“Kalau sekali lagi tidak bisa ngeden, langsung SC aja!”

Kalimat itu selalu terngiang-ngiang di pikiranku. Bak hantu yang gentayangan, ia membuntuti di setiap waktu. Saat mata terpejam, melamun di tengah keramaian, dan semakin menyeramkan ketika harus pergi ke rumah sakit. Mungkin jika diminta untuk memilih, aku lebih baik bertemu hantu sekalian daripada harus mengingat kejadian besar itu.

Andai waktu bisa berulang, mungkin aku akan memaksimalkan waktu yang ada. Membersamai istri ketika awal kehamilan, membekali ilmu persalinan, dan seabreg persiapan yang harus dimiliki istri dan suami. Yes! Suami juga mesti dan wajib tahu perkara kehamilan dan persalinan.

Kenapa? Jika tidak gercep soal ilmu maka trauma kehamilan akan terus menghujam, kata dr. Tompi, menusuk jantungku. Kalau sudah terkena trauma, ahhh sudahlaahh janga tanya bagaimana sakitnya. Susah terobati!

Memori otak serasa terus berputar  mencari data trauma saat persalinan. Anehnya dari bermiliaran ingatan hanya atmosfer menyeramkan itu yang mudah ditemukan. Ingin aku cut dari rekam jejak pikiran dan segera paste di tempat yang tidak terjamah manusia. Sayangnya itu mustahil dilakukan kecuali hanya ada satu cara. Apa itu? Let me continue my story

***

Kejadian besar itu diawali dengan pagi yang begitu tenang. Semilir angin subuh menyapu atmosfer bumi yang sungguh indah. Konon tidak banyak manusia merasakan aura subuh yang luar biasa. Sekitar jam tujuh pagi istriku melihat flek ketika dia sedang berada di kamar mandi. Entah kenapa, dia begitu tenang seraya berkata,

“Ini ada flek darah.” raut mukanya datar tanpa ada rasa tegang sedikit pun.

Sebaliknya aku yang mencoba simpati namun sedikit khawatir berkata,

“Ayo, Ma. Kita siap-siap.” kataku sambil tergagap-gagap.

Entah darimana rasa tegang bercampur bingung itu muncul. Sungguh aneh respon yang diberikan istriku malah luar biasa tenang.

“Iya, tenang aja kok. Biasa ini mah.” jawabnya semakin tenang.

Berangkatlah kita menuju tempat bersalin terdekat, tempat dimana kita biasa jadwal kontrol kandungan sekaligus tempat kita mempercayakan persalinan. Dua jinjingan berukuran sedang dan besar, persis seperti akan mudik, sudah disiapkan.

Jarak yang tidak sampai 20 menit membuat kita tidak terlalu bergegas. Tetapi entah apa yang merasukiku kala itu, barang bawaan yang begitu berat langsung disimpan di bagian depan motor. Aku terburu-buru langsung tancap gas bersama istri dan calon buah hati.

Setibanya di sana, aku menuju ruang persalinan. Dan setelah melihat suasana di persalinan. Kalian tahu apa? Kami kaget luar biasa ternyata ruangan persalinannya sangat sempit.

Aku tidak tahu standar ruang persalinan seperti apa tetapi yang jelas tidak sesuai ekspektasiku. Salah aku juga yang tidak survey terlebih dahulu ke tempat persalinan.

Bayangkan jika pada saat bersamaan ada lima pasien yang akan melahirkan. Jeritan kencang akan bersahutan yang tentu membuat pasien lainnya terganggu, istriku pun menjadi sedikit ciut mentalnya.

Jika sudah tahu ruang persalinannya begitu tidak nyaman, mungkin aku akan memilih ke tempat lain. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Mudah-mudahan bubur ini sudah matang dan enak disantap. Realitanya sungguh pahit brother!

Tetap sabar mendengarkan ceritaku ya.

Sejak pembukaan satu sampai tiga, istriku berjalan-jalan di lorong rumah sakit. Intensitas gelombang cinta atau kontraksinya belum mulai terasa masif. Olahraga kecil itu sangat membantu untuk ibu hamil.

Perawat berulang kali menyarankan untuk tiduran saja. Entah apa tujuannya tapi kami patuh saja. Membosankan untuk tiduran lalu duduk, minum seperlunya. Ya begitulah siklusnya. Apalagi ketika periksa dalam yang membuat ngilu dan rasanya perih kata istri. Yang paling aku ingat ada mungkin lebih dari lima kali dilakukan periksa dalam.

Pembukaan demi pembukaan semakin dilewati. Pelukan dan cengkeraman istri semakin kuat. Menahan rasa sakit yang semakin sering datang setiap menit. Ibaratnya kita sangat kebelet ingin buang air besar tetapi harus ditahan. Bagaimana rasanya? Ini lebih dari itu kata istriku. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Adzan Maghrib pun berkumandang, aku pergi ke basement untuk menunaikan salat. Setelah kewajiban dilaksanakan, langsung beranjak kembali ke ruangan persalinan. Disinilah kejadian besar itu dimulai.

Dokter yang biasa menangani kehamilan istri sudah berada di tempat. Dua suster sudah siaga di sampingnya. Alat pengecek detak jantung bayi tepat berada di ujung kaki istriku. Ternyata saat itu dia sudah memasuki pembukaan sepuluh.

Tiba-tiba dua tas bawaanku disingkirkan oleh salah satu bidan. Kedua kakinya yang besar memindahkan tas ke bawah ranjang persalinan.

“Ini ganggu banget!” bidan nyeletuk dengan ekspresi wajah kisut.

Istriku kaget, aku pun sama. Tidak disangka sikapnya seketus itu. Belum sampai disitu, aku yang inisiatif membantu istri ke atas ranjang pun disuruh menyingkir.

“Bapak di bawah aja. Gak usah di atas ranjang.” Padahal kami sudah sepakat untuk membuat posisi itu. Kami terinspirasi dari kisah persalinan teman. Suaminya membantu sampai-sampai menahan dan memegang kepala si istri.

Mata bulatnya menahan sakit, warna putihnya berubah seketika menjadi merah. Terlihat jelas garis-garis merah di matanya. Secara kasat mata, warna yang bisa kulihat hanya hitam dan merah.

Meskipun sudah tahu teori bahwa memejamkan mata adalah hal yang tidak diperbolehkan karena akan mengganggu peredaran darah di mata. Tapi fakta tidak sesuai dengan teori. Rasa sakit yang begitu dalam membuatnya lupa akan ilmu yang dipelajarinya.

Sejurus kemudian, istriku yang mengejan terus menerus membuat badannya secara otomatis bergeser ke kanan. Tepat ke arah bidan yang membuat mentalnya hancur lebur. Refleks tangannya pun menggenggam tangan bidan yang membuatnya berkata pedas,

“Kalau tiga kali gak bisa mengejan, langsung SC aja!” emosinya sudah tidak tertahan.

Padahal sebenarnya aku dan dokter pun terkena cengkeraman istriku. Tapi entah kenapa dia tidak sabar menghadapi momen paling besar untuk kami.

Aku masih ingat dua hari sebelumnya kami mengikuti seminar tentang kehamilan. Sang pembicara, dokter senior di rumah sakit itu, menyebutkan ada empat faktor utama jika menginginkan persalinan yang normal.

Pertama, istrinya sabar.

Dua, suaminya sabar.

Tiga, dokternya sabar.

Empat, bidannya sabar.

“Keempat faktor tersebut yang membuat persalinan Anda akan berhasil.” ujar dokter itu dengan yakin.

Alhamdulillah istriku sabar menunggu sepuluh jam sampai bukaannya lengkap. Aku pun mencoba menjadi suami yang sabar dan tidak macam-macam selama persalinan. Dokter sudah tidak diragukan lagi kebaikannya. Kurang lebih lima belas kali control kami pun merasakan kehangatan dan kedekatannya.

Namun ada satu orang lagi yang belum kami kenal. Bidan yang akan menangani persalinan sejatinya tidak bisa kami pastikan. Bagaimana karakternya? Pelayanannya seperti apa? Dan SABAR atau tidaknya pun kita tak pernah tahu.

Apalagi kalau misalkan bidan itu bekerja shift-shiftan. Kita gak bakal tahu siapa yang akan menangani persalinan istri. Benar kan? Beruntung jika bidannya telaten dan sabar. Coba kalau tidak? Sungguh naas, itulah bagian dari episode kami bertemu dengan bidan yang unpredictable.

Aku miss dan melupakan faktor keempat tersebut. Ternyata salah satu saja tidak sabar maka jangan harap atmosfer persalinan bisa mendukung lahiran normal. Seakan-akan seperti mimpi buruk yang ingin segera berakhir.

Satu kali mengejan tidak berhasil. Dua kali mengejan juga belum berhasil. Ketiga kalinya pun tangan istri masih refleks mencubit tanganku dan tangan si bidan itu. Kondisi seperti itu sangat mustahil untuk istri bisa berhasil melahirkan normal.

Kalian tahu? Sang Bidan yang “luar biasa” itu tidak banyak omong lagi. Dia langsung pergi ke meja administrasi dan mengajakku sambil berkata,

“Bapak, ayo sekarang sama saya siapkan administrasi, kamar, dan surat persetujuan untuk operasi SC. Bapak urus ke bagian kamar untuk menyiapkan ruang operasi.”

Jangan ditanya seberapa juteknya dia. Kalian kesal kah? Aku lebih dari itu.

Sayangnya aku lemah saat itu. Tepatnya aku berada dalam jembatan kegalauan. Bereaksi dengan amarah yang meledak-ledak tapi takut merusak suasana persalinan. Atau menerima dengan mengikuti prosedur dan memercayakan sepenuhnya kepada mereka yang berpengalaman. Setelah apa yang sudah ia lakukan terhadap kami. Pasrah.

Aku berjalan dengan tatapan kosong menuju meja administrasi. Surat sudah dipegang. Tidak ada satu patah kata pun yang terucap. Hanya raga saja yang bergerak mengurus ruang operasi dan prosedur lainnya.

Singkat cerita, setelah aku membereskan administrasi, aku langsung menuju ruang operasi. Dengan segala pertimbangan yang ada, aku tidak bisa menemani istri di ruang operasi.

“Bapak yakin akan masuk ruang operasi?”

“Iya.”

“Yaudah pakai baju ini dan perlengkapannya”

Baju, celana, dan tutup kepala yang mirip dengan perawat pun sudah terpasang rapi di badan. Tentu badanku sudah hilang raganya.

Cukup lama menunggu dan tiba-tiba suara jeritan anakku langsung terdengar dari luar.

Apa benar itu anakku? Katanya aku bakal nemenin istriku.

Antara yakin dan tidak, tapi dari balik pintu operasi, seseorang dengan pakaian biru-biru pun langsung menghampiriku dengan membawa bayi mungil yang lucu dan sontak langsung berkata,

“Maaf, Pak. Tadi saya gak bisa bikin bapak masuk ke ruang operasi karena khawatir pingsan.”

Aku sudah tidak peduli apa alasannya kenapa tidak diperbolehkan masuk.  Daripada menambah emosi. Mendingan bersyukur karena buah hatiku sudah ada di depan mata.

Bayi merah yang dari tadi menangis tiba-tiba diam setelah masuk ke kotak inkubator. Adzan menjadi suara pertama yang didengar langsung di telinga bayi mungilku. Alhamdulillah uah hatiku sudah lahir ke dunia ini.

Beratnya sesuai taksiran dokter, pas 3 kilogram. Matanya indah dan kulitnya putih kemerahan menambah kebahagiaanku hari itu. Aku sekarang sudah resmi jadi seorang ayah.

Setelah beres dan bisa ditinggalkan, aku pergi menuju istriku yang sudah berbaring lemas di ranjang. Tidak ada yang bisa digerakkan kecuali bagian leher ke atas.

“Terima kasih ya udah berjuang habis-habisan. Anak kita alhamdulillah selamat. Lucu banget. Tadi udah aku adzanin juga kok.”

“Alhamdulillah” jawab istriku pelan.

Dari kejadian itulah aku lebih menyayangi istriku dan aku tidak mau kejadian itu terulang lagi. Aku pun berharap kalian tidak mengalami seperti yang kami alami. Nyatanya hari-hari setelahnya adalah hari dimana trauma kehamilan atau persalinan itu mulai menghantui kami.

Berdasarkan pengalamanku tadi, aku menyarankan sedikitnya 5 hal yang harus dilakukan suami ketika istri sedang hamil dan menjelang persalinan.

PERBANYAK ILMU

Ilmu itu penting untuk sang suami. Ilmu kehamilan atau persalinan itu bukan hanya tanggung jawab istri. Justru suami lebih bertanggung jawab untuk memahami seputar dunia kehamilan. Suami harus tahu bagaimana menghadapi istri saat trimester pertama, kedua, sampai ketiga. SALAH BESAR jika istri saja yang perlu tahu semua tentang kebutuhannya.

Mungkin saking beratnya beban ibu hamil, kadang untuk memenuhi nutrisi sang bayi pun tidak maksimal. Kekurangan istri bukan dimarahi tetapi untuk ditutupi dengan adanya peran suami. Memiliki pengetahuan nutrisi apa saja yang dibutuhkan ketika awal-awal kehamilan, kegiatan apa saja yang tidak boleh dilakukan, dan pada intinya bagaimana istri kita menjalani setiap detik yang dijalaninya penuh kebahagiaan.

Aku sendiri mungkin tidak konsisten membuat istri bahagia. Tetapi yang aku rasakan adalah ketika istri senang maka seisi rumah pun senang. Termasuk bayi yang dikandungnya. Benar kan ya ibu-ibu?

Pertanyaannya adalah bagaimana kita mendapatkan ilmu seputar kehamilan atau persalinan? Tentu butuh effort yang tinggi untuk membekali diri. Namun ajaibnya semua fasilitas ilmu itu semakin luas. Kita bisa mencari buku-buku yang sudah marak bertebaran. Bisa juga mengikuti kelas persalinan yang bisa diadakan online atau offline.

Jika ingin lebih praktis mungkin bisa kunjungi website atau media sosial seputar dunia  kesehatan. informasi lainnya. The Asian Parent Indonesia memuat berbagai informasi parenting, kehamilan, persalinan, nutrisi bayi, kesehatan ibu dan anak, dan masih banyak lagi. Lebih lanjutnya bisa dicek ke website dan media sosial @theasianparent_id.

SURVEI TEMPAT PERSALINAN

Jika sudah mendekati persalinan atau lebih baik jauh-jauh hari bisa melakukan survei ke tempat persalinan. Sekali lagi, tempat persalinan ya. Sangat berbeda antara tempat kontrol kandungan dan tempat persalinan. Jika di ruangan control kandungan kita bisa menemukan alat USG, ranjang, dan ukuran tempatnya pun luas. Nah, kalau untuk tempat persalinan itu beda tempatnya. Jarang ditemukan di lantai satu kalau di rumah sakit. Jadi sebaiknya suami bersama istri mengecek ruang persalinannya.

Sebenarnya ini juga kunci berhasilnya suatu persalinan. Berhasil dalam arti istri melakukan persalinan tanpa disertai trauma berkepanjangan karena ruangan yang nyaman dan membuat suasana hati istri pun tenang. Jika suami dan istri sudah melihat ruangannya maka bisa disimpulkan apakah cocok untuk proses persalinan atau tidak. Jangan segan jika memang dirasa tidak cocok. Segera survei ke tempat lain yang (menurut istri) bisa melahirkan dengan nyaman tanpa tekanan.

Proses pencarian tempat survei ini bisa memakan waktu banyak. Beruntung jika 1 atau 2 kali langsung ketemu dengan ruang persalinan yang sesuai. Ini butuh waktu mendapatkan tempat yang cocok. Sangat disarankan jika mencarinya di usia kehamilan trimester kedua atau kondisi istri sedang tidak banyak keluhan. Kenapa? supaya bisa lebih cepat menemukan tempat bersalin yang nyaman karena jika mepet-mepet menjelang persalinan akan tidak maksimal karena di kondisi hamil tua yang seharusnya sudah beres semua persiapannya.

MENYUSUN BIRTH PLAN

Apa itu birth plan? Secara bahasa diartikan rencana melahirkan. Kalau dijelaskan secara teknis, birth plan adalah serangkaian rencana persalinan istri yang disusun bersama dengan suami dimulai dari gelombang cinta muncul pertama kali sampai dengan persalinan. Birthplan ini membahas dimana rencana tempat bersalin; apa yang dilakukan ketika kala 1, kala 2, kala 3; opsi-opsi yang dibuat ketika kondisi urgent; apa saja yang tidak boleh dilakukan tenaga medis kepada sang istri; dan masih banyak lagi.

Peran suami sangat besar dalam menyusun birthplan ini meskipun dalam menuliskannya bersama istri. Bagaimana rencana yang harus disepakati seperti tempat bersalin, tenaga medis, dan kemungkinan-kemungkinan lain yang sudah dirumuskan bersama. Semua hal yang sudah disepakati tersebut menjadi pegangan antara suami istri dengan tenaga kesehatan saat persalinan.

Setelah birth plan dibuat, maka langsung dikomunikasikan bersama bidan atau dokternya. Sehingga dalam pelaksanaannya tidak melenceng dari birth plan. Lalu apa peran suami? Ketika masa-masa persalinan atau bukaan sudah lengkap maka istri sulit untuk konsentrasi. Suami menjadi orang pertama yang memutuskan segala sesuatunya. Bahkan ketika ada kondisi yang sulit sekalipun, suami menjadi pengambil keputusan. Selama semuanya sudah tertuliskan dalam birth plan maka semua bisa diterima baik oleh istri ataupun tenaga kesehatannya.

PERLUKAH DOULA?

Pernah mendengar istilah doula? Merujuk dari artikel the asian parent Indonesia doula ini memiliki makna yaitu pelayan perempuan. Dalam konteks kekinian, doula adalah suatu profesi bagi ibu yang ingin menjalani proses persalinan lebih cepat, dan pemulihan kondisi emosional dan fisik setelah melahirkan.

Melihat dari segi tugasnya, doula terbagi menjadi dua yaitu birth doula dan postpartu doula. Birth doula yang bertugas mendampingi ibu hamil guna mempersiapkan diri dalam menghadapi proses persalinan sampai buah hati lahir. Sedangkan postpartum doula memiliki tugas untuk membantu ibu baru untuk menyesuaikan diri dalam tanggung jawabnya sebagai orang tua. Tentu doula ini bukan sembarang orang. Mereka sudah memiliki sertifikat internasional seperti DONA International (organisasi doula internasional dan tertua) atau Amani Birth (lembaga doula muslim).

Menurut pendapatku, doula sangat dibutuhkan terutama untuk calon ayah dan ibu baru. Pasangan yang baru menikah dan belum memiliki pengalaman persalinan lebih baik ditemani doula. Ini murni pengalaman pribadi, bahkan ketika persalinan kedua sangat terbantu dengan kehadiran doula. Ia bisa menenangkan psikologi istri, memberi semangat, hingga memberikan afirmasi positif saat akan melahirkan.

Perbedaannya terasa sekali ketika persalinan pertama istri tanpa ada doula. Memang waktu itu belum mengenal sama sekali istilah doula. Alhamdulillah bersyukur bisa dipertemukan dengan doula yang baik sehingga istriku bisa melahirkan dengan bahagia. Trauma saat persalinan yang pertama pun kian memudar tergantikan dengan kebahagiaan yang tidak terlukiskan. Terharu benar aku dibuatnya. Apalagi saat melihat langsung di depan mata, bayi mungil perlahan keluar melalui “pintu” dan langkahnya siap menjelajahi dunia ini. Saat-saat itulah momen yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidup.

MEMILIH TENAGA KESEHATAN

Berbicara tenaga kesehatan, bisa dokter atau bidan yang menangani langsung ketika saat persalinan. Alangkah baiknya jika kita sudah mengenal tenaga kesehatan yang akan membantu istri saat detik-detik melahirkan. Saat persalinan pertama istri, aku benar-benar tidak mengenal siapa yang akan menjadi pendamping persalinan selain dokter.

Jadi, aku menyarankan setiap suami bisa mengenal dengan baik tenaga kesehatan. Mudah komunikasi, sabar, dan tentunya cocok dengan istri. Bagaimana bisa tahu tenaga kesehatan itu cocok dengan istri? Kita bisa langsung bertemu dengannya, berbincang-bincang untuk bertukar pikiran, atau bisa juga mendengar testimoni-testimoni orang yang pernah melahirkan bersama dengan tenaga kesehatan tersebut.

Bersyukur tidak bosan aku ucapkan pada persalinan kedua istri, tenaga kesehatan yang menemani kami sangatlah kooperatif dan super sabar. Alhamdulillah dengan izin Allah, persalinan berjalan dengan lancar dan bahagia.

Di akhir cerita ini, aku titip salam untuk para suami untuk sama-sama belajar memahami dunia kehamilan dan istri. Karena berat yang kurasakan ketika istri mengalami trauma persalinan. Aku harap para suami yang membaca cerita ini tidak mengalami trauma yang pernah kami rasakan. Teruntuk para istri, selamat berjuang memetik buah-buah pahala pohon lelah yang dirasakan selama mengandung.

Tetap semangat belajar,

Dari FERIALD

Ayah dari dua malaikat kecil penyejuk hati kami.

Note : Semua tulisan adalah hasil dari pengalaman pribadi dan informasi tambahan berasal dari id.theasianparent.com. Desain dan infografis dibuat oleh penulis sendiri (FERIALD.ID) Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition yang diadakan oleh The Asian Parent Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *