras’ nusantara adalah hal yang baru saya ketahui. KORINDO ini seolah menjadi bukti autentik bahwa pemerintah, pihak swasta dan masyarakat lokal mampu bersinergi dengan baik dalam membangun daerah 3T. Semoga semakin banyak pihak swasta yang terlibat untuk membangun daerah 3T.

    Good luck, Kang Ferry *(read: Aba …) 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *