Koperasi Digital untuk Masyarakat Milenial

Deputi Kelembagaan Kemenkop dan UKM mencatat sampai saat ini dari 62.000 koperasi yang tidak aktif, koperasi yang sudah dibubarkan sebanyak 40.013 koperasi, terdiri 7.237 dibubarkan di tingkat dinas koperasi, dan 32.690 koperasi melalui pusat. Data tersebut diambil dari 152 ribu koperasi yang terdata.

Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya jumlah anggota koperasi dan minimnya ketertarikan generasi milenial untuk bergabung. Generasi milenial adalah mereka yang sekarang pada rentan usia 17-30 tahun. Generasi inilah yang akan menentukan tonggak pereekonomian di masa depan karena merekalah yang menjadi penggeraknya. Jika sekarang koperasi tidak dilirik dan diminati masyarakat milenial maka bagaimana koperasi di masa yang akan datang?

Re-Branding Koperasi Zaman Now adalah solusi cerdas dalam menanggulangi permasalahan koperasi di Indonesia. Kejayaan masa lampau seolah sirna dimakan zaman. Era digital menggeser semua kebutuhan anggota koperasi dan berdampak buruk pada keberlangsungan kaderisasi koperasi.

Berikut adalah konsep Re-Branding yang saya usulkan untuk Koperasi Zaman Now

DIGITALISASI KOPERASI

Perlu disampaikan bahwa penikmat smartphone itu bukan hanya generasi milenial. Orang tua pun sudah menjadi konsumen aktif. Sehingga dalam hal ini konsep awal digitalisasi koperasi bisa mencakup semua kalangan, tak terkecuali orang tua. Digitalisasi koperasi ini artinya menjadikan teknologi digital menjadi pokok utama kegiatan koperasi.

Seperti halnya yang dikutip dari Grand Launching Koperasi Digital pada Januari 2017  dengan mengusung tema “Tetap Mandiri dan Berdaulat di Era Ekonomi Digital Melalui Koperasi” yang didukung oleh APJII (asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia). Bahwa  fokus utama koperasi digital adalah memberdayakan anggota koperasi dengan mengedukasi dan memfasilitasi smartphone dalam tools bertransaksi di koperasi.

Semua kegiatan usaha, jasa, simpanan pokok, simpanan wajib, dan semua unit terpusat pada smartphone. Inilah langkah awal yang tepat untuk membuat Re-Branding Koperasi supaya bisa memenuhi minat generasi milenial.

REGULASI KOPERASI

Suroto, Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis ( AKSES)  mengatakan bahwa perubahan regulasi ini juga akan merombak paradigma masyarakat kalau akan mendirikan koperasi itu semudah mendirikan perseroan, namun tetap menjalankan prinsip koperasi. Hingga akhirnya koperasi dapat berkembang bukan sekadar sebagai figuran seperti sekarang ini namun pemeran utama dalam pembangunan bangsa.

Suroto melihat kemudahan koperasi di luar negeri yang menurutnya sangat mudah dalam mendirikan koperasi. Cukup satu atu dua orang anggota maka koperasi pun terbentuk. Saya sependapat dengan beliau mengingat koperasi zaman now itu tidak perlu memiliki banyak anggota tetapi yang penting aktif terlebih dahulu. Inilah sebagai langkah awal perkembangan koperasi digital.

Tentunya keanggotannya pun harus tetap mengutamakan teknologi smartphone. Bisa dibuat aplikasi atau mungkin registrasi melalui website yang memudahkan calon anggota untuk bergabung.

KOLABORASI KOPERASI

Koperasi tidak bisa berkembang tanpa adanya kolaborasi dengan berbagai elemen. Tidak dapat dipungkiri stigma kuno masih melekat pada koperasi. Koperasi harus menjemput bola untuk bersinergi dengan komunitas-komunitas. Kenapa komunitas? Karena generasi milenial memiliki ciri yang khas, yaitu seringnya membentuk komunitas.

Inilah celah utama bagi koperasi dalam usaha Re-Branding Koperasi. Kolaborasi koperasi dengan komunitas bertujuan mengenalkan kembali koperasi di mata masyarakat, khususnya masyarakat milenial. Sehingga koperasi bisa kembali diminati dan lebih berkembang pada zaman digital ini.

VARIASI KOPERASI

Inilah langkah terakhir dalam Re-Branding Koperasi. Pengenalan kepada generasi milenial jangan sampai membuat mereka kecewa dengan konsep yang ditawarkan. Pengenalan konsep baru harus mulai diperjelas dan membuat daya interest mereka muncul.

DIGICOOP menawarkan pengembangan modal start up, produksi smartphone lokal, peluncuran satelit, dan akuisisi kepemilikan saham-saham asing. Produk koperasi yang bervariasi tersebut bisa menjadi senjata utama dalam mengenalkan koperasi kepada generasi milenial. Sehingga cap kuno koperasi digital perlahan mulai menghilang dengan adanya visi yang matang dan keterlibatan generasi milenial.

Semoga empat langkah Re-Branding Koperasi tersebut bisa menjadi solusi dan digunakan oleh pemerintah dalam menciptakan keadilan dan pemerataan kesejahteraan.

4 thoughts on “Koperasi Digital untuk Masyarakat Milenial

    • 24/06/2018 at 7:20 AM
      Permalink

      Aamiin thanks om sudah setia berkunjung 🙂

      Reply
  • 15/07/2018 at 10:27 PM
    Permalink

    Re-Branding itu produk dari Position dan Re-Position. Jadi, temukan dulu positionnya, lalu bikin Re-Positionnya, baru ktemu Re-Brandingnya. Kalo cuma seperti anjuran diatas itu retorika.

    Reply
    • 16/07/2018 at 11:19 PM
      Permalink

      Thanks bang atas komentarnya. masih belum rebranding

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: