Membangun Industri Intermediate untuk Kemajuan Ekonomi Indonesia

Oleh Ferry ALdina

Perkembangan industri di Indonesia, khususnya industri kimia terus meningkat, baik industri yang menghasilkan produk jadi maupun produk intermediate. Sayangnya, bahan baku untuk memproses produk jadi masih harus diimpor dari luar negeri. Ini disebabkan karena Indonesia memiliki sedikit industri intermediate atau industri antara. Produk antara semisal monomethylamine, dimethylamine, trimethylamine, dan jenis amine lainnya merupakan produk impor. Karena Indonesia tidak memiliki industri intermediate methylamine, maka pengusaha harus mengimpor dengan harga yang cukup mahal.

Pendirian industri intermediate merupakan upaya untuk mengurangi laju impor yang terus meningkat dari tahun 1997 sampai dengan 2016. Data dari Badan Pusat Statistik seperti pada gambar 1 menunjukkan total penggunaan bahan baku impor (industri utama dan olahan) meningkat menjadi lebih dari 70 ton. Data tersebut juga menunjukkan bahwa mulai dari tahun 2009-2016 adanya kenaikan bahan baku impor untuk keperluan industri. Hal ini dipengaruhi oleh kebutuhan pangsa pasar yang naik dan produksi yang semakin meningkat tiap tahunnya. Solusi untuk swasembada dalam bidang industri guna mengurangi impor adalah dengan mendirikan industri intermediate di Indonesia.

Industri intermediate sangat jarang bahkan beberapa pabrik belum ada di Indonesia, seperti contoh pabrik dimethylamine (DMA). Di Indonesia sendiri pabrik DMA belum ada yang beroperasi tetapi kebutuhan DMA secara nasional rata-rata per tahun mengalami peningkatan. Saya coba searching di website BPS yaitu www.bps.go.id. Kemudian saya buatkan tabel seperti dibawah ini.

Tabel 1.1 Data Impor DMA di Indonesia Tahun 2007 – 2013

No Tahun Kebutuhan Dalam Negeri (ton)
1 2007 1442,848
2 2008 1683,100
3 2009 1716,286
4 2010 1778,716
5 2011 2045,143
6 2012 2417,601
7 2013 2709,175

Tabel 1 (Sumber : Badan Pusat Statistik, 2013)

Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa kebutuhan DMA dalam negeri semakin meningkat tetapi belum ada industri di Indonesia yang bisa memenuhi kebutuhan pasar dalam atau luar negeri. Sehingga perlu adanya inisiasi pembuatan pabrik DMA di Indonesia. Observasi data Badan Pusat Statistik sangat diperlukan untuk merancang pabrik baru. Caranya adalah dengan melihat kebutuhan dalam negeri dan proyeksi kebutuhan untuk beberapa tahun selanjutnya.

Sebagai contoh, jika kebutuhan dalam negeri sekitar 2500 ton maka untuk mendirikan pabrik berorientasi dalam negeri maka produksinya harus diatas 2500 ton. Tetapi jika ingin mendirikan pabrik berskala besar (memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor) maka harus membandingkan dengan pabrik DMA yang pernah ada. Pada tabel 2 disebutkan bahwa ada empat pabrik yang memproduksi DMA. Maka kapasitas produksi yang harus dibuat adalah merujuk dari pabrik dengan kapasitas terkecil. Sehingga bisa dikatakan pabrik yang sesuai kriteria pabrik berskala besar adalah dengan kapasitas produksi lebih dari 13 ton per tahun.

Tabel 1.4 Pabrik DMA yang telah beroperasi di dunia

Producer Kapasitas
( ton per tahun)
Air Products, Pensacola, Fla. 181.436,948
DuPont, Belle, W.Va. 90.718,474
TOTAL US 272.155,422
Celanese Mexicana, Coatzacoalcos, Mexico 13.607,7711

(ICIS atau Independent Chemical Information Service, 2013)

Begitu juga pada industri intermediate lainnya, dibutuhkan data Badan Pusat Statistik untuk mendirikan industri intermediate pertama di Indonesia yang bermanfaat untuk perekonomian nasional. Adapun manfaat dari pendirian industri intermediate diantaranya adalah perluasan lapangan kerja, meningkatnya pertumbuhan ekonomi nasional, dan besarnya peluang swasembada industri.

Bentuk prestasi bangsa bisa diwujudkan dengan adanya swasembada industri. Ketika Indonesia sudah mandiri maka Indonesia berpeluang menjadi poros ekonomi Asia bahkan dunia. Industri barang jadi dan industri intermediate merupakan satu kesatuan yang tidak dipisahkan dalam dunia perindustrian. Semakin banyak industri intermediate yang ada di Indonesia maka peluang untuk swasembada industri menjadi lebih besar. Namun prestasi bangsa tersebut tidak akan terwujud jika tidak berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik yang sudah menyajikan berbagai data komprehensif.

Sebagai penutup, saya berharap pemerintah, pengusaha, dan investor bisa melihat peluang pembangunan industri intermediate di Indonesia. Hal ini dikarenakan ketersediaan bahan baku yang banyak di Indonesia, kebutuhan dalam negeri yang besar, dan sasaran ekspor yang meningkat. Tiga hal ini bisa menjadi pertimbangan untuk semua pihak secara bersama mulai fokus untuk membangun industri intermediate pertama di Indonesia.

 

Sumber Referensi :

Website BPS www.bps.go.id

ICIS, Independent Chemical Information Service

2 thoughts on “Membangun Industri Intermediate untuk Kemajuan Ekonomi Indonesia

  • 06/10/2018 at 2:31 PM
    Permalink

    kayaknya emang perlu yah om dibangun industri intermediate ini biar gak impor terus hehe

    Reply
    • 13/10/2018 at 9:04 AM
      Permalink

      Betul mas joe. Thanks for your coming. Hehe

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: