Kereta Api Serayu dengan tujuan akhir Stasiun Purwokerto telah diberangkatkan dari Stasiun Senen. Kereta api kelas ekonomi itu perlahan menuju stasiun transit, Stasiun Bekasi. Para calon penumpang pun bersiap menyambut kedatangannya.

Seorang pemuda paruh baya memperbaiki tas carriernya yang berukuran 50 liter. Tidak jauh darinya, pemuda lain membawa tas jinjing kecil sebagai pelengkap perjalanannya. Beraneka macam penumpang yang aku temui di Stasiun Bekasi sebelum pandemi covid-19 melanda.

Beberapa menit berselang, kereta api degan ongkos termurah itu mulai terlihat moncongnya dari kejauhan. Parasnya bisa dibilang tidak terlalu elok. Maklum kereta itu tergolong tua. Harga tiketnya pun paling bersahabat, hanya 76 ribu rupiah.

Kereta pun perlahan mendekat. Penumpang bersegera di posisi siaga. Siap untuk berebut masuk. Beruntungnya sekarang tidak perlu bersaing mendapatkan kursi penumpang. Tidak seperti zaman dulu yang masih amburadul.

Aku pun segera mengajak istri yang sedang duduk termangu di tempat tunggu.

“Ayo, Ma. Udah datang keretanya. Hati-hati ya barang bawaannya.” pintaku kepada istri persis seperti operator sumber suara.

“Iya, Ba.” jawabnya singkat. Aku memanggilnya Uma dan ia memanggilku Aba.

Sejurus kemudian aku langsung mengangkat koper yang cukup berat. Setelah berdesakkan di pintu masuk, akhirnya kami tiba di gerbong tujuan.

Memilih gerbong mana saja tetap sama. Pasalnya semua gerbong, dari depan sampai paling ujung, adalah gerbong ekonomi. Kursinya saling berhadapan dan pastinya lutut pun tidak leluasa bergerak.

Jangan harap tidur nyenyak, mendapat kursi pun sudah beruntung. Keadaan gerbong yang tidak membuat nyaman itu tetap saja jadi primadona kaum menengah ke bawah. Karena harganya yang murah menjadi alasan utama.

Bagiku, menggunakan kereta bisa melihat beraneka macam karakter. Posisi favorit penumpang kereta tetap dekat dengan jendela, terutama para “jomblo army”. Melihat pemandangan sawah yang terhampar luas dan hiruk pikuk kehidupan di luar jendela kereta. Seolah melupakan sejenak status yang sudah semakin usang. Persis seperti itulah posisiku dulu.

Aku sengaja memilih kursi paling belakang supaya memudahkan ketika turun di Stasiun Tasikmalaya, stasiun tujuanku. Banyak barang bawaanku yang disimpan di bagasi atas. Sisanya aku simpan di bawah kursi.

Kereta pun segera melaju dengan memberi sedikit goncangan di gerbong. Mungkinkah itu pergeseran antara rel dengan rem tangan kereta?

Kami langsung duduk di kursi bersudut 90 derajat. Senyuman sengaja dilontarkan kepada penumpang yang tepat di depan kami. Sepasang suami istri itu membalas dengan senyuman seraya berkata,

“Mau kemana, Mas?” tanyanya dengan ramah.

“Ke Tasik, Mas.” jawab saya.

“Oh.” ujarnya lebih singkat. Beda cerita jika yang membuka obrolan adalah wanita. Bisa dibayangkan kosakata yang kaya akan tumpah ruah di gerbong kereta.

Kami pun mengobrol seperlunya meski sedikit agak canggung. Istrinya yang sedari tadi mengelus-elus perutnya yang sedang hamil besar lebih penting untuk diajak ngobrol. Aku pun tidak mau terlalu membuka banyak tema pembicaraan.

“Wah anak kedua ya, Mas?” tanyaku basa-basi setelah lama sekali hening di antara kami.

“Bukan, Mas. Ini anak pertama kami.” katanya sambil memegang perut istrinya.

Aku mengerenyitkan dahi sambil bertanya dalam diri

Lantas siapa anak laki-laki berumur kisaran 4 tahun yang ada di pangkuannya itu.

“Ini buat mancing, Mas. Kami belum dikasih keturunan setelah dua tahun awal menikah” ujarnya lugas padahal aku tidak menanyakan hal itu. Apa dia bisa membaca pikiranku? Atau membaca mimik mukaku yang seolah ingin bertanya.

“Alhamdulillah Allah ngasih amanah di tahun ke enam pernikahan kami.” tambahnya.

“Alhamdulillah” responku singkat.

“Tapi anak ini belum lancar ngomongnya. Memang harus sabar ngajarinnya ya, Mas.”

Entah kenapa obrolannya jadi sedikit panjang. Beruntungnya istrinya ikut menimpali sehingga tidak terkesan hanya dua laki-laki yang asyik mengobrol sambil melupakan istrinya masing-masing.

“Ya gak apa-apa, Mas. Sabar aja insyaallah nanti juga lancar.” kataku sambil memberikan semangat. Aku tidak mau mengeluarkan kata-kata negatif. Apalagi istrinya sedang hamil. Psikologisnya akan terganggu jika ada inputan negatif ke dalam pikirannya.

Inilah yang aku khawatirkan

Selama mengobrol, sebenarnya aku sambil melihat ibu-ibu yang berada satu baris dengan kami. Saking kerasnya, hampir setiap kata dari mulut perempuan kisaran 50-an tahun itu terdengar sangat jelas di telinga kami.

Ia asyik mengobrol dengan penumpang di depannya. Kebetulan teman sekursinya semuanya muda-mudi yang duduk di bangku kuliah. Mereka mendengarkan dengan setia dongeng si ibu. Bagaimana cucunya sudah pintar jalan. Lalu cucu yang lain sudah bisa membaca dan lancar berbicara. Dan semua kepintaran cucunya tidak luput diselipkan dalam ceritanya.

Yang kami khawatirkan adalah dia membuka pembicaraan dengan pasangan suami istri di depan kami. Apalagi ada anak kecil yang bisa dijadikan bahan pembicaraan si ibu. Aduhai mengerikan membayangkannya juga.

Dan tragedi yang tidak aku harapkan pun terjadi. Setelah aku rasa tidak ada topik lagi, si ibu tidak sengaja menoleh ke arah kiri, tempat kami duduk bersama. Perhatiannya terpusat pada anak kecil itu.

“Lucu ya anaknya.” Si ibu mulai membuka obrolan dengan manis. Tapi hatiku justru tidak tenang.

“Umur berapa anaknya?” tanyanya.

“Empat tahun, Bu.” jawab mbaknya dengan santun. Tak lupa senyum terpaksa dikeluarkan meski menahan perutnya yang mulas

“Siapa namanya?” tanya si ibu mengakrabkan diri ke anak laki-laki itu.

“Namanya Radit, Bu. Belum lancar ngomongnya.” Sang suami mengambil alih langsung jadi juru bicara.

Sayangnya aku dan istri hanya melihat semacam talkshow yang mendebarkan. Tiba-tiba si ibu bilang,

“Kalau cucu saya mah alhamdulillah udah lancar ngomongnya. Terus, udah bisa …” Inilah awal kenangan buruk terjadi.

Telingaku serasa ingin dinonaktifkan. Tidak mau mendengar apa kelanjutan obrolannya. Yang pasti apa yang dikatakannya adalah tentang membangga-banggakan anak cucunya dengan berlebihan.

Dan anehnya

Luar biasanya, si istri menanggapinya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa. Mungkinkah sama sepertiku yang sengaja menutup telinga atau bisa jadi dia sudah tahan banting. Enam tahun menunggu kehadiran buah hati pasti butuh kesebaran ekstra dan mental yang kuat.

Singkat cerita si ibu sudah kehabisan bahan obrolan. Mimik wajah suami istri di depanku tidak berubah. Datar seperti tak ada goncangan dalam hatinya. Meski dihujam secara beruntun cerita yang seharusnya membuatnya down.

Kejadian di depan mataku ini seolah mengajarkanku untuk tetap percaya diri. Berani tampil beda dan fokus terhadap apa yang kita miliki adalah kunci meraih keberhasilan.

Sebagai narablog, aku selalu memperhatikan bagaimana meracik tulisan dengan baik. Mulai dari pemilihan ide, penulisan di laptop, pembuatan infografis, penyuntingan, sampai ke penerbitan. Namun terkadang aku selalu membanding-bandingkan karyaku dengan karya orang lain.

Selalu merasa karyaku jauh dibawah standar narablog lain. Bayangan inilah yang menghantuiku selama membuat tulisan. Alhasil, inilah yang menjadikanku tidak fokus dan hilang kepercayaan diri.

Setelah mendapatkan pembelajaran berharga di kereta itu, aku kemudian menjadi lebih bersemangat. Jika memang harus bersikap #DareToBeYou maka jadikan ia senjata untuk tetap fokus dalam menghasilkan karya yang lebih baik. Nyatanya, musuh utama yang aku hadapi sekarang adalah diriku sendiri.

Karya orang lain bukan dijadikan saingan tetapi dijadikan wahana belajar tentang keilmuan dan tata bahasa.

Setelah memulai dari sikap yang penuh percaya diri maka langkah selanjutnya adalah perangkat yang mumpuni. Tidak dipungkiri ketika lingkungan sudah mendukung ditambah perangkat yang menunjang maka karya yang berkualitas akan segera muncul ke permukaan.

Lalu perangkat apa sebenarnya yang mendukung untuk membuat karya berbeda tetapi tetap berkualitas?

Di sinilah ASUS berbicara.

ASUS menjawab kebutuhan generasi milenial sepertiku dengan menghadirkan produk terbarunya yang stylish dan elegan. ASUS VivoBook S14 S433 adalah produk premier ASUS guna memenuhi ekspektasi kaum muda. Laptop ini memiliki desain baru yang lebih berani dan berkelas.

Laptop untuk Kalangan Muda

Selain laptopnya yang ringan dan tipis, ASUS VivoBook S14 S433 memiliki tepian diamond cut dan finishing bertekstur. Empat varian warna berbeda membuat pengguna bebas memilih sesuai dengan selera. Ada Indie Black, Gaia Green, Dreamy Silver, dan Resolute Red.

Aku sendiri lebih suka dengan warna Dreamy Silver. Paduan warna yang simpel namun terkesan gagah memberikan atmosfer mood menjadi lebih bagus. Ini cocok banget buatku yang suka membuat konten dengan suasana yang tenang.

Good Looking Laptop!

Oh ya, jika Anda teliti dengan laptop ASUS VivoBook S14 S433, laptop ini memiliki tampilan beda dari laptop pabrikan asal Taiwan ini. Logo ASUS yang biasa terletak di bagian tengah belakang layar, kini berada tepat di bagian samping kanan.

Ruang kosong atau negative space yang berada di belakang layang bisa Anda tambahkan stiker-stiker yang unik. Kalian tidak perlu repot-repot mencari stiker yang bagus. ASUS bekerja sama dengan Muchlis Fachri (Muklay) dalam penyediaan stiker menarik, khusus untuk pengguna ASUS VivoBook S14 S433.

Buat Anda yang suka bepergian tetapi ingin tetap produktif maka ASUS VivoBook S14 S433 cocok menemani perjalanan Anda. Bobot keseluruhan yang hanya 1,4 kg dan ketebalan 15,9 mm sangat mudah dimasukkan ke dalam tas. Kini, notebook berukuran 14 inc itu sudah “menyatu” kemanapun Anda pergi.

ASUS VivoBook S14 S433 memiliki ukuran yang ringkas. Teknologi NanoEdge Display menghadirkan bezel yang sangat tipis. Alhasil screen-to-body ratio bisa sampai 85 persen dan ukuran keseluruhan bodi yang lebih kecil. Teknologi layar eksklusif tersebut juga memberikan kesan layar lebih lega.

Performa Luar Biasa

Bagian selanjutnya ini menjadikan ASUS VivoBook S14 S433 sebagai laptop hebat. Tidak berlebihan karena laptop ini sudah ditenagai prosesor Intel® Core i7 Generasi 10 dengan pilihan memori hingga 16GB dan kartu grafis NVIDIA® MX250. PCIe® SSD berkapasitas besar memberi Anda penyimpanan super cepat sehingga Anda dapat mengakses apa yang Anda butuhkan dengan cepat.

Prosesor generasi terbaru dari intel tersebut tetap hemat daya meski performanya tinggi . ASUS VivoBook S14 S433 ini memang powerful dan terbukti dari hasil pengujian menggunakan Cinebench R20 dan PCMark10 menunjukkan skor yang tinggi.

Skor yang dihasilkan pun cukup tinggi, yaitu 1568 pts saat terhubung dengan listrik dan 426 pts saat tidak terhubung dengan listrik.

Skor PCMark masih tergolong tinggi untuk ukuran laptop content creator. PCMark sendiri berfungsi untuk mengukur kemampuan suatu laptop dalam menjalankan aplikasi sehari-hari PCMark menunjukkan tingkat performa dan efisiensi kerja suatu laptop atau PC.

Intel® Optane™ Memory H10 menambah “ngeri” laptop ini. Jika Anda menginginkan laptop yang super flash, adanya Intel® Optane™ Memory H10 membuat loading software dan performa laptop menjadi lebih cepat.  Dilansir dari jagatreview.com, Adanya Intel® Optane™ Memory H10 memberikan performa sequential Read mencapai 2400 MB/s dan 1800 MB/s untuk Read/Write. Ketahanan Intel Optane Memory H10 mencapai hingga 300 TBW.

Bisa Anda bayangkan kencangnya laptop ini?

ASUS VivoBook S14 S433 juga sudah tersedia fitur teknologi fast charging yang dapat membantu mengisi ulang baterai Anda sampai 60% dalam waktu 49 menit! Teknologi Wi-Fi 6 (802.11ax) yang dimiliki laptop ini bisa memberikan kepuasan jaringan yang sangat cepat. Transfer file besar, gaming, dan video call bisa lancar.

Sertifikasi Harman Kardon membuat sound yang dihasilkan dari ASUS VivoBook S14 S433 lebih berkualitas tinggi dan tak tertandingi. Cocok sekali untuk Anda yang senang bekerja ditemani dengan alunan suara yang menghibur di sela-sela kesibukan bekerja.

Fitur Menarik

ASUS VivoBook S14 S433 memanjakan penggunanya dengan fitur-fitur yang menarik.

Backlit Keyboard ukuran penuh pada ASUS VivoBook S14 S433 sangat cocok untuk bekerja di lingkungan yang minim cahaya. Desainnya yang ergonomis, kokoh, konstruksi satu bagian, dan gengan key travel 1,4 mm menambah kenyamanan Anda dalam mengetik. Selain itu terdapat aksen warna di tombol “Enter”.

Pada bagian kanan laptop ASUS VivoBook S14 S433 sudah dilengkapi dengan dua buah port USB 2.0 dan Micro SD card reader. Sedangkan di bagian kiri laptop terdapat port DC-in, HDMI, USB 3.2 Type-C, USB 3.2 Type-A, dan audio jack.

Laptop ASUS VivoBook S14 S433 memberikan fitur yang modern, yaitu fingerprint sensor. One-touch to log in dari laptop ini memudahkan Anda untuk terhubung langsung dengan Windows 10 Hello melalui sidik jari pada touchpad. Mudah dan aman, bukan?

Inilah spesifikasi lengkap dari ASUS VivoBook S14 S433

Main Spec.ASUS VivoBook S14 (S433)
CPUIntel® Core™ i7-10510U Quad Core Processor (8M Cache, up to 4.9 GHz) Intel® Core™ i5-10210U Quad Core Processor (6M Cache, up to 4.2 GHz)
Operating SystemWindows 10
Memory8GB DDR4 RAM
Storage512GB M.2 NVMe™ PCIe® SSD with 32GB Intel® Optane™ Memory
Display14.0″ (16:9) LED backlit FHD (1920×1080) NanoEdge Display, 100% sRGB
GraphicsNVIDIA GeForce MX250 with 2GB GDDR5 VRAM Integrated Intel HD Graphics 520     
Input/Output1x USB 3.2 (Gen1) Type-C, 1x USB 3.2 (Gen1) Type-A, 2x USB 2.0 Type-A, HDMI, Audio Jack, MicroSD card reader
Camera720p HD camera
ConnectivityWi-Fi 6(Gig+)(802.11ax), Bluetooth 5.0 (Dual band) 2*2
AudioBuilt-in speaker, Built-in microphone, Audio by ICEpower®//harman/kardon (Mainstream)
Battery50WHrs, 3S1P, 3-cell Li-ion
Dimension32.40 x 21.30 x 1.59 ~ 1.59 cm
Weight1.4Kg with battery
ColorsGaia Green, Resolute Red, Dreamy White, Indie Black
Warranty2 tahun garansi global

Kesimpulan

Laptop ASUS VivoBook S14 S433 memang cocok untuk generasi muda. Laptop dengan empat varian warna dengan aksen yang tajam menambah kesan untuk bebas berekspresi dan berani tampil beda. Bukan hanya desain yang menarik, ASUS VivoBook S14 S433 memiliki performa yang mumpuni. Sangat cocok untuk content creator, blogger, videographer, dan gamer.

ASUS benar-benar mewadahi kaum muda dengan hadirnya ASUS VivoBook S14 S433 sebagai laptop yang trendy dengan performa terbaiknya. ASUS pun membanderol laptop premium modern ini dengan harga sebagai berikut :

Rp 13.999.000 untuk spesifikasi Windows 10 Home/Intel® Core™ i5-10210U/NVIDIA® GeForce® MX250/8G/512G PCIe+32GB M.2 SSD(Intel TG)

Rp 15.999.000 (Windows 10 Home/Intel® Core™ i7-10510U/NVIDIA® GeForce® MX250/8G/512G PCIe+32GB M.2 SSD(Intel TG)

Harganya sepadan kan dengan performa yang ditawarkan. Jadi, apakah Anda penasaran dengan ASUS VivoBook S14 S433 ini?

Semoga bermanfaat review kali ini dan tentunya bisa menjadi gambaran untuk generasi muda dalam memilih perangkat terbaiknya dalam berkarya.

“Artikel ini diikutsertakan dalam lomba ASUS VivoBook S14 S433 Writing Competition Dare To Be You.”

Referensi

Press Release ASUS VivoBook S14, Laptop Paling Trendy dan Powerful dengan Empat Pilihan Warna

Product Specification ASUS VivoBook S14 S433 https://www.asus.com/id/Laptops/ASUS-VivoBook-S14-S433FL/

Intel Optane : https://www.intel.com/content/www/us/en/products/docs/memory-storage/optane-memory/optane-memory-h10-solid-state-storage-brief.html

Intel Optane : http://www.jagatreview.com/2019/04/intel-hadirkan-ssd-dengan-optane-memory-terintegrasi/

Blog Keluarga Biru : https://www.keluargabiru.com/2020/06/blog-competition-dare-to-be-you-with-vivobook-s14-s433.html

Review ASUS VivoBook S14 S433 by Gadgetin https://www.youtube.com/watch?v=Fmkpb1CMPaA&feature=youtu.be

12 thoughts on “ASUS VivoBook S14 S433 dan Sebuah Cerita dalam Kereta #DareToBeYou

  1. Betul banget! Musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri…
    Sering banget kita terfokus sama kekurangan kita, padahal kita punya potensi yang luar biasa…

    ASUS Vivobook-nya kece banget mas!…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *