Setelah dua tahun menjadi seorang karyawan pabrik, saya mencari tantangan baru yaitu mengikuti berbagai kompetisi di internet. Mulai dari writing competition, blog competition sampai selling competition. Sebenarnya bisa ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar : Lomba Menulis, Lomba Blog, Lomba Jualan. Something weird?

Mungkin pihak penyelenggara ingin membuat keren sehingga Lomba Jualan diubah menjadi Selling Competition. Tapi sejenak lupakan tentang judul. Justru dari Selling Competition, saya belajar banyak. Mulai dari mengaktifkan jiwa berdagang yang sempat pupus. Sampai mencari penghasilan tambahan selain dari bekerja di pabrik.

Singkat cerita saya mencoba bergabung dan mendaftarkan diri sebagai peserta selling competition. Sederhana sih, saya buat akun di tokonya, diberikan tools marketing, dan lanjut jualan deh!

Memang jualan apa? Jualan buku motivasi untuk anak muda. Penulisnya menawarkan kisah-kisah hikmah dibalut dengan motivasi untuk berani bermimpi dan berprestasi selagi masih muda.

Jika teman-teman pernah mendengar dr. Gamal Albinsaid dengan bukunya Muda Mendunia, maka kalian akan berkenalan dengan saya. Siapa saya? Ya, reseller bukunya. Hehe

Sejujurnya ini merupakan pengalaman saya perkara berjualan di internet. Biasanya saya nulis, nulis, dan ikut lomba. Tapi dari pengalaman itu, saya belajar bagaimana mulai berdagang di dunia maya dan meraup untung dari jualan online.

Langkah selanjutnya setelah mendaftar selling competition adalah ya berjualan dong pastinya. Setiap hari saya coba posting kutipan-kutipan penulis yang sudah dalam bentuk desain instagram post. Setelah ditambah caption yang menarik, saya mulai posting di instagram.

Interaksi dengan teman-teman mulai terbangun tapi ya beragam juga responnya.

Saya senang bercerita makanya terkadang panjang jika ingin posting di media sosial. Mungkin sesekali pendek jika untuk bercanda tapi kalau ada “niat keukeuh” maka saya coba buat caption panjang tapi ujung-ujungnya jualan. Nah, inilah yang disebut soft selling. Hah, Jualan lembut?

Senang sekali bisa berbagi cerita di media sosial dan blog. Lebih senang lagi jika ada yang memberi komentar. Rasanya puas banget! Apalagi terinspirasi dari tulisan saya.

Lanjut ceritanya ya! Notifikasi whatsapp mulai berbunyi. DM Instagram pun tidak luput dari incaran calon pembeli. Satu per satu pesan pun saya balas dengan ramah dan tidak lupa emoticon di akhir kalimat setelah tanda titik.

Selain mendapat penghasilan tambahan dari berjualan buku, saya pun mendapat teman baru dari konsumen-konsumen. Memang konsumen itu unik-unik tapi saya suka.

Ada yang baru check out tapi ingin segera dikirim. Kan ini udah jam sepuluh malam, mbak.

Ada yang baru pesan tapi sedetik kemudian minta resi. Waduh mbak, aku belum buat invoice.

Ada yang nanya ongkos kirim tapi belum ngasih alamat. Aku kasih alamat ke surga gitu, Mas?

Macam-macam karakter konsumen. Disitulah saya senang berkomunikasi dengan netizen. Jika mendaki bisa mengetahui karakter seseorang, maka dengan melakukan jual beli pun kita bisa tahu sifatnya, sabar, dan tingkahnya. Serius deh!

Selama hampir sebulan saya ikut kompetisinya dan akhir bulan pun komisi yang ditunggu-tunggu itu pun datang. Berapa penghasilannya? Alhamdulillah dapat 1,5 juta dari berjualan buku. Total sekitar 150 buku berhasil saya jual. Hanya bermodal promosi di instagram, caption, tagar, dan interaksi yang mengikat bisa membuat netizen terpikat.

By the way, penghasilan saya dari berjualan buku itu besar atau kecil? Bisa jadi kecil dari segi nominal. Tapi bagi saya itu besar dari ukuran pengalaman.

Dari sanalah saya mendapat insight untuk membuat bisnis online sendiri. Memangnya buka bisnis apa? Karena saya menyukai dunia menulis maka bisnis pertama yang saya buat adalah membuat buku.

Buku pertamaku yang dijadikan bisnis pertamaku. (dok. pribadi)

Sekilas info. Buku yang saya buat bukan hanya berisi tulisan-tulisan dari saya tapi ditambah tentang planning atau rencana yang akan dilakukan ketika Ramadhan. Oleh karena itu, saya membuat buku yang berjudul Ramadhan Planner!

Ketika membuat Ramadhan Planner ini rasanya lega. Kenapa? karena milik sendiri, produk hasil karya sendiri, dan rasanya tuh puas banget. Tapi bukan berarti semau gue. Justru disinilah saya belajar untuk profesional.

Alhamdulillah dari segi penghasilan lebih baik daripada menjadi reseller. Tapi jauh dari itu, ini bukan tentang penghasilan tetapi tentang pengembangan diri dengan berani membuat #LangkahBaru dengan membuat bisnis jadi #OnlineinAja.

Ada beberapa saran dari saya untuk memulai bisnis lewat internet

1. Belajar jadi Reseller

Mula-mula menjualkan produk orang lain dan melakukan interaksi dengan pembeli. Mungkin saya bisa katakan reseller ini merupakan salah satu ujung tombak pemasaran. Ia langsung berhadapan dengan calon konsumen dan memastikan closingannya berhasil.

Pengalaman tawar-menawar yang sadis, berusaha sabar ketika calon konsumen jutek, kadang senyum dan tertawa melihat tingkah unik para konsumen. Dengan belajar menjadi reseller maka ketika sudah menjadi pemilik usaha atau business owner maka tahu bagaimana kondisi di lapangan.

Reseller pun bisa mempelajari sistem-sistem yang digunakan oleh produsen. Entah itu sistem pengaturan diskon, pengiriman produk, pemberian reward, dan ilmu lainnya yang hanya bisa didapat ketika menjadi reseller.

2. Mencari Peluang Setiap Saat

Setahun lalu saya berpikir buku Ramadhan Planner belum ada di Indonesia. Harapannya, buku ini bisa launching dan menjadi Ramadhan Planner pertama di Indonesia. Kemudian saya mulai menyusun outline, mengumpulkan beberapa referensi, dan menyusun naskah.

Alhamdulillah sekitar 3.500 eksemplar berhasil terjual ke pasaran. Bagi saya ini adalah rejeki yang tidak disangka-sangka. Jika kita memanfaatkan peluang dan dibarengi dengan ikhtiar plus doa maka jalan sukses pun akan terlihat.

Mencari peluang dan langsung aksi dan tidak peduli apa yang orang katakan. Selama kita fokus dan terus menjalankan bisnis sepenuh hati maka akan indah pada waktunya.

3. Market Place atau Toko Online

Awalnya saya bingung mana yang terbaik antara menggunakan market place atau membuat toko online. Simpelnya sih menurut saya ya tidak usah bingung. Nyatanya, kedua-duanya mempunyai kelebihan masing-masing.

Saat produk saya berada di market place maka saya tidak usah atur-atur desain websitenya, tinggal upload produk dan berikan penjelasan. Semuanya selesai dan jadilah produk kalian terpampang di etalase market place. Hehe

Saya pun memasang produk di market place. Ya, namanya juga ikhtiar dimanapun bisa dicoba. Mungkin kali aja rejekinya ada di sana.

Selain itu juga saya membuat toko online sendiri. Enaknya buat toko online sendiri, kita bebas mengatur bagaimana tata letak website sesuai dengan selera kita. Bisa juga membuat landing page sebelumya. Fitur transfer pun langsung ke kita sebagai pemilik toko online.

Namun yang saya rasakan adalah ketika sudah punya toko online maka kredibilitas sebagai pemilik produk lebih terjaga. Kepercayaan dari calon konsumen pun terasa.

4. Hati-hati sebelum membuat toko online

Buat teman-teman yang mau bisninya berkembang, saran saya sih mending #OnlineinAja. Seperti yang tadi saya sebutkan, tapi hati-hati ya guys kalau membuat toko online. Kenapa? Kalau buat awalan memang harus disesuaikan dengan budget.

Kalau saya sih merekomendasikan cari hosting murah tapi tetap berkualitas. Memang ada hosting Indonesia yang murah dan berkualitas?

Coba tengok qwords sebentar. Disana kalian bakal menemukan segudang promo. Belum lagi paket hosting dan domian yang terjangkau untuk ukuran bisnis di tahap awal.

Memangnya kenapa qwords? Murah berkualitas bro! Aksesnya cepat, jaminan keamanan, panduan manual lengkap, dan di bawah inilah beberapa alasan kenapa qwords sangat layak untuk dipilih dalam memulai bisnis online. (sumber : qwords.com)

WHY QWORDS?

Sudah siap sukses di dunia internet? Itulah kisah saya tentang dunia reseller dan jualan online. Masih banyak cara sukses di internet selama kita yakin dan berani belajar dari nol.

Semoga bermanfaat.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Qwords ” Langkah Baru untuk Sukses Lewat Internet”

2 thoughts on “Berani Menjadi Reseller Sebelum Menjadi Business Owner

  1. Wow, aku baru ngeh ada yg namanya selling competition om. Mantabbbb lumayan juga 1.5juta tuh. Bener2 harus bs memaksimalkan medsos ya om. Smg kesuksesan senantiasa menghampiri kita semua. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *