Sebelum mengulas tentang fundraising Indonesia, izinkan saya berbagi pengalaman seputar fundraising yang pernah saya geluti. Ceritanya dimulai ketika masuk bangku kuliah.

Ketika mendapat amanah menjadi Ketua Departemen Pengembangan Masyarakat di sebuah organisasi mahasiswa muslim kampus, saya langsung membuat banyak program kerja (proker) untuk satu tahun kedepan. Berbagai agenda sosial yang berkelanjutan mulai saya masukan ke timeline kegiatan selama satu periode.

Kemudian kami pun melakukan rapat pekanan untuk membahas setiap proker yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Mulai dari membuat struktur organisasi kepanitiaan, perangkat logistik acara, mencari alat dokumentasi, dan yang paling penting adalah membuat proposal.

Kenapa harus membuat proposal? Karena itulah cara kami mendapatkan biaya operasional kegiatan. Setelah menyusun rencana kegiatan dengan baik, maka mencari dana adalah langkah selanjutnya yang harus kami pikirkan. Tidak bisa dipungkiri jika sebuah agenda tidak akan berjalan dengan baik tanpa sebuah dana yang mencukupi.

Kadang jika tidak mendapatkan sponsor, kami harus merogoh kocek sendiri untuk keberlangsungan acara. Patungan sudah menjadi lumrah bagi organisasi sosial kami yang bisa dibilang baru bangkit dari kevakuman.

Beberapa tahun kemudian kami bisa terbantu dengan dana yang dikumpulkan dari alumni. Banyak kakak tingkat yang sudah bekerja dan mau memberikan sumbangannya untuk kegiatan sosial yang kami adakan. Bahkan kas organisasi bisa “terjaga” dengan baik untuk bekal acara selanjutnya.

Namun kami sadar jika terlalu berharap dengan dana alumni itu salah. Meskipun alumni bisa membantu banyak tetapi saya khawatir tentang kemandirian organisasi ke depannya. Maka kami melakukan penggalangan dana ke beberapa instansi dan tokoh masyarakat setempat.

Bagaimana hasilnya? Ternyata tidak mudah, kawan! Butuh effort yang luar biasa dalam menggalang dana. Calon sponsor pun mesti berhati-hati apalagi jika proposal tidak kami persiapkan dengan baik. Niat hati ingin diterima malah bisa jadi dianggap tidak percaya oleh mereka.

Rasa senang seketika hadir ketika ada sponsor yang mau membiayai agenda kami. Meskipun tidak bisa mendanai seluruh dana dan harus mengambil lagi dari kas, tapi setidaknya kami bisa membuat seseorang percaya dengan agenda sosial kami.

Agenda seperti Qurban, Gebyar Ramadhan, Bakti Sosial, Lomba Santri, Pembagian Iqra, Training for Trainer, Aksi Penanggulangan Bencana, dan agenda sosial lainnya. Rentetan agenda itulah yang menjadi pengalaman berharga. Semua ilmu di lapangan yang tidak akan didapatkan di perkuliahan.

Seiring berjalannya waktu, rupanya “dunia fundraising” tidak hilang dari kehidupan saya. Istri, seorang yang bekerja di lembaga zakat, ternyata dekat sekali dengan kegiatan fundraising. Istri yang bekerja di bidang pembuatan proposal tentu sangat berperan dalam keberhasilan fundraising.

Bagaimana membuat proposal menarik, memiliki tata letak yang bagus, warna yang menarik, dan juga tidak boleh dilupakan adalah value dari proposal yang diberikan kepada calon donator.

Setelah mendapatkan dana dari donator, langkah selanjutnya adalah bagaimana setiap rupiah bisa dikonversi menjadi bantuan yang bermanfaat dan tepat sasaran. Kegiatan sosial dan kesehatan menjadi pengalaman saya selanjutnya membersamai istri dalam agenda lapangan.

Ketika Membutuhkan Dana 100 Juta Secepatnya

Pada tanggal 9 April 2017 menjadi awal mula kami, saya dan istri, melakukan penggalangan dana untuk Rizki Mubarak. Seorang anak yang duduk di kelas 2 SD tersebut harus menerima kenyataan bahwa dirinya mengidap penyakit Torticollis.

Penyakit Tortikolis diyakini berkembang ketika kelainan sirkuit dalam sistem saraf memicu proses biokimia yang menghasilkan defisit neurologis. (Medical Disability Advisor, 2019) Kejadian bermula ketika Rizki kecil yang berusia 8 bulan mengeluhkan rasa sakit namun penyakitnya belum dapat didiagnosa oleh dokter di RSUD Indramayu, Jawa Barat.

Nasib Rizki kian tidak terarah setelah mendapati neneknya tutup usia. Akhirnya Ia dibawa bersama ibunya untuk tinggal di Desa Babadan, Indramayu, tidak jauh dari tempat tinggal neneknya. Karena rumahnya yang dekat dengan istri maka terbesitlah ide untuk melakukan penggalangan dana sosial atau social fundraising.

Namun dana yang dibutuhkan sangatlah besar, lebih dari 100 juta rupiah untuk operasi. Istri pun kemudian membuatkan proposal dan foto-foto yang mendukung. Selanjutnya mengirimkannya ke kitabisa.com, salah satu pionir lembaga digital fundraising di Indonesia.

Platform kitabisa.com menjadi ikhtiar kami untuk membantu kesembuhan Rizki dari dana yang dikumpulkan para donator. Tidak disangka sebulan lamanya ternyata dana yang terkumpul lebih dari target, yaitu 122 juta. Angka yang terbilang fantastis karena donasi sebanyak itu bisa terhimpun hanya dalam waktu satu bulan saja dengan lebih dari 700 donatur.

Dari sanalah saya mendapatkan pelajaran penting bahwa fundraising memberikan efek yang luar biasa untuk membantu masyarakat kecil yang membutuhkan uluran tangan. Setiap dana yang terkumpul bisa digunakan dengan baik juga menyasar orang yang membutuhkan.

Selain itu, fundraising juga menjadikan bekal kemandirian sosial. Kenapa? karena dana yang diberikan bisa digunakan untuk kegiatan wirausaha atau membuka lapangan pekerjaan lainnya.

Indonesia Negara Paling Dermawan          

Pesatnya pertumbuhan lembaga sosial di Indonesia tidak lepas dari karakater gotong royong masyarakat Indonesia. Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2018, menyebutkan bahwa Indonesia termasuk negara paling dermawan di dunia. Indonesia memiliki skor untuk membantu orang lain sebesar 46 persen, berdonasi materi 78 persen, dan melakukan kegiatan sukarelawan 53 persen.

Data ini didukung dengan semakin banyak lembaga sosial yang muncul, mereka bisa tumbuh bersama-sama sebab potensi kedermawanan orang Indonesia amat besar. Oleh karena itu, Institut Fundraising Indonesia (IFI) mengapresiasi lembaga-lembaga yang telah berkiprah dalam sosial kemanusiaan di Indonesia dengan menggelar Indonesia Fundraising Award 2020.

Sekilas Tentang IFI

Direktur IFI, Arlina F. Saliman, mengatakan dalam siaran persnya,

“Lembaga-lembaga ini sangat harus diapresiasi keberadaannya karena telah menggerakkan kepercayaan publik untuk terus berbagi terhadap sesama. IFI merasa wajib untuk memberikan penghargaan kepada lembaga sosial kemanusiaan ini,”

Penghargaan yang diberikan semata-mata untuk mendorong lembaga kemanusiaan agar lebih bersemangat dalam melakukan fundraising.

“Karena tujuan fundraising sendiri adalah untuk kemandirian organisasi atau lembaga,” ujar Arlina. “Agar nantinya tercipta kaderisasi SDM,” Direktur sekaligus salah satu dewan juri IFA Award berharap adanya IFA Award untuk membuat kalangan muda lebih tertarik di dunia fundraising sehingga terbentuklah kaderisasi yang baik.

Berbicara dewan juri, Penjurian IFA Award dilakukan oleh Direktur KNKS Ahmad Juwani, Direktur IFI Arlina F.Saliman dan Direktur Eksekutif Forum Zakat (FOZ) Agus Budiyanto. Sebanyak 17 kategori nominasi yang akan dianugerahkan kepada berbagai lembaga. Para pemenang nominasi adalah lembaga-lembaga yang sudah berjibaku dalam kemanusiaan.

Kategori nominasi IFA Award adalah Fundraising Zakat Terbaik, Fundraising Infak Terbaik, Fundraising Kemanusiaan Terbaik, Fundraising CSR Terbaik, Fundraising Digital Terbaik, Platform Fundraising Digital Terbaik, Fundraising Program Kesehatan Terbaik, Fundraising Program Pendidikan Terbaik, Fundraising Program Anti Korupsi Terbaik, Fundraising Program Bantuan Hukum Terbaik, Fundraising Wakaf Produktif Terbaik, Fundraising Komunitas Terbaik, Fundraising Penggalangan Dana Langsung, Fundraising Kurban Terbaik, Program Fundraising Oleh Perguruan Tinggi, Life Achievement Tokoh Pendukung Gerakan Fundraising Indonesia.

Berbagai lembaga masuk di dalam nominasi seperti Aksi Cepat Tanggap, Dompet Dhuafa, LazisNu, PMI, LAZ Harfa, Yatim Mandiri dan lembaga-lembaga besar lainnya.

Pengumuman penghargaan IFA Award 2020 dilakukan secara daring karena pandemi corona (dok. IFI)

Penghargaan IFA 2020 dilakukan secara daring karena masih dalam kondisi pandemi Covid-19. Meski demikian, penghargaan tetap dilakukan secara profesional dengan dewan juri yang mumpuni di bidangnya. Selain nominator, IFA Award mengundang media massa, media online, tokoh, dan puluhan blogger Indonesia.

IFI juga berterima kasih kepada lembaga pendukung gerakan fundraising di Indonesia seperti Pegadaian Syariah, Bamuis BNI,  Yatim Mandiri, Badan Wakaf Alquran, Solo Peduli, Laz Harfa, Nurul Hayat, dan Sekolah Relawan. (Pers Release IFI, 9 Juli 2020)

PEMENANG IFA AWARD 2020

Semua nominasi pemenang adalah lembaga-lembaga yang memang terbukti telah berbuat banyak kepada masyarakat Indonesia. Untuk pemenang kategori Fundraising Zakat Terbaik yakni Dompet Dhuafa misalnya, sudah 27 tahun membentang kebaikan zakat kepada lebih dari 19 juta penerima manfaat.

Di kategori Fundraising Infak Terbaik, Baitul Maal Hidayatullah berhasil mengelola infak melintasi berbagai daerah di Indonesia. Setidaknya 287 pesantren telah eksis dan berkiprah, 5213 dai tersebar di nusantara, ribuan keluarga dhuafa telah terberdayakan dan mandiri, ribuan anak usia sekolah mendapatkan pendidikan yang layak.

Sementara pada kategori Fundrasing Kemanusiaan Terbaik, Aksi Cepat Tanggap berkiprah banyak dalam bencana-bencana alam dan kemanusiaan. Aksi Cepat Tanggap tak hanya aktif dalam bencana kemanusiaan di dalam negeri tapi juga luar negeri.

Human Initiative menjadi pemenang dalam nominasi Fundraising CSR Terbaik. Human Initiative mendapat penghargaan dari BNPB karena dinilai telah berjasa mendukung Pemerintah dalam penanggulangan bencana, 2018. Human Initiative juga semakin dipercaya menyalurkan CSR-CSR dari korporat.

Nominasi Fundraising Digital Terbaik dianugerahkan kepada Baznas yang terdepan dalam inovasi-inovasi digital dalam melakukan kampanye fundraisingnya. Berbagai mitra dirangkul untuk memudahkan masyarakat dalam berdonasi.

Adapun nominasi Platform Fundraising Digital Terbaik dianugerahkan kepada kitabisa.com atas kiprahnya menggabungan pergerakan sosial dengan kekuatan teknologi digital. Penggalangan dana yang biasanya menjadi masalah utama di berbagai pergerakan kini semakin dimudahkan.

Palang Merah Indonesia mendapatkan penghargaan Fundraising Program Kesehatan Terbaik. PMI dinilai sangat tepat mendapatkan nominasi ini karena kiprahnya dalam bidang kesehatan baik sebelum masa pandemi, terlebih saat pandemi seperti ini. Adapun Fundraising Program Pendidikan Terbaik dianugerahkan kepada Yatim Mandiri dengan program sekolah unggulannya.

Kategori Fundraising Program Anti Korupsi Terbaik diraih  ICW yang memberdayakan masyarakat untuk terlibat/berpartisipasi aktif melakukan perlawanan terhadap praktik korupsi. LBH Jakarta mendapat anugerah Fundraising Program Bantuan Hukum Terbaik karena berjasa mendampingi, memberi bantuan hukum kepada masyarakat.

Berbagai kiprah juga dilakukan Sinergi Foundation yang mendapatkan anugerah Fundraising Wakaf Produktif Terbaik. Sementara kategori Fundraising Penggalangan Dana Langsung diraih LMI dan Fundraising Kurban Terbaik, dianugerahkan kepada LAZISNU.

Tak hanya untuk lembaga, IFA juga memberi penghargaan kepada komunitas yang telah bahu membahu membantu sesama. Fundraising Komunitas Terbaik diraih oleh Gerak Bareng yang fokus dengan berbagai galang dana di komunitasnya. Selain itu, terdapat pemenang dari jalur pendidikan dengan kategori Program Fundraising Oleh Perguruan Tinggi diraih oleh STF UIN. 

Tak hanya itu, terdapat kategori  special Tokoh Pendukung Gerakan Fundraising di Indonesia kepada Alharhum Gus Sholah. Gus Sholah sangat peduli dalam bidang sosial kemanusiaan. Karena aktif di pesantren, beliau paham bahwa fundraising merupakan salah satu poin utama kemandirian organisasi.

Penutup

Itulah rangkaian acara penghargaan yang bertajuk IFA Award 2020 yang digagas oleh Institut Fundraising Indonesia. Penghargaan bukanlah sebuah capaian akhir. Penghargaan ini justru menjadi pelecut semangat dalam mendorong lembaga sosial kemanusiaan untuk mengelola lembaganya secara profesional dan transparan.

Direktur IFI mengungkapkan bahwa kemajuan lembaga zakat dapat membuat publik percaya pada setiap program yang dikampanyekan. Sebuah apresiasi atas dedikasi tinggi patut diberikan kepada lembaga yang kerja ekstra untuk kemanusiaan. Tidak berlebihan rasanya jika ada harapan tinggi di pundak lembaga zakat untuk kesejahteran masyarakat Indonesia lebih baik lagi.

Terima kasih

“Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog IFI 2020 dalam rangka menyambut Indonesia Fundraising Award 2020”

Referensi :

Rilis Media Institut Fundraising Indonesia tentang IFA Award, 9 Juli 2020

Pengalaman pribadi penulis tentang dunia fundraising

Indonesia negara paling dermawan, sumber : katadata.co.id

Sekilas tentang IFI, sumber : fundraisingindonesia.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *