73 views

Bermula dari Pempek hingga Bermimpi ke Baitullah

Masih teringat jelas rekam jejak memoriku sewaktu kecil. Setelah sholat maghrib aku biasanya mengaji bersama ibu. Huruf demi huruf dengan telaten diajarkan kepadaku. Iqro satu sampai Iqro enam pun bisa cepat khatam. Sampai pada akhirnya aku bisa membaca Al Quran dengan cepat dibanding teman-teman di sekolah.

Setelah selesai melaksanakan sholat Isya, aku melanjutkan untuk belajar mata pelajaran sekolah. Ibuku selalu mengingatkan untuk membaca dan memahami pelajaran untuk besok hari supaya aku bisa lebih faham apa yang diajarkan guru di sekolah. Alhamdulillah berkat nasihatnya itu, nilai-nilai ulanganku menjadi baik bahkan bisa terbaik di sekolah.

Menjadi Pedagang Pempek

Ibu lagi beres-beres dagangan Pempek (dok. Pribadi)

Ketika beranjak SMA, situasi keuangan yang berat membuat ibuku harus bekerja. Bersama bapak, ibu menjajakkan makanan khas Palembang yaitu Pempek. Ibu berjualan di salah satu pesantren dekat rumah. Sedangkan bapak berdagang di SMP yang jaraknya 2 km dari  rumah.

“Awalnya sih memang malu tetapi ya harus dipaksakan supaya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menyekolahkan anak.” kata ibu.

Aku menyadari kondisi keluarga ketika aku masuk SMA dan berbarengan dengan adikku yang masuk pesantren. Biaya yang tidak sedikit harus dikeluarkan apalagi untuk keluarga sederhana seperti kami.

Kini rutinitasnya berubah. Setelah menemaniku belajar, ibu melanjutkan membantu bapak membuat adonan pempek. Biasanya selesai membuatnya pukul 2 dini hari. Semua dilakukannya hampir setiap hari.

Apalagi kami sekolah di sekolah favorit di kota yang notabene membutuhkan biaya besar. Belum lagi harus menanggung hidup saudara kami yang disabilitas yang bersekolah di SLB dekat ibu berjualan.

“ngapain sekolah jauh-jauh mending di kampung aja yang murah.”

Cibiran dari sana sini pun tidak terhindarkan dan sampai juga di telinga ibu. Tapi semua itu tidak didengarnya. Selama anaknya bisa berprestasi, ibu rela bekerja sampai dini hari.

Menjadi Sahabat untuk Sesama

Tempat ibu berjualan sekaligus tempat taklim bersama ibu-ibu pengajian muhammadiyah (dok. Pribadi)

Sungguh tak terbayang bagaimana capeknya. Aku sendiri mungkin tidak kuat jika harus menjalankan peran seperti itu. Mengurus anak, memasak, berjualan, pergi taklim, dan banyak lagi aktivitasnya.

Santun, ramah, dan bersahaja kepada tetangga ataupun ibu-ibu pengajian adalah ciri khasnya. Biasanya orang-orang memanggil ibuku dengan sebutan “Uwa” di lingkungan tempat kami tinggal. Mungkin itulah salah satu alasan ibuku akrab dengan tetangga sekitar.

Hadiah Terindah untuk Mamah

Sebagai anak, aku sangat ingin membahagiakan ibu, Sang Pahlawan dalam Hidupku. Aku ingin sekali membalas jasanya meskipun aku sadar tidak akan bisa membalas semua pengorbanannya.

Hingga pada suatu waktu aku bertanya,

“Mah, pengen ke Makkah?” tanyaku

“Iya atuh, tiap muslim pengen kesana. Mimpi setiap muslim bisa berkunjung ke Makkah.” jawabnya

Aku ingin sekali membahagiakannya. Memberangkatkan umroh adalah mimpiku yang tertulis dalam dinding kamar kos sewaktu kuliah. Aku pun berikhtiar dengan tulisan ini untuk mewujudkan mimpiku.

Melalui Program #BerlipatnyaBerkah dari Allianz Syariah yang merupakan produk Asuransi Syariah dari Allianz. Semoga bisa menjadi jalan untuk mewujudkan mimpi terbesar ibuku untuk pergi umroh. Semoga Allah bisa memudahkan untuk bisa memberangkatkan ibu untuk umroh.

Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *