Indonesia sedang mengalami déjà vu. Tidak ada yang bisa memprediksi ujung dari wabah ini. Terlebih lagi virus corona sudah mulai menggila dengan varian delta. Kasus positif semakin meningkat dan korban berjatuhan mencapai rekornya.

Menurut catatan Worldometer, Indonesia menempati posisi ketiga terbesar dalam jumlah kasus baru corona setelah Brasil dan India. Pada tanggal 7 Juli 2021 Indonesia membuat rekor harian positif sebanyak 34.379 kasus dan terus menyentuh angka 40 ribu. Selang sebulan berikutnya, saat artikel ini ditulis, pemerintah melaporkan kasus covid 19 sebanyak 31.753 di tanggal 7 Agustus 2021.

Angka ini menunjukkan sebuah peringatan bahwa virus corona masih bergerilya di tanah air. Mereka siap menyerang bagi siapa saja yang tidak memiliki pertahanan yang baik. Bak sepakbola, jika suatu klub tidak memiliki penjaga gawang maka akan mudah kebobolan. Begitupun tubuh, jika tidak memiliki kesehatan yang mumpuni maka virus siap menjebol kesehatan kita.

“Ya Allah. Semoga cepat sembuh ya. Kayaknya sakit banget ya.”

ucapku mengomentari status whatsapp teman kerja yang sedang dirawat karena covid.

“Sesek banget, Mas. Nafas ketahan-tahan gitu. Pengen cepet pulang.”

jawabnya.

“Semoga Allah menyembuhkan ya, Mas. Bisa kumpul bareng keluarga.”

ujarku sambil merasa iba melihat tangannya diinfus dengan tabung oksigen di sampingnya.

“Kalau gak keluar pakai kursi roda dari ruang ICU ini, ya pakai peti mayat.”

pungkasnya.

Kengerian covid ini menjadi pelajaran buat kita untuk selalu hati-hati. Bukan menyepelekan apalagi menyebarkan berita bohong -seperti konspirasi- sehingga membuat masyarakat abai dan tidak taat prokes. Ujung-ujungnya kasusnya tetap banyak dan wabah pun tidak menemui titik akhir.

Seabad silam pun dunia pernah mengalami wabah yang hampir serupa. Tahun 1918 hingga 1921, wabah influenza yang dikenal nama flu spanyol mulai meresahkan masyarakat dunia. Virus yang berasal dari kota Madrid ini menyebar tak terbendung ke seluruh penjuru negeri. Penyebaran yang tidak terkendali, penularan yang sangat cepat, dan korban meninggal pun semakin banyak.

Kala itu kondisi fasilitas kesehatan sulit menampung pasien. Pun juga tenaga kesehatan yang kewalahan dengan korban yang membludak. Belum usai wabah, mereka harus menghadapi kesenjangan sosial mengenai perawatan kesehatan. Ingat! Ini wabah flu spanyol, bukan flu wuhan! Tapi kok kondisinya sama?

Saya tidak bisa mengatakan ini adalah siklus pandemi yang akan berulang. Tetapi jika ini memang siklus yang harus dihadapi maka sejatinya kita harus belajar dari flu spanyol untuk segera bangkit menatap masa depan Indonesia yang lebih merdeka. Merdeka dari wabah dan merdeka dari ekonomi!

Kenapa ekonomi dikaitkan dengan wabah? Tentu jelas berhubungan dong! Tidak dipungkiri jika roda ekonomi banyak yang berhenti. Banyak orang kehilangan pekerjaan, tabungan hari tua diambil demi menghidupi hari ini, dan pertumbuhan ekonomi nasional pun kena dampak akumulatifnya.

Dejavu pandemi ini membuat IMF memperkirakan dunia akan mengalami pertumbuhan ekonomi  yang minus sampai 3 persen akibat covid 19. Wabah ini menjadi takdir yang tidak bisa kita hindari. Ia sebagai sinyal bahwa suatu negara harus segera bangkit, termasuk Indonesia. Perjuangan meredam pandemi menuju Indonesia yang bangkit perlu kerja sama dengan masyarakat. Masyarakat yang tangguh akan menumbuhkan optimisme untuk bangkit dari keterpurukan akibat pandemi.

Sedikitnya ada  empat pilar kesehatan masyarakat yang bisa kita renungi dan pelajari supaya masyarakat kita menjadi kuat dan tumbuh.

Kesehatan Fisik

Bisa dibilang kalau masa pandemi ini “gak boleh sakit”. Kenapa? karena kalau kita sakit sedikit berarti imun kita sedang tidak baik-baik saja. Jika imun kita turun maka cenderung virus corona lebih mudah menyerang. Jadi gak salah jika zaman sekarang istilah “gak boleh sakit” ini diperhatikan.

Kesehatan fisik sangat membantu untuk terhindar dari penyakit, khususnya covid 19. Untuk itulah kita perlu menjaga tubuh dengan berolahraga supaya senantiasa fit. Kesehatan fisik menjadi salah satu modal utama dalam melawan virus yang semakin mengganas.

Kesehatan Mental

Selain fisik, kesehatan mental perlu dijaga. Overthinking, panik, dan terlalu khawatir adalah serba-serbi pikiran yang mengganggu mental seseorang. Ini bisa berdampak dengan kualitas jiwa seseorang.

Lalu pertanyaannya adalah bagaimana membuat mental kita tetap sehat? Saya mulai mencari cara suapaya kita tetap sehat pikiran. Salah satunya adalah memperbaiki kegiatan gawai sehari-hari. Kenapa gawai? Karena di masa pandemi, mulai dari PSBB sampai PPKM Level 4, gawai adalah sahabat setia menemani.

Gawai bisa membuat pikiran kita “dihasut” dengan berita bohong perkara covid dan vaksin. Gawai pun sangat mungkin membuat masyarakat menjadi abai prokes disebabkan berita hoax tersebut. Jika kita pandai mengatur gawai maka bukan tidak mungkin pikiran kita pun menjadi tenang.

Mulailah memfilter informasi-informasi dari media sosial. Lalu merujuklah ke berita-berita yang sudah jelas kebenarannya. Sesekali melirik dunia hiburan di media sosial. Entah itu hobi baru seperti memasak, membaca, atau mungkin menulis blog seperti yang saya lakukan ini.

Bijak bermedia sosial mungkin salah satu solusi menenangkan pikiran dan menyehatkan mental di situasi pandemi.

Kesehatan Spiritual

Sebagai manusia beragama, masyarakat Indonesia jangan lepas untuk meningkatkan kesehatan spiritual. Beribadah dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa adalah cara lain untuk menjaga diri kita terhindar dari virus corona. Pasalnya, kita tidak bisa melihat makhluk kecil itu. Kita hanya berikhtiar supaya tetap diberikan kesehatan dan dijauhkan dari wabah.

Yang pastinya aspek spiritual ini berkelindan dengan mental seseorang. Ia bisa terjaga mentalnya dengan menjaga hubungannya dengan Sang Pencipta. Sebagai seorang muslim, saya mungkin sering berdoa supaya keluarga selalu diberikan perlindungan dan negeri tercinta Indonesia segera lepas dari wabah ini.

Kesehatan Ekonomi

Kesehatan masyarakat dan kesehatan ekonomi layaknya dua sisi mata uang. Kita tidak bisa memilih salah satu karena sejatinya keduanya sangat bernilai. Dampak pandemi benar-benar membuat ekonomi menjadi “sakit”. PHK di mana – mana, penghasilan pedagang kecil menurun, kesulitan mencari pekerjaan, dan dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Lalu bagaimana solusinya? Jika berbicara penanganan masalah dunia UMKM, pemerintah berupaya memberikan yang “pro umkm”. Salah satunya adalah pemerintah menanggung PPh final 0,5 persen bagi pelaku UMKM untuk masa pajak April hingga September 2020.

Merdeka dari Pandemi

Membangun masyarakat tangguh di tengah pandemi ini butuh kerja sama semua pihak. Masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan semua elemen lainnya bergotong-royong untuk membentuk masyarakat yang sehat secara fisik, mental, spiritual, dan ekonomi.

Tidak akan terwujud masyarakat yang tangguh jika masih mementingkan diri sendiri. Bangkit dari pandemi butuh optimisme juga kesolidan semua pihak.

Kesampingkan suku, agama, budaya, dan sekat pemisah kita. Cukup menjadi warga Indonesia yang bersatu dalam merahnya darah dan putihnya tulang ini sebagai pemersatu kebangkitan bangsa kita tercinta, Indonesia.

MERDEKA!

PS : Tulisan dan olah grafis dibuat Ferry Aldina. Semoga artikel ini bermanfaat untuk semua pembaca

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Pembuatan Konten Media Sosial dalam rangka Memperingati HUT RI ke-76 dengan tema Merdeka dari Pandemi: Bersatu dalam Keberagaman untuk Indonesia Bangkit yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika DIY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *