Lima Kiat Generasi Milenial Menjadi Konsumen Cerdas di Era Digital

PENGALAMAN

Konsumen di era digital memang sangat dimudahkan. Segala keperluan sehari-hari, mulai dari makan, antar jemput, sampai dengan berbelanja pun sudah serba online. Hanya saja tidak serta merta pesatnya teknologi berbanding lurus dengan pemahaman para pelaku bisnis online tentang hubungan antara konsumen dengan pelaku usaha.

Sebulan yang lalu, saya memesan taksi online untuk pergi ke Rumah Sakit di daerah Bekasi Timur. Sekitar lima menit menunggu, dering handphone berbunyi dari nomor yang tidak dikenal. Dan memang benar telepon itu dari supir taksi online. Bukan dengan keramahan yang saya terima malah makian yang saya dapatkan. Bahkan sampai dengan berkata-kata kasar yang tidak baik untuk disebutkan. Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan.

Masalah bermula ketika saya menjawab teleponnya dan mulai mengarahkannya ke tempat dimana saya ingin dijemput. Tetapi karena ketidaktahuan si supir, saya justru “disemprot” dengan nada tinggi dan caci maki. Saya masih sabar dan coba memberikan saran untuk mengikuti google maps sesuai titik lokasi saya berada. Tiba-tiba dia berkata kasar dan membuat saya marah dan saya pun segera mematikan teleponnya karena merasa sudah tidak nyaman dengan perilakunya.

Saya sebetulnya heran, konsumen yang seharusnya menjadi raja dan dilayani sebaik mungkin malah diperlakukan dengan kasar. Saya tidak berpikir panjang dan langsung melaporkan hal ini kepada admin taksi online tersebut. Saya membatalkan transaksinya dengan alasan mendapatkan kata-kata kasar dan bersikap tidak sopan kepada konsumen. Sayangnya, sampai sekarang ini saya tidak tahu apakah kejadian ini sudah ada penyelesaiannya atau hanya dijadikan arsip aduan saja tanpa ada corrective action.  

Selanjutnya adalah pengalaman saya menjadi pelaku usaha bisnis online. Digitalisasi ekonomi membuat setiap orang leluasa untuk melakukan kegiatan kapan saja dan dimana saja. Semua orang mempunyai peluang mendapatkan penghasilan dengan hanya bermodalkan gadget.

Ketika menjalankan bisnis buku, saya pernah mendapat kritikan dari konsumen. Buku yang dikirimkannya ternyata rusak dan halamannya terbalik atau tertukar. Meskipun packaging yang sudah dibuat serapi mungkin tetapi kendala di perjalanan, kurir pembawa kiriman, dan faktor cuaca tidak saya perhatikan. Sehingga faktor non teknis tersebut menjadi masalah yang harus diselesaikan supaya konsumen tetap setia dan percaya. Karena konsumen merasa dirugikan, maka buku pun dikirim ulang demi . Hal ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab dan kepuasan pelanggan.

STASTISTIK EKONOMI DIGITAL TAHUN 2018

Global Digital Report Tahun 2018 yang dilansir oleh WeAreSocial bekerja sama dengan Hootsuite menyebutkan bahwa pengguna internet dunia sudah mencapai angka fantastis yaitu sebanyak 4.021 miliar orang. Di Indonesia sendiri 132 juta jiwa orang sudah mengakses internet. Sekitar 60 persen dari pengguna tersebut kebanyakan menggunakan gadget1. Inilah bukti bahwa dunia digital semakin masif dan harus disikapi dengan bijak dan cerdas.

Indonesia juga merupakan salah satu pasar e-commerce yang potensial di Asia. Dari 132 juta jiwa penduduk Indonesia yang bergelut di dunia internet, 40 persennya membeli barang dan jasa secara online. Transaksi perdagangan digital menunjukkan transaksi e-commerce Indonesia meningkat tajam sebesar 500% dalam 5 tahun. Tahun 2014 bermula di angka Rp 25, 1 triliun kemudian merangsak naik pada tahun 2016 dan 2017 masing-masing Rp 69, 8 triliun dan Rp 108,4 triliun.2

Pada gelaran Harbolnas yang biasa diadakan tiga hari secara berturut-turut, generasi milenial mendominasi sebagai konsumen terbanyak. Berdasarkan umur tercatat 46 persen konsumen usia muda 15-24 tahun kemudian diikuti konsumen 24-34 tahun sebanyak 29 persen. Belum lagi raihan rekor yang luar biasa pada tahun 2017 untuk transaksi tertinggi dengan menembus angka Rp 4,7 triliun atau naik 42 persen dari tahun sebelumya yang menyentuh angka di Rp 3,3 triliun.3

LIMA KIAT BERMANFAAT DI ERA DIGITAL

Sajian data dari web Kementerian Perdagangan dari bulan November 2017 sampai dengan April 2018 menyebutkan bahwa jumlah pengaduan konsumen kurang dari 20 pengaduan. Angka ini sangat rendah dibandingkan dengan data bulan Juli 2017 yang berjumlah 70 pengaduan.4 Data ini didukung dari Kementerian Perdagangan bahwa 42 persen masyarakat Indonesia memilih untuk tidak melakukan pengaduan dan sebanyak 39,2 persen tidak mengetahui adanya Lembaga Perlindungan Konsumen. Sehingga faktor inilah yang menyebabkan perilaku pengaduan konsumen di Indonesia rendah dibandingkan dengan Korea Selatan.5

Dari jumlah pengaduan tersebut tidak semua terselesaikan. Grafik menunjukkan angka penyelesaian selalu lebih rendah dibandingkan angka pengaduan dan penanganan. Segala kemudahan yang ada di era digital ini sebenarnya harus mampu meningkatkan kesadaran hak dan kewajiban konsumen. Kenapa? Karena memang semuanya serba digital. Kemudian pertanyaannya adalah bagaimana kita sebagai generasi milenial bisa menjadi konsumen yang cerdas di era digital ini?

Berikut ini saya akan coba berikan kiat-kiat untuk menjadi Konsumen Cerdas di Era Digital bagi Generasi Milenial.

Pertama, Sosialisasikan Hak dan Kewajiban Konsumen!


Hal yang pertama dilakukan sebagai generasi milenial adalah mengetahui terlebih dahulu hak dan kewajiban sebagai konsumen. Ada delapan hak-hak konsumen dan  empat kewajiban konsumen yang harus diketahui,6

Hak-Hak Konsumen:

  1. Mendapatkan kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa.
  2. Memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa sesuai nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.
  3. Memperoleh informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barnag dan/atau jasa.
  4. Didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan.
  5. Mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa secara patut.
  6. Mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen.
  7. Diperlakukan dan dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif.
  8. Mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau

Kewajiban Konsumen:

  1. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian barang dan/atau jasa.
  2. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa.
  3. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati.
  4. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa secara patut.

Setelah mengetahui hak-hak dan kewajiban konsumen maka harus dilakukan program sosialisasi digital. Kita bisa memanfaatkan media sosial ataupun platform blog karena mengingat penyebaran informasi sekarang ini begitu cepat dan kita harus memberikan andil dalam viralisasi informasi hak dan kewajiban konsumen. Atau juga bisa mengikuti lomba menulis dalam memperingati Harkonas (Hari Konsumen Nasional) seperti yang diadakan oleh Kementerian Perdagangan. Sehingga diharapkan wawasan dasar tentang hak dan kewajiban konsumen ini bisa tersosialisasikan kepada masyarakat ataupun netizen.

Kedua, Segera Download Aplikasi Pengaduan Konsumen


Saya melihat di google play store ternyata baru sekitar 500 user yang mendownload aplikasi ini padahal kapasitas downloadnya kecil hanya 4,2 MB dan tidak memakan memori internal handphone. Saya sarankan untuk generasi milenial segera mendownload aplikasi tersebut sebagai bentuk kepedulian kita dalam proses perekonomian digital di Indonesia juga meningkatkan partisipasi sebagai masyarakat untuk menjadi agen perubahan demi kemajuan Ekonomi Indonesia.

Kenapa harus download aplikasi Pengaduan Konsumen dari Kementerian Perdagangan ini? Alasan terbesarnya adalah karena tidak semua pelaku usaha tertib, taat, dan tahu etika bertransaksi. Hal ini menyebabkan banyaknya konsumen tidak mendapatkan haknya ketika melakukan pengaduan langsung kepada pelaku usaha. Dengan mengunduh aplikasi ini maka konsumen bisa mengadukannya lebih normatif karena sesuai dengan aturan. Jika tidak digubris juga maka ranahnya sudah menjadi milik instansi terkait untuk menindaklanjuti.

Ketiga, Mencintai Produk Dalam Negeri


Membeli produk “made in Indonesia” secara otomatis perputaran uang akan berada di dalam negeri sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Disamping itu juga bisa meningkatkan cadangan devisa karena kita mengurangi konsumsi produk impor. Kualitas produk kita pun tidak kalah competitif dengan produk impor. Banyak produk dalam negeri yang banyak diminati dan sudah melanglang buana ke luar negeri.

Jika generasi milenial mendominasi dalam belanja online maka generasi milenial pun harus memberikan dampak yang besar dalam pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Dominannya generasi milenial yang mencintai produk dalam negeri akan membuat para pelaku usaha bisa meningkatkan jumlah produksi yang berdampak pada penyerapan jumlah tenaga kerja yang lebih banyak. Pelaku usaha pun harus meningkatkan kualitas produksinya supaya selalu dilirik generasi milenial dan selalu kompetitif dengan produk luar negeri.

Keempat, Bersikap Kritis dalam Membeli


Kiat keempat ini dibagi menjadi beberapa bagian. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum membeli barang. Perhatikan terlebih dahulu Label dan Manual Garansi Berbahasa Indonesia. Konsumen harus mengetahui kondisi barang dan/atau jasa, untuk barang makanan, minuman, obat dan kosmetik harus terbungkus disertai label yang isinya dicantumkan komposisi, manfaat, aturan pakai dan masa berlaku atau kadaluarsa produk. Sedangkan untuk produk telematika dan elektronika, petunjuk penggunaan atau manual dan kartu jaminan garansi berbahasa Indonesia sudah menjadi kelengkapan wajib barang tersebut.

Produk bertanda SNI adalah produk yang memberikan jaminan kepastian atas kesehatan, keamanan, keselamatan konsumen, dan lingkungannya. Sekitar tiga bulan lalu saya mencoba membeli keperluan bayi, saya membeli baju bayi di pasar tentunya tidak berlogo SNI. Saya coba bandingkan dengan baju bayi yang berlogo SNI ternyata kualitas SNI jauh lebih bagus. Nyaman dipakai, tahan lama alias tidak lecek, menyerap keringat, dan aman bagi kesehatan bayi. Saya pun sudah selektif membeli keperluan barang dengan selalu memperhatikan produk yang bertanda SNI.

Kenapa harus SNI? Karena sudah ditetapkan dalam kebijakan pemberlakuan SNI melalui Undang-Undang No. 20 Tahun 2014 Tentang Standarisasi dan Penilaian Kesesuaian. Pemberlakuan SNI untuk suatu produk berdasarkan Pasal 3 UU No. 20 Tahun 2014 tersebut bertujuan

  1. meningkatkan jaminan mutu, efesiensi produksi, daya saing nasional, persaingan usaha yang sehat dan transparan dalam perdagangan, kepastian usaha, dan kemampuan pelaku usaha, serta kemampuan inovasi teknologi.

  2. meningkatkan perlindungan kepada konsumen , pelaku usaha, tenaga kerja, dan masyarakat lainnya, serta negara, baik dari aspek keselamatan, keamanan, kesehatan, maupun pelestarian fungsi lingkungan hidup ; dan

  3. meningkatkan kepastian, kelancaran, dan efisiensi transaksi perdagangan barang dan/atau jasa di dalam negeri dan luar negeri 7

Kelima, Laporkan Pengaduan


Jika menemukan keluhan atas produk yang dibeli maka konsumen bisa mengajukan haknya untuk melakukan pengaduan. Apalagi di era digital ini ketika bisnis online meroket tinggi di tahun 2018 yang rentan akan komplain dari konsumen. Tidak bertatap muka langsung dengan pembeli dan tidak melihat barang yang akan dibeli (hanya melalui gambar) adalah kemungkinan utama banyak laporan nonconformity.

Bagi pelaku bisnis ataupun konsumen di dunia bisnis online maka wajib mengetahui kemana harus mengadu. Khususnya untuk generasi milenial sebagai penyumbang terbanyak angka transaksi e-commerce pada tahun 2017. Adapun tempat mengadunya adalah sebagai berikut ;

  1. Langsung pada pelaku usaha. Biasanya kalau e-commerce suka menyediakan kolom review dan rating. Itu bisa dimanfaatkan sebagai bentuk langsung ketidakpuasan atau keluhan terhadap barang yang dibeli.
  2. Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) setempat. Konsumen bisa datang langsung ke LPKSM setempat yang dilokasinya sudah terdaftar di website Sistem Pengawasan Perlindungan Konsmen Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga.
  3. Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) terdekat. Konsumen juga bisa mengadukan keluhan ke kantor BPSK terdekat dan daftar alamatnya pun lengkap bisa didapatkan di website Sistem Pengawasan Perlindungan Konsmen Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga.
  4. Dinas yang menangani perlindungan konsumen di Kabupaten/Kota. Instansi atau Dinas Perlindungan Konsumen juga melayani jika masyarakat sebagai konsumen mengalami keluhan dan perlu pengaduan.
  5. Pos layanan informasi dan pengaduan konsumen. Dibawah ini adalah pelayanan informasi melalui telepon, website, email, nomor whatsapp, dan aplikasi Pengaduan Konsumen yang sudah saya jelaskan di poin dua tadi.

 Hotline : (021)3441839
Website : http://siswaspk.kemendag.go.id
E-mail : pengaduan.konsumen@kemendag.go.id
Whatsapp : 0853 1111 1010
Google Play Store : Pengaduan Konsumen

Hari Konsumen Nasional 2018

Berdasarkan Keppres No. 13 Tahun 2012, Hari Konsumen ditetapkan pada 20 April. Penetapan tanggal 20 April sebagai Harkonas didasarkan pada tanggal penerbitan Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Mengapa harus ada Hari Konsumen Nasional? Ini adalah bentuk upaya peningkatan kesadaran hak dan kewajiban konsumen dan menjadikan konsumen sebagai subjek aktif yang memerankan perekonomian di Indonesia, khsususnya ekonomi digital. Hari Konsumen Nasional Tahun 2018 ini juga untuk mensosialisasikan upaya pemerintah dalam perlindungan konsumen di Indonesia.

Menurut saya Hari Konsumen Nasional Tahun 2018 ini sebagai upaya perbaikan dari tahun-tahun sebelumnya dengan mempertimbangkan beberapa aspek. Pemanfaatan hak konsumen meningkat, perilaku pengaduan konsumen semakin tinggi, pelaku usaha yang semakin patuh aturan, dan institusi perlindungan konsumen semakin dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Dalam memperingati Hari Konsumen Nasional ini semoga generasi milenial ini bisa menjadi penggerak roda perekonomian Indonesia ke arah yang lebih baik lagi dan perekonomian digital di Indonesia semakin merajai Asia dan dunia.

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis blog yang diselenggarakan Direktorat Pemberdayaan Konsumen – Direktorat Jenderal Standarisasi dan Perlindungan Konsumen, Kementerian Perdagangan dalam memperingati Hari Konsumen Nasional Tahun 2018.

 

Referensi :

1 Laporan WeAreSocial dari 2018 Global Digital Report

2 Transaksi e-commerce 2014-2018 Databoks, Katadata Indonesia

3 Transaksi Ajang Belanja Online Nasional (2012-2017) Databoks, Katadata Indonesia

4 Statistika Pengaduan Konsumen, website SISWAP Kemendag

5 Ekongrafik Konsumen Cerdas Berani Bicara, Kemendag

6 Hak dan Kewajiban Konsumen, harkonas.id

7 Pasal 3 Undang-Undang No 3 Tahun 2014 Tentang Standarissi dan Penilaian Kesesuaian

4 thoughts on “Lima Kiat Generasi Milenial Menjadi Konsumen Cerdas di Era Digital

  • 13/04/2018 at 3:01 PM
    Permalink

    Wahh saya baru tau adanya aplikasi pengaduan konsumen. rancak bana lahh..

    Reply
    • 15/04/2018 at 1:20 PM
      Permalink

      Coba download gan biar enak klo pengaduan ke pelaku usaha..

      Reply
  • 15/04/2018 at 4:15 PM
    Permalink

    Sbg konsumen, kita harus tau hak dan kewajibannya agar tidak terjerat hukum. Bagus tulisannya bg. Semoga bermanfaat.

    Reply
    • 16/04/2018 at 1:00 PM
      Permalink

      Betul mas. kita harus cerdas sebagai konsumen di era digital ini.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: