710 views

“MAPELA” Bersama ASTRA : Semangat Membangun Negeri dari KBA Telaga Murni

Bekasi merupakan suatu kota di tengah hirup pikuk pabrik. Julukan sebagai Kota Patriot rasanya kurang pas jika tidak disandingkan dengan Kota Industri. Ratusan bahkan ribuan pabrik yang berada di Bekasi membuat orang-orang berdatangan untuk mencari pekerjaan ke kota ini.

Semakin banyak warga pendatang maka semakin banyak lahan yang digunakan sebagai perumahan ataupun kontrakan. Ketika semakin banyak bangunan yang berdiri tegak diatas lahan kosong maka tidak sedikit area hijau menjadi korbannya. Lalu pertanyaannya bisakah menjadikan lahan gersang perumahan/kontrakan yang berdempet-dempetan menjadi kampung hijau nan asri? Itulah misi pribadi saya, menemukan “Green Land” di Bekasi.

Berawal dari jumat pagi pukul 07.05 WIB hari Kamis (11/10/2018), saya berangkat menuju Kawasan Industri MM 2100 di Cibitung, Kabupaten Bekasi. Lalu lalang kendaraan bermotor mengawali pemandangan di pagi hari itu . Mobil-mobil pun banyak melintas berdampingan bersama pengendara motor.

Para pegawai berbaju seragam pabrik mulai ramai pada jam berangkat kerja. Saya pun melihat di kanan kiri banyak sekali pengendara motor sudah memakai sepatu safety dan jaket pabriknya. Itulah ciri khas pekerja lapangan yang bergelut dengan teriknya matahari di Bekasi.

Setelah bermacet ria dengan kawanan motor pabrik di Jalan Inspeksi Kalimalang, saya pun masuk ke Kawasan Industri MM 2100 Cibitung. Tampak bangunan tertata rapi, jalannya lebar (tidak seperti Jalan Inspeksi Kalimalang yang sempit). Jalan-jalan di kawasan industri tersebut banyak yang mulai dibangun lagi, dan pastinya pabrik-pabrik berderet sepanjang mata memandang. Mulai dari pabrik otomotif, kimia, tekstil, makanan, packaging, dan banyak lainnya. Memang tepat julukan untuk Bekasi selain Kota Patriot adalah Kota Industri.

Saya datang pagi-pagi menuju Cibitung untuk bertemu Bu Selvi Damayanti (Kordinator CSR PT Yutaka Manufacturing Indonesia) untuk mendiskusikan perihal KBA (Kampung Berseri Astra) Telaga Murni. Telaga Murni adalah Daerah Binaan PT Yutaka Manufacturing Indonesia yang bertempat di Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi.

“Kayaknya kita harus ngobrol-ngobrol dulu deh sebelum ke lokasi. Aku terbiasa bekerja berdasarkan timeline.” kata Bu Selvi melalui telepon.

“Okay siap, Bu. Saya siapkan dulu timelinenya. Nanti kita diskusikan bersama.” jawab saya singkat.

Begitulah awal mula kedatangan saya ke PT Yutaka Manufacturing Indonesia Plant 2 di Jalan Halmahera Blok F1. Anak perusahaan Astra International yang bergerak dalam produksi muffler dan disk brake ini memiliki dua plant. Plant 2 berjarak sekitar 1,3 km dengan Plant 1 yang berada di Jalan Sulawesi I Blok H4 Kawasan Industri MM 2100 Cibitung, Kabupaten Bekasi.

Meeting bersama Bu Selvi selaku CSR PT Yutaka Manufacturing Indonesia (dok. Ferry)

Setelah saya menyiapkan timeline kegiatan yang akan dilaksanakan, saya pun siap untuk membicarakannya lebih detail serta menyocokkan dengan agenda KBA Telaga Murni. Dalam diskusi tersebut saya memberikan jadwal kunjungan ke Telaga Murni, berkenalan dengan warga, kemudian bagaimana kegiatan warga sehari-harinya. Alhamdulillah bisa disepakati bersama.

“Saya bawakan hasil buah karya dari binaan kami. Boleh, kan?” langsung seketika Bu Selvi beranjak keluar sambil membawakan barang yang “istimewa”.

Tas Handmade dan Pupuk Organik Cair SADATASU MAPELA TM 05 (dok. Ferry)

“Inilah contoh karya dari binaan kami. Nanti bisa tahu lebih banyak jika sudah ke lokasi”. sambil memperlihatkan kerajinan tangan dan pupuk organik cair kepada saya.

“Wah bagus ini, Bu. Keren banget.” sahut saya.

Bukan hanya tas dari bungkus kopi dan pupuk organik cair saja yang membuat saya kagum kepada KBA Telaga Murni. Bu Selvi juga mengatakan bahwa KBA Telaga Murni menjadi tolak ukur penilaian Adipura Kabupaten Bekasi.

Itulah yang membuat rasa ingin tahu saya bertambah besar tentang KBA Telaga Murni. Saya pun ingin menggali lebih dalam tentang MAPELA TM 05 (Masyarakat Peduli Lingkungan Asri Telaga Murni RW 05). Karena semua torehan prestasi KBA Telaga Murni berkat kolaborasi MAPELA dan Astra.

Bersama Pak Rohdian dan Pak Sunyoto, Inisiator MAPELA (dok. Ferry)

Keesokan harinya saya bertemu Pak Rohdian untuk mengetahui kondisi Telaga Murni. Menurut beliau Kondisi Telaga Murni pada tahun 2012 berbanding terbalik 180 derajat dengan kondisi sekarang ini di tahun 2018. Jalanan berlubang, got yang rusak, dan penghijauan pun nyaris tidak ada kala itu. Kondisi lingkungan yang memprihatinkan tersebut menggugah hati Pak Rohdian untuk membuat suatu gebrakan dalam pemberdayaan dan pengelolaan lingkungan.

Prinsip hidupnya yaitu berdamai dengan lingkungan menjadikan dasar pembuatan program kerja RW 05 Telaga Murni. Kenapa harus lingkungan? Karena beliau percaya bahwa ketika kita bersahabat dengan lingkungan maka ada feedbacknya. Contoh kecilnya adalah sampah, ketika kita mengelolanya dengan baik maka akan ada manfaat yang kita dapat.

Collect to get something. Itulah intisari dari Bank Sampah. Tujuan utamanya adalah warga RW 05 Telaga Murni harus berdaya dalam finansial” ujar Pak Rohdian yang menjabat Ketua RW 05 Telaga Murni.

Selama menjabat sebagai ketua RW 05, Pak Rohdian memiliki prinsip yang kuat. Jika tugas ketua RW itu hanya menandatangani perihal surat menyurat maka dia tidak akan mau menjadi ketua RW. Dari jumlah keseluruhan  22 RW yang berada di Telaga Murni, Pak Rohdian memilik visi yang besar untuk RW 05 yang dipimpinnya, yaitu menjadikan RW 05 menjadi RW yang berkualitas dan berdaya guna. Dalam artian berkualitas Sumber Daya Manusia dan berdaya guna untuk lingkungan.

Oleh karena itu, ada empat gebrakan yang dikeluarkan guna mewujudkan mimpinya. Empat ide besar tersebut menggunakan istilah dari Pak Rohdian sendiri, antara lain : Cornisasi, Greenisasi, Gotnisasi, dan Gornisasi.

Cornisasi, yaitu program pengecoran jalan di seluruh wilayah RW 05. Delapan RT yang berada di RW 05 harus sudah dicor. Kenapa diadakan program cornisasi? Pertimbangannya karena jalan merupakan akses utama warga. Selain itu juga banyak lubang di jalanan yang sangat membahayakan. Ketika jalan sudah bagus maka aktivitas sehari-hari warga bisa aman.

Greenisasi, yaitu program penghijauan di lingkungan RW 05 untuk menciptakan lingkungan yang asri dan hijau. Harapannya pepohonan bisa tumbuh di sepanjang jalan RW 05. Kemudian setiap rumah dianjurkan memiliki tanaman sendiri sehingga program greenisasi ini bisa mulai dari rumah sendiri.

Gotnisasi, berkaca pada got yang rusak sehingga perlu adanya program perbaikan got. Hal ini perlu dilakukan supaya menjadikan lingkungan RW 05 lebih bersih dengan saluran got yang diperbaiki.

Gornisasi, Ini adalah mimpi besar dari Pak Rohdian. Mandiri dalam finansial adalah goalnya. Pembuatan gor ini memang ditujukan untuk komersil yang kemudian menjadi income untuk warga RW 05. Gor yang nanti akan dibangun diperuntukkan sebagai sarana olahraga, gedung resepsi, aula seminar, dan berbagai kegiatan lain yang bermanfaat.

Program penghijauan adalah program yang diprioritaskan dari keempat program yang dicanangkan. Program ini dari segi biaya tidak membutuhkan dana besar tetapi membutuhkan keinginan besar dari individu untuk merubah lingkungannya. Oleh karena itu, tugas utama yang cukup berat adalah merubah mindset warga yang masih belum peduli terhadap lingkungannya.

Jujur, saya sangat terkejut dengan pemikiran Pak RW 05. Empat program kerja yang menurut saya begitu visioner untuk sekelas RW. Ditambah lagi dengan gaya bicaranya yang berapi-api seolah membuat api semangat dalam diri saya tersulut. Apalagi ketika beliau membicarakan blue print RW 05, yang sebelumnya tidak dimiliki RW lainnya di Telaga Murni, yaitu menjadikan RW 05 sebagai perumahan di perkampungan namun bercita rasa real estate. Melalui keempat program itulah jalan menuju blue print akan sedikit demi sedikit mulai disusuri.

.:: Ketika Rintangan Mencoba Menghadang ::.

Setiap ide besar tentu tidak selamanya berjalan mulus. Tidak ada hasil yang maksimal tanpa adanya perjuangan yang berarti. Itulah kenapa saya kemudian bertanya kepada Pak Rohdian. Bagaimana respon warga mengenai program kerja yang beliau gaungkan. Dan memang ternyata benar, cibiran dan bisikan yang tidak mengenakkan selalu berseliweran di telinganya. Hari-hari pertama menjabat sebagai ketua RW langsung muncul berita yang pro dan kontra.

“Ah paling cuma berjalan lima sampai enam bulan saja.”

“Programnya seperti itu bertahan tidak sampai dua atau tiga hari.”

Begitulah fenomena ketika menghadirkan sebuah gagasan besar, selalu ada pihak yang mendukung dan tidak sedikit juga pihak yang ingin menjatuhkan. Hanya mereka yang bertahan dan memiliki kepribadian kuat yang bisa menghadapi semua itu.

.:: Cara Menghadapi Ujian dari Masyarakat ::.

Gapura Jalan Apel I yang dihiasi pernak pernik dari botol bekas (dok. Ferry)

Sikap yang pertama dilakukan oleh Pak Rohdian adalah menyampaikan secara baik kepada masyarakat yang berada dibawahnya. Menasihati agar tidak termakan isu provokator yang mencoba melakukan provokasi terhadap warga. Selain sikap mendatangi warga secara langsung, Pak Rohdian melakukan program penghijauan pertama di Jalan Apel I RT 06 RW 05 yang merupakan daerah tempat tinggalnya. Hal ini dilakukan supaya memberikan contoh kepada warganya.

 “Jika memang masih ada warga yang bandel maka saya langsung datangi. Kemudian berbicara baik-baik apa keluhan dan alasannya. Terakhir adalah perlihatkan hasil dari pencapaian RT lain yang sudah berhasil program penghijauannya.” Ujar Pak Rohdian.

Yang harus diyakini adalah tidak semua orang menjadi tokoh antagonis, pasti ada tokoh protagonis yang menjadi andalan. Rona kebahagiaan pun muncul di wajah Pak Rohdian ketika beberapa RT berhasil melakukan program penghijauan. Maka terjadilah efek domino ketika “virus penghijauan” mulai menular ke RT lainnya dalam beberapa bulan kepengurusannya.

Pada tahun 2015 datanglah CSR PT Yutaka Manufacturing Indonesia ke daerah RW 05 Telaga Murni. PT Yutaka yang merupakan anak perusahaan Astra tersebut hendak memilihkan desa yang ingin dijadikan daerah binaannya. Kebetulan RW 05 Telaga Murni adalah wilayah ke-5 atau wilayah terakhir yang dikunjungi oleh pihak CSR PT Yutaka Manufacturing Indonesia.

“Setelah menilai dan membandingkan dengan lima daerah yang kami datangi di Kecamatan Cikarang Barat, saya memilih RW 05 Telaga Murni sebagai daerah binaan kami di Ring 1 (Kecamatan). Kenapa? Karena saya lihat masyarakat disini itu aktif dan memberikan ide-ide menarik untuk program CSR yang kami tawarkan. Sehingga supporting yang kami berikan bukan charity tetapi lebih ke arah pembinaan. Ini sesuai dengan road map dan skenario pengembangan Kampung Berseri Astra.” tukas Bu Selvi, CSR PT Yutaka Manufacturing Indonesia.

Begitu mendengar informasi terpilihnya RW 05 Telaga Murni, Pak Rohdian sangat senang dan menyambut gembira kabar tersebut. Ini bisa menjadi kolaborasi yang bagus dan sejalan dengan program kerja yang ingin dilaksanakan di lingkungan RW 05. Namun karena program CSR ini adalah program berkelanjutan maka harus adanya suatu legalitas dari RW 05 untuk menerima segala supporting dari CSR PT Yutaka Manufacturing Indonesia.

Legalitas MAPELA (dok. MAPELA)

Ide untuk membuat badan hukum berasal dari Pak Rohdian. Beliau berpikir jika semua bantuan yang diberikan ke RW maka akan sangat sulit pengelolaannya ketika ada pergantian masa jabatan. Bisa jadi pada periode selanjutnya kebijakannya berbeda dan sulit untuk mengatur bantuan, baik berupa materil ataupun non materil.

“Setelah RW 05 menjadi daerah binaan Astra, maka saya berpikir bagaimana supaya semua supporting yang diberikan harus terlepas dari RW 05. Gunanya apa? Supaya program ini terus berlanjut meskipun tidak dalam periode masa jabatan saya sebagai ketua RW. Makanya saya membuat suatu badan hukum yang memiliki legalitas, dibentuklah MAPELA” ujar Pak Rohdian.

Struktur Organisasi MAPELA TM 05 (dok. MAPELA)

Itulah awal mula terbentuknya MAPELA yang kemudian pengurus-pengurus inilah yang menjadi penggerak KBA Telaga Murni.

Penghijauan pertama dilakukan MAPELA dan PT Yutaka (dok. MAPELA)

Ada satu sosok partner dari Pak Rohdian. Beliau merupakan aktivis Bank Sampah Bekasi, terlibat di berbagai kegiatan sosial, dan bergaul baik dengan masyarakat di RW 05 Telaga Murni. Sosok itu adalah Pak Sunyoto. Beliau kemudian ditunjuk sebagai Ketua MAPELA dan Pak Rohdian menjadi Pembina MAPELA.

“Beliau ini adalah partner sejati saya. Dia sangat membantu mewujudkan ide besar RW 05. Saya mah di balik layar saja. Pak Sunyoto lah yang sangat andil dalam keberhasilan KBA Telaga Murni.” ujar Pak Rohdian dengan rendah hati.

Saya melihat kedua orang tersebut ibarat dua striker yang tajam. Saling memberi bola, mengoper, dan mencetak gol. Sungguh duet maut dari KBA Telaga Murni. Ide-ide besar dibarengi eksekutor yang handal akan terjalin chemistry yang baik.

Tak terasa dua jam obrolan kami berlalu sangat cepat. Perbincangan yang panjang dan berbobot membuat saya betah mendengarkan dasar pemikiran dari Pak RW. Selanjutnya adalah saya ingin mapping tour terlebih dahulu di KBA Telaga Murni bersama Pak Sunyoto.

Pada hari kedua, saya berencana untuk kembali ke KBA Telaga Murni. Sebelumnya saya sudah janjian dengan Pak Sunyoto dan nomor kontak beliau sudah didapatkan dari Bu Selvi. Sabtu pagi (20/10/2018) pukul setengah delapan, saya berangkat menuju Telaga Murni. Volume kendaraannya jauh berbeda dengan hari-hari kerja terbukti dengan lengangnya jalanan menuju Cikarang Barat dari Bekasi.

Jarak dari rumah saya ke KBA Telaga Murni kurang lebih 10 km dan ditempuh menggunakan sepeda motor dengan lama perjalanan sekitar 45 menit. Saya pun menepi di Perumahan Telaga Asih, Cikarang Barat. Handphone mulai berdering di saku celana, tampaknya nomornya baru dan sesuai dugaan saya yang menelepon adalah Pak Sunyoto.

“Pak Ferry, sekarang posisi dimana?” tanya Pak Sunyoto.

“Saya tepat di depan Cluster Palm, dekat Perumahan Telaga Asih.” jawab saya singkat.

Waduh itu mah sudah kelewat. Yaudah biar saya kesana menjemput.” ujar Pak Sunyoto.

Ini pertama kalinya saya ke Cikarang Barat. Perumahan berjejeran satu sama lain, berdampingan juga dengan perkampungan sekitarnya. Telaga Murni, Telaga Asih, Telaga Sakinah, dan beberapa cluster yang ada didalam perumahannya. Cikarang Barat menjadi sentra perumahan yang menjanjikan karena lokasinya strategis dekat dengan Kawasan Industri MM 2100 Cibitung. Beberapa kontrakan pun dibangun untuk buruh pabrik yang akan menetap sementara sebelum mengambil rumah secara permanen.

Semakin banyaknya perumahan maka tidak sedikit daerah hijau yang berkurang. Pihak developer bisa saja menanam beberapa pohon untuk penghijauan. Tetapi sayangnya ketika tidak ada yang mengurusnya, maka semuanya menjadi terbengkalai. Banyak pohon yang menjadi mati, daun-daun kering berserakan di jalan, dan akibatnya udara semakin panas.

Sejenak lamunan saya hilang melihat dari kejauhan pria bertopi dengan memakai kaos bertuliskan “CSR PT YMI KBA Telaga Murni”. Pria itu sudah pasti Pak Sunyoto. Lalu beliau menghampiri saya yang sudah menunggu di depan Cluster Palm. Dengan ramah beliau pun menyapa,

“Pak Ferry, ya?” tanyanya singkat.

“Iya betul, Pak. Pak Sunyoto, ya?” jawab saya sambil bertanya balik

“Iya, Pak. Tadi harusnya bapak lewat gang sebelumnya biar gak terlalu jauh. Ayo Pak ikuti saya” ajak Pak Sunyoto.

Saya pun mengikuti dari belakang sambil melihat ke kanan kiri suasana perkampungan di Telaga Murni. Tidak jauh dari tempat kami bertemu, kira-kira 500 meter, saya sudah sampai di gerbang Telaga Murni. Sepuluh menit perjalanan ditempuh dengan penuh rasa penasaran didalam pikiran saya. Tibalah kami di depan gapura bertuliskan “Wilayah RW 05 Perumahan Telaga Murni”.

Gerbang Utama RW 05 Telaga Murni (dok. Ferry)

Sesampainya di gerbang Telaga Murni RW 05, saya melihat ada denah yang terpampang di sebelah kiri jalan berseberangan dengan pos security yang berukuran 2×2 meter. Sepanjang jalan menuju rumah Pak Sunyoto, saya disuguhi pemandangan jalan yang bersih dan rapi. Sampah dedaunan pun tidak ada. Tanaman pucuk merah yang tumbuh sepanjang jalan RW 05 Telaga Murni pun tampak rapi digunting dan dibersihkan secara rutin.

Telaga Murni Tampak Depan (dok. Ferry)

Kemudian saya melewati gang-gang RT, terdapat pula Water Treatment buatan karya RW 05. Kemudian berjalan pelan memperhatikan setiap rumah yang hampir semuanya memiliki tanaman. Tanaman seperti jahe, kunyit, kelor, sirih, kangkung, cabai, bayam, tomat, dan banyak lainnya.

Water Treatment karya warga RW 05 (dok. Ferry)

Kira-kira 250 meter dari gapura utama, sampailah saya di rumah Pak Sunyoto. Saya terkejut dengan kehadiran ibu-ibu dan bapak-bapak yang berada di rumah Ketua MAPELA tersebut. Mereka kompak memakai kaos seragam bertuliskan “CSR PT YMI MAPELA TM 05”. Saya pun disambut hangat dan mulai berkenalan dengan Pak Ngadino (Bendahara MAPELA), Bu Eti (Kabid. Pemasaran & Usaha MAPELA), Bu Siti Maemunah (Seksi Pembukuan MAPELA), dan Bu Tri (Seksi Pengadaan MAPELA). Beberapa anggota lainnya sudah menunggu di Sekertariat RW.

Anggota MAPELA berkumpul di Sekertariat RW 05 Telaga Murni (dok. Ferry)

“Pak, disini kompak ya warganya?” tanya saya.

“Iya, Pak. Alhamdulillah jadi setiap ada kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan antusiasnya tinggi.” jawab Pak Sunyoto dengan semangat.

Saya kemudian berpikir bahwa tidak mungkin kondisi lingkungan yang hijau dan bersih ini terjadi secara instan dan pastinya butuh proses. Kekompakan warga, kondisi lingkungan yang asri, dan beberapa inovasi di Telaga Murni pasti ada yang mendasarinya. Tiba-tiba Pak Sunyoto berkata,

“Banyak juga Pak program yang kami laksanakan. Ada Pelatihan Kewirausahaan, Bank Sampah, Senam Jantung Sehat, Program PMT, Posyandu, PHBS, PAUD, kerja bakti, dan banyak lagi program kerja yang mempunyai keunggulannya masing-masing.”

“Semua program itu berkat ide MAPELA, Pak?” tanyaku untuk meyakinkan.

“Iya, Pak. Hampir sebagian besar program empat pilar, yaitu pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan dipelopori oleh anggota MAPELA. Tentunya melalui pembinan dari PT Yutaka” Ujar Ketua MAPELA yang sudah memiliki dua anak tersebut.

Saya semakin kagum dengan MAPELA dan ingin berbincang-bincang banyak sambil mapping tour di wilayah ini.

Berbincang bersama Pak Sunyoto sambil Mapping Tour (dok. Ferry)

.:: Overview KBA Telaga Murni ::.

RW  05 Telaga Murni memiliki alamat lengkap di Jalan Telaga Citra Blok C, Desa Telaga Murni, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. Dengan luas wilayah 78.000 meter persegi, RW 05 Telaga Murni terdiri dari delapan RT dengan dihuni oleh sebanyak kurang lebih 800 KK.

Mata pencaharian warga Telaga Murni rata-rata bekerja sebagai buruh pabrik. Lebih dari 1750 orang bekerja sebagai karyawan swasta, diikuti oleh 1500 orang bekerja sebagai pedagang, dan yang bekerja sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara, kalau dulu disebut PNS) tercatat sebanyak 10 orang. Wilayah Telaga Murni terbilang cukup strategis karena berdekatan dengan ibukota Kabupaten/Kota dan ibukota Kecamatan. (Data Demografi KBA Telaga Murni, PT Yutaka Manufacturing Indonesia)

Bersama warga dan tanaman gantung karya RT 05 RW 05 Telaga Murni (dok. Ferry)

Saya menyusuri setiap jalan di RW 05. Berjalan mulai dari rumah Pak Sunyoto yang berada di RT 05. Belok kiri keluar dari gapura RT 05 ke arah lapangan voli yang biasa digunakan senam pagi. Mata saya juga dimanjakan dengan tanaman-tanaman hias hasil karya warga. Tidak ada rumah yang halaman depannya tidak dihiasi dengan tanaman. Udara yang panas di Cikarang pun serasa menjadi sejuk karena banyak pepohonan dan tanaman tumbuh di Telaga Murni.

Warga menaman tanaman di halaman rumahnya (dok. Ferry)

Semua rumah dianjurkan untuk melakukan penghijauan. Media tanam bukan menjadi halangan. Ember bekas, jerigen, bekas botol minum, dan bekas plastik minyak goreng pun menjadi alternatif pengganti pot. Kreasi tiap rumah juga berbeda-beda. Ada yang membuat tanaman sayuran dengan hiasan warna cat beragam, lalu tanaman hidroponik, dan bahkan ada yang rela merogoh kocek sendiri demi membuat minatur taman hias.

Taman hias buatan Pak Slamet (dok. Ferry)

Seperti halnya Pak Slamet, warga RT 05 RW 05, yang menyediakan lahan khusus untuk membuat miniatur taman hias sendiri. Tanaman bonsai terpajang di lahan yang berukuran  2×3 meter tersebut.

“Dengan adanya MAPELA menjadi motivasi sendiri bagi saya untuk menyalurkan hobi membuat taman. Saya sangat suka sekali tanaman sehingga saya pribadi sangat mendukung semua program MAPELA, khususnya penghijauan.” Kata Pak Slamet yang sedang asyik melihat kreasi taman dari depan rumahnya.

Ngobrol dengan Pak Slamet warga RT 05 RW 05 (dok. Ferry)

Saya pun kembali melanjutkan perjalanan melewati gapura tiap RT. Langkah saya terhenti melihat lampu penerangan jalan di setiap RT yang saya lalui. Rupanya Lampu Penerangan Jalan pun tidak luput dari kreasi warga RW 05.

Lampu Penerangan Jalan di beberapa lokasi RW 05 yang dihiasi warning sign (dok. Ferry)

Rambu tersebut dibuat dari tutup tong sampah yang sudah tidak terpakai lagi. Kemudian tong tersebut dicat dan dibuat sedemikian rupa sehingga mirip rambu-rambu di jalan raya. Kemudian dipasangkanlah ke tiap lampu penerangan jalan di setiap RT.

Warning sign seperti “Stop Buang Sampah Sembarangan”, “Area Hijau”, “Jagalah Hati”, “Menjaga Lingkungan.” “Kecepatan 10 km/jam”, dan banyak lagi simbol greenisasi lainnya yang akan ditemukan di berbagai titik di RW 05. Bagi saya, ini pemandangan yang hebat dan serasa masuk di green city seperti di film-film.

Memasuki kawasan RT 03/ RW 05, saya temukan hal unik lainnya. Tong sampah berwarna kuning, putih, dan hijau dengan tulisan “RT 003/RW 05” memaksa saya memperhatikan sejenak ke tong sampah tersebut. Setelah saya amati rupanya setiap RT mengecat tong sampahnya untuk membedakan dengan tong sampah RT lainnya. Disamping sebagai identitas, juga sebagai unjuk kreasi warga. Jika warnanya berwarna-warni maka rasa senang dan cinta akan lingkungannya pun akan semakin besar.

Tong Sampah unik masing-masing RT di wilayah RW 05 Telaga Murni (dok. Ferry)

Berlanjut ke wilayah RT 06 RW 05, saya menemukan karya warga yang lebih unik. Warganya membuat jalan tiga dimensi, mulai dari zebra cross 3D, perahu 3D, aquarium 3D, dan lukisan lainnya hasil warga RT 06. Saya sangat kagum dengan kreatifitas warganya. Semua orang benar-benar mencintai lingkungannya.

Karya Tiga Dimensi dari warga RT 06 RW 05 Telaga Murni (dok. Ferry)

Mapping Tour KBA Telaga Murni benar-benar menguras tenaga. Rasanya tidak cukup satu hari untuk mengexplore wilayah RW 05 Telaga Murni. Tetapi satu poin yang saya dapat adalah mencintai lingkungan harus dijadikan passion.

Sejak PT Yutaka mengawali program CSR sejak tahun 2015 dengan menanam sebanyak 30 pohon pucuk merah dan 100 tanaman toga di beberapa titik di RW 05 Telaga Murni. Warganya sangat berantusias dan menyambut baik bantuannya sehingga kemudian pada tahun 2016 warga RW 05 melakukan perluasan penghijauan secara mandiri seluas 2.000 meter dengan 400 pohon pucuk merah.

Pojok Toga RT 02 RW 05 Telaga Murni (dok. Ferry)

Lalu puncaknya pada tahun 2017 ditingkatkan program penghijauan dengan pemasangan paving block di setiap rumah per RT dalam mendukung lomba desa bersih tingkat RT wilayah RW 05. Lomba yang diadakan oleh MAPELA dan ASTRA memang masih level RW tetapi semangatnya sudah terasa go nasional. Esensi dari lomba ini adalah berlomba dalam kebaikan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan hijau.

Saya pun belum berhenti untuk melanjutkan penelusuran di KBA Telaga Murni. Rencananya saya akan mengikuti program kerja MAPELA besok Minggu, 21 Oktober 2018.

Hari ketiga pun tiba. Adzan subuh belum berkumandang. Alarm pun belum berbunyi. Jam di handphone masih menunjukkan pukul setengah empat dini hari. Saya lalu beranjak dari tempat tidur kemudian langsung mandi. Saya harus mempersiapkan diri secepat mungkin karena acara pertama dimulai pukul enam pagi. Estimasi selesai sholat subuh itu jam setengah lima. Jadi saya harus berangkat paling lambat jam lima pagi.

Setelah sholat Subuh, saya mengganti baju dan segera memanaskan motor. Jam sudah menunjukkan pukul lima kurang seperempat. Saya tidak pikir panjang untuk tancap gas menuju Telaga Murni.

Empat puluh lima menit berlalu, tepat setengah enam pagi saya tiba di daerah Telaga Murni. Istirahat sebentar di pinggir jalan untuk membeli sarapan nasi kuning. Sambil mengecek kamera dan peralatan tulis lainnya, saya sudah tidak sabar ingin melihat langsung beberapa program MAPELA.

Senam Jantung Sehat RW 05 Telaga Murni (dok. Ferry)

Sementara itu di lapangan RW 05 Telaga Murni sudah bersiap ibu-ibu yang akan melaksanakan Senam Jantung Sehat. Tidak kurang dari 25 ibu-ibu mengikuti senam jantung sehat ini. Sound system sudah siap dinyalakan. Instruktur pun mulai mengecek mic kecil yang ditempelkan di kepalanya.

Ibu-ibu tampak antusias dengan program senam ini. Selain untuk merutinkan berolahraga tiap pekan, juga bisa memproteksi diri dari resiko terkena penyakit jantung. Ada juga warga yang mengidap penyakit jantung yang mengikuti senam jantung sehat ini.

“Alhamdulillah masyarakat khususnya ibu-ibu menyambut dengan baik. Biasanya rutin sekitar 25-35 orang ibu-ibu mengikuti program jantung sehat ini.” Ujar Pak Dino.

“Alhamdulillah dengan adanya senam jantung sehat ini minimalnya bisa mengurangi resiko terkena penyakit jantung.” tambah Bu Tri, ketua Senam Jantung Sehat Telaga Murni.

Instruktur senam memberikan arahan berbagai gerakan ke ibu-ibu RW 05. Beberapa gerakan baru dalam senam sesekali saya temukan. Memang benar senam jantung sehat sangat berbeda dengan senam aerobik. Pantas saja ibu-ibu MAPELA mengambil langsung instruktur senam dari Yayasan Jantung Sehat Indonesia Cabang Bekasi. Alasannya karena perlu pelatihan dan instruktur yang terlatih untuk senam jantung sehat.

Ibu Tri mengatakan bahwa diadakannya Senam Jantung Sehat ini dalam upaya mencegah penyakit jantung. Hal ini dikarenakan dulu sekitar bulan September 2016, RW 05 digegerkan oleh salah seorang warganya yang meninggal secara mendadak. Sebab utamanya adalah penyakit jantung. Kemudian disusul kembali ada yang meninggal dengan penyakit yang sama. Ini menjadi perbincangan warga RW 05 Telaga Murni beberapa tahun ke belakang.

Dari sanalah MAPELA menginisiasi suatu program sebagai upaya preventif dari penyakit jantung. Lalu MAPELA berkonsultasi dengan Puskesmas Telaga Murni untuk mendapatkan referensi. Akhirnya berdasarkan referensi tersebut dibuatlah Program Senam Jantung Sehat yang rutin diadakan setiap pekan pada hari minggu pukul enam pagi. Dan sampai sekarang terus berlanjut program senam jantung sehat tersebut.

Foto bersama setelah Senam (dok. Ferry)

Selang tiga puluh menit, ibu-ibu istirahat sebentar untuk mengambil air minum yang sudah disediakan sebelumnya. Air minum kemasan gelas langsung diminum sekali nafas. Terlihat wajah yang kelelahan di beberapa peserta senam. Kemudian setelah itu dilanjut kembali dengan gerakan senam lainnya. Kurang lebih satu jam senam jantung sehat berlangsung. Kucuran keringat membasahi kerudung ibu-ibu peserta senam.

Akhirnya senam jantung sehat pekan ini selesai ditutup dengan yel-yel khasnya,

“KJS SENJA 5, KJS SENJA 5, KJS SENJA 5”

“JANTUNG SEHAT YES, JANTUNG SEHAT YES, JANTUNG SEHAT YES”

Hanya berselang sepuluh menit, ibu-ibu senam pun melanjutkan aktivitas pagi itu dengan berkeliling memakai baktor (bak motor) untuk mengambil sampah-sampah yang sudah dikumpulkan warga. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Tanpa pikir panjang saya pun ikut bersama ibu-ibu untuk mendatangi semua RT yang ada di RW 05 Telaga Murni.

Pengambilan langsung sampah ekonomis dari warga ini merupakan serangkaian agenda dari Bank Sampah. Seperti yang dikatakan Pak Sunyoto pada hari Sabtu kemarin (20/10/2018), hari ini akan ada proses penimbangan sampah sekaligus penjualan sampah ke pengepul. Saya pun ingin terlibat langsung mulai dari pengambilan sampah dari warga sampai dengan penjualan hingga mendapatkan uang.

Bersama mengambil sampah dari warga (dok. Ferry)

Semua pengurus MAPELA beserta warga ikut serta dalam proses di Bank Sampah. Saya pun merasakan bagaimana keseruan menaiki baktor bersama ibu-ibu MAPELA sehabis senam jantung sehat. Sensasi diatas baktor itu luar biasa. Ada polisi tidur, kita harus siap berpegangan ke bak. Jika meleng sedikit maka resikonya terjatuh. Kita juga harus berhati-hati melihat pepohonan. Daun-daun yang menjuntai rawan mengenai kepala. Maka setiap ada pohon selalu dipastikan tidak mengenai kepala.

Baktor MAPELA (dok. Ferry)

Ibu-ibu, bapak-bapak, dan anak-anak kecil pun bergotong royong mengumpulkan sampah di masing-masing RT. Gelas air minum, botol air minum, kardus bekas, dan yang lebih hebatnya lagi mereka menjual beberapa peralatan elektronik yang sudah tidak terpakai seperti kulkas, kipas angin, dan mesin cuci. Jika dipikir-pikir bisa saja mereka langsung menjual ke pengepul dan uangnya bisa lebih besar dibandingkan dengan dikumpulkan di MAPELA.

Tetapi bukan namanya kebersamaan jika hanya memikirkan keuntungan pribadi. Warga sudah sepakat memberikan sepenuhnya penghasilannya dikelola oleh MAPELA dan pemanfaatannya untuk kepentingan bersama, seperti kerja bakti, pengajian, santunan anak yatim dhuafa, dan sisanya bisa digunakan untuk keperluan masing-masing RT.

Mulai dari RT 2, lalu melanjutkan pengambilan sampah ke RT 7, dan saya pun berhenti di RT 3. Hanya di RT 3 inilah sampahnya tidak dikumpulkan ke Bank Sampah MAPELA. Ternyata RT 3 juga memiliki Bank Sampah sendiri, mereka namakan “Bank Sampah Peduli Yatim RT 03 RW 05”. Sesuai dengan namanya, seluruh pendapatan dari Bank Sampah tersebut disalurkan kepada anak yatim di RT 3. Inisiasi ini diciptakan oleh ketua RT 3 yang kemudian didukung oleh MAPELA.

Bank Sampah Peduli Yatim RT 3 RW 05 Telaga Murni (dok. Ferry)

“Selama masih dalam kebaikan, kami harus dukung. Saya senang melihat ada Bank Sampah Peduli Yatim di RT 03 berarti warganya sangat memperhatikan anak-anak yatim di lingkungan sekitarnya.” ujar Pak Sunyoto melihat adanya Bank Sampah di RT 3.

Penimbangan di Bank Sampah MAPELA (dok. Ferry)

Sampah-sampah yang akan diolah ke Bank Sampah MAPELA memiliki beberapa tahapan proses. Dimulai dengan pengambilan, penimbangan, pemilahan, dan penjualan.

Proses pengambilan sampah ekonomis ke semua RT  tersebut dilakukan rutin setiap dua minggu sekali. Sampah-sampah dikolektifkan sementara di rumah Ketua RT masing-masing supaya lebih tersentralisasi dan lebih memudahkan untuk pengambilannya. Kemudian sampah yang sudah terkumpul dari masing-masing RT dilakukan penimbangan. Catatan penimbangan sampah setiap RT disimpan dalam buku tabungan bank sampah.

Pemilahan di Bank Sampah MAPELA (dok. Ferry)

Ada empat jenis pilahan, antara lain :

  1. Gelas air minum. Untuk pemilahan gelas air minum langsung dimasukkan ke karung.
  2. Botol air minum. Tutup botolnya dipisahkan lalu label atau mereknya digunting dan botolnya dimasukkan ke kardus terpisah dengan tutup botolnya.
  3. Peralatan elektronik. Biasanya untuk peralatan elektronik seperti kipas angin, kulkas, mesin cuci, televisi, dan radio dijual dengan harga standar dari pengepul.
  4. Kardus bekas. Kardus bekas ini memiliki nilai jual yang lumayan tinggi sehingga jenis pilahan ini merupakan yang paling banyak dikumpulkan oleh warga. Selain mudah didapatkan, juga tidak repot untuk dikumpulkan.

Pemilahan ini adalah proses yang paling lama dibandingkan dengan proses pengambilan dan proses penimbangan. Sekitar empat sampai lima orang membantu dalam proses pemilahan ini. Kira-kira membutuhkan waktu satu jam karena dibutuhkan ketelitian dan pemilahan juga harus dirapikan sebelum dijual ke pengepul.

Mobil bak terbuka datang menuju Bank Sampah MAPELA. Lengkap dengan tali tambang yang panjang. Tibalah pengepul datang untuk mengambil sampah yang sudah dipilah pengurus MAPELA. Dua orang pengepul kemudian melihat hasil timbangan dari tabungan Bank Sampah.

Pak Sunyoto pun memperlihatkan berat sampah yang dihasilkan dalam pekan ini. Rata-rata berat yang dihasikan dalam setiap dua pekannya sekitar 20-30 kg per RT. Hasil dari penjualannya kemudian masuk ke kas MAPELA.

Kegembiraan bergotong royong di Bank Sampah MAPELA (dok. Ferry)

.:: Inovasi Pestisida dari Puntung Rokok ::.

Bersama Pak Narno, inisiator pestisida dari puntung rokok (dok. Ferry)

Setelah mengikuti kegiatan Bank Sampah, pada pukul setengah sebelas siang saya pun melanjutkan berkeliling ke RT 02. Saya melihat rumah yang sedang dilakukan perbaikan. Pohon mangga di depan rumah juga sedang dirapikan dari ranting-ranting yang merambat ke jalanan. Saya bersama Pak Sunyoto langsung masuk ke halaman rumahnya. Pekarangannya tidak luas tetapi dipenuhi dengan tanaman-tanaman seperti jahe, cabe, sirih, kelor, dan tanaman hias dengan pot yang berasal dari jerigen dan ember bekas.

Pemilik rumahnya bernama Pak Narno. Buruh pabrik yang bekerja di perusahaan alat berat tersebut memiliki hobi di bidang pestisida. Pengalaman bersama kelompok tani di kampungnya di Surabaya, menjadi bekal untuk Pak Narno berinovasi membuat pupuk. Ada satu botol yang menarik perhatian saya. Botolnya berukuran 600 ml dengan cairan kehitam-hitam di dalamnya. Botol ini adalah terobosan baru Pak Narno. Itulah pestisida yang berasal dari puntung rokok.

Ide pesitisida punting rokok berawal dari melihat teman kerja di pabriknya yang merokok di smoking room. Biasanya setelah merokok, puntung rokok dibuang di tempat sampah khusus yang memiliki air. Gunanya untuk mencegah kebakaran. Rembesan air puntung rokok tersebut ditampung oleh Pak Narno dan dibawa pulang untuk “dieksekusi”.

Dasar dari pengembangan puntung rokok menjadi pestisida adalah kandungan tembakau dalam rokok. Tembakau tersebut merupakan pestisida alami. Berdasarkan asumsinya, tersebut Pak Narno berhasil membuat pestisida sebagai inovasi baru yang bisa digunakan oleh warga RW 5 Telaga Murni. Bukan hanya pestisida dari puntung rokok, berbagai pupuk pun pernah dibuatnya, seperti pupuk aerob, pupuk anaerob, pupuk cair mol pisang, pupuk cair mol nasi, dan pupuk BSF (Black Soldier Fly).

“Pak Narno ini merupakan aset berharga RW 05. MAPELA sangat beruntung memiliki warga yang memiliki pengetahuan lebih di bidang pupuk. Sehingga ilmunya bisa bermanfaat untuk warga di Telaga Murni.” sahut Pak Sunyoto.

.:: Pupuk Kompos Cair SADATASU ::.

Pupuk Organik Cair SADATASU (dok. Ferry)

“Saya juga senang dengan diberikan pelatihan SADATASU oleh Astra (PT Yutaka). Sangat bermanfaat untuk kami. Saya paling seneng untuk masalah tanaman dan pupuk. Dengan adanya MAPELA, seperti ada wadah untuk menyalurkan semua hobiku.” tambahnya.

Warga RW 05 Telaga Murni juga diberikan pelatihan tentang pembuatan pupuk kompos SADATASU melalui program Rumah Pintar. Rumah pintar adalah Rumah Pendidikan untuk masyarakat yang mencakup taraf hidup keluarga, mengembangkan keterampilan berbasis potensi lokal, memacu kreativitas untuk melestarikan budaya lokal, dan mengembangkan kemampuan berwirausaha.

Berkat pelatihan yang dilakukan oleh PT Yutaka Manufacturing Indonesia maka pembuatan kompos cair SADATASU (Sampah Dapur Tanaman Subur) bisa dipraktikkan hampir semua warga RW 05 Telaga Murni. Masyarakat mulai bisa mengurangi sampah sisa makanan (berupa sayuran, buah-buahan, lauk pauk, dan nasi) yang kemudian disimpan dalam kotak SADATASU.

Serbuk aktivator dimasukan untuk menghancurkan sampah sehingga bisa dikonversi menjadi pupuk kompos cair. Lama pembuatan SADATASU itu sendiri selama dua minggu. Jadi sampah tersebut diendapkan bersama bubuk aktivator untuk menghasilkan pupuk kompos cair dan diberikan kemasan “SADATASU MAPELA TM 05”.

Pengaplikasian SADATASU di warga RW 05 Telaga Murni (dok. Ferry)

.:: Rumah Pintar Telaga Murni RW 05 ::.

Rumah Pintar MAPELA TM 05 (dok. Ferry)

Sekitar pukul sebelas siang, saya kembali menyusuri jalanan RW 05 Telaga Murni, saya pun menemukan tempat-tempat yang ramah anak. Berawal dari program Rumah Pintar, semua konsep ramah anak bisa terwujud. Mulai dari tempat bermain anak sampai dengan jam belajar anak pun tidak lepas dari perhatian MAPELA.

Spanduk Zona Masyarakat Cerdas (dok. Ferry)

Terpampang spanduk zona masyarakat cerdas ketika saya melewati RT 06 RW 05 Telaga Murni. Memang semua anak dikondisikan untuk giat belajar dengan peraturan yang diterapkan melalui program Rumah Pintar. Tetapi bukan berarti menghilangkan kesenangan bermainnya. Ada waktu tersendiri dan didukung dengan banyaknya spot bermain di wilayah RW 05 Telaga Murni.

Beberapa spot ramah anak di wilayah RW 05 Telaga Murni (dok. MAPELA)

.:: UKM Telaga Murni RW 05 ::.

Bersama kreasi ibu-ibu UKM MAPELA (dok. Ferry)

Sebelum sholat dzuhur, Saya menyempatkan untuk melihat UKM hasil karya ibu-ibu RW 05 Telaga Murni. Ada banyak kreasi ibu-ibu pengurus MAPELA membuat kerajinan seperti tempat pensil, tempat tisu, pot bunga, dompet, bunga plastik, anyaman tas, dan briket plastik. Semua hasil karyanya memanfaatkan barang yang sudah tidak dipakai seperti bekas kemasan kopi, plastik, kain bekas, dan lain-lain.

Ibu-ibu pengurus MAPELA pun mengajak semua ibu-ibu di RW 05 Telaga Murni untuk ikut andil. Responnya pun baik karena ibu-ibu bisa bebas berkreasi dan untuk mengisi waktu luang.

“Kerajinan ini murni dari ibu-ibu RW 05 dan alhamdulillah bisa menambah penghasilan. Kami biasa menjualnya online karena kalau online lebih banyak pembelinya daripada offline. Kami posting di facebook dan media sosial lain untuk mendapatkan konsumen.” ujar Bu Dewi.

Kue Dewi Cookies UKM Warga RW 05 Telaga Murni (dok. MAPELA)
Pelatihan pembuatan handmade (dok. PT Yutaka)

Pemberdayaan ekonomi masyarakat di KBA Telaga Murni menjadi perhatian khusus PT Yutaka. Dalam rangka meningkatkan kemampuan produktif masyarakat, PT Yutaka mengadakan program Income Generating Activities (IGA), antara lain pembinaan budidaya burung puyuh kerajinan handmade, pembinaan pedagang makanan, dan pembinaan pembuatan kue.

Hari yang cukup padat saya jalani bersama MAPELA dalam menggali pilar kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan. Saya merasa hari itu hari yang sangat produktif bagi saya. Semua inspirasi datang silih berganti.

Saya pun mengagendakan untuk kembali mengunjungi Telaga Murni di minggu depan, tepatnya tanggal 2 November 2018. Rencananya saya ingin melihat program Posyandu dan PAUD.

Kader Posyandu siap mulai bekerja (dok. Ferry)
Pengajar dan murid PAUD Seroja 1B (dok. Ferry)

Pukul delapan pagi di sekertariat RW, ibu-ibu kader posyandu berjejer rapi mengenakan kerudung merah khasnya. Ibu-ibu pengajar PAUD juga tak kalah kompaknya. Kerudung hitam dengan batik hijau yang dipakai menandakan baju kebesarannya. Posyandu dan PAUD ini merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Secara historis pun PAUD tidak bisa dilepaskan dari andil Posyandu.

Bersama Ketua dan Wakil Ketua Posyandu Seroja 1B (dok. Ferry)

Ibu Wardiyanti, ketua Posyandu Seroja 1B Telaga Murni, menceritakan bagaimana pengalamannya ketika merintis Posyandu yang berada di lingkungan RW 05 Telaga Murni ini.

.:: Sejarah Lahirnya Posyandu Seroja 1B ::.

Plang Posyandu Seroja 1B (dok. Ferry)

Sekitar tahun 1996 awalnya posyandu di Telaga Murni itu terdiri dari tiga kader, salah satunya Ibu Wardiyanti atau biasa dipanggi lbu Anis (diambil dari nama anakya). Posyandu di Desa Telaga Murni waktu itu memiliki target lebih dari 200 balita. Tetapi minat yang dimiliki ibu-ibu sangat kurang sehingga banyak sekali ibu-ibu yang enggan membawakan balitanya ke Posyandu Telaga Murni.

Ibu Anis berinisiatif mengedukasi warga secara door to door tentang urgensi membawa balita ke Posyandu. Alhamdulillah mulai ada perubahan dan bertambah pula balita yang ditimbang ke Posyandu. Tahun 1996-1997 baru ada satu program di Posyandu Telaga Murni, yaitu penimbangan. Karena target balita yang terlampau tinggi maka disepakati untuk dipecah menjadi dua, yaitu Posyandu Seroja 1A yang berada di kawasan RW 15 dan Posyandu Seroja 1B berada di lingkungan RW 05.

Setelah dipecah menjadi dua Posyandu, beban Posyandu menjadi lebih ringan. Hanya saja tempat untuk mengadakan Posyandu masih menumpang di rumah warga. Akhirnya pada tahun 2012 bisa memiliki gedung sendiri hasil dari swadaya masyarakat yang lokasinya berdampingan dengan Sekertariat RW 05 Telaga Murni.

.:: Lahirnya PAUD Seroja 1B ::.

Plang PAUD Seroja 1B (dok. Ferry)

Kemudian pada 10 Januari 2017, ibu-ibu Posyandu mulai berpikir untuk mendirikan PAUD. Ada dua pertimbangan mengapa harus didirikan PAUD di RW 05 Telaga Murni. Pertama adalah supaya anak-anak di lingkungan RW 05 tidak perlu jauh-jauh ke RW lain untuk sekolah PAUD. Kedua adalah meringankan beban orang tua perihal biaya pendidikan PAUD yang tergolong tinggi.

PAUD di Telaga Murni diberikan nama Seroja 1B karena memang lahirnya PAUD ini berasal dari ide Posyandu Seroja 1B. Berlokasi di Sekertariat RW berdampingan dengan Posyandu Seroja 1B.  Fasilitasnya lengkap ada tempat bermain juga, meja belajar, dan aneka permainan lainnya yang berada didalam kelas.

Meskipun PAUD Seroja 1B ini terbilang baru, tetapi antusias warga yang datang setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis sangat baik. Banyak orangtua di lingkungan RW 05 yang menyekolahkan anaknya ke PAUD Seroja 1B. Materi pembelajaran dengan prinsip “Bermain sambil Belajar” sangat disukai anak-anak.

Bu Eti Soniti (Kepala PAUD Seroja 1B) menyebutkan bahwa kurikulum pelajaran juga diambil dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi. Untuk memperluas jaringan dan menambah wawasan pun PAUD Seroja 1B bergabung dengan HIMPAUDI (Himpunan PAUD Indonesia) Kecamatan Cikarang Barat. Hasilnya pun menjadi lebih baik terbukti muridnya semakin bertambah bahkan RW lain pun memercayakan anaknya untuk ke PAUD Seroja 1B.

.:: Inovasi Posyandu dan PAUD : Membayar dengan Sampah ::.

Membawa sampah untuk biaya PAUD dan Posyandu (dok. istri Ferry)

Pihak MAPELA dan PAUD Seroja 1B menyadari sepenuhnya bahwa tidak semua anak berkesempatan untuk belajar. Untuk itu ada usulan program yang diberikan khusus untuk keluarga yatim dan dhuafa. Semua biaya pendidikan digratiskan untuk anak yatim dan bagi keluarga ekonomi lemah bisa membayarkan biaya pendidikan dengan sampah.

Menimbang dan menabung di Bank Sampah MAPELA (dok. Ferry)

Jadi, setiap berangkat sekolah anak-anak membawa sampah ekonomis dari rumahnya yang kemudian ditimbang dan dicatat di tabungan bank sampah. Setelah nanti dijual ke pengepul oleh MAPELA maka uangnya digunakan untuk biaya pendidikan.

Sekitar pukul setengah sebelas siang, kelas belajar PAUD sudah selesai dan ibu-ibu kader Posyandu juga selesai menyelesaikan tugasnya. Semua orangtua murid dan ibu-ibu yang datang ke Posyandu dikumpulkan terlebih dahulu sebelum pulang. Kebetulan ada acara penyuluhan dari Puskesmas tentang TBC sehingga masyarakat pun bisa mendapatkan pengetahuan seputar kesehatan dan bagaimana mengenali gejala TBC sedini mungkin.

Memberikan Edukasi Menghindari HOAX (dok. Ferry)

Saya juga sebelumnya meminta izin ke Pak Sunyoto meminta waktunya untuk  sedikit berbagi tentang edukasi Hoax. Alhamdulillah beliau bisa memfasilitasi dan sekitar 30 menit warga RW 5 Telaga Murni memerhatikan secara seksama bagaimana mengenal hoax, bagaimana terhindar dari hoax, dan tips-tips penangkal hoax. Alhamdulillah acaranya bisa berjalan lancar dan semoga masyarakat RW 05 Telaga Murni bisa mendapat pengetahuan seputar literasi di dunia digital.

Adanya Astra di RW 5 Telaga Murni menjadikan empat pilar CSR bisa terpenuhi. Pilar Pendidikan, Kesehatan, Lingkungan dan Budaya, serta Kewirausahaan. Kolaborasi pembinaan Astra –melalui CSR PT Yutaka-  dan MAPELA Telaga Murni menghasilkan beberapa prestasi yang membanggakan.

.:: Raihan Prestasi di Empat Pilar ::.

Penghargaan dipajang di Sekertariat RW 05 Telaga Murni (dok. Ferry)

Pilar Lingkungan dan Budaya : Hijau dan Lestari Bersama Yutaka

“Supporting melalui program CSR PT Yutaka sangat baik dan memiliki sistem yang bagus. Edukasi dari PT Yutaka kepada kader MAPELA di RW 5 Telaga Murni menjadikan penetrasi lingkungan kami lebih cepat sehingga menghasilkan beberapa prestasi di berbagai bidang.” Pak Rohdian, Pembina MAPELA dan Ketua RW 5 Telaga Murni.

Lingkungan Asri RW 05 Telaga Murni (dok. Ferry)

“Dengan adanya program dari CSR sangat mendukung kreatifitas warga di delapan RT yang ada di Telaga Murni. Contohnya dengan adanya lomba tingkat internal RW. Mereka (warga) menjadi bersemangat untuk mempercantik lingkungannya. Kalau soal hadiah bukan tujuan utamanya tetapi yang penting adalah partisipasinya” Pak Sunyoto, Ketua MAPELA

Lomba antar RT yang diprakarsai PT Yutaka mengundang antusias semua pihak. PT Yutaka memberikan apresiasi kepada RT yang berhasil membuat lingkungan yang bersih, kreatif, dan unik. Apresiasi berupa penghargaan kepada tiga juara utama dan tiga juara harapan. Namun bagi RT yang belum beruntung tetap diberikan penghargaan oleh MAPELA. Bukan tentang hadiah tapi ini tentang kebersamaan menjaga lingkungan. Sehingga semua RT adalah pemenangnya.

Juara I Lomba K7 Antar Kampung Sehat Tingkat Kabupaten Bekasi (dok. Ferry)

Dari lomba antar RT menjadi bekal untuk RW 5 untuk mengikuti ajang lomba yang lebih tinggi. Akhirnya pada tahun 2016 mendapatkan penghargaan sebagai Juara 1 Lomba K7 Antar Kampung Sehat Tingkat Kabupaten Bekasi. Lingkungan RW 05 Telaga Murni berhasil menjadi tolak ukur penilaian Adipura tingkat Kabupaten Bekasi. Pencapaian ini buah dari kebersamaan warga dalam mencintai lingkungannya dan kolaborasi yang baik antara ASTRA dan MAPELA.

Program Adipura DLH 2017 (dok. Ferry)

“Kegiatan yang dilakukan selama bersama PT Yutaka (3-4 tahun) sudah berjalan baik. Pembinaannya menyeluruh meliputi lingkungan, PAUD, menyelenggarakan lomba antar RT. Antusias warga pun sangat baik dan mendukung sepenuhnya” kata Pak Martono, Ketua RT 2 RW 5 Telaga Murni

Pendapat Pak Martono, Ketua RT 02 tentang Astra/Yutaka (dok. Ferry)

Penghargaan berlanjut dari Pemerintah Kabupaten Bekasi yang diberikan kepada PT Yutaka. Dedikasi selama tiga tahun di wilayah Kabupaten Bekasi yang menghasilkan beberapa prestasi dan perubahan di masyarakat wilayah binaannya. Khususnya program Rumah Pintar yang sudah berjalan dengan baik.

Penghargaan Pemerintah Kabupaten Bekasi kepada Astra (dok. PT Yutaka)

Berkat program Rumah Pintar yang menjalankan konsep ramah anak, MAPELA diundang sebagai pembicara dalam kegiatan Pembinaan Kecamatan Layak Anak yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada tanggal 28 Nov-3 Desember 2018. Dengan tema yang diangkat adalah “Menuju Kabupaten Bekasi Layak Anak.” serta dihadiri oleh perwakilan dari kecamatan di kabupaten Bekasi.

Pembicara di Pembinaan Kecamatan Layak Anak (dok. MAPELA)
Beserta para peserta Pembinaan Kecamatan Layak Anak (dok. MAPELA)

Pilar Kesehatan : Sehat Bersama Yutaka

Penimbangan di Posyandu Seroja 1B (dok. istri Ferry)

Dengan adanya pembinaan dari Astra (PT Yutaka), wilayah RW 5 Telaga Murni mendapatkan banyak program kesehatan. Selain sebagai bentuk kepedulian untuk meningkatkan kesehatan masyarakat di perusahaan, khususnya di Kecamatan Cikarang Barat. MAPELA juga sama-sama memberikan kontribusi untuk Telaga Murni.

Contohnya : ketika ada lomba inovasi Posyandu yang diadakan Astra, MAPELA membuat ide program untuk Posyandu Seroja 1B.

Adapun program yang diusulkan adalah Program Talita, Tabulan, Tabulin. Ketiganya merupakan program Tabungan Sampah bernilai ekonomis. Semuanya ditujukan kepada Ibu Balita untuk tabungan Balita (Talita), Lansia untuk Tabungan Lansia (Tabulan), dan Ibu Hamil untuk Tabungan Ibu Hamil dan Bersalin (Tabulin). Tabungan Sampah tersebut dikumpulkan pada saat kegiatan Posyandu di awal pekan tiap bulannya.

Juara 2 Posyandu Astra tahun 2017 (dok. PT Yutaka)

Berkat kegigihan dan konsistensi program tersebut, Posyandu Seroja 1B berhasil meraih gelar Juara 2 Posyandu Terbaik Astra Tahun 2017. Selain itu juga Posyandu Seroja 1B mendapatkan penghargaan sebagai Juara 1 dalam lomba Posyandu Tingkat Kecamatan tahun 2017, Juara 3 dalam lomba Posyandu Tingkat Kabupaten tahun 2017, Finalis AFC Award 2017 PT Astra International Tbk.

Juara 1 Posyandu Tingkat Kecamatan tahun 2017 (dok. MAPELA)
Juara 3 dalam lomba Posyandu Tingkat Kabupaten tahun 2017 (dok. MAPELA)

“PT Yutaka membina Posyandu Seroja 1B sehingga bisa menjuarai di berbagai bidang. Yang terakhir adalah kami bisa menjadi Finalis Posyandu Naik Kelas yang diadakan oleh Astra International di Bali, tanggal 23 November 2018”. Bu Wardiyanti, Ketua Posyandu Seroja 1B Telaga Murni Cikarang Barat.

Finalis Posyandu Naik Kelas Astra International 2018 (dok. PT Yutaka)

Pada tanggal 20 November 2018, saya menyempatkan hadir untuk melihat persiapan kader Posyandu untuk final Posyandu Naik Kelas. Pada Program Posyandu Naik Kelas, Posyandu Seroja 1B ini pada tahun 2018 memiliki tiga binaan Posyandu, yaitu Posyandu Seroja 1C, Posyandu Seroja 2, dan Posyandu Tulip 5. Ketiga binaan Posyandu masih di daerah Telaga Murni yang kemudian diberikan sosialisasi tentang SIP 7 dan program PMT (Pemberian Makanan Tambahan).

SIP 7 adalah Sistem Informasi Posyandu, semua kegiatan posyandu di rangkum dalam sebuah buku yaitu SIP 7. SIP adalah sistem pencatatan data atau informasi tentang pelayanan yang diselenggarakan di Posyandu.

Pelatihan SIP 7 (dok. Ferry)

Program ini diberikan agar ketiga posyandu binaan tersebut dapat menjalankan tertib administrasi, sehingga pendataan di Posyandu dapat tersusun rapi dan tidak berantakan. Selain itu juga program ini dapat meningkatkan kompetensi kader posyandu.

Pemberian PMT (dok. PT Yutaka)

Kemudian program PMT atau Pemberian Makanan Tambahan dilatarbelakangi oleh kurang menariknya PMT bagi sebagian kalangan orangtua sehingga menurunkan minat untuk membawa balitanya ke Posyandu. Namun setelah dilakukan sosialisasi ke warga akan pentingnya PMT dan diberikan menu PMT variatif tiap bulan, maka targetnya bisa tercapai. Yaitu tidak adanya balita yang berada di garis merah (BGM) di wilayah Telaga Murni.

Pilar Pendidikan : Cerdas Bersama Yutaka

“Alhamdulillah dengan adanya fasilitas yang diberikan oleh PT Yutaka, PAUD Seroja 1B bisa mendapatkan sarana penunjang belajar siswanya.” Ibu Eti, Kepala  PAUD Seroja 1B

Juara Harapan 3 Lomba Kreatifitas dan Inovasi Guru PAUD 2017 (dok. Ferry)

Meskipun PAUD Seroja 1B baru berusia dua tahun tetapi manfaatnya sangat bisa dirasakan oleh warga sekitar. Selain PAUD, ada juga program dari CSR PT Yutaka dalam pilar pendidikan yaitu Pembinaan Sekolah Adiwiyata, Program literasi, Rumah Pintar, dan Pembinaan Karakteristik Siswa.

Juara 1 Inovasi Guru (dok. Ferry)

Pada tahun 2017 saja dalam bidang pendidikan berhasil menyabet juara 1 Lomba Inovasi Pendidikan Karakter Bangsa Guru Pendidikan Menengah Tingkat Nasional. Di tahun yang sama juga berhasil menjadi Juara 1 Program SaDatasu Kategori Rumah Pintar Tingkat Nasional.

Juara 3 Health Video Competition tahun 2018 (dok. PT Yutaka)

Yang paling terbaru adalah pada tahun 2018 dalam ajang Health Video Competition yang diadakan Astra International bisa meraih juara 3 Video Competition dengan mengambil tema PHBS atau Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Pemeran videonya adalah anak dari Pak Sunyoto (Ketua MAPELA) yaitu Eka Chandra Agustina.

Pilar Kewirausahaan : Makmur Bersama Yutaka

Juara 3 Apresiasi AKU BISA dari Astra (dok. PT Yutaka)

“Pembinaan yang dilakukan oleh PT Yutaka bermanfaat untuk kami. Dengan adanya event AKU BISA yang diselenggarakan oleh Astra, Alhamdulillah UKM kami dengan ‘Dewi Cookies’ bisa menjadi juara 3.” Ibu Dewi, Perwakilan MAPELA dalam penghargaan Astra program AKU BISA

Bukan hanya mendapatkan income dari program wirausaha tersebut, masyarakat Telaga Murni mendapatkan penghargaan dari PT Asta International Tbk sebagai Juara 3 Apresiasi AKU BISA tahun 2017 dalam program Apresiasi untuk Pelaku Usaha Kecil Binaan Astra. Prestasi ini menjadi pelecut semangat warga untuk menjalankan usahanya lebih giat.

Stand Kue AKU BISA “DEWI COOKIES” (dok. MAPELA)

“Hadirnya Astra ke Telaga Murni semata-mata untuk melakukan pembinaan masyarakat. Kegiatan CSR ini juga sebagai bentuk perwujudan rasa tanggung jawab sosial kami (PT Yutaka Manufacturing Indonesia) untuk mematuhi perundangan yang berlaku. Tentu dalam pelaksanaannya mengacu pada Catur Dharma Astra.” Bu Selvi Damayanti, CSR PT Yutaka Manufacturing Indonesia.

Program CSR PT Yutaka Manufacturing Indonesia merujuk pada Catur Dharma Astra, yaitu :

  1. Menjadi milik yang bermanfaat bagi Bangsa dan Negara
  2. Memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan
  3. Menghargai individu dan membina kerja sama
  4. Senantiasa berusaha mencapai yang terbaik

KBA Telaga Murni berada di tahap NINDYA N+3 dimana tahap ini semua pilar CSR (pendidikan kewirausahaan, lingkungan, dan kesehatan) dengan kriteria keterlibatan masyarakat, prestasi, zona penghijauan, pembinaan PHBS, dan pembentukan kader lingkungan bisa dikatakan baik.

Sejak tahun 2015 sampai dengan tahun 2018, MAPELA berhasil mewujudkan target yang sesuai dengan road map PT Yutaka. Namun segala keberhasilan yang dicapai bukan untuk mendapatkan penghargaan semata tetapi justru menambah kecintaannya terhadap lingkungan yang kemudian bisa berdampak ke semua sektor.

Semangat warga Telaga Murni menjadi contoh untuk seluruh kampung di Indonesia. Saya yakin dengan semangat yang ditunjukkan oleh KBA Telaga Murni maka bisa menginspirasi kampung-kampung lainnya untuk semangat bersama membangun negeri.

SATU INDONESIA.

Salam dari Telaga Murni. Selamat Jalan (dok. Ferry)

18 thoughts on ““MAPELA” Bersama ASTRA : Semangat Membangun Negeri dari KBA Telaga Murni

  • 19/12/2018 at 7:58 PM
    Permalink

    Luar biasa kang Ferry totalitasnya. Semoga berbuah manis ya. Btw, ini sepertinya menjadi tulisan terpanjang ya di blog? Betul gak? Atau salah satunya mungkin. Soalnya, tulisan tentang KBA Telaga Murni ini komplit sekali. 🙂

    Good job and Good luck, Kang.

    Reply
    • 20/12/2018 at 6:28 AM
      Permalink

      Muhun Pak. Ini tulisan terpanjang saya. Karena subhanallah banyak materi yang saya dapatkan di KBA Telaga Murni. Bahkan masih ada yang bis diexplore di Telaga Murni. Nuhun sudah berkunjung Pak

      Reply
    • 27/12/2018 at 9:15 AM
      Permalink

      Aamiin Ya Rabb. Makasih om

      Reply
  • 30/12/2018 at 11:59 AM
    Permalink

    Wah tulisan yang menginsipirasi.
    Tapi puanjang banged ya, saya kebayang berapa hari nulisnya dan bikin konsepnya.

    Keren!

    Reply
    • 30/12/2018 at 12:46 PM
      Permalink

      Alhamdulillah semoga menginspirasi kampung-kampung se-Indonesia. Bikin konsepnya mulai dari tanggal 10 Oktober dan beres editingnya tanggal 17 Desember, Kak.

      Reply
  • 01/01/2019 at 4:56 PM
    Permalink

    Kulitnya habis, dagingnya tuntas, bijinya pun lenyap. Pol banget, Mas Ferry. Salut dengan kegigihannya. Dan tentunya untuk artikelnya yang sangat inspiratif.

    Terima kasih, Mas. Semoga sukses lombanya, ya. Salam hangat.

    Reply
    • 01/01/2019 at 8:14 PM
      Permalink

      Terima kasih, Mas. Semoga bisa jadi inspirasi semua kampung di Indonesia. Sukses juga untuk Mas Adhi. Salute..

      Reply
  • 01/01/2019 at 8:26 PM
    Permalink

    Keren banget ulasannya mas fery..sangat menginspirasi dan telaten bngt nulisnyaa cocok banget buat jadi juara hehhee

    Reply
    • 01/01/2019 at 9:34 PM
      Permalink

      Makasih banyak mbak yanti sudah berkunjung ke blog saya. Semoga bermanfaat, Mbak

      Reply
  • 02/01/2019 at 7:14 AM
    Permalink

    wih lengkap sekali ulasannya.. emang kampung astra ini menarik karena bikin orang-orang jadi semangat.

    Reply
    • 02/01/2019 at 7:43 AM
      Permalink

      betul sekali koh deddy. Astra membuat orang semakin bersemangat membangun kampungnya.

      Reply
  • 02/01/2019 at 8:58 AM
    Permalink

    Tulisannya panjang kaya kreta tapi detail dan jelas..hebat mas fery top wartawan poskota kalah dah..

    Reply
    • 02/01/2019 at 9:10 AM
      Permalink

      Hehe bisa aja pak. Makasih pak udah baca. Semoga bermanfaat 🙂

      Reply
  • 02/01/2019 at 10:21 AM
    Permalink

    Dari awal aku udah salut banget sama riset Mas Ferry untuk tulisan ini. Dan hasilnya beneran tulisan yang panjang dan komplit… plit … plit. Good luck ya, Mas. Semoga inspirasi dari Telaga Murni bisa diduplikasi daerah-daerah lainnya.

    Reply
    • 02/01/2019 at 10:37 AM
      Permalink

      Terima kasih mbak. Semoga banyak menginspirasi semua kampung se-Indonesia. Tulisan mbak damar juga bagus gus gus.. Keren

      Reply
  • 04/01/2019 at 10:31 AM
    Permalink

    kampung yang sangat menginspirasi banget ya…coba semua kampung di kota besar di Indonesia kayak gini…Jos Pasti

    Reply
    • 04/01/2019 at 10:55 AM
      Permalink

      Betul sekali pasti jos om. Hehe

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *