Belajar dari China

Saya masih berpikir sampai sekarang bagaimana China bisa berprestasi di Olimpiade Rio De Janeiro 2016. Peringkat tiga yang didapatnya ketika di Brazil membuat saya mencari tahu alasan bagaimana China bisa mewakili negara Asia yang selalu menempati sepuluh besar negara yang berprestasi di bidang olahraga.

Ketika berbicara Asian Games 2018 maka saya memprediksi kedigdayaan China masih akan mendominasi dalam perhelatan akbar se-Asia itu. Bukan berarti saya tidak optimis terhadap Indonesia tetapi negara kita harus belajar bagaimana negara China sampai menjadi negara yang superior.

Berkaca pada sejarah Asian Games, Selama 31 tahun atau delapan kali gelarannya sampai tahun 1951 Jepang merupakan negara nomor satu dalam hal perolehan medali. Namun kejayaan Jepang sirna ketika sinar Negeri Tirai Bambu mulai terang benderang. Alhasil pada Asian Games 1982 di New Delhi, China menjadi juara umum.

Padahal sebelumnya China belum bisa berbicara banyak dalam sektor olahraga. Faktor ekonomi dan politik yang panas membuat China tidak dianggap apa-apa. Sehingga ketika China mendominasi dengan 153 medali di India 1982 adalah sebuah prestasi yang sangat membanggakan.

Ada dua hal yang patut kita pelajari bagaimana China bisa jaya di Asia dan dunia.

Pertama adalah Pembinaan Atlet Usia Dini.

Seperti Lin Dan, Chen Long, dan para atlet lainnya bukanlah hasil yang instan dalam berprestasi. Bukan hanya bakat tetapi pembinaan yang tepat untuk mencetak generasi unggul di bidangnya. Makanya di China banyak sekali sekolah olahraga.

Sekolah Olahraga ala China memiliki kurikulum dan latihan yang keras. Dituturkan dalam sport detik, cara belajar calon atlet China yang keras diakui oleh para atlet China yang sudah banyak menorehkan prestasi. Usia 5-10 tahun adalah usia emas bagi anak-anak di China dalam memupuk bakat olahraga yang dimiliki.

Kedua adalah Dana yang Besar dari Pemerintah

Untuk urusan olahraga, Pemerintah China tidak tanggung-tanggung dalam hal memberikan suntikan dana. Sarana dan prasarana ditingkatkan, pembinaan diperkuat, dan pendanaan yang besar membuat China bisa digdaya seperti sekarang ini.

Pada tahun 2004 saja anggaran tahunan untuk olahraga China sebesar 5 milyar Yuan atau sekitar US$ 785 juta. Dana yang fantastis untuk anggaran belanja pemerintah. Namun hasil tidak pernah menyalahi proses. Buktinya pada Olimpiade di Athena China menghasilkan 32 emas. Sungguh harga yang mahal untuk sebuah medali emas.

Indonesia bukan tidak bisa menjadi China. Indonesia bukan tidak bisa berprestasi seperti China. Namun yang harus dicontoh dari China bahwa prestasi itu adalah hasil dari proses kerja keras yang instan. Kita tidak bisa membebankan atlet untuk berprestasi lalu kemudian viral. Tetapi kita harus terus mensupport atlet yang sedang menjalani proses menuju tangga juara.

Selamat berjuang atlet Indonesia!

Kami percayakan padamu!

Semangat berprestasi!

Sumber : https://www.kompasiana.com/pakcik/5512f1f4813311ba4bbc5fa5/berkaca-pada-kesuksesan-negeri-tirai-bambu-di-olimpiade-london-2012-kapan-koni-berbenah

http://sport.detik.com/read/2012/08/08/212305/1986736/935/di-balik-keberhasilan-tim-olimpiade-cina

https://www.republika.co.id/berita/sepakbola/arena-olahraga/18/03/14/p5l79y438-asian-games-1982-awal-cina-jadi-kiblat-olahraga-asia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: