Izinkan saya memberitahukan berita yang cukup mengejutkan. Ini tentang perubahan iklim yang terjadi di negeri kita tercinta,, Indonesia. Rancangan Teknoktratik Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 memberitakan bahwa kelangkaan air di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara akan semakin meningkat hingga 2030. Proporsi luas wilayah krisis air pun semakin parah dari 6,0% di tahun 2000 meningkat menjadi 9,6% (hampir 10%) di tahun 2045.*1

Menurut Anda, kira-kira apakah yang menjadi penyebab utama krisis air di Indonesia? Jika perubahan iklim menjadi satu-satunya penyebab utama krisi air mungkin jawaban Anda kurang tepat. Saya pun awalnya mengira bencana yang melanda Indonesia akhir-akhir ini, mulai dari banjir sampai kekeringan, adalah efek dari global warming atau perubahan iklim yang menimpa dunia.

Pikiran saya pun terbuka ketika mendengar pembicaraan Muhammad Reza selaku Kordinator Koalisi Rakyat untuk Hak Atas Air dalam Podcast Ruang Publik dari KBR.ID. Beliau menyatakan bahwa bukan hanya perubahan iklim yang menjadi penyebabnya. Sontak saya semakin penasaran dan tertarik untuk mendengarkan perbincangannya lebih lanjut.

Apa Anda juga penasaran? Mari kita lanjutkan.

Sebelum menjabarkan apa saja yang menjadi pokok utama krisis air di Indonesia. Alangkah baiknya saya akan coba mengulas sedikit perkataan dari Mas Reza, panggilan akrab beliau. Perlu diketahui air berbeda dengan tanah. Air sendiri memiliki siklus alamiah. Air yang berasal dari bumi kemudian menguap ke awan dan  dilanjutkan untuk diproduksi menjadi air hujan. Sebenarnya dari sini sudah terlihat bahwa apa yang menjadi bencana krisi air bukan seutuhnya gara-gara iklim.

Kelangkaan air yang di Pulau Jawa dan sekitarnya memiliki dua cara pandang. Pertama, pandangan dominan sebagai kelangkaan. Kedua, pandangan suatu ketidakadilan.

Menyoal pandangan pertama sebagai kelangkaan maka krisis ini disebabkan karena ketidakdisiplinan para penggunannya. Pemborosan air, khususnya, berpengaruh besar terhadap kelangkaan air yang terjadi selama ini. Jika kebiasaan ini terjadi terus menerus dan terakumulasi dalam beberapa tahun maka tidak heran jika prediksi kelangkaan air akan menjadi kenyataan.

Namun perubahan iklim pun memiliki andil yang membuat kuantitas air lebih banyak yang menguap ke udara.  Tentu hal ini sangat mempengaruhi keseimbangan neraca air di Pulau Jawa. Ketika neraca air tidak seimbang maka ketersediaan air tidak bisa memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat. Apalagi pertumbuhan pendudukan dan perubahan tata guna lahan yang melonjak naik.

Negara kaya air tapi mengalami krisis air (sumber : en.netralnews.com)

Pandangan kedua pun menyebutkan bahwa krisis air tidak lepas dari ketidakadilan pemegang kebijakan penanggung jawab, lebih tepatnya kesalahan manajemen. Mas Reza, menambahkan, salahnya Negara Indonesia (dalam mengelola air) menyerahkan kepada mekanisme pasar. Sehingga mulailah bergeser nilai fungsional menjadi nilai ekonomi. Eskalasi makin tinggi maka siapa yang memiliki dana maka ia memiliki nilai guna daripada air tersebut.

Padahal Indonesia patut bersyukur dilewati oleh garis ekuator dan termasuk negara dengan curah hujan terbilang cukup tinggi. Sayangnya prediksi iklim sudah semakin susah. Contoh sederhananya, baru pukul 8 pagi saja sudah semakin panas sementara itu di daerah lain (ketika musim kemarau) terkena banjir.

Sekertaris Jenderal WMO, Petteri Taalas, dikutip dari laman WMO (World Meteorological Organization), menyebutkan perubahan iklim berpengaruh pada cuaca ekstrem dan tidak normal. *2

“On a day-to-day basis, the impacts of climate change play out through extreme and “abnormal” weather. And, once again in 2019, weather and climate related risks hit hard. Heatwaves and floods which used to be “once in a century” events are becoming more regular occurrences. Countries ranging from the Bahamas to Japan to Mozambique suffered the effect of devastating  tropical cyclones. Wildfires swept through the Arctic and Australia,”

Gelombang panas dan banjir yang jarang terjadi kini akan sering terjadi. Mengingat suhu rata-rata periode lima tahun (2015-2019) dan sepuluh tahun (2010-2019) selalu meningkat, disertai kenaikan permukaan laut yang didorong oleh gas rumah kaca dari aktivitas manusia. Pemanasan global menjadi isu utama yang harus dihadapi bersama.

Sejurus isu pemanasan global yang dikeluarkan PBB maka program seribu waduk yang diluncurkan pemerintah malah menjadi “penambah bencana” kekeringan di Indonesia.

Mas Reza, dalam wawancaranya, justru mengritik tegas atas program pemerintah tahun 2014 tersebut.

“Kita harus realistis bahwa program seribu waduk justru bermasalah. Daerah-daerah yang menyimpan air (daerah resapan air) malah dihancurkan dan dibikin waduk.” tandasnya.

Perubahan iklim tidak terjadi secara alamiah. Tentu ada kaitan dengan aktor utamanya, yaitu campur tangun manusia. Baik itu masyarakat ataupun pemerintah.

Problem sampah menjadi pemicu timbulnya krisis air (sumber : theaseanpost.com)

Berbicara masyarakat maka menyorot pada sikap kedisiplinan manusia. Bagaimana manusia mampu melestarikan lingkungan dengan kesadaran penuh. Menghemat air, tidak membuang sampah sembarangan, dan mematuhi peraturan lingkungan yang berlaku.

Memasuki ke ranah peraturan, maka tidak sah jika bersinggungan dengan pemerintah. Kebijakan pemerintah sangat memegang peranan dalam mengatasi krisis air. Jangan sampai pola pembangunan mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan lingkungan. Ibarat kata solusi bisnis ditentang dengan solusi ilmiah. Jangan sampai kemarahan ilmuwan pasca konferensi madrid*3 terulang kembali.

Mas Reza pun menekankan kepada pemerintah untuk tidak terus menerus mengurug tanah dmei pertambangan hotel, penambangan air, dan program lainnya yang mengorbankan lingkungan.

Senada dengan pernyataan Mas Reza, Cak Purwanto dari kelompok masyarakat peduli air Yayasan Air Kita Jombang, Jawa Timur , mengungkapkan keresahan yang terjadi di daerahnya.

Sebagai daerah yang sering dilanda kekeringan, Cak Pur, sapaan akrabnya, mengatakan sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan 6 kecamatan di Jombang pada bencana krisis air. Pertama, perubahan iklim, Kemudian yang kedua, faktor geologis tanah. Dan terakhir adalah ulah oknum yang merusak lingkungan, merusak hutan, dan perilaku tidak bertanggung jawab pada sumber air.

Rumah Baca Air dari Yayasan Air Kita (sumber : goodnewsfromindonesia.com)

Cak Pur menjelaskan bahwa sejak 2012 sudah banyak yang memprediksi Jawa, NTT, NTB, dan Bali akan mengalami defisit neraca air. Semakin diperparah dengan maraknya pertambangan mineral air, meracuni air, dan merombak ekosistem air. Selain itu juga, komersialisasi air lebih tinggi yang membuat masyarakat ekonomi lemah susah mendapatkan air bersih.

Untuk itulah Yayasan Air Kita yang diprakarsai Cak Pur bergerak pada pendidikan non formal sambil melakukan sosialisasi pemanfaat air hujan. Pendidikan non formal agama, sosial, dan seni difokuskan kepada anak-anak. Komunitas yang sudah berdiri hampir empat tahun itu menganggap gerakan akar rumput yang mereka kerjakan demi menyelamatkan air untuk generasi masa depan.

Berbagai pendekatan budaya dan agama tidak lepas dari kegiatan Yayasan Air Kita. Wayang beber, shalawatan air hujan, pengajian, festival satu desa, workshop seni, dan kegiatan edukasi lainnya yang selalu disisipi sosialisasi pemanfaatan air hujan.

Ya, air hujan menjadi fokus utama Yayasan Air Kita. Mulai dari bagaimana cara menampung air hujan sampai mengubahnya menjadi air minum. Karena air hujan dinilai kualitasnya masih bagus. Selain itu kegiatan lainnya yaitu biopori dan sinergi bersama semua elemen adalah sebagian aktivitas dari Yayasan Air Kita.

Gerakan langsung ke akar rumput yang dilakukan Cak Pur tersebut sangat didukung Mas Reza sebagai seseorang yang menyuarakan hak atas air untuk rakyat. Beliau menambahkan bahwa yang terpenting adalah situasi kebijakan yang harus diubah. Masalahnya yang berlaku sekarang adalah “banyak duit banyak air”. Inilah potret buruk kita yang memalukan.

Kenapa Mas Reza selalu “keras” dalam permasalahan air ini? Saya pikir karena permasalahan air ini terlalu kompleks. Data dan fakta di lapangan tidak dijadikan pembelajaran. Seperti halnya Indonesia acuh dengan protokol Kyoto.

Protokol Kyoto merupakan amandemen dari Konvensi Rangka Kerja PBB tentang perubahan iklim. Protokol Kyoto itu kesepatakan yang disepakati oleh seluruh dunia tentang manusia menjadi penyebab perubahan iklim. Sayagnya, Indonesia tampak tidak peduli dengan perubahan iklim tersebut.

Indonesia menempati ranking pertama atas pengabaiannya terhadap perubahan iklim (sumber : the guardian news)

Survei YouGov-Cambridge Globalism Project 2019 yang menilai lebih dari 25 ribu orang dari 23 negara di seluruh Eropa, Amerika, Afrika, dan Asia pada bulan Februari dan Maret 2019. Indonesia menduduki peringkat negara dengan penduduk paling meragukan perubahan iklim sebesar 18%. Lalu diikuti pada urutan kedua oleh masyarakat Arab Saudi yang memiliki nilai 16%, dan Amerika menempati ranking ketiga dengan nilai 13%.*4

Meskipun Protokol Kyoto tersebut tidak memiliki sanksi bagi para negara pelanggarnya, namun harus diingat adalah kesepakatan adalah janji. Selayaknya janji adalah hutang, maka kesepakatan itu harus dibayar dengan ketaatan atau kepedulian terhadap perubahan iklim. Nyatanya itu tidak terjadi pada penduduk Indonesia.

Harapannya adalah dengan banyaknya yang mengritik maka makin banyak peduli. Setiap wilayah pun bisa aware dan situasi kebijakan pemerintah (yang merusak ekosistem air) bisa segera dirubah. Sehingga apa yang dilakukan masyarakat, seperti Yayasan Air Kita, tidak sia-sia.

Saya sangat setuju dengan pernyataan Deputi USAID yang menyatakan akses perpipaan belum seluruhnya menjangkau kabupaten dan kota di Indonesia. Tidak heran jika banyak ketimpangan yang ditemukan. Ujung-ujungnya adalah masyarakat miskin yang berpenghasilan kurang tidak mendapatkan akses air bersih.

Ini memang menjadi ironi namun menjadi cermin diri untuk masa depan. Jika permasalahan klasik seperti ini terus dibiarkan maka bagaimana nasib air untuk generasi di masa depan? Saya pun langsung melirik anak saya yang dari tadi duduk mendampingi menulis artikel ini. 10-20 tahun lagi bagaimana dengan kualitas air bersih untuknya?

Saya tidak mau melihat putri kecil ini mengalami krisis air yang semakin brutal nantinya. Apalagi melihat Indonesia secara umum. Sungguh saya tidak mau membayangkannya.

Skema purifikasi air laut dengan menggunakan membran graphene oxide (sumber : sciencedirect.com)

Saya ingin menyarankan solusi investasi teknologi. Ada kaitannya dengan pemurnian air laut. Seperti kita tahu bahwa proses pemurnian air laut selalu membutuhkan biaya produksi yang mahal. Menurut hemat saya, jika kita masih berkutik soal harga maka Indonesia tidak akan bisa berjaya.

Padahal Indonesia dengan 2/3 wilayahnya merupakan perairan menjadi potensi teramat besar jika dimanfaatkan. Teknologi penyulingan air laut harus diutamakan mengingat krisis air yang bukan hanya menyasar kuantitas tetapi juga kualitas. Untuk itu investasi teknologi penyulingan air laut ini harus segera dilakukan.

Kalaupun tidak bisa sendiri maka alangkah baiknya Indonesia bisa berkolaborasi dengan negara lain dalam mengusahakan teknologi yang sebenarnya sudah lama menjadi wacana. Wacana tidaklah berguna tanpa adanya aksi nyata.

Today, 785 million people – 1 in 9 – lack access to safe water and 2 billion people – 1 in 3 – lack access to a toilet. Water.org

Water.org melansir bahwa sekitar 750 orang di seluruh dunia tidak memiliki akses air bersih dan hampir 2 miliar orang tidak memiliki akses ke toilet. Ini membuktikan bahwa permasalahan air merupakan permasalahan bersama seluruh negara.*5

Jika Indonesia berani menginvestasikan dana APBN untuk teknologi dan berkolaborasi dengan investor dalam dan luar negeri maka teknologi pemurnian air laut bisa dimunculkan di Indonesia. Generasi di masa depan pun tidak akan kekurangan air bersih sehingga permasalahan yang berkaitan seperti stunting atau gizi buruk pun tidak akan terjadi lagi di Indonesia.

Itulah sedikit ide dari saya. Semoga bermanfaat. Terima kasih untuk semua yang sudah membaca artikel ini. Menurut Anda apa solusi terbaik lainnya untuk mengatasi krisi air di Indonesia?

Referensi Utama :

  1. http://lipi.go.id/berita/krisis-air-di-jawa-dan-bagaimana-kita-harus-menyikapinya/21725
  2. https://public.wmo.int/en/media/press-release/2019-concludes-decade-of-exceptional-global-heat-and-high-impact-weather
  3. https://www.c2es.org/site/assets/uploads/2019/12/cop-25-madrid-summary-1.pdf
  4. https://www.theguardian.com/environment/2019/may/07/us-hotbed-climate-change-denial-international-poll
  5. https://water.org/our-impact/water-crisis/

Referensi Lainnya :

  1. Indonesia abaikan protokol kyoto. https://tirto.id/protokol-kyoto-dan-indonesia-yang-abai-terhadap-masalah-lingkungan-ezcW
  2. Dampak perubahan iklim terhadap kesehatan manusia. http://ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/index.php/info-iklim/dampak-fenomena-perubahan-iklim/dampak/355-dampak-perubahan-iklim-terhadap-kesehatan-manusia
  3. Data Bappenas. https://katadata.co.id/berita/2019/03/26/bappenas-jawa-bali-dan-nusa-tenggara-krisis-air-bersih
  4. Tekologi Penyulingan Air Laut. https://tirto.id/teknologi-baru-ubah-air-laut-menjadi-air-minum-cmdb
  5. Laporan WMO. https://www.mongabay.co.id/2020/01/03/bmkg-curah-hujan-paling-ekstrim-dalam-sejarah-jadi-pemicu-banjir-jakarta/

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini (beri link artikel persyaratan ini)

2 thoughts on “Air untuk Kehidupan Generasi Masa Depan

  1. air memang penting banget sebagai sumber kehidupan manusia, harus dijaga agar tidak krisis air bersih ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *