Listening Skills Seorang Ayah

Gerakan Ayah Mengasuh

Kali ini saya akan mengulas materi kuliah online dari Gerakan Ayah Mengasuh Chapter Bekasi dengan tema Listening Skills. Kenapa saya ulas? Pertama karena saya suka menulis. Kedua karena materi yang disampaikan via voice note. Jadi selama saya kuliah online hari kamis malam kemarin full mendengarkan. Karena saya sebagai moderator maka saya wajib mendengarkan dan juga memahami isi materi. Salah satu cara saya memahami materi adalah dengan mencatat poin-poin pentingnya.

Jadi ulasan yang saya buat ini adalah poin-poin penting yang disampaikan Pak Ulum A Saif (Inisiator Gerakan Ayah mengasuh) ketika kuliah online. Adapun kata-kata yang tidak tertuang dalam ulasan ini semoga tidak mengurangi tujuan penyampain materi. Dan juga jika ada kata-kata yang saya tambahkan InsyaAllah masih dalam area bahasan materi Listening Skills.

Prolog

Materi diawali dengan perkenalan dari Pak Ulum sebagai Inisiator Gerakan Ayah Mengasuh yang berpusat di Bandung. Beliau mempelajari ilmu komunikasi dari gurunya yang bernama Pak Hari Firmansyah. Menikah di awal tahun 2016 dan dikaruniai seorang satu orang putra. Materi yang akan disampaikan mengenai Listening Skill atau bagaimana cara berkomunikasi yang baik seorang ayah kepada seorang anaknya.

Ada sebuah teori yang menyebutkan bahwa Semakin dekat hubungan antara daua orang maka semakin susah mempraktikkan ilmu komunikasi yang dipelajari. Ketika seorang teman yang baru kenal kemudian kita dimintai nasihat maka kita senantiasa memberinya wejangan yang bijak. Namun realitanya ketika teman tersebut sudah lama kenal, main bareng, pergi bareng, belajar bareng, dan semakin intens maka kebijakan omongan kita seolah hilang. Kenapa? Karena sudah tahu jeleknya kita lalu kemudian ada candaan yang seolah menghilangkan sifat bijak di pandangan teman kita.

Begitu juga dengan pasangan kita. Ketika emosi memuncak maka ilmu-ilmu komunikasi efektif kepada pasangan kita seolah sirna. Bisa jadi karena kita tidak bisa mengontrol emosi, pengaruh sifat asli pasangan yang sudah diketahui, atau juga kurangnya berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena bagaimana pun ilmu yang dipelajari tetapi ketika fondasi kita kepada Allah tidak kuat maka yang ada hanyalah ilmu yang mubazir atau tidak diaplikasikan.

Dalam berkeluarga, perlu adanya komunikasinya baik. Tidak lain tujuan dari komunikasi yang baik adalah terjalinnya keluarga yang harmonis sehingga bisa menghindarkan kita dari konflik dan membawa kita ke surganya. Karena sejatinya keluarga adalah amanah dan kepala keluargalah yang memegang amanah itu. Semoga kita termasuk tergolong ayah yang amanah yang menghindarkan keluarga kita dari api neraka.

Materi Komunikasi

Ilmu tentang komunikasi seorang ayah yaitu ilmu yang mempelajari bagaimana berbicara yang baik dengan anak. Dampak negative dari ketidaktahuan ilmu ini adalah ayah akan berbicara seenaknya, asal-asalan, bahkan berbicara yang dapat mematikan psikologis anak dengan cacian yang dilontarkan.

Materi Komunikasi ini dibagi menjadi 3 yaitu :

  1. Penyampai Pesan
  2. Isi Pesan
  3. Penerima Pesan

Penyampai Pesan

Dari ketiga komunikasi itu memberikan pengaruhnya masing-masing. Kita awali dengan komunikasi pertama, yaitu penyampai pesan. Penyampaian pesan dibagi menjadi dua, yaitu penyampaian verbal dan non verbal. Contohnya : Ketika ayah berbicara DIAM, “DIAM” adalah penyampaian verbal Namun ketika si ayah mengucapkan kata DIAM dengan dibarengi mimik wajah yang marah maka itulah yang disebut penyampaian non verbal.

Sehingga penyampain verbal diartikan kata yang diucapkan seseorang kepada orang lain. Sedangkan penyampaian non verbal diartikan sesuatu yang membarengi penyampaian verbal tersebut, bisa beruba mimik wajah, bahasa tubuh, atau intonasi suara si penyampai pesan.

Sebuah penelitian menunjukkan besaran pengaruh non verbal lebih besar daripada verbal, yaitu 93%. Berarti penyampaian pesan verbal hanya mempengaruhi sebesar 7% kepada isi pesan. Ketika kata-kata yang disampaikan bermakna positif tetapi dibarengi dengan bahasa non verbal yang buruk maka buruk pula pengaruhnya. Seperti kita mengucapkan “Terima Kasih” tetapi wajah kita cemberut dan nada yang tidak mengenakkan maka isi pesan yang bermakna positif tersebut pun menjadi buruk pengaruhnya. Namun bukan berarti ketika kita menggunakan kata-kata negatif tidak memberikan pengaruh apa-apa, tetap saja kata-kata negatif akan bermakna negatif jika diucapkan.

Ketika anak baru berceloteh justru anak menangkap dari bahasa tubuh kita. Sehingga harus diperhatikan baik-baik bagaimana cara berkomunikasi kita dengan anak. Jangan sampai kita berbicara tetapi wajah kita menghadap ke yang laptop atau gadget. Itu tidak akan menyampaikan pesan verbal yang kita ucapkan kepada anak. Maka ketika ngobrol dengan anak adalah fokuslah berbicara dan jangan terbagi dengan yang lain.

Isi Pesan

Setiap kata mempunyai pengaruh. Begitu pun tentang berbicara kepada anak. Setiap kalimat yang kita ucapkan akan mempunyai makna tersendiri. Sebagai seorang ayah maka kita harus berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu kepada anak. Jangan gunakan kata-kata yang membuat anak-anak menjadi sedih, gelisah, marah, dan down. Pilihlah kata-kata yang positif namun bukan berarti selalu memujinya.

Memuji anak ada adabnya. Gimana cara memujinya? Ada di channel youtube Gerakan Ayah Mengasuh. Memuji dengan salah bakal menjadikannya pribadi yang pongah.

Penerima Pesan

Adapun pengaruh yang muncul dari penerima pesan terbagi menjadi tiga level.

Personal Listening : Dia mendengarkan seseorang tetapi hakikatnya dia tidak mendengarkannya. Justru ketika seseorang curhat atau ngobrol maka yang muncul dalam benaknya adalah berbicara kepada diri sendiri yang kemudian menduga-duga atau berpersepsi sendiri. Yang mendengarkan biasanya muncul masalah komunikasi. Jika ayah dalam posisi ini maka listening skillsnya harus di upgrade.

Focus Listening : Fokus apa yang dibicarakan dan betul-betul mendengarkan. Posisi kedua ini dibutuhkan keinginan untuk ingage atau menyatu dengan si penyampai pesan. Dia mau mendengarkan dan tidak ada keinginan untuk menolak. Nah, minimal kita ada di posisi ini. Posisi yang menduga-duga biasanya menimbulkan masalah maka dari kuliah online ini kita sama-sama mengupgrade diri.

Global Listening : Fokus mendengarkan kepada beberapa hal. Fokus terhadap Do, Fokus terhadap Say, dan memerhatikan bahasa tubuh, mimik, sampai kepada intonasinya. Pada level ini, si pendengar menduga-duga terhadap isi pesan tetapi menduga-duganya pun berdasarkan data dari apa yang dia punya. Kalau kita sudah pada level ini maka kita mempunyai Listening Skills yang bagus.

Fenomena sekarang ketika peran ayah menjadi kurang dalam keluarga maka jangan heran anak mencari orang lain untuk menggantikan perannya. Apalagi sekarang sudah zaman digital maka pelampiasannya macam tik tok dan aplikasi-aplikasi yang tidak bermanfaat. Bisa jadi kita menganggapnya konyol, tidak berfaedah, dan tidak mendidik tetapi buat mereka yang kehilangan sosok ayah maka aplikasi tersebut sangat berguna. Maka mari kita jaga anak kita selalu dekat dengan ayah sehingga bisa terhindar dari dampak negatif era digital ini.

Sekian ulasan dari saya tentang kuliah online Gerakan Ayah Mengasuh Bekasi “Listening Skills”. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: